Suara deru baling-baling helikopter membelah udara malam yang pekat oleh jelaga dan serpihan beton, menciptakan resonansi frekuensi rendah yang menggetarkan hingga ke sumsum tulang Peter saat ia menendang pintu darurat menuju atap. Angin kencang langsung menyambar wajahnya, membawa hawa dingin pegunungan yang kontras dengan panas membara yang menjilat-jilat dari dalam fasilitas. Di bawah kakinya, lantai beton atap itu bergetar hebat; sistem self-destruct telah memasuki fase kritis, dan setiap detik yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju kehampaan.
Peter melangkah keluar, otot-otot kakinya yang kini bersisik hitam menegang kuat saat ia menyeimbangkan tubuh di atas permukaan yang tidak stabil. Di punggungnya, Maia mencengkeram erat kain jas laboratorium Peter yang sudah compang-camping dengan jemari yang memutih karena tekanan. Gadis itu terbatuk-batuk hebat akibat asap tebal yang merayap naik, namun ia tetap diam, membenamkan wajahnya di antara duri-duri punggung Peter yang terasa panas seperti bara.
"Kita hampir sampai, Mai. Tahan sebentar lagi, kumohon jangan pingsan sekarang," bisik Peter. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh raungan alarm dan deru angin yang menggila di ketinggian.
Di ujung landasan helikopter yang mulai retak dan miring, sebuah helikopter tempur hitam milik Thirteen Corporation sudah mulai terangkat, menciptakan pusaran angin yang menerbangkan debu-debu tajam. Di balik kaca kokpit yang gelap dan antipeluru, Peter bisa melihat siluet Dr. Elias Kruger. Pria itu tidak tampak panik; ia justru menatap Peter dengan tatapan dingin yang dipenuhi rasa jijik, seolah Peter hanyalah sebuah perangkat keras yang rusak dan perlu dibuang ke tempat sampah sejarah.
"Kruger! Kau tidak akan pergi ke mana-mana setelah semua yang kau lakukan, b******k!" raung Peter. Suaranya membelah kebisingan, sebuah ancaman murni dari makhluk yang sudah kehilangan segalanya.
Tiba-tiba, moncong senapan mesin gatling di bawah perut helikopter itu berputar dengan suara desis elektrik. Tanpa peringatan, hujan peluru kaliber .50 mulai menyapu permukaan atap, menciptakan lubang-lubang besar di beton seolah-olah lantai itu terbuat dari kerupuk. Peter secara insting melompat, berguling di udara sambil tetap mendekap Maia, dan berlindung di balik sebuah tangki air raksasa bermaterial baja tebal.
RATATATATATATATAT!
Logam tangki air itu berdentang keras setiap kali terkena peluru, menyemprotkan air ke segala arah dan membasahi tubuh Peter yang penuh luka. Darah hitam kental merembes dari luka-luka di sekujur tubuhnya, menetes ke lantai atap dan mengeluarkan asap tipis akibat reaksi kimia mutasi yang belum stabil. Rasa sakit itu kini bukan lagi sekadar gangguan fisik; itu adalah api yang membakar setiap inci sarafnya, mencoba memaksanya untuk menyerah dan mati di sini.
"Peter... kau berdarah banyak sekali. Biarkan aku turun, kau bisa melompat lebih jauh jika tidak ada aku," isak Maia, air matanya jatuh membasahi sisik hitam di bahu Peter.
Peter menoleh sedikit, menatap mata Maia dengan pupil emasnya yang menyempit tajam. "Jangan bicara bodoh, Mai. Aku sudah tidur selama lima tahun hanya untuk bangun dan melihatmu lagi. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal di gedung yang sebentar lagi akan jadi kembang api raksasa ini! Pegangan yang kuat!"
Peter menarik napas panjang, membiarkan insting predatornya memetakan pergerakan helikopter di atas sana. Ia tahu ia hanya punya satu kesempatan sebelum helikopter itu mencapai ketinggian yang tak terjangkau. Helikopter itu mulai berputar, bersiap untuk terbang menjauh menuju kegelapan hutan.
"Pegang leherku seerat mungkin, Mai. Kita akan melakukan sesuatu yang sangat gila!" perintah Peter.
Maia memejamkan mata dan memeluk Peter sekuat tenaga. Peter keluar dari balik tangki air, berlari dengan kecepatan supersonik menuju tepi atap yang mulai runtuh. Peluru-peluru dari helikopter mengejarnya di belakang, menciptakan jejak kehancuran yang hanya berjarak beberapa milimeter dari tumitnya. Saat ia mencapai ujung beton yang sudah mulai ambruk, Peter menghentakkan kakinya dengan seluruh kekuatan otot mutasinya.
BOOM!
Peter melesat ke udara, sebuah lompatan maut yang menantang gravitasi sejauh tiga puluh meter. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Di bawah mereka, fasilitas utama Thirteen Corporation meledak dalam bola api raksasa yang menerangi seluruh cakrawala, mengubah kegelapan malam menjadi siang yang merah membara. Peter melayang di atas lautan api, tangannya terjulur ke arah kaki helikopter.
"Kena kau, b******n!"
Jari-jari cakar Peter mencengkeram skid atau kaki helikopter dengan kekuatan yang mampu meremas baja padat. Guncangan hebat terjadi; helikopter itu limbung secara drastis karena beban tambahan yang mendadak. Peter bergantung di sana dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memastikan Maia tidak terlepas dan jatuh ke dalam kawah api di bawah mereka.
"Jatuhkan dia! Goyangkan helikopternya! Tembak lengannya!" teriak Kruger dari dalam kokpit melalui radio internal.
Seorang penjaga elit di pintu samping helikopter muncul dengan senapan serbu, menodongkan larasnya tepat ke arah wajah Peter. Peter menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya yang berlumuran darah hitam. Sebelum penjaga itu sempat menarik pelatuk, Peter menyentakkan tubuhnya naik dengan kekuatan pinggang yang luar biasa, lalu menghantamkan kepalanya ke arah kepala penjaga tersebut. Suara tulang hidung patah terdengar, dan penjaga itu jatuh menjerit ke kegelapan di bawah.
Peter berhasil menarik dirinya dan Maia masuk ke dalam kabin helikopter yang sempit dan berbau kulit mewah. Di sana, ia berhadapan langsung dengan dua penjaga elit terakhir yang mengenakan zirah Full-Body. Tanpa kata, Peter menerjang. Di ruang yang sangat terbatas itu, kebrutalan Peter mencapai puncaknya. Ia menghantamkan salah satu penjaga ke dinding kabin hingga logamnya penyok dan membentuk siluet tubuh, sementara penjaga lainnya ia cengkeram kepalanya lalu ia lempar keluar pintu yang masih terbuka tanpa sedikit pun keraguan.
"Sekarang... tinggal kau, Dokter Sialan," desis Peter sambil melangkah menuju ruang kokpit yang dipisahkan oleh sekat kaca antipeluru.
Kruger menoleh, wajahnya yang tadinya tenang dan angkuh kini menunjukkan ketakutan yang primitif. Ia melihat monster yang ia ciptakan sendiri berdiri di tengah kabin dengan mata emas yang menyala penuh dendam. Kruger mencoba meraih kendali darurat, berniat menjatuhkan helikopter itu bersama mereka semua, namun Peter lebih cepat.
Peter menghantam kaca sekat itu dengan tinjunya yang kini dilapisi tulang hitam. PRAK! Kaca itu retak seribu. Hantaman kedua, kaca antipeluru itu hancur berkeping-keping, menghujani Kruger dengan serpihan tajam.
"Peter, tunggu! Kau butuh aku! Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki formula penawar mutasimu!" teriak Kruger, suaranya melengking tinggi karena panik. "Jika kau membunuhku, kau akan tetap menjadi monster selamanya! Kau tidak akan pernah bisa menyentuh Maia tanpa melukainya!"
Langkah Peter terhenti sejenak. Kata-kata itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada peluru mana pun. Ia menatap tangannya yang bersisik, cakar yang penuh darah, dan duri di punggungnya. Ia menoleh ke arah Maia yang menatapnya dengan wajah penuh air mata. Untuk sekejap, Peter merasa ragu. Apakah ia ingin menjadi manusia lagi?
Namun, di saat Peter ragu, Kruger justru mencoba mengeluarkan pistol kecil dari balik jasnya.
"Kau tidak pernah berniat menyembuhkanku, Kruger," ucap Peter dengan suara yang sangat dingin, suara yang datang dari lubuk jiwanya yang paling gelap. "Kau hanya ingin aku tetap menjadi budakmu. Dan bagiku, lebih baik aku menjadi monster yang merdeka daripada manusia yang kau kendalikan."
Peter tidak menarik pelatuk atau mencekik Kruger. Ia justru meraih tuas darurat pintu kokpit dan membukanya lebar-lebar. Angin maut kembali menderu masuk. Peter kemudian mencengkeram kursi pilot tempat Kruger terikat sabuk pengaman, dan dengan satu sentakan tenaga yang luar biasa, ia mencabut kursi itu dari dudukannya.
"Selamat tinggal di neraka, Dokter. Aku harap kau menikmati perjalanan jatuhmu," ucap Peter tanpa ekspresi.
"TIDAAAK! PETE—!"
Peter melempar kursi beserta Kruger di atasnya keluar dari helikopter. Tubuh pria itu meluncur deras menuju kawah api fasilitas yang sedang meledak di bawah. Tidak ada ampun. Tidak ada kesempatan kedua. Dr. Elias Kruger tewas di tangan obsesinya sendiri, hancur bersama gedung yang menjadi monumen kejahatannya.
Helikopter itu kini tanpa pilot dan mulai berputar liar di udara. "Peter! Kita akan jatuh!" teriak Maia dari kabin belakang.
Peter segera melompat ke kursi pilot yang kosong. Ia tidak pernah menerbangkan helikopter, tapi otaknya yang telah bermutasi mulai bekerja dengan kecepatan kalkulasi yang gila. Ia melihat panel instrumen yang berkedip merah, memproses setiap angka dan tuas secara insting. Dengan napas terengah-engah, ia menarik cyclic dan menstabilkan baling-baling tepat sebelum helikopter itu menabrak puncak pepohonan hutan.
"Pegang yang kuat, Mai! Ini akan menjadi pendaratan paling berengsek dalam sejarah penerbangan!"
Helikopter itu terbang rendah, menyerempet dahan-dahan pohon raksasa hingga mengeluarkan percikan api. Peter mengarahkannya ke sebuah area lapang di dekat sungai, jauh dari lokasi ledakan. Dengan benturan yang cukup keras hingga membuat mereka terguncang, helikopter itu akhirnya mendarat dengan selamat di atas tanah yang basah oleh embun.
Mesin mati. Keheningan mendadak terasa begitu memekakkan telinga setelah semua kebisingan maut tadi. Peter menyandarkan kepalanya di dasbor, napasnya berat, dan perlahan cahaya keemasan di matanya mulai meredup, kembali menjadi mata manusia yang sangat lelah dan penuh duka.
Maia berjalan mendekati Peter dari kabin belakang, menyentuh bahunya yang terluka dengan lembut. "Peter... dia sudah mati. Semuanya sudah berakhir."
Peter menoleh perlahan. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang mematikan. Luka-lukanya masih berdenyut, dan regenerasi tubuhnya mulai melambat karena kehabisan energi. Ia menatap tangannya yang masih bersisik hitam, menyadari bahwa janji Kruger mungkin benar—ia mungkin akan tetap seperti ini selamanya.
"Untuk Kruger, ya, ini sudah berakhir, Mai. Tapi bagiku... aku tidak tahu apakah aku masih punya tempat untuk pulang," bisik Peter parau.
Maia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik kepala Peter dan memeluknya erat, mengabaikan duri tajam atau kulit reptil yang menyeramkan. Ia menangis di bahu Peter, melepaskan semua ketakutan yang tertahan selama lima tahun ini.
"Kau adalah rumahku, Peter. Monster atau bukan, kau tetap Peter yang polos dan bodoh," bisik Maia di tengah tangisnya.
Peter memejamkan matanya, merasakan kehangatan Maia yang tulus. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memberikan warna emas pada langit yang tadi terbakar. Mereka masih hidup di tengah abu dan kehancuran, dan untuk saat ini, itu adalah kemenangan paling besar yang pernah Peter raih dalam hidupnya.