Di saat Abyasa dan Rosa menghabiskan malam pertamanya berduaan di dalam kamar, pada saat yang sama di sudut kamar lain, Laila menghabiskan malamnya sendirian.
Kenapa malam ini, aku susah sekali tidur, pikir Laila sambil mengubah posisi tubuhnya yang tadi menghadap kanan menjadi berguling menghadap ke arah kiri.
Ini menjadi sesuatu yang sangat aneh. Masalahnya semenjak menikah dengan Abyasa, dia selalu tidur dengannya kecuali jika suaminya sedang ada tugas keluar kota atau sedang berangkat ke membimbing jamaah untuk menunaikan haji atau umrah.
Setelah menghadap ke arah kiri pun matanya masih juga belum bisa terpejam. Sementara waktu sudah tengah malam.
Laila kembali mengubah posisi tidurnya. Dia terus berulang kali melakukannya, hingga akhirnya dia memilih untuk berbaring telentang. Matanya menatap kosong ke arah-arah langit kamar.
Saat menatap langit kamar, dalam pikirannya yang terbayangkan adalah saat pertama kali dirinya menyandang status sebagai istri Abyasa.
Momen, perjalanan, adegan demi adegan diputar ulang, seakan di langit-langit kamar itu tersedia layar proyektor yang menampilkan video.
Usai Abyasa mengucapkan akad dan para saksi menyatakan sah, Laila berhadapan dengan Abyasa. Masing-masing memegang surat nikah. Momen manis itu diabaikan oleh fotografer yang bertugas saat resepsi.
Begitupun momen syahdu berikutnya tak lepas dari jepretan kamera. Laila menyalami suaminya dan mencium tangannya. Hatinya berbunga-bunga, wajahnya terlihat sangat cerita.
Namun sebaliknya, Abyasa hanya tersenyum seperlunya. Dari luar boleh jadi dia ingin menunjukkan dia terlihat bahagia telah memperistri Laila.
Bisa jadi, jauh dari lubuk hatinya, hatinya perih dan teriris-iris. Dan Laila dapat merasakannya meskipun tidak mampu menyelami kedalaman perasaan yang dirasakan Abyasa saat itu.
Dalam hati, Laila hanya menduga. Ada apa dengan suamiku? Apakah dia menyesal telah menikah denganku?
“Terima kasih Kang Aby, aku telah menjadi istri sahmu. Doakan aku agar bisa selalu membahagiakanmu dan mampu menjadi istri salehah,” ungkap Laila sambil tersipu.
“Sama-sama, Dik. Doakan Akang juga ya, agar bisa menjadi suami saleh,” balas Abyasa singkat. Mimik wajahnya datar. Tak ada senyuman.
Kenapa sih, kamu kok kayak aneh banget, jangan-jangan kamu terpaksa menikah denganku? Apakah kamu terpaksa menerima perjodohan ini? Apakah masih ada wanita lain di hatimu? Apakah dia masih menjadi permaisuri hatimu?
Ragam pertanyaan itu bermain-main di pikiran Laila.
Bayangan kontras antara Laila dan Abyasa di hari pertama pernikahannya itu kemudian menghilang dan berganti dengan adegan lanjutannya saat mereka berdua berada di dalam kamar di malam pertama.
Malam itu, Abyasa lebih banyak tertunduk dan diam.
“Kang, kenapa sih semenjak akad tadi kamu diam saja?”
“Hmmm… aku hanya kecapean aja. Aku ingin istirahat,” kata Abyasa. Dia memejamkan membelakangi Laila.
Beginikah sepasang suami istri menghabiskan malam pertamanya? Laila bertanya-tanya.
Dadanya sungguh sesak. Sungguh ini bukan malam yang indah dengan penuh nuansa surga, pikirnya.
Jangankan dia membahagiakanku di malam ini, mengajakku menunaikan shalat zafaf saja sama sekali tak keluar dari mulutnya. Ada apa ini? Padahal aku sudah siap untuk melayaninya.
Haruskah aku memaksa dengan cara menggodanya? Astaghfirullah aku kan malu. Aku ini wanita. Seharusnya lelakilah yang memulai duluan, pikirnya lagi.
Laila jadi pusing sendiri di malam pertamanya.
Tidak aku, aku harus menanggalkan rasa maluku. Ini bukan sebuah dosa, malah ini ibadah untuk membahagiakan suami, pikir Laila lagi.
Laila pun mencobanya. Tangganya gemetar memegang pundak suaminya. Kemudian dia pun memberanikan diri memeluk suaminya dari belakang.
“Kang, meskipun kamu cape, nggak ada salahnya kita ngobrol-ngobrol sebentar,” bisik Laila ke telinga Abyasa.
Suaminya sama sekali tak merespon. Matanya tetap terpejam, tubuhnya membeku, tak berubah posisi sedikit pun.
Yah, dia beneran tidur. Walaupun demikian, Laila mencoba menghibur dirinya sendiri, untuk saat ini kalau suaminya masih bersikap seperti itu sampai di hari-hari berikutnya, tidak masalah jika dia menjalin persahabatan terlebih dahulu dengan Abyasa. Dia berharap jika sudah akrab dan dekat, dengan sendirinya Abyasa akan luluh.
Mungkin proses taaruf dan perjodohoan yang dilakukan kedua pihak keluarganya terlalu singkat sehingga Laila dan Abyasa masing-masing merasa masih asing.
Laila tersenyum sendiri saat adegan berganti pada momen manis dirinya dengan sang suami. Meskipun dikecewakan saat malam pertama, kegigihan dan kesabaran Laila membuahkan hasil.
Seiring waktu, Abyasa mulai akrab dan bisa memperlakukan Laila sebagaimana layaknya seorang istri. Mereka berdua menghabiskan masa-masa indah bulan madunya di dengan berlibur ke India. Abyasa dan Laila menghabiskan saat-saat penuh romantis saat berada di kawasan Taj Mahal. Di sanalah, benih-benih cinta di antara keduanya mulai tumbuh.
Senyum bahagia Laila mendadak berganti sendu dan hujan air mata. Dia paham, sejak awal dia sudah tahu Abyasa mencintai anak angkat uwaknya, mendiang Ustaz Sulaiman dan Ratna.
Laila mengira, setelah menikah mungkin Abyasa bisa melupakan Rosa. Namun kenyataannya tetap saja, meskipun selama berubah tangga Abyasa sudah berusaha membahagiakan dirinya, terkadang sering dia menemukan kondisi suaminya yang masih murung, bahkan mendapati suaminya sering mengigau memanggil-manggil nama Rosa dalam mimpi.
Perasaan Laila benar-benar hancur. Dia juga tidak bisa menyalahkan suaminya. Dia pun tidak pernah protes atau membahasnya. Dia pura-pura tidak pernah mendengar suaminya mengigau memanggil Rosa dan bahkan seolah menganggap kejadian berulang yang dialami suaminya itu tidak pernah terjadi.
Entah mengapa, seiring waktu justru Laila sendiri yang malah merasa bersalah, mengapa dia begitu bodoh menerima begitu saja kehadiran Abyasa dalam hidupnya, padahal sudah tahu bahwa lelaki itu mencintai Rosa, dan begitu pula sebaliknya Rosa mencintai Abyasa.
Mengapa aku sangat bodoh? Laila menyesali dirinya sendiri.
Kini dia merasa dikuasai oleh keadaan. Didorong oleh rasa bersalah, dia pun memanfaatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan ingin memenangkan hati Abyasa dengan meminta Rosa untuk menikahinya. Dia mengajukan permintaan itu diperkuat dengan kondisi, Rosa harus membesarkan putra ibu angkatnya, Ratna yang meninggal usai melahirkan.
Awalnya Abyasa menolak. Namun Laila terus mendesaknya, hingga akhirnya pernikahan pun benar-benar telah dilangsungkan tadi siang.
Sungguh sulit diprediksi bagaimana rasa perih di hatinya benar-benar dia alami.
Apakah aku telah melakukan kebodohan seperti dulu? Mengapa aku menjadi wanita bodoh seperti ini?
Suara-suara sumbang yang dihembuskan iblis kini menguat di hati Laila.
Padahal tidak seharusnya aku meminta Abyasa menikah dengan Teh Rosa. Kini mereka hidup bahagia, sementara aku, apa yang aku dapatkan.
Pada dasarnya, mereka menikah atas dasar cinta. Sementara aku menikah dengan Kang Aby hanya karena terpaksa. Meskipun tetap dalam koridor syariat Islam melalui jalan taaruf, tetap saja aku dan Kang Aby dijodohkan. Dan Kang Aby cenderung untuk menerima perjodohan itu karena tak mau menentang keinginan orang tuanya.
Ya Allah, mengapa rumah tangga yang kujalani saat ini menjadi serumit ini?
Semalaman, Laila tidak bisa memejamkan mata dan disibukkan dengan pikira-pikirannya yang kacau.
Kalau saja aku berani menolak dari awal setelah tahu Kang Aby mencintai Rosa, mungkin hidupku tidak akan menderita seperti ini?
Mengapa aku menjadi wanita yang begitu bodoh? Penyesalan mendalam di hatinya membuat ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Laila memegangi keningnya yang terasa sangat pening.
Bersambung