Pria yang Hidup Cukup Lama

1068 Words
Pria yang Hidup Cukup Lama Ia selalu malas ketika pertama kali bangun membuka mata. Hari-hari yang dijalani selalu membosankan, sama saja. Seperti rutinitas yang dilalui berulang kali. Seluruh ketakutan, ketegangan, tanjakan-tanjakan sulit telah berlalu sejak lama. Mungkin kata orang, ia sedang menikmati hasil atas apa yang sudah ditanamnya dulu. Anggap saja sedang panen. Saatnya bersantai dan bersenang-senang dengan apa yang dimiliki. Gairah hidupnya sudah lama redup. Terhitung sejak sepuluh tahun yang lalu ketika ia tak lagi menjalankan operasional perusahaan. Untuk saat ini perannya adalah bayang-bayang bagi petinggi-petinggi di perusahaan. Seluruh kinerja perusahaan sudah diserahkan secara penuh pada anak-anaknya. Jujur, menghandel beberapa perusahaan di bawah tangannya lebih melelahkan daripada berjuang membangun segalanya dari awal di masa lalu. Daripada memusingkan diri seperti anak-anak didiknya, ia lebih banyak bersosialisasi dan merancang. Anak-anak didiknya hanya perlu menjalankan rancangan yang ia buat. Sebagai orang tua yang memastikan anak-anaknya berada di tempat yang tepat dan mendapat masa depan yang baik, ia akan menyokong mereka dari belakang. Menguatkan koneksi dan relasi, memperluas jangkauannya, dan menjaga yang seharusnya tersembunyi tetap pada tempatnya. "Tuan Simon ... Anda sudah bangun?" suara lembut dan sensual dari wanita di samping menarik atensi pria itu. Mendengar namanya disebut dengan suara agak serak, mengingatkannya pada aktivitas malam mereka yang terlalu liar. Terlalu liar hingga wanita berambut pirang itu nyaris kehilangan suaranya. "Istirahatlah dulu, Natalie. Kau kelelahan." Natalie terkekeh geli, ia merayap mendekat, lalu bergelayut manja di lengan sang tuan. "Salah siapa aku kelelahan? Suaraku juga habis karena banyak menjerit. Tuan tahu siapa penyebabnya?" Simon menyeringai, ia menunduk lantas mengendus tengkuk Natalie. Mendapati aroma tubuhnya masih melekat di tubuh wanitanya. "Kau tahu, Nat? Aku tidak keberatan melanjutkannya kalau kau mau." "Tapi ini hari Senin, Tuan akan menghabiskan banyak waktu Tuan dengan Leah, Leon, dan Jack. Anda tidak boleh terlambat." Diingatkan lagi tentang hari Senin, tubuh Simon kembali dijalari rasa malas. Hari ini jadwalnya cukup padat biarpun hanya melakukan inspeksi ke perusahaan dan sedikit acara bincang-bincang dengan pengelola yayasan yang ia donaturi selama beberapa puluh tahun ke belakang. "Aku tidak suka kau mengingatkanku pada kesibukan-kesibukan itu. Rasanya ingin bersantai saja. Menghabiskan waktu dengan kalian lalu banyak bersenang-senang." Sang wanita lagi-lagi terkekeh geli. "Tuan akan membuat para gundik saling ribut kalau benar-benar terjadi begitu. Tuan, kan, tahu sendiri kalau kami akan berebut perhatian Tuan sampai kami bertengkar." Tak ada kebohongan dalam kata-kata Natalie. Memiliki harem berarti sudah siap dengan kekacauan seperti ini. Tidak hanya sekali dua kali dalam kehidupannya yang berusia ratusan tahun ini ia mengalami situasi diperebutkan gundik atau mendapati mereka melakukan aksi lebih ekstrem. Ia paham, tapi terkadang ia senang menyaksikan betapa mereka haus akan kasih sayang. Sebut saja ia memiliki kecenderungan tidak lazim, tapi sudahlah. Justru dengan itu, hari-harinya yang lesu ini akan sedikit berwarna. Simon tidak kunjung menjawab perkataan Natalie. Alih-alih dengan perkataan, ia membawa tubuh Natalie mendekati kepala ranjang sebelum membenamkan lagi wajahnya di ceruk leher sang wanita. "Beban hidupku bertambah satu lagi kalau begitu. Jadi tolong hentikan, ya. Aku akan menyumpal mulutmu lagi." Satu kalimat nakal terakhir mengawali keduanya pada pagi yang panas. Desakan untuk melakukan aksi lebih jauh dari sekadar berbagi napas dan menelusuri kulit masing-masing datang. Tak ada lagi pakaian yang harus ditanggalkan. Keduanya menghabiskan sisa-sisa tenaga semalam dengan sedikit olahraga di pagi hari. *** Simon menelusuri tubuhnya di cermin. Beratus tahun telah berlalu dan tak satu pun bagian tubuhnya yang menua. Sebagaimana darah vampir mengalir dalam darahnya, gen itu berhasil menjaga tubuhnya selalu dalam kondisi prima di usia dua puluhan yang selalu b*******h. Ya, hanya saja, darah vampir dalam tubuhnya seolah tidak memberikan pengaturan agar tubuhnya sedikit lebih berisi. Tidak ada otot-otot yang terlalu menonjol dan tubuhnya relatif kurus. Kendati otot d**a dan otot perutnya terbentuk dengan pas, tetapi mereka tetap berada di porsi yang sama selama ratusan tahun. Seolah menolak bertumbuh. Meskipun dengan rangkaian olahraga berat dan pola makan yang diatur untuk membuat otot-otot itu lebih berisi. Pada akhirnya ia menyerah saja. Toh, tidak semua perempuan menyukai tubuh yang kekar berisi. Bukankah yang terpenting adalah isi dompetnya? Ia hanya menyempurnakan sedikit pesonanya dengan wajah yang rupawan dan nama besar. Bukannya mau pamer, tapi itulah yang ia miliki. Kekayaan tak ternilai dengan hitungan angka dan nama yang membuat orang-orang bertekuk lutut di bawah kakinya, bahkan pemerintah dunia enggan berurusan dengannya. "Tuan Simon, saya harus menyampaikan jadwal hari ini. Apakah Anda masih lama di dalam sana?" suara perempuan datang dari balik pintu setelah sebuah ketukan pintu lembut. Sekretarisnya selalu bisa datang tepat waktu. "Ya, aku masih belum selesai membersihkan diri. Kau sarapan saja dulu dan pastikan bawa Leon ke sini selama kau pergi sarapan." Tak butuh waktu lama hingga jawaban datang. "Baik, Tuanku." Ketukan sepatu hak tinggi sekretarisnya semakin menjauh, lalu decitan pintu menyusul. Tak lama, decitan pintu yang tertutup datang dan ketukan langkah kaki yang lebih besar mendekat. "Anda mencari saya, Tuanku?" Sebuah suara berat merambat masuk melewati pintu. Tangan kanannya yang setia. "Yang kuminta minggu lalu, apa sudah kau dapatkan?" tanya Simon terburu, langsung ke inti permasalahan sementara ia memasang kancing kemeja satu demi satu. Pria di balik pintu berdeham sebelum menjawab, "Ya, orang yang berniat membunuh Tuan itu sudah saya singkirkan." "Kali ini ia mencoba dengan cara apa?" "Teknik tradisional, air suci." "Oh, amatiran. Kalau sudah kausingkirkan, setidaknya berikan keluarga yang ditinggalkan kompensasi yang wajar dan tidak mencurigakan seperti biasa. Kau paham? Jangan lupa panggilkan Leah jika ia sudah selesai sarapan." "Iya, Tuanku." Pria tersebut undur diri, langkahnya yang berat meninggalkan kamar. Diakhiri dengan decitan pintu yang terbuka, lalu ditutup. Kepergian Leah dan Leon menyisakan keheningan. Sunyi yang membuat Simon terkadang mengingat masa lalu, masa-masa terkelamnya, banyak pemikiran liar, dan sejuta pertanyaan dalam hidupnya yang belum pernah terjawab. Ia memang sudah hidup cukup lama, ratusan tahun. Angka yang berjejer di tanda pengenalnya menunjukkan ia sudah berada di angka tiga ratus. Namun, dengan usia yang berkali-kali lipat dari manusia itu, ia masih dijejali dengan banyak pertanyaan. Salah satunya apakah arti kehidupannya? Ratusan tahun usia yang ia lalui dengan kesia-siaan. "Tuan Simon, saya datang untuk membacakan jadwal Anda hari ini." Leah datang dan Simon tersadar ia sudah cukup lama menghabiskan waktunya dengan melamun dan mempertanyakan diri. Sepuluh menit kesia-siaan. Memiliki umur yang cukup panjang ternyata menjadikan dirinya orang yang boros terhadap waktu. End of [Pria yang Hidup Cukup Lama] Next Chapter [1. Sekretaris dan Gundik-Gundik]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD