[1. Sekretaris dan Gundik-Gundik]

1250 Words
1. Sekretaris dan Gundik-Gundik Leah baru saja mendaratkan pantatnya di atas kursi putar. Pagi-pagi sekali akun surat elektronik milik bosnya sudah dijejali dengan berbagai macam undangan, tawaran kerja sama, dan banyak hal tidak penting yang harus segera dipilah. Tak lupa menyusun jadwal untuk hari ini. Beberapa acara akan dimulai kurang dari satu jam dan Tuannya masih belum siap. Setelah mengembuskan helaan napas singkat, ia lantas menyamankan diri di atas kursi. Segera bersiap menuntaskan tugasnya sebelum sang tuan meminta. "Nona Leah, Anda dicari Nona Roxanne." Panggilan tidak diduga yang datang dari salah satu pelayan gundik Simon seperti sebuah pertanda buruk. Gundik Simon benar-benar seperti penyihir. "Aku akan menyusul setelah mencetak semua jadwal ini, katakan padanya aku akan datang sebentar lagi," balas Leah seramah mungkin. Namun, ekspresi ketakutan yang muncul di wajah pelayan itu memberikan pertanda tidak baik bagi Leah. Ia buru-buru berkata lagi, "Apa dia ingin aku datang sekarang juga? Tidak bisa ditunda-tunda lagi?" "Iya, Nona." Satu helaan napas lagi keluar dari mulutnya. Sungguh, kelakuan mereka mudah sekali membuatnya menghela napas. "Baik, aku akan ke sana sekarang." Leah bangkit dari kursinya lalu berjalan mendahului sang pelayan sementara perempuan yang tampaknya lebih muda itu berusaha tidak menyusul langkah Leah. Leah menoleh ke belakang, menyadari bahwa perempuan ini masih agak asing baginya. "Kamu baru melayani Roxanne, ya?" tanya Leah. Kendati agak terkejut mendengar pertanyaan Leah, pelayan itu tetap menjawab, "Iya, Nona. Saya baru dua minggu melayani Nona Roxanne." "Ya, aku paham. Karena kamu sama sekali tidak berani menolaknya. Temperamennya memang buruk. Jadi kamu harus membiasakan diri." Pelayan muda itu tampaknya tidak tertarik dengan pendapat Leah tentang Roxanne. Tentu saja karena perempuan muda itu pelayannya. Apa pun pendapat Leah, pelayan muda itu tetap akan berpihak pada Roxanne. Langkah mereka masih berlanjut hingga tiba di depan kamar milik Roxanne. Begitu sampai di depan pintu, pelayan tersebut segera mendahului Leah mengetuk pintu. Segera setelah bunyi ketukan, Roxanne memberikan izin masuk. Seperti gundik-gundik dalam fim-film bertema kerajaan yang pernah Leah tonton, mereka mempunyai pelayan. Simon yang menghabiskan masa kecilnya hidup di era-era seperti itu mengadopsi terlalu banyak sistem di masanya tumbuh ke rumahnya ini. Mereka selalu dilengkapi pelayan dalam jumlah banyak, cukup banyak. Biarpun akuntan di kediaman Simon protes tentang jumlah pelayan yang terlalu banyak untuk satu gundik saja, tapi Simon tidak banyak menanggapi. Jika akuntannya menganggap pelayan-pelayan itu sebuah pemborosan, Simon justru makin senang membuang orang. Wajar saja, sebagai orang terkaya di dunia, ia tidak begitu memperhitungkan slip gaji pelayan yang tidak seberapa bagi dompetnya itu. Ketika Leah memasuki kamar, beberapa pelayan berseliweran dengan kesibukan mereka sendiri-sendiri sedangkan Roxanne sedang asyik mempercantik kuku dengan bantuan salah satu pelayannya. Leah menundukkan kepala sebentar sebelum menyapa, "Selamat pagi, Nona Roxanne. Apa yang membuat Anda memanggil saya ke sini?" "Kau carikan warna baju yang sesuai dengan warna kutekku dulu sementara aku bicara dengan Leah," titah Roxanne pada salah satu pelayannya sambil mengibaskan tangan. Pandangannya lantas beralih pada Leah. "Ah, aku tentu tidak suka mengganggu pekerjaanmu pagi-pagi begini. Tapi aku ada satu hal yang mengganjal." Leah mengulas senyum manis. Oh, tentu saja ia sangat kesal karena harus dipanggil di tengah-tengah kerja. Terutama ketika ia harus meninggalkan pekerjaannya demi hal yang remeh. "Apa pun untuk Anda, Nona. Saya tidak keberatan." Roxanne menyatukan telapak tangannya sebelum berkata, "Ya, ini masalah besar. Kau tentu ingat dengan butik yang waktu itu bukan? Yang pemiliknya diajak Tuan Simon berkeliling waktu itu. Wanita yang punya koleksi gaun baru untuk musim panas tahun ini." "Tentu saya ingat, Nona." "Ya, tentu kau ingat. Kau juga ingat bukan aku memintamu membawakan katalog musim panas itu." "Ya, koleksi terbaru yang Anda inginkan. Saya sudah mengirimkan katalognya pada Anda dan memberikan nomor kontak Anda pada manager butik." "Lalu ... aku tidak mendapatkan satu pun dari gaun-gaun cantik itu." Leah sesaat diam, mencoba menerka-nerka ke mana pembicaraan ini mengarah. Apakah ada kesalahan pada dirinya, pihak butik, Simon sendiri, atau para pelayannya. Apakah Leah kurang cepat menghubungi pihak butik sehingga stok di sana telah habis? Ataukah pihak butik yang memang enggan menghubungi Roxanne? Atmosfer menjadi sedikit berat dan Leah menyadari jika para pelayan yang sibuk bekerja itu sedang tegang. "Akan saya hubungi pihak butik untuk mengirim satu set gaun untuk Anda, Nona," putus Leah. Padahal menghubungi mereka bukan bagian dari pekerjaan Leah. "Ah, sudahlah. Aku tidak butuh lagi. Siapa orang-orang yang akan ditemui Tuan akhir-akhir ini?" Sedikit kelegaan, hawanya tak lagi setegang sebelumnya. "Minggu depan, akan ada peragaan busana untuk koleksi pakaian renang dari merek favorit Anda, Nona. Tuan akan datang ke sana." Roxanne menjentikkan jari antusias. "Tepat sekali! Aku ingin kau membawakan katalog terbarunya kepadaku siang ini. Dan pastikan berikan aku nomor yang bisa dihubungi. Jangan sampai aku melewatkan koleksi terbarunya lagi." "Baik, Nona." "Oke, sekarang kau sudah boleh pergi." Di luar kamar Roxanne, senyum bisnis yang sedari tadi ditahan-tahan agar tetap ada di tempatnya segera luntur. Tergantikan raut wajah paling kesal. Sekarang ia harus kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Oh, lihat siapa yang pagi-pagi datang ke kamarnya para gundik." Langkah Leah lagi-lagi terhenti. Ia menoleh dan memasang lagi senyum bisnisnya lalu mendapati salah satu dari gundik lain tuannya sedang berkacak pinggang. "Selamat pagi, Nona Emma." Leah menundukkan kepala singkat, sementara ia masih menjaga senyum palsu. "Ah, mood-ku jadi jelek mencium aroma parfum murahanmu itu!" Urat-urat marah Leah menonjol keluar, beruntung tertutupi helaian rambutnya. Tidak Roxanne, tidak Emma, mereka semua sama-sama menyebalkan. Roxanne hari ini sedang agak berbaik hati tidak menghina atau menyindir Leah sama sekali, tapi Emma masih sama buruknya dengan hari kemarin. "Apa yang membuat Anda memanggil saya, Nona?" "Tidak ada." Sialan! "Ganti parfummu itu! Tuan pasti juga tidak suka pegawainya memakai pewangi murahan." Wanita itu melewati tubuh Leah begitu saja diikuti pelayannya. Omong-omong parfum yang sedang Leah pakai adalah koleksi keluaran terbaru dari salah satu desainer parfum ternama yang diberikan kepada Leah sebagai hadiah. Sebelum Emma memakai koleksi lain dari parfum itu, Leah sudah mencobanya lebih dulu. Leah masih memaksakan diri tersenyum. Dengan langkah agak terburu, ia meninggalkan kamar para gundik. Kembali ke pekerjaannya yang tertinggal, senyum palsunya luntur dan wajah kesalnya kembali. "Dasar para p*****r rendahan! Enak sekali mulut mereka bicara. Mentang-mentang jadi teman mainnya Tuan, seeak hati kalian menyuruh ini-itu, mengihina terus. Memangnya kalian hebat dalam hal apa? Mengangkang?!" omel Leah sepelan mungkin sembari melanjutkan tugasnya. Menggumamkan kata makian, umpatan, dan protes kepada para gundik sudah sering dilakukannya sejak dulu-dulu. Bahkan bisa dijadikan salah satu rutinitas harian yang lekat dengan pekerjaannya. Pintu berderit terbuka dan perempuan itu lantas membanting kertas yang susah payah dikumpulkan di tangannya. "Kenapa kau marah-marah begitu? Sudah saatnya kita menghadap Tuan?" Pria bertubuh tinggi itu bersandar pada badan pintu. Ia Leon, tangan kanan Tuan Simon yang bekerja di jam yang nyaris selalu sama dengan Leah. Mudahnya mereka berdua memang sering bersama dengan Tuan Simon. Tapi Leah yakin jika job desk pria itu lebih banyak dan menantang daripada miliknya. "Kau tidak lihat aku belum selesai?" "Salah siapa belum selesai?" Sebelah sepatu Leah melayang mengenai pintu dan Leon nyaris mendapat bekas keunguan di mata kanannya kalau saja tidak tangkas menghindar. "Iya-iya-iya, selesaikan dulu itu baru kita menghadap. Aku tunggu di luar," ujar Leon terkaget-kaget. "Makanya cepat keluar sana!" "Kau jadi segalak mereka, Leah." Sebelah sepatu Leah yang tersisa kembali melayang, Leon buru-buru menutup pintu sebelum kepalanya dilempari layar komputer. |Bersambung| *bonus* Leon: kenapa perempuan suka menyiksa diri mereka memakai sepatu bertongkat seperti ini *mengangkat sebelah sepatu Leah sambil menunggu perempuan itu selesai mencetak jadwal*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD