“Yang mana? Yang mana orangnya?!” tanya Nathan ketus. Alea menoleh ke arah Nathan. Wajah pria itu kembali tampak menggelap, seperti siap menyembur siapa saja yang membuat ulah. Alea melihat ke arah Marcho. “Cho apaan sih kamu. Ngapain bikin masalah mulu sih?” tegur Alea tidak senang. “Tapi dia tadi kan yang li—“ “Udah deh! Belum tentu juga dia liatin aku. Gak usah bikin masalah antara aku ama Nathan dong!” tegur Alea semakin tegas. “Tau nih Marcho. Udah lah, ayo makan. Than, makan di mana kita?” tanya Raka. “Ngikut aja. Tapi jangan jauh-jauh dari sini ya. Soalnya aku harus nganter Lea ke sini lagi ntar.” “Mie ayam di tempat biasa aja lah. Malas makan berat!” usul salah seorang anggota tim. “Oh iya, esnya enak tuh. Yuk ak ke sana!” Semua anggota tim setuju dengan tempat yang diusul

