Ruangan Mira berantakan tak berbentuk, seperti baru saja terjadi gempa yang cukup besar. Semua yang ada di mejanya telah berpindah tempat. Bersebaran serta berserakan ke mana-mana. Terutama ke arah dimana Bunga berada, ia menggigil ketakutan di depan rubah betina itu. “Dasar wanita bodoh! Gue minta, Elu menyelesaikan kekacauan yang udah Elu ciptain! Bukan bikin kekacauan baru!” Raung Mira dari kursinya. Bunga yang berada tak jauh dari meja Mira tertunduk, tak berani menatap kemarahan wanita kejam seperti Mira. “Aku minta maaf, Mir!” ucap Bunga pelan, takut Mira semakin marah. “Gue mau, Elu hilangin dia! Bukan minta maaf!” “Tapi aku tidak bisa Mir!” “Kenapa nggak bisa? Elu mau gue yang menghilangkannya? Sekalian Elu-nya juga!!” Mira berjalan mendekati Bunga, emosi melihat ketidak patuh

