bc

Black Pearl

book_age18+
1.6K
FOLLOW
11.7K
READ
dark
others
friends to lovers
goodgirl
drama
tragedy
city
multiverse
school
victim
like
intro-logo
Blurb

   Jika saja setiap orang bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan, maka tidak ada satu orang pun yang menginginkan terlahir dari rahim seorang pekerja Seks.

   Mutiara (Tiara) harus menerima penderitaan bertubi-tubi. Teman-teman di sekolah, bahkan para guru dan staf selalu memandang kotor dirinya, meskipun tidak pernah mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi.

   Bunga, Ibunya Tiara, menutupi kebenaran tentang siapa ayahnya Tiara. Pikirnya semua percuma saja, karena kehidupan ayahnya tidak akan pernah bisa menerima kehadiran Tiara, putri kesayangannya. Dia hanya dapat mengatakan bahwa ayahnya telah tiada.

   Kehidupan Tiara semakin runyam saat Bunga ditemukan tewas di rumah bordir tempatnya bekerja. Tiara harus menghadapi kerasnya kehidupan sendirian tanpa tempat bersandar satu-satunya yang dia miliki selama ini.

   Apa yang akan terjadi pada kehidupan Tiara?

   Akankah dia terjebak dalam kehidupan gelap seperti Bunga?

   Benarkah ayah Tiara sudah tiada?

   Masih adakah tempat bagi Tiara untuk bersandar, sekedar untuk mengatakan pada dirinya bahwa semua akan baik-baik saja?

chap-preview
Free preview
Mencari Bunga
Prolog. Buukk! Sebuah Folder besar melayang, mendarat tepat di belakang kepala Tiara. Seketika Tiara limbung, terjatuh tepat di depan pintu yang terbuka lebar. Disaksikan oleh banyak orang. Tak ada yang tergerak menahan tubuhnya daribmenghantam lantai kotor berdebu. Seketika Ibu Mita, Guru BK yang kehilangan kendali, terkulai lemas tak menyadari kecerobohannya karena di kuasai amarah tak jelas. Ia terduduk memeluk Folder yang baru saja menjadi algojo pengeksekusi. Sidang Dewan Sekolah seketika membayangi, mengancam pekerjaannya. Tiara masih terbaring di lantai yang dingin dan kotor, bekas jejak kaki-kaki berlalu-lalang. Dia masih bisa merasakan sakit di kepala bagian belakang, juga rasa sakit dalam hati. Air matanya menitik, lambat laun pandangan semakin buram, bahkan telinga terasa semakin memekak, secara perlahan berangsur-angsur tertutup. Baguslah, seperti ini seharusnya Tiara sejak lama. Atau setidaknya sejak tadi pagi. Agar ia tak melihat ataupun mendengar apapun yang dilalui hari ini. Tak perlu dia merasakan penghinaan sesakit ini. Juga luka dibelakang kepalanya. *** “Bunga! Bungaaa!” Duk Duk Duk..! Seorang gadis berseragam SMA mengetuk-ngetuk pagar besi setinggi dua meter. “Bungaaa! Buung ...,” Belum sempat dia menyelesaikan kalimat seorang pria bertubuh besar dengan tatto di sepanjang lengan menghampirinya. Otot-otot di lengan dan bahu keluar seperti siap untuk meledak. Berkali-kali gadis muda itu berusaha menelan ludahnya demi menguasai rasa takutnya. “Apa? Masih pagi gini sudah teriak-teriak!” bentak pria tersebut. Membuat hati gadis cantik itu kecut dan menciut. Pria menyeramkan itu menggosok mata yang masih merah, mungkin tidurnya terganggu oleh teriakan gadis itu. Akh, sepertinya ia tengah membangunkan singa yang tengah tertidur. “Tolong buka Om, aku mau ketemu bunga!” pinta gadis itu. “Ngapain anak sekolah masuk ke sini! Sana-sana, pergi!” usirnya tak berbelas kasih. “Aku mau ketemu Bunga dulu Om! Tolong bukain pagarnya!” pinta gadis itu sekali lagi. Tak lupa memasang wajah memelas. Bukannya membuka pagar, pria itu memandangi gadis berseragam sekolah itu dengan tatapan sinis. “Sudah pergi sana! Kalau tidak mau dengar, aku buka pagarnya, lalu aku seret kamu! Sekali kamu masuk kedalam, tidak akan keluar lagi selama-lamanya.” ancamnya. “Tapi Om ...,” “Aku bukan Om-mu!” potongnya. Hampir saja gadis itu putus asa, ia berbalik untuk pergi meninggalkan tempat itu. Suatu suara menggema tepat saat dia berbalik. “Tiaraa!” Gadis itu yang memang bernama Tiara berbalik ke arah asal suara. “Mas Danu!” pekik Tiara kegirangan. “Tolong buka pagarnya,” pinta Danu pada pria menyeramkan itu. Pria itu menurut. Dibuka kunci gembok yang mengunci lilitan rantai yang super besar itu. Mempersilahkan tamu kecil yang sejak tadi ia tolak. “Mau cari bunga?” tanya Danu begitu Tiara masuk melewati pagar tinggi itu. “Iya, Mas Danuu!” Tiara mengangguk. Menjawab dengan suara dibuat manja. “Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil Mas, panggil aku Danu aja!” protes Danu. “Iya Mas! Eh Danu.” Tiara cengengesan masih saja suka keceplosan memanggil Danu dengan sebutan Mas. Tapi memang harus Mas seh, Danu kan lebih tua darinya. “Ngapain cari Bunga?” tanya Danu. “Mau minta uang, aku telat bayar sekolah. Hari ini tenggat waktu terakhir yang diberikan sekolah. Bunga ada di dalam kan?” “Kalau dia di booking-in, pasti ada didalam. Kalau booking-out, enggak tau di hotel mana.” Tiara menghela nafas panjang. “Mau aku antar?” Danu menawarkan diri. Tiara mengangguk, dia pun tak nyaman menelusuri lorong diskotik besar yang merangkap sebagai rumah bordir tersebut. Bau aroma alkohol menyeruak dari berbagai sudut ruangan. Kenapa orang-orang begitu santai menghirup aroma menusuk ini? Bahkan menikmatinya dengan deru musik kencang dan kelap-kelip lampu yang membuat sakit kepala. Tak luput dengan gelas di tangan mereka yang sesaat lagi lupa akan diri sendiri. “Nih!” Danu memberikan saputangan miliknya kepada Tiara. Tiara enggan menerima. “Kenapa? Takut aku kasih obat bius?” tanya Danu seolah mampu membaca isi kepala Tiara. “Kamu nggak kuat cium bau alkohol kan! Liat tuh muka kamu sudah pucat kayak gitu. Nanti kalau pingsan aku nggak jamin tidak terjadi apa-apa ya!” Danu menggoda Tiara. Senyum nakal tersungging dari bibirnya. Tiara mengambil sapu tangan Danu, dan membekapkan ke hidung. Tak ingin pingsan di situ dan ancaman nakal Danu menjadi kenyataan. “Tiara?” jerit seorang wanita setengah baya dengan style high classnya, makeup tebal menor menghiasi wajahnya. Dia adalah pemilik rumah hiburan sekaligus 'mamih' di sini. Dia mengatur semua kebutuhan klien dan para wanita miliknya. “Tante Miraa!” Tiara berlari memeluk ke arah 'mamih' tersebut. Mira mengelus pipi merah Tiara. “Kamu tambah cantik aja! Kenapa berkeliaran di sini? Nanti ada yang lihat kamu bahaya loh!” Mira memperingatkan Tiara. “Aku cari Bunga tante.” ucap Tiara menggelayut manja pada lengan Mira. “Bunga? Mmm,” Mira mencoba mengingat. “Ooo Bunga booking in kok, dia ada di kamar sana.” Mira menunjuk ke sebuah kamar. “Kamar 308 tante?” tanya Tiara. Mira mengangguk. “Tapi jangan bikin ribut ya! Takut tamu tante terganggu, nanti tante jadi rugi.” Tiara mengangguk, berjanji tidak akan membuat keributan seperti yang di khawatirkan Mira. Segera ia menuju kamar yang ditunjuk. Duk, duk, duk! Tiara mengetuk pintu kamar 308 dengan hati-hati. Lalu duduk di kursi depan kamar, menunggu orang yang ada di dalam keluar menemuinya. Seorang laki-laki setengah baya keluar dari kamar tersebut. Kondisinya kacau, dengan kemeja yang tidak terkancing rapi, celana belum di pakaikan sabuk dengan sempurna. Rambut berantakan, dan jalan terhuyung-huyung masih dalam pengaruh alkohol. “Aku akan kembali lagi sayang, mmuach!” pamitnya pada wanita di dalam kamar tersebut. Wanita itu tersenyum manja, menebarkan senyum racun yang mampu memikat banyak laki-laki buaya yang haus akan permainan ranjang. Wanita itu muncul di pintu tanpa busana. Hanya selimut tipis dililitkan di tubuh seksinya. Tatapan wanita itu beradu dengan tatapan Tiara. “Masuk sini!” ajaknya. Tiara mengekori wanita itu. Danu menunggu di luar kamar. Tiara menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang tidak terlalu luas itu, hanya berukuran 3x5 dengan kamar mandi mini di dalamnya. Bau rokok, alkohol, parfum laki-laki, dan aroma lainnya bercampur aduk di sana. Bunga membuka jendela untuk membiarkan angin segar bertukar dengan seluruh aroma memabukkan di dalam kamar tersebut. Bunga mengenakan pakaian dalam dan gaun seksinya di depan Tiara, tanpa rasa malu ataupun bersalah. Inilah kehidupan Bunga, wanita yang sangat dekat dengan Tiara. Tempat Tiara menggantung kan segala asa dan lelah letih hatinya. “Kenapa harus kesini? Nanti kan bisa ketemu di rumah!” Bunga memantikan korek api, menghisap dalam-dalam rokok yang terjepit di antara jemari, meniupkan asap tebal dari mulutnya. “Aku butuh uang! Hari ini terakhir harus bayar sekolah.” pinta Tiara, tak tega sebenarnya harus meminta dari hasil kerja keras Bunga yang kotor. Bunga melangkah menuju nakas di depan cermin samping pintu kamar mandi. “Nih!” Bunga melemparkan beberapa lembar uang berwarna merah ke kasur. “Sisanya pakai untuk kebutuhan kamu!” ucap Bunga tanpa memperdulikan ekspresi sedih Tiara. Diambilnya lembaran itu yang memang sangat dia butuhkan saat ini. Jika untuk keperluan pribadi, Tiara masih bisa menahan diri untuk tidak datang ke sini. Tapi ini kebutuhan sekolah! Tiara lupa meminta kemarin sore sebelum Bunga berangkat kerja. “Sudah sana berangkat, nanti kamu terlambat. Aku juga mau mandi terus pulang! Capek.” Bunga mengusir Tiara. Dia menuntun Tiara menuju pintu. “Nggak usah pasang wajah kayak gitu!” Bunga menoyor kening Tiara. Dia pun tak ingin ikut terbawa suasana menyedihkan itu. Chup! Tiara mencium pipi Bunga, lalu beranjak meninggalkan Bunga yang hatinya ikut mencolos. Kenapa Tiara harus menyaksikan dirinya dengan laki-laki asing dalam satu kamar! “Sudah?” tanya Danu tersenyum menyambut kedatangan Tiara. Gadis Itu mengangguk. Danu menatap Tiara dengan seksama, menyadari perubahan suasana hati Tiara. “Kok jadi sedih gitu?” “Enggak apa-apa.” Jawab Tiara berusaha memperbaiki moodnya. “Butuh hiburan nggak?” tanya Danu dengan nada menggoda. Jemarinya meraih dagu Tiara. Membuat gadis itu mendengus, sudah paham dengan serangan godaan dari Danu setiapkali dia datang ke sini. “Khusus buat kamu gratis!” Danu mengedipkan mata, nakal. Tiara membelalakan mata. Jika tak ingat Danu lebih tua darinya pasti sudah ia jitak kepala lelaki genit itu. “Oke buat kamu aku yang bayar deh!” serang Danu lagi. Tiara mendorong tubuh Danu, tak suka dengan cara bercanda seperti itu. Danu memang laki-laki panggilan disini, dia suka menggoda Tiara jika datang mengunjungi Bunga. Tapi Danu tidak pernah memperlakukan Tiara dengan buruk. Tubuh Danu yang ideal dengan lekukan kotak-kotak di perutnya, memang menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan nampak jelas meskipun ia menggunakan kaos yang cukup tebal. Apalagi wajahnya cukup tampan. Pasti banyak tante-tante girang yang sedang kehausan, jatuh bertekuk di pelukannya. Memuaskan diri demi menghilangkan rasa haus hasrat mereka. “Itu siapa?” Tiara menunjuk ke arah pria menyeramkan penjaga pagar tadi. Pria itu masih berdiri tegak dengan pandangan serius. Entah memang sedang serius atau memang wajahnya menyeramkan seperti itu. “Itu Bimo.” “Bodyguard baru?” “Enggak baru juga seh, sudah sekitar dua bulanan, kamunya aja yang jarang kesini!” Tiara tersenyum. “Ngapain aku harus sering-sering kesini?” tanya Tiara cuek. “Jenguk aku lah!” seru Danu, alisnya terangkat mencoba melancarkan serangan godaan lagi. Tiara menjulurkan lidah, mencibir. “Jangan kayak gitu!” Danu mencolek hidung Tiara. “Kenapa?” “Nanti aku tergoda!” bisik Danu di telinga Tiara. Tiara tersenyum kecut, buru-buru ingin meninggalkan tempat itu. “Aku antar ya!” Danu menawarkan jasa. Mengimbangi laju langkah cepat Tiara. “Enggak usah!” “Kenapa?” “Aku nggak mampu bayar jasamu!” Danu tertawa mendengar ucapan Tiara. “Mau aku pesanin taxi?” Tiara menggeleng. “Aku naik ojek aja! Lebih cepat sampai.” “Ooo,.” Mulut Danu membulat. “Bye, berangkat dulu ya!” Tiara melambaikan tangannya ke arah Danu. “Terimakasih Mas Danu!” Danu melotot, membuat gadis itu meringis. Buru-buru meralat kalimat. “Eh, terimakasih Danu!” ulang Tiara. “Bye Om Bimo!” pamit Tiara pada pria menyeramkan itu. Pria itu hanya diam menatap tajam pada Tiara, hingga sosok kecil itu menghilang dari pandangan mata.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook