Surat Undangan

1274 Words
Tiara melangkahkan kaki meninggalkan tempat kotor yang dibencinya tersebut. Benci, tapi bisa melepas kan. Ada orang yang begitu ia cintai di dalam sana, mau tidak mau ia terpaksa masuk ke dalam jika memiliki keperluan mendesak. A L E X A Tiara memandangi Sign Board besar yang Terpampang di depan gedung mewah itu. Sebuah Rumah Hiburan berisi tempat diskotik, perjudian, rumah bordir, tempat transaksi narkoba yang terjamin aman di jantung kota J itu. Mungkin mereka mempunyai orang besar yang dapat menjamin kelangsungan bisnis mereka, sehingga sampai saat ini masih berjalan lancar tanpa kendala. Mungkin ada pajak atau service tersendiri yang mereka berikan pada pejabat yang berwenang, sehingga mampu membungkam suara-suara sumbang yang beredar. --- Tiara memutar pandangan mencari ojek yang biasa lalu lalang di sekitar sana. Anehnya, kenapa pagi itu tak satupun tampak berlalu-lalang. Sepertinya ia akan terlambat jika harus berjalan ke persimpangan di depan sana. Sebenarnya bisa saja ia memesan taxi, tapi Tiara tidak ingin membuang-buang uang yang diberikan Bunga. Dia tidak ingin cepat-cepat meminta uang lagi pada Bunga. Meskipun Bunga tidak pernah menolak permintaannya. Tapi Tiara tidak tega jika harus membayangkan perjuangan Bunga setiap harinya. Ppiiiiippp!! Klakson motor berbunyi mendekat ke arah Tiara. Membuat bahunya terjingkat, kaget. Sebuah sepeda motor dengan pengendara berjaket, dengan helm fullface berkaca hitam menutupi bagian wajah si pemilik kendaraan, berhenti tepat di depan Gadis berseragam putih abu tersebut. Apakah dia ojek baru? Tapi kenapa gayanya terlalu keren untuk seorang ojek? “Ayo naik!” perintah sang rider. Dinaikannya kaca helm yang sedari tadi menutupi wajah tampannya. “Danu!” jerit Tiara. “Ayo, nanti kamu terlambat!” Danu memberikan sebuah helm kepada Tiara. Disambut dengan sedikit rasa tidak enak. “Emangnya enggak apa-apa?” tanya Tiara ragu. “Nggak apa-apa kenapa? Apanya?” Danu turun dari motor, memakaikan helm di kepala Tiara dan meminta gadis itu naik ke atas motor. “Kamu nggak istirahat?” tanya Tiara dalam perjalanan. “Sudah tadi. Nanti siang di lanjut. Aku juga mau cari sarapan. Sarapan bareng yuk!” ajak Danu. “Aku sudah tadi, lagian nanti terlambat ke sekolahnya.” Tolak Tiara. “Ya udah kalau malam bisa donk!” “Kalau malam kan kamu sama tante-tante itu!” “Malam minggu!” “Apa?” teriak Tiara, suara Danu sayup-sayup terurai angin. “Malam minggu nanti buat kamu.” Ulang Danu. “Nggak usah!” jawab Tiara setengah berteriak. Khawatir suaranya tersapu angin. “Kenapa? Kamu punya pacar?” tanya Danu. Dia berharap jawaban tidak yang keluar dari mulutnya. Akh, apakah pria kotor seperti dia berhak mengharapkan hati yang masih suci milik Tiara. “Pacar seh enggak, tapi biasa aku cepet tidur kalau malam minggu.” “Kenapa?” “Sakit hati liat yang berpasangan kencan! Hahaha.” Tiara mengakhiri ucapannya dengan tawa nyaring. Cciiitt!! Suara rem yang sengaja di tekan mendadak, sukses membuat sesuatu menabrak punggung Danu. Laki-laki itu tersenyum dibalik helm. “Sampai!” ucap Danu. Di turunkannya kaca helm, agar tidak di kenali orang. “Iiih, sengaja ya ngerem kayak gitu!” Tiara memukul punggung Danu, lalu loncat turun dari kursi penumpang. “Nih!” Tiara memberikan selembar uang pada Danu. Danu tertawa, diperlakukan seperti seorang ojek. “Ini!” Tiara memaksa. “Aku nggak mau diantar lagi kalau nggak diterima!” ancam Tiara. Dia tidak ingin berhutang budi pada Danu. “Bayarnya nggak usah sekarang.” Jawab Danu seraya menghidupkan mesin motor. “Maksudnya?” tanya Tiara tidak paham. “Bayarnya nanti kalau kita ketemu lagi!” Danu tersenyum lalu meninggalkan Tiara yang masih mematung di depan pagar gerbang sekolahnya. Semua mata terpaku menatap kearah datangnya Tiara. Tatapan yang sudah biasa dia dapatkan setiap hari di sekolah tersebut. Mereka saling berbisik karena kabar burung yang beredar mengenai kehidupannya, juga orang terdekat. “Apakah itu ojek atau laki-laki simpanannya?” “Mungkin itu bookingannya semalam!” “Benarkah dia cewek serendah itu?” “Pasti di tubuhnya banyak tanda kissmark dari beberapa laki-laki dalam satu malam.” Dan masih banyak tudingan menyakitkan lainnya yang terhembus secara bisik-bisik. Tak ada yang berani mengatakan langsung di hadapannya. Bruuk! “Aaww!” Tiara mengaduh. Ada yang menabraknya bahunya. Entah sengaja atau tidak. Seorang gadi superior dengan beberapa pengikutnya berhenti didepan Tiara. “Minggir, orang kotor nggak boleh jalan di tengah kayak gitu!” hardik Bela, tiga gadis lainnya mengikuti dari belakang. Mereka squad terkeren di sekolah khususnya di tingkat sebelas. Para murid semua tingkat kagum, seolah memuja kepada mereka. “Tissue!” pinta Bela pada temannya yang lain. Salah satu dari mereka mengeluarkan tissue basah dari tas dan memberikan pada Bela. Gadis tersebut menyapukan tissue pada telapak tangan, bahu, dan semua anggota tubuh lain yang bersentuhan dengan Tiara barusan. Lalu melemparkan tissue bekas ke arah Tiara. Tiara hanya terdiam menatap mereka berlalu. Tak ada keinginan untuk membalas atau memaki. Biar saja, Tuhan tidak pernah tidur. Benarkah Tuhan tidak tidur? Lalu kenapa ada kehidupan seperti yang dia jalani jika Tuhan selalu melihat semua ciptaan-Nya. Tiara melanjutkan langkahnya menuju kelas. Terus berusaha mengabaikan desas-desus atau pendangan tidak nyaman dari semua orang yang di laluinya. “Rayyan!” teriak Tiara. Tiara berlari menjajari Rayyan yang baru datang juga, berjalan bersama menuju kelas. Rayyan satu-satunya orang yang tidak peduli dengan semua kabar desas-desus yang beredar. Rayyan cenderung diam, cuek, tapi perhatian kepada Tiara. Rayyan lah satu-satunya tempat ternyaman bagi Tiara di sekolah. “Baru datang juga?” tanya Tiara, dan hanya di jawab anggukan kepala dari Rayyan. “Awas!” Rayyan menarik tubuh Tiara menjauh dari sisi dia berjalan. Sebuah pintu kelas terbuka tiba-tiba dan bersiap menabrak Tiara. Tubuh Tiara sukses menubruk d**a Rayyan, meskipun Rayyan telah berusaha mundur. “Aaaaww!” keluh Tiara kesakitan. Tapi akan jauh lebih sakit jika menubruk pintu itu. Tatapan Rayyan dan Tiara beradu. Rayyan mengusap kening Tiara yang sedikit memerah terkena d**a bidangnya. Suasana menjadi riuh, beberapa mata menatap tajam ke arah mereka. Rayyan menghentikan aksinya dan lanjut melangkah menuju kelas. Tiara berlari kecil menyusul dan menjajari langkah lebar Rayyan. “Makasih, tapi tetep sakit!” “Jadi berterima kasih atau protes?” tanya Rayyan. Tiara tersenyum, jelas lebih berterimakasih. Jika dia bertubrukan dengan pintu mungkin akan ada benjolan besar di keningnya. --- Keduanya tiba di kelas dan menyimpan tas kedua di meja yang sama. Ya, mereka duduk bersebelahan pada satu meja yang sama. Tidak ada yang ingin duduk bersama dengan Tiara. Mungkin Rayyan juga. Tapi Rayyan hanya diam, tak memberi respon saat Tiara mendekat pada mejanya, meminta izin berbagi meja bersama. Dan itu dibaca sebagai penerimaan oleh Tiara. Untung saja Tiara termasuk anak yang cerdas, karena kemampuannya dalam mengerjakan soal lah yang membuat ia dan Rayyan bisa lebih akrab. Mereka terbiasa sharing cara penyelesaian tugas yang diberikan di kelas. Sekotak s**u cokelat atau satu botol yogurt rasa anggur kesukaannya adalah hadiah terbaik yang di terima Tiara saat dia mampu membantu Rayyan menyelesaikan tugas yang tak mampu dikerjakannya. Rayyan pun sebenarnya murid yang cerdas, dia selalu bersaing dengan Tiara. Tapi sepertinya Tiara berada jauh didepannya. Seluruh murid lain dikelas tidak menyukai murid laki-laki itu karena kedekatannya dengan Tiara. Tapi itu tidak masalah bagi Rayyan. Dia memang tidak suka berbaur dengan yang lain. Braakk!! Seorang murid laki-laki datang menggebrak meja Tiara. Sepertinya murid tersebut dari kelas sebelah. “Dari Bara!” ucapnya, dibawah telapak tangannya ada sebuah kertas. Diapun berlalu pergi meninggalkan meja Tiara. Tiara membuka kertas berisi pesan itu. [temui aku di atas gedung sekolah jam istirahat! Dari Bara] Rayyan mengambil kertas tersebut dari tangan Tiara. Setelah membacanya disobek-sobek kertas itu menjadi bagian kecil yang tak dapat dibaca dan membuangnya ke tempat sampah. Nggak usah!” ucapnya, melarang Tiara mengikuti isi dari catatan itu. Tiara hanya mengangguk. Tak ada sedikit pun keinginannya untuk memenuhi undangan itu. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD