Bab 6 - Naomi.

715 Words
Pov Naomi. Gawaiku kembali bergetar, nama Dimas tertera didalam panggilan videocall. Memandangi layar, kulihat pantulan wajah menyedihkan terlihat jelas memenuhi benda pipih ini. Perlahan aku menggeser tombol hijau diatas, wajah tampan Dimas langsung memenuhi gawaiku. "Sayang ..." suaranya begitu merdu di telinga. Dimas mengamati wajahku dengan kening yang mengkerut. Menyadari wajah ini penuh lebam biru, rautnya langsung berubah panik. "Kamu kenapa sayang?" nadanya begitu mencemaskanku. Aku menundukan wajah, mencoba menahan air yang siap terjun dari kelopak mata. "Tisya ... dia mengadu pada, Robi." sahutku lirih. Air muka Dimas mengeras, raut bersalah jelas sekali tergambar diwajahnya. "Sekarang kamu dimana? Aku jemput ya." ucapnya sungguh-sungguh. Aku mencoba tersenyum walau perih menerpa bibir. "Jangan ..." aku menggelengkan kepala, membuat, Dimas semakin khawatir. "Akan aku urus perempuan itu! Berani sekali dia menyakitimu," geram Dimas. Aku mendesah lega, lalu memutuskan panggilan. Rasa perih diwajah belum juga hilang, aku mengambil plastik putih berisi obat racikan dari Dokter yang masih tersimpan didalam tas, lalu meminumnya. Perlahan rasa kantuk mendera mata, sesaat kemudian mataku terpejam dengan rasa sakit yang sedikit memudar. "Ayo Mi, dimakan." Linda menyodorkan bubur putih dengan suiran ayam dan kerupuk diatasnya. Menelan ludah yang terasa pahit, meraih gelas s**u yang ada didekatku. Perlahan menyesapnya sedikit demi sedikit membuat badan terasa hangat saat s**u memasuki kerongkongan. Karna rasa lapar, akhirnya aku memasukan bubur itu kedalam mulut rasa sakit langsung menyerang gusi saat aku mencoba untuk mengunyah makanan lembek itu. "Ahh ..." rintihku sambil memegangi pipi. "Duh ... sakit banget ya?" Linda yang sedari tadi mengamatiku ikut meringis saat aku merintih kesakitan. Aku menggangguk lemas, karna badan yang begitu lemah. Mengingat aku terakhir makan saat siang hari. "Tidak usah dikunyah. Langsung telen saja ya," saran Linda. Aku mendesah pasrah, kucoba menyuapkan bubur dan memasukannya kedalam mulut, kali ini sedikit mengunyah di sebelah kanan. Syukurlah tidak terlalu sakit, walau pelan akhirnya bubur ini tandas juga masuk kedalam mulut. Awas kau Robi! Akan kubuat kau menyesal melakukan ini. Sial sekali nasibku memiliki suami seperti dia, sudah tidak perhatian sekarang melakukan kekerasan. Menyesal sekali aku menerima pinangannya dan meninggalkan, Dimas. Andai waktu bisa kembali, sudah pasti aku akan bersabar menunggu kesuksesan kekasihku. "Coba cerita, ada apa? Kenapa Robi bisa main tangan begini?" cecar Linda saat b****g baru saja terhempas disofa ruang tamu. Ahh ... bagaimana ceritanya. Tidak mungkin aku bilang kalau, Robi murka saat mengetahui perselingkuhanku. Bisa-bisa aku yang disalahkan. "Aku mau laporin dia ke kantor polisi. Antar aku ya." ucapku tanpa menghiraukan pertanyaannya. Linda menatapku lekat, raut wajahnya begitu khawatir melihatku. "Oke ... aku mau antar, asal kamu cerita dulu duduk persoalannya." ucapnya dengan senyum tipis. "Robi ... melihatku jalan sama, Dimas." jelasku sekenanya. "Dimas?" Alis Linda menaut, dia nampak berfikir dan mengingat-ingat. "Dimas pacarmu waktu jaman kuliah?" tebaknya kemudian. "Iya ..." sahutku dengan anggukan samar. "Ya ampun ... cuma jalan doang dia udah berani mukulin kamu kaya begini!" rutuknya geram. Aku hanya tersenyum miring melihatnya. "Ya sudah tunggu sebentar. Aku siap-siap dulu," ucapnya sambil bangkit dari sofa, dan berjalan menaiki tangga. Huh ... untung Linda tidak nanya macem-macem lagi. Tidak sampai lima belas menit, kulihat Linda menuruni tangga dengan tergesa. "Naomi!" Panggil Linda sambil kaki terus melangkah mendekatiku. "Kamu bisa jelasin ini?" ucap, Linda sambil menyodorkan gawainya. Mata ini membulat melihat foto-fotoku bersama Dimas, aku menyentuh layar dibawah pojok kanan. Ternyata foto itu di kirim oleh Robi, saat Linda mengancam akan menuntut dan melaporkan Robi kekantor Polisi. Ternyata Linda sempat mengirim pesan pada Robi, dan bertanya banyak hal kenapa sampai dia memukulku. "Di foto itu kamu bukan cuma jalan sama Dimas ..." suaranya terdengar tidak enak ditelinga. "Pantes aja Robi kalap, istrinya dikelon sama pria lain." selorohnya dengan tatapan sinis. "Tapi tidak seharusnya dia mukul aku sampai kaya gini kan, Kak. Kalau tidak suka ... ya tinggal ceraikan saja aku." sahutku membela diri. Linda menatap tak percaya, lalu duduk disampingku. "Naomi ... dengarkan aku baik-baik." Linda menatap lekat bola mataku. "Kamu tidak bisa laporin, Robi dengan kasus KDRT." ucapnya serius. "Kenapa tidak bisa? Aku punya bukti visum dan ini." aku menunjuk wajah lebamku. "Iya ... aku ngerti. Tapi dia bisa laporin kamu balik Mi." wajah Linda begitu serius, membuatku heran. "Kenapa jadi dia yang laporin aku? Aku disini korban!" ucapku tak mengerti jalan fikiran Linda. "Mi ... kamu bisa dilaporkan, Robi dengan kasus penzinahan. Apa lagi dia punya bukti foto-foto itu." jelasnya kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD