Aku terperangah mendengar penuturan Linda. Jadi aku tidak bisa melaporkan kasus ini? Benar-benar tidak adil. Aku harus membiarkan Mas Robi semena-mena padaku?
"Aku tetap ingin buat laporan, biar dia jera karna berani memukulku," sengitku.
"Ya ampun Mi ... kamu bener-bener deh ya," cebik Linda.
"Mi. .. harusnya kamu itu intropeksi diri, kesalahan kamu itu fatal banget loh. Kalau aku jadi Robi, pasti akan melakukan hal yang sama. Laki-laki itu paling tinggi harga dirinya, dia tentu tidak terima saat tau istrinya selingkuh. Apa lagi ... ya ampun, foto-foto itu bener-bener memalukan sekali! Dimana harga diri kamu sebagai perempuan?" oceh Linda, sangat sok tahu. Bikin telingaku sakit aja.
"Kamu kok, malah belain Robi terus. Dia sudah mukul aku sampai separah ini, masa iya aku diam aja," ucapku ketus.
"Mi .... pleace. Kakak tidak mau kalau salah satu dari kalian di penjara. Kasian Quena, kamu jangan egois. Pikirin juga nasib anakmu," Linda berusaha membujukku.
Aku selingkuh juga karna ulah Mas Robi. Coba kalau dia jadi suami yang bisa ngertiin aku, pasti aku akan setialah sama dia. Ini tiap hari yang di urus kerjaan melulu, wajar dong kalau aku mencari perhatian atau kasih sayang dari yang lain.
"Ya sudah, Kak. Kalau tidak mau bantu jangan banyak omong!" sentakku sambil bangkit dari sofa menuju kamar. Kulihat Linda menggelengkan kepala sambil mengusap-usap dadanya.
Menyebalkan sekali, aku datang kesini mau minta perlindungan. Malah disalah-salahin.
Mengambil benda pipih, yang bertengger diatas nakas. Aku langsung menelpon Dimas. Cuma dia yang paling mengerti aku.
"Hai ... sayang, gimana keadaan kamu?" suara Dimas langsung menyambut telingaku.
"Lumayan," balasku.
"Kamu dimana? Aku jemput yak."
"Tidak usah jemput, biar aku saja yang datang ke apartemen. Tunggu aku, di cafe biasa. Saat jam istirahatmu."
"Oke sayang ..." sahutnya, sebelum aku menutup panggilan.
Berjalan menuju tiolet, dengan hati-hati aku membersihkan luka dan mengganti perban. Aku pakai kaca mata hitam besar dan selendang untuk menutupi wajah.
"Mau kemana Mi?" tanya Linda saat aku melewatinya yang duduk diruang televisi.
"Aku mau keluar, cari angin," sahutku sekenanya.
Linda menatapku lekat, tanpa banyak bicara aku kembali melangkah dan keluar rumah.
Suasana cafe tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa anak muda yang sibuk dengan laptop atau handphone nya masing-masing.
Kuamati pengungjung cafe disudut ruangan ada laki-laki yang duduk membelakangiku. Hanya melihat dari pundaknya saja, aku langsung tahu kalau itu adalah kekasihku. Dimas.
"Sayang ..." ucapku sambil menepuk bahunya.
"Hai ..." Dimas mengambil tanganku dan menciumnya.
"Ya Tuhan ..." Dimas menatap kasian saat aku membuka kacamata.
"b******k sekali dia! Berani melukaimu, dasar kadal. Beraninya sama perempuan!" geram Dimas tidak terima.
"Ini karna ulah istrimu," sengitku. "Kalau dia tak banyak mulut pasti semua tidak akan terjadi." sambungku, mengingatkannya.
"Ya ... aku sudah mengusirnya dari rumah," sahut Dimas dengan senyum tipis.
"Serius?"
Dimas menganggukan kepala sambil meneguk minumannya.
"Ya ... aku sudah menceraikannya, dia sendiri yang mau," ucapnya lagi.
Mataku membesar mendengar pengakuannya. Kesempatan hidup bersama Dimas, semakin terbuka lebar.
"Bagus dong, kita bisa lebih bebas kalau begitu."
"Ya ..." sahutnya lesu. Terlihat sekali Dimas tidak semangat.
"Kok kamu kaya lemes gitu sih, tidak seneng cerai sama Tisya?" ucapku memastikan.
"Bukan ... aku cuma kepikiran anak-anak. Tisya bawa anak-anakku," bela Dimas.
"Oh ... aku kira kau menyesal menceraikannya."
"Tidak lah ... buatku, anak-anak lebih penting. Kalau Tisya, terserah mau kemana," sahut Dimas.
Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Dimas memang perhatian dan berhati lembut, wajar jika kepikiran anaknya.
"Nanti malam aku mau tidur di apartemen, dirumah Linda tidak nyaman sama sekali."
Senyum Dimas mengembang seketika.
"Aku temani ya," ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata. Tatapan genit di sungguhkan untukku, membuat aku tidak sabar melewati malam.
***
Dimas mengantarku ke supermarket, sebelum balik kekantornya. Aku memutuskan untuk belanja bahan makanan sebelum pulang ke apartemen. Membayangkan hidup satu atap dengan Dimas membuatku melupakan rasa sakit yang masih mendera diwajah.
Ahh ... Dimas, kau memang segalanya bagiku.
Memasuki apartemen, keadaan sangat rapih tanpa celah. Bahkan tidak ada satupun piring kotor di wastapel, lagi-lagi aku tersenyum mengagumi Dimas.
Tanganku bergerak lincah meracik bahan dan memasak makanan favorit Dimas. Padahal dirumah sendiri aku sama sekali tidak mau menyentuh alat dapur, tetapi demi Dimas semua aku lakukan.
Memandangi wajah dipantulan cermin, aku tersenyum tipis melihat penampilanku. Walau wajahku masih sedikit bengkak dan lebam masih jelas terlihat, aku ingin tetap sempurna dimata Dimas.
Tak lupa menaburkan kelopak mawar diatas ranjang, agar memberi kesan yang romantis. Senyumku mengembang sempuran mengingat sentuhannya. Aku harus membuat Dimas secepatnya mengurus surat cerai, setelahnya aku akan menggugat Robi ke pengadilan Agama.
Bayangan hidup bahagia terus menari-nari dikepalaku. Aku berhak untuk membahagiakan hidupku sendiri, dan bahagiaku ada saat Dimas disampingku.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, setelah merapihkan ranjang. Aku merapihkan dress yang kukenakan dan kembali menatap cermin, memastikan penampilanku sempurna.
Hatiku begitu berbunga memutar kunci di klop pintu. Begitu pintu terbuka, senyumku perlahan menghilang saat seseorang yang mengetuk pintu membalikkan badan.
"Mas Robi ...."