"Mas Robi ...."
Aku menatapnya dengan tubuh yang seakan membeku. Mas Robi tersenyum dingin kearahku, lalu menerobos masuk ke dalam apartemen.
"Disini rupanya kau memadu kasih," celotehnya sambil melemparkan padangan kesetiap sudut ruangan.
"Hmm kau memasak semua ini?" ucapnya saat mendapati meja makan yang berisi beberapa menu masakan.
Matanya menoleh kearah kitchen yang masih berantakan bekasku memasak.
Tanpa di minta, Mas Robi duduk di kursi dan mencicipi semua masakanku.
"Hmm rasanya agak hambar," tangannya sibuk mengambil sedikit makanan, lalu memasukannya ke dalam mulut.
"Tapi aku yakin, karna dibuat oleh cinta. Selingkuhanmu itu pasti akan memuji dan bilang masakanmu ini luar biasa," ucapnya dengan nada mengejek. Senyum menyerigai langsung terukir saat dia menoleh kearahku.
"Sudahlah ... lebih baik kau pergi dari sini," ucapku menahan emosi.
Enak saja dia menjelajahi apartemenku seenak jidatnya.
"Kau mengusirku? Suamimu sendiri?" ucapnya dingin. Matanya menyorot padaku dengan tatapan yang sulitku artikan.
Aku membuang wajah menghindari tatapannya, merasa muak melihat tingkah konyolnya.
"Ya ... pergilah, kemarin kau yang mengusirku." lirihku.
Mas Robi tak mengindahkan ucapanku. Dia kembali melangkah, kali ini kakinya menuju kamar tidur.
"Cukup!" teriakku sambil berlari kearahnya.
"Jangan masuk tanpa izin dariku!" sentakku dengan mata yang melebar.
Mas Robi bergeming lalu memandang sinis kearahku. Dia menarik tubuhku lalu membuka pintu.
"Wah ... indah sekali pemandangan disini," ucapnya sambil melangkah masuk.
Aku langsung menerobos masuk, kulihat Mas Robi terdiam sambil memandangi ranjang bertabur bunga mawar.
"Apa kau segila ini?" lirihnya tanpa mengubah posisi badan yang membelakangiku.
"Kau sungguh tega!" ucapnya lantang.
Mas Robi membalikan badan matanya sudah memerah dengan sedikit embun di sudutnya.
"Kurang apa aku. Hah!" sentaknya sambil berjalan mendekatiku.
"Sehina ini kau di belakangku!" teriakkannya membuat jantungku berdegup kencang.
Kedua tangan Mas Robi kini sudah ada dibahuku, tangannya mencengkram kuat hingga kukunya terasa menembus kulit. Membuatku merintih kesakitan.
Di hempasnya tubuhku dengan kasar di atas ranjang. Membuat kelopak mawar itu berhamburan di atas tubuhku. Seperti kesetanan, Mas Robi menceluti pakaianku dan mencumbuku dengan nafas yang memburu.
Aku meronta sekuat tenaga, namun malah membuatnya semakin menggila. tanganku memukul badan dan wajahnya, tidak terima perlakuan kasarnya.
"Kau w************n! tidak pantas mendapat perlakuan manis dariku," umpatnya sambil terus memaksakan kehendak.
***
Badanku menggigil dengan air mata yang mengalir bebas, tidak menyangka Mas Robi menyentuhku seperti wanita hina.
"Dasar b******n!" rutukku dengan suara yang bergetar.
Mas Robi mendecis sinis, tangannya sibuk mengancingkan kemejanya.
"Kau masih istriku, aku berhak melakukannya." ucapnya tanpa menoleh kearahku.
"Ceraikan aku sekarang juga!" teriakku murka, dengan nafas yang menggebu-gebu.
Mas Robi menoleh dengan alis yang bertautan. Kemudian wajahnya datar tanpa expresi apapun. "Jangan berharap banyak tentang itu," ucapnya dingin.
"Apa maksudmu?" tanyaku heran.
"Itu tidak akan terjadi, sebelum aku melihatmu menderita." ucapnya dengan suara berbisik. "Aku akan menceraikanmu, saat kau menderita gangguan jiwa." sambungnya dengan sorot mata menakutkan.
"b******k ...."
Mas Robi tertawa kecil, dia mengambil minuman diatas nakas yang sudah aku sediakan untuk Dimas.
"Kau yang memulainya. Aku hanya mengikuti arusmu, dan kuharap kau menikmatinya." sahut Mas Robi dengan senyum menyerigai.
Aku tersentak mendengar ucapannya. Benar-benar manusia b******n! Entah terbuat apa hati dan pikirannya.
"Hah ... tadinya aku kemari untuk memberimu kesempatan kedua. Mungkin kau berhak mendapatkannya, mengingat manusia tidak ada yang sempurna. Namun semua itu berubah saat aku melihat sambutan ini," ucapnya sambil mengangkat telapak tangan dan mengedarkan pandangan.
"Sayangnya sambutan hangat itu bukan untukku. Melainkan untuk laki-laki pengecut itu." suara Mas Robi terdengar parau.
Aku terdiam mencerna kata-katanya. Mas Robi terlihat sangat kacau dari biasanya.
"Apa aku harus ikut menyambut laki-laki itu? Aku ingin tau seperti apa dia. Hingga membuatmu dengan mudah melebarkan s**********n di depannya?" Mas Robi tersenyum miring kearahku.
Aku mendelik melihatnya. Sepertinya, otak Mas Robi sudah mulai bergeser. Dia seperti psikopat di hadapanku. Menakutkan sekali.
Mas Robi merogoh kantung celananya, dia mengeluarkan bungkusan rokok dan mengambil satu batang dari dalam. Perlahan dia mematik api lalu menghisapnya dengan ujung rokok. Bara api di ujung tembakau terlihat sudah terbakar, Mas Robi menghisap rokok dalam hinggan kedua pipinya menirus. Setelah asap memenuhi seluruh rongga mulut, perlahan dia mengeluarkan kupulan asap putih itu.
"Pushh ...."
Aku menatapnya heran, setahuku dia sangat anti dengan yang namanya rokok dan meninggalkannya cukup lama. Apa dia sangat terpuruk melihatku berselingkuh? Tiba-tiba rasa sesal menyelusup di relung hatiku.
Apa aku harus memohon pengampunan darinya, dan bisa memulai semuanya dari awal?
Ahh ... entah apa yang aku pikirkan, Mas Robi tidak mungkin memaafkanku. Mungkin saja luka yang kutorehkan terlalu dalam, hingga membuatnya seperti ini.
Lagipun, aku sudah tidak berminat melanjutkan pernikahan hambar ini. Bagiku melanjutkan langkah dengan Dimas, adalah pilihan yang sangat tepat.
Aku berharap malam ini Dimas tidak datang, karna sepertinya, Mas Robi benar-benar ingin menemuinya.
Perlahan aku beringsut menuruni ranjang, lalu berjalan menuju toilet dengan badan terbalut selimut. Kubersihkan badan dari keringat suamiku sendiri, mungkin terdengar aneh. Tapi aku merasa kotor saat Mas Robi menyentuhku seperti itu.
Setelah badan kembali bersih, aku melilit handuk pada tubuhku. Lalu berjalan keluar hendak mengambil pakaian.
Saat aku membuka pintu, mataku langsung terpana mendapati Dimas yang berada tepat di depan pintu kamar.
Plastik makanan terjatuh begitu saja saat, Dimas melihatku keluar dari bilik toilet.