White menutup pintu perlahan, lalu melangkah mendekat ke arah Birru dan berkata, "Aku tidak ingin meminta maaf atas apa yang telah aku dan anak laki-lakiku lakukan padamu." "Tidak masalah," balas Birru santai. "Tentu saja karena kau pantas mendapatkannya." White menarik kursi di sebelah kiri tempat tidur dan duduk. "Ya, benar." Birru mencebikkan bibirnya malas. Birru merasa ekspresi wajah White lebih tenang daripada sebelumnya. Nada bicaranya pun tidak terlalu dingin, justru terdengar datar. Namun, ia cukup penasaran dengan maksud dan tujuan pria paruh baya itu mengajaknya bicara. "Kau pasti bertanya-tanya tentang apa yang ingin aku bicarakan denganmu. Benar bukan?" White tersenyum sejenak, sebelum akhirnya membentangkan kembali kedua sudut bibirnya. "Ya. Jadi, apa yang ingin Tuan bi

