Birru memejamkan matanya sambil bergumam, "Sepertinya aku memang sedang bermimpi. Mana mungkin Prisma mau menemuiku." Ya, memang benar. Prisma tidak sudi menemuinya, bahkan selama ini selalu menghindar ketika didekati. Jadi, untuk apa wanita itu mendatanginya? Namun, tetesan air hujan tetap tidak mengenai wajahnya. Hanya, tubuh bagian lain saja yang terkena air hujan. "Ini benar kau, Prisma?" tanya Birru berbinar. Tangannya terulur ingin meraih tangan Prisma yang menggantung di sisi kanan, tetapi sebelum menggapai tatapan matanya mengabur. Tidak lama kemudian, semuanya terasa gelap dan tidak merasakan apa-apa lagi. Entah sudah berapa lama tidak sadarkan diri, bulu mata lebat Birru bergerak naik turun. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan panas. Wajahnya pun terasa kebas dan perih. "Bul

