bc

Murkanya Istri Penyabar

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
arranged marriage
badboy
drama
cheating
like
intro-logo
Blurb

Hana Khumairah, perempuan cantik yang dijodohkan oleh sang ayah dengan putra sahabatnya. Cinta itu mulai tumbuh. Namun, sebuah kenyataan pahit harus ia terima saat tidak sengaja mendengar rencana dari keluarga sang suami.

chap-preview
Free preview
Perjodohan
"Han, Ayah mau ngomong sama kamu," cetus Pak Bara saat melihat Hana akan masuk ke dalam kamarnya. "Iya, Yah. Ayah mau ngomong apa?" tanya Hana dengan lembut. Ia tatap wajah cinta pertamanya itu yang mulai terlihat menua. "Selama ini Ayah tidak pernah menuntut apapun dari kamu," kata Pak Bara menjeda ucapannya. Kening Hana mengernyit, ia masih belum paham ke arah mana pembicaraan ini. Melihat raut wajah kebingungan dari sang putri, Pak Bara pun melanjutkan ucapannya. "Ayah ingin sekali ini saja kamu kabulkan permintaan Ayah." "Ayah ngomong apa? Bilang saja ke Hana, Ayah mau apa dari Hana? insyaAllah Hana akan mengabulkan permintaan Ayah," tegas Hana yang membuat kedua sudut bibir Pak Bara terangkat. "Semoga kamu tidak akan keberatan." "Katakan saja, Yah." Hana meyakinkan sang ayah lewat tatapannya. Selama hidupnya, sang ayah tidak pernah menuntut apapun dari dirinya. Mana mungkin ia akan menolak permintaan yang pertama kali cinta pertamanya itu pinta. "Ayah ingin menjodohkan kamu dengan anak dari Almarhum sahabat ayah, Pak Basri namanya." Seperti disambar petir di siang bolong Hana mendengarnya. Perjodohan? Ia tiba-tiba teringat setiap akhir kisah novel yang selalu dirinya baca tentang cerita cinta yang dilandasi perjodohan. Belum menjalaninya saja ia sudah bergidik ngeri. Namun, untuk menolak pun lidahnya terasa kelu, saat melihat raut wajah penuh pengharapan dari sang ayah. Melihat sang putri hanya diam, Pak Bara menghela nafas. "Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, Nak. Ayah tidak akan memaksa. Hanya saja, Ayah akan selalu merasa bersalah, karena sebelum kematian Pak Basri, beliau menyampaikan jika ingin menjadikan kamu sebagai menantunya." Hana menghela nafas untuk melepas sedikit sesak di dadanya. "Gak bisa nunggu Hana beberapa tahun lagi, Yah?" tanya Hana dengan lirih. "Hana masih berumur 22 tahun, Hana belum merasakan sama sekali nikmatnya dunia kerja. Apa tidak bisa menunggu setahun atau dua tahun lagi?" lanjutnya dengan perlahan-lahan. Ia tidak ingin menyakiti hati siapapun, termasuk hati sang ayah. "Umur tidak ada yang tahu, Nak. Ayah hanya ingin di sisa umur ini, bisa melihat kamu bahagia dengan pasangan kamu," ucap Bara dengan sendu. "Ayah juga sudah ingin sekali menggendong seorang cucu. Kamu anak Ayah satu-satunya. Ayah berharap kamu mau mengabulkan permintaan Ayah ini," imbuhnya. "Hana mau sholat istikharah dulu, Pak. Boleh? kalau sudah ada jawabannya, Hana akan jawab secepatnya," tutur Hana dengan lembut. "Baiklah. Tapi Ayah mohon, jangan lama-lama." "Baik, Yah." Setelah menemani sang ayah mengobrol beberapa saat, Hana pun segera berpamitan masuk ke dalam kamarnya. Ia bergegas mengambil wudhu dan melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari pencipta-Nya. Ibu Hana sudah meninggal dari 2 tahun yang lalu karena sakit keras. Pak Bara yang sangat begitu mencintai sang istri tidak pernah mempunyai pikiran untuk mencari istri baru, walaupun Hana sudah memberikan lampu hijau untuk itu. Setelah sholat, Hana memilih merebahkan tubuhnya. Ia tatap langit-langit kamar sembari memikirkan permintaan ayahnya itu. Tidak ada yang salah dengan permintaan sang ayah. Namun, Hana memang benar-bener belum siap untuk menikah. Ia masih ingin merasakan kerasnya dunia kerja terlebih dahulu, walaupun keluarganya pun mempunyai bisnis yang suatu saat mengharuskan dia yang melanjutkan. Saking kusutnya pikiran Hana, tidak terasa, mata gadis itu pun terpejam karena rasa kantuk yang mulai menyerang. *** Keesokan paginya, Hana melakukan aktifitasnya seperti biasa. Setelah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, Hana langsung bergegas menuju ke dapur untuk memasak makanan kesukaan sang ayah. Di rumah Hana sebenarnya memiliki seorang pembantu. Namun, Hana melarangnya untuk memasak karena itu sudah seperti kewajiban bagi Hana. Ia hanya akan menugaskan asisten rumah tangganya untuk mencuci dan membersihkan rumah. "Hmmm, baunya harum banget. Kamu masak apa?" "Ini, Yah. Hana lagi masak makanan kesukaan Ayah. Gulai kepala ikan, telur balado dan sambal hijau," ucap Hana menyebutkan menu yang sedang ia masak. "Wah! Pasti enak," puji Bara. "Pasti enak dong, siapa dulu yang masak? Hana!" seru Hana membuat Pak Bara tertawa sembari geleng-geleng kepala. "Ayah mau kopi atau teh?" tanya Hana. "Teh saja, Ayah mau mengurangi mengkonsumsi kafein," tutur Bara. Hana mengangguk. "Iya, betul itu. Ayah jangan keseringan minum kopi, gak baik buat kesehatan Ayah. Kalau masih pagi gini, minumnya teh hangat kalau enggak air hangat saja." "Iya, bawel. Ya udah, Ayah mau mandi dulu, lengket semua badan Ayah. Capek habis lari-lari," keluh Pak Bara. "Kalau gak mau capek jangan lari, bawa motor aja, Yah," ledek Hana yang membuat Pak Bara mencebik. "Oh iya, sampai lupa. Nanti malam, kamu pesen makanan yang spesial ya. Karena nanti keluarganya Pak Basri mau makan malam di sini," ucap Pak Bara yang mampu membuat Hana termenung. "Kenapa, Han?" "Eh, enggak kok, Yah. gak usah beli, biar Hana aja yang masak. Tapi, kalau boleh tahu, ngapain ya Yah keluarga Pak Basri ke sini?" "Cuma mau silaturahmi dan mau kenalan sama kamu katanya," jawab Pak Bara. Hana hanya mengangguk sebagai jawaban. "Masak yang spesial ya, jangan lupa," peringat Bara. "Iya, Yah." Setelah mengecup kening sang putri, Pak Bara lantas berjalan menuju ke kamarnya guna membersihkan diri. Sesampainya di dalam kamar, Pak Bara menghela nafas. Ia berjalan perlahan menuju ke nakas dan mengambil foto yang ada di atasnya. "Bu, Bapak kangen sama cerewetnya, Ibu. Doakan dari sana ya, Bu. Doakan supaya Hana mau menerima perjodohan ini," ucapnya dengan lirih. Dirasa cukup, Pak Bara bergegas bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi. Tanpa menyadari jika sepasang mata sedang menatapnya dengan sendu. Hana dan Pak Bara sedang makan bersama, sesekali terdengar tawa mereka membuat suasana hangat semakin terasa. "Pak, ucapan Hana waktu itu masih berlaku kok," celetuk Hana. "Ucapan apa, Nak?" tanya Bara sembari menatap sang putri lamat-lamat. "Yang kalau Bapak menikah lagi Hana tidak masalah, asalkan orangnya baik dan bisa mengurus Bapak dengan baik juga," jawabnya santai. "Kepikiran sampai sana aja enggak, Nak." Gadis muda tersebut menghela nafas. "Kalau begitu, saat Hana sudah menikah nanti, Ayah harus ikut Hana. Hana gak mau ninggalin Ayah hidup sendiri, pokoknya Ayah harus ikut Hana," tegas Hana. Pak Bara tersenyum haru. "Tidak bisa begitu, kalau kamu sudah menikah nanti, pastikan pengambilan keputusan selalu disepakati berdua, termasuk akan membawa Ayah nanti. Pastikan jika suamimu tidak keberatan untuk itu," tukas Pak Bara. Mereka segera melanjutkan makannya, sembari bergelut dengan pikirannya masing-masing. "Jangan lupa nanti masak yang spesial ya," pinta sang ayah. Hana pun mengangguk. Pak Bara segera mengeluarkan uang kertas berwana merah beberapa lembar dan memberikannya kepada Hana. "Itu untuk yang belanja keperluan nanti." "Iya, Yah." Hana menerima uang yang disodorkan oleh sang ayah dengan mata berbinar. "Terima kasih, Yah."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.8K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook