Senin pagi, Laura tengah bersiap untuk berangkat sekolah. Sudah cukup meliburkan diri. Sekarang juga masalah semua sudah selesai. Ah, kecuali masalah dengan Niana. Teman sebangkunya.
Laura termenung menyadari sesuatu. Apa yang harus dilakukan nanti di kelas? Masih tetap duduk dengan Niana atau meminta bertukar posisi dengan teman sekelasnya? Tapi sepertinya tidak mungkin. Hampir semua teman sekelasnya kemarin ikut melontarkan kata tajam dan menyakitkan saat Laura masuk. Jadi, pilihannya hanya satu yaitu tetap bersama Niana? Apa Laura bisa menahan perasaan kecewanya?
Saat berita Niana yang sudah tersebar. Apa nanti gantian gadis itu yang akan mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan? Laura mencoba tak peduli dengan bayangan yang akan terjadi nantinya.
"Selamat pagi," sapa Laura riang di depan ruang makan.
Yang disapa tersenyum bahagia. Akhirnya Laura yang periang kembali. Tidak ada lagi Laura yang pendiam dan murung. Semoga masalah kemarin menjadi masalah terakhir Laura dalam waktu dekat ini.
"Pagi Cantik. Ayo duduk. Mau Mama suapin gak?" tanya Lilina. Mulai sekarang, akan melakukan kebiasaannya dulu. Memanjakan putri tunggalnya tak masalah kan?
"Untuk sekarang makan sendiri aja Ma. Hehe." Kali ini Laura menolak karena menyadari Lilina juga akan berangkat bekerja. Laura tidak ingin menambah pekerjaan Mamanya di hari sibuk ini.
Hari ini, Kevin dengan baik hati mengantarkan Laura ke sekolah. Sifat menyebalkan kakak keduanya telah kembali ke semula. Saat gosip kemarin menimpa Laura, padahal Kevin sudah berubah menjadi kakak yang baik hati. Sayangnya hanya sementara. Ah, sepertinya memang Kevin lebih baik seperti ini. Dari pada Kevin yang diam seolah mengalah. Itu lebih aneh dan menyeramkan bagi Laura.
"Bang. Gue kira Lo bakal baik selamanya," ucap Laura santai.
"Heh. Hidup Gue itu hampa ya tanpa buat Lo teriak-teriak marah," dengus Kevin.
"Jahat banget Abang Gue. Untung yang model ginian cuma satu. Gak bisa dibayangin deh kalo dua-duanya gini. Lebih milih masuk ke perut Mama lagi kali ya." Laura mengusap dadanya.
"Heh. Gue itu kesel sama Lo. Coba kalo Lo gak lahir, Gue jadi anak bungsu pastinya," cibir Kevin.
Kehadiran Laura yang katanya dulu tidak diduga membuat amarah dalam diri Kevin kecil kala itu. Pasalnya, saat bercerita akan memiliki adik, teman-temannya berkata Dia akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Uang jajan yang berkurang karena harus berbagi. Dan akan dipaksa tidur di kamar sendiri karena ada adik kecil yang menggantikan tidur bersama orang tuanya. Kevin kecil berusia 5 tahun tentu saja mempercayai dan merengek pada Mama dan Papanya untuk jangan memberikan adik. Sampai-sampai mogok berbicara selama satu hari penuh. Sayangnya, keinginan yang biasanya selalu dituruti kali ini diabaikan. Mulai hari itu Kevin sadar, hidupnya tidak akan semenyenangkan dulu. Diperparah saat Laura lahir, apa yang diucapkan teman-temannya menjadi kenyataan. Kevin dipindahkan pada kamar baru tepat di samping kamar David. Yang biasanya makan selalu di suapi Lilina juga saat itu dipaksa secara halus untuk makan sendiri. Perlahan-lahan, rasa sayang yang diberikan makin berkurang. Itu yang Kevin kecil rasakan. Namun, rasa kesal Kevin sirna begitu saja saat Laura mulai mengoceh dalam bahasanya. Kevin yang sebelumnya enggan menyentuh bayi kecil itu, akhirnya mendekat dan menatap takjub. Berulang kali berucap bahwa adiknya lucu. Bersikeras untuk menggendong. Sejak saat itu, Kevin selalu menempeli Laura kecil kemanapun. Kevin begitu menyayangi adiknya.
"Hahaha. Lo lucu banget Bang." Bukannya tersinggung atau marah, Laura malah tertawa. Mengingat cerita kebencian Kevin yang berubah menjadi memuja keberadaannya yang Lilina ceritakan.
"Aduh, sampe nangis Gue," tawa Laura terus berderai sampai air mata menetes.
"Diem Lu ah," kesal Kevin.
Bukannya diam menuruti Kevin, tawa Laura malah terus tercipta.
"Heh Gue turunin di jalan nih kalo gak mau diem juga," ancam Kevin. Merasa jengah ditertawakan. Walau jujur, dalam hati Kevin merasa bahagia. Lauranya sudah dapat tertawa dengan lepas lagi.
Laura berusaha menghentikan tawanya. Takut ancaman Kevin serius. Nanti malah ribet lagi cari kendaraan di jam sibuk ini.
"Makasih Bang," ucap Laura menuruni mobil.
Kevin belum beranjak. Memastikan adiknya masuk sekolah tanpa gangguan. Setelah tak terlihat, dengan kecepatan standar meninggalkan kawasan sekolah.
Laura merasa risih saat berjalan di koridor menuju kelas. Teman-temannya masih saja menatap terang-terang dan kemudian saling bicara dengan seorang yang di sampingnya. Padahal masalah ini sudah berlalu. Beritanya juga sudah tenggelam tergantikan berita lain.
"Huft," menghela nafas lelah. Laura kira, setelah kebenaran terbongkar tidak ada lagi kejadian seperti ini.Tapi setidaknya saat ini lebih baik karena tidak ada caci maki yang dilontarkan secara langsung.
Kelas sudah ramai. Jelas saja, tinggal menunggu kurang dari sepuluh menit untuk pelajaran pertama di mulai. Para penghuni sudah semuanya datang. Hanya saja sebagian dari mereka berada di luar ruang.
Hampir seluruh pandangan mata mengikuti gerak gerik Laura. Kursi di samping yang biasa di tempati Niana kosong. Mungkin gadis itu belum berangkat atau memang tidak hadir. Laura jelas saja tahu alasannya. Pasti takut dan malu. Sama seperti dirinya saat pertama kali berita itu keluar. Tapi, inikan sudah satu minggu berlalu.
Padahal Laura berharap akan bertemu Niana hari ini. Ingin mengonfirmasi alasan gadis itu sampai tega melakukannya. Atau ingin mendengar permintaan maaf Niana. Sudah lah.
Mengenai permintaan maaf, apa teman-teman sekelasnya tidak ada yang merasa bersalah? Mereka hanya diam saja. Bukan mengharapkan maaf, tapi kan setidaknya mengakui kesalahan. Ah sudah lah.
Waktu istirahat, hanya Laura habiskan untuk makan bekalnya di dalam kelas. Malas ke kantin sendiri dengan iringan pandangan penghuni sekolah lainnya. Untung saja Mamanya dengan baik hati membuatkan roti selai coklat dan sekotak s**u milo. Katanya agar tak perlu lelah ke kantin. Karena kondisi Laura yang baru saja sembuh dari sakit. Ya ini hari pertama Laura kembali ke sekolah setelah satu minggu beristirahat penuh di rumah. Dan satu Minggu setelah terbongkarnya Niana menjadi pelaku yang membocorkan identitasnya. Apa Niana tidak masuk sekolah selama satu minggu ini juga?
Apa gadis itu enggan bertemu Laura? Padahal Laura sudah dengan baik hati menghentikan kasus Niana dengan pihak yang berwajib. Apa tidak ada usaha untuk bertemu atau sekedar mengucapkan terima kasih? Kamungkinan terburuknya, Niana pindah sekolah untuk mengurangi rasa malu? Laura ingin menghubungi Niana. Tapi sudah yakin tidak akan di balas. Apa datang saja ke rumahnya?
"Buat apa ke rumahnya? Dia yang salah. Harusnya Dia yang dateng ke Gue," ucap Laura pelan.
"Tapi, Gue takut ada apa-apa sama Niana." Laura berdebat dengan dirinya sendiri. Sisi baik dan sisi jahat dalam dirinya berselisih pendapat.
"Ah nanti aja deh. Kalo sampai hari Rabu dan belum menampakkan diri, baru Gue samperin ke rumahnya aja deh," putus Laura final.