Sampai hari Rabu, dan Niana belum juga menampakkan diri. Tidak masuk sekolah tanpa keterangan dan tidak bisa dihubungi. Bertanya pada pihak sekolah juga percuma. Mereka tak tahu menahu kemana Niana pergi dan mengapa tidak masuk sekolah. Gadis itu seperti di telan bumi. Hilang dari pandang begitu saja. Sosial media yang menjadi harapan Laura juga hilang. Sepertinya Niana menghapus akunnya. Melalui pantauan Laura, sebelumnya memang ada beberapa akun yang menandai Niana dalam komentar maupun postingan i********:. Menyindir mengenai masalah pertemanannya dengan Laura. Padahal tidak separah Laura kemarin. Tapi sepertinya gadis itu memilih melepaskan akun instagramnya.
Laura khawatir. Walau kemarin rasa kecewa menghantam begitu hebatnya, tetap saja Niana merupakan teman baiknya. Yang selama ini berjasa selalu menemani. Laura memilih memaafkan dan melupakan. Pasti ada alasan mengapa gadis itu sampai tega menyebarkannya.
Laura merasa kesepian tiga hari sekolah tanpa kehadiran gadis itu. Selama tiga hari, hanya diam saja di kelas. Selama istirahat juga selalu di kelas. Menyantap bekal bawaan. Tidak ada teman ngobrol satu pun. Untung saja ada handphone. Jika tidak, Laura bisa mati kebosanan. Di saat-saat seperti ini, Laura menyesal. Kenapa tidak mencari teman yang banyak? Ah, Laura ingat penyebabnya. Yaitu karena sering dikhianati dan dibohongi. Membatasi diri lebih baik dari pada merasakan sakit lagi kan.
Pulang dari sekolah, Laura berencana mendatangi rumah Niana. Satu-satunya tempat yang Laura ketahui. Ah Laura baru menyadari. Ternyata selama ini Niana terlalu tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Yang Laura tahu hanya Niana yang tinggal bersama ibu dan adik-adiknya. Sedang ayahnya merantau untuk mencari nafkah. Itu saja. Tidak lebih. Apa Niana tidak begitu mempercayai Laura? Padahal hampir semua yang Laura rasa, tercurah secara bebas pada Niana.
Laura tidak meminta izin dulu kepada orang rumah kalau hari ini akan mengunjungi Niana. Takutnya tidak diizinkan, karena mereka masih menyimpan kecewa pada gadis itu. Sebisa mungkin Laura usahakan agar sudah tiba di rumah sebelum orang tua dan kakaknya tiba. Jadi tak perlu ditodong pertanyaan.
Mengendarai mobil untuk sampai di rumah Niana. Karena memang sudah terencana, jadi tadi pagi Laura bersikeras untuk membawa mobil sendiri. Setelah sebelumnya di antar Kevin atau David dan pulang di jemput supir. Walau sempat ditentang karena baru saja sembuh. Tapi Laura dan kekeras kepalanya menang juga. Dibekali dengan petuah-petuah untuk hati-hati tentu saja.
"Semoga aja ada," gumam Laura. Gadis itu menuruni mobil mewahnya. Kawasan rumah Niana bukan kawasan elit atau komplek perumahan. Terletak di salah satu kampung yang bahkan jalan utamanya masih belum teraspal. Niana tinggal di rumah kontrakan berukuran tak lebih dari 6x7 meter dengan cat dinding yang sudah banyak terkelupas.
Laura mengernyit. Rumah Niana tampak sepi dari luar. Kosong seperti tidak berpenghuni. Kemana gadis itu dan keluarganya? Apa benar dugaan Laura jika mereka pindah?
"Loh Neng, ngapain di sini?" tanya ibu-ibu berdaster. Laura mengingatnya. Dia tetangga samping kanan rumah Niana. Laura memang sesekali mampir saat mengantarkan Niana pulang. Jadi, untuk tetangga kanan dan kiri rumah gadis itu, Laura bisa mengenalinya.
"Ah, Saya mau cari Niana Bu," jawab Laura.
"Loh, Niana kan udah gak ngontrak lagi di sini. Katanya karena malu sering diliatin orang sini. Tau kan masalahnya?" ucap ibu itu heran.
"Ah, oh. Haduh, terus sekarang tinggal dimana ya Bu?" tanya Laura bingung.
Untung saja Laura memakai masker dan kacamata bulat. Jadi tak perlu susah-susah untuk menjelaskan ini dan itu. Apalagi wajahnya sempat menjadi trending topik. Pastilah dapat mengenalinya.
"Kemarin sih katanya mau ke rumah saudara dulu. Tapi ya gak tau juga sih jadinya gimana." Ibu itu mengedikkan bahunya. Tak ingin menilai buruk, tapi Laura tahu bahwa ibu ini menjadi salah satu orang yang mengusik ketenangan keluarga Niana. Lihat saja wajahnya, walau sedang mengajak Laura berbicaa, namun wajahnya selalu saja menatap penuh selidik.
"Ya sudah Bu kalau begitu. Saya permisi dulu. Terima kasih atas informasinya," pamit Laura undur diri. Tak ada gunanya juga berlama di sana.
Di dalam mobil, Laura terus berpikir kemungkinan-kemungkinan dimana keluarga Niana tinggal. Pasti mereka merasa tertekan sampai memilih meninggalkan kontrakan. Ditambah hidup berdampingan dengan tetangga yang ya,, begitulah. Laura kasihan. Bagaimana nasib mereka? Kalau saja saat itu Laura tidak mengikuti meet and greet, pasti ini tidak akan terjadi
"Stop Laura. Lo nyalahin meet and greet mulu. Dengan kejadian ini, Lo malah jadi tahu sifat asli orang-orang di sekitar Lo," gumam Laura.
Memang benar, kita akan tahu siapa saja teman kita saat berada di titik rendah hidup. Teman yang sesungguhnya akan bertahan dan memberikan support atau bantuan. Sedang teman yang memilih pergi dan tutup mata, perlu dipertanyakan kesetiaannya.
Lalu Niana bagaimana? Gadis itu tidak pergi saat Laura tengah jatuh, tapi ternyata gadis itu juga yang membuatnya jatuh. Seperti, Niana menyakiti Laura dan mencoba menyembuhkannya. Apa itu baik?
"Duh, coba muter-mutet dulu deh. Siapa tahu ketemu dia di jalan." Laura mengitari jalan-jalan di sekitar. Tak berani terlalu jauh karena takut nanti dirinya tak bisa pulang. Laura terlalu buta akan jalan.
Berjam-jam mencari tak membuahkan hasil. Dengan terpaksa Laura kembali ke rumah. Sudah sore. Dan mungkin saja orang rumah telah tiba di rumah.
"Besok lagi deh," gumam Laura.
Saat tiba di rumah, disambut wajah khawatir Lilina yang menunggu di teras depan. Lilina takut terjadi sesuatu pada anak gadisnya. Pasalnya sudah berjam-jam dari waktu pulang sekolah dan belum kembali juga. Laura tidak meminta izin sebelumnya. Karena Laura tidak mengira akan selama ini.
"Dek, darimana aja sih?" tanya Lilina mendekati Laura.
"Hehe, tadi habis jalan Ma," jawab Laura.
"Kenapa gak izin Mama dulu? Terus handphone Kamu juga gak bisa dihubungin. Jangan buat Mama khawatir dong, Sayang," omel Lilina.
"Maaf Ma. Handphone nya dari tadi aku silent ternyata," ringis Laura merasa bersalah.
"Huft. Ya udah sana masuk. Lain kali jangan diulangin," peringat Lilina agar Laura tak kembali mengulanginya.
"iya Ma."
Setelah membersihkan diri, Laura merebahkan diri. Mengurai lelah yang bersarang. Walau hanya duduk di balik kemudi, ternyata lelah juga.
"Apa Gue tanya temen-temen Niana yang lain ya?"
"Tapi kan Niana gak pernah yang deket banget temenan sama yang lain selain Gue." Laura menepuk keningnya saat menyadari.
"Coba deh besok cari lagi. Semoga aja ketemu."
Untuk hari ini, Laura menyerah mencari keberadaan Niana. Memilih melanjutkan esok hari. Semoga saja Tuhan berbaik hati untuk mempertemukan mereka. Laura ingin semuanya kembali lagi seperti semula. Berteman lagi dengan Niana. Laura tidak ingin kehilangan teman satu-satunya.