Part 19 - Naren?

1200 Words
Setelah pesan dan panggilan tidak jelas Naren kemarin, beberapa hari ini Aktor tampan itu lebih sering menghubungi Laura. Bertukar pesan singkat atau bahkan bertelpon ria. Walau Laura juga tidak tahu tujuan Naren melakukannya. Laura sebagai fans Naren tentu saja senang mendapat pesan atau panggilan dari Naren. Tidak perlu memikirkan maksud dari Naren sendiri. "Iya Kak, hehe," ucap Laura pada sambungan telefon. Saat ini, Laura tengah berbaring dengan handphone menempel telinga kanan. Mendengarkan dan memberi respon seseorang yang ada di sebrang panggilan. "Mau ngapain lagi coba, sore-sore gini. Paling enak ya buat rebahan." Laura membalikkan badannya menjadi terlentang. Mendengarkan lawan bicaranya serius. "Lah emang Kak Naren lagi ngapain?" tanya Laura. Ya, Laura tengah mengobrol lewat handphone dengan Naren. Sekitar sepuluh menit an yang lalu, Naren menghubungi. Sampai sekarang obrolan tetap berlanjut tanpa terputus atau kehabisan topik pembicaraan. "Ya udah, bye." Setengah jam kemudian, panggilan selesai. Katanya Naren akan menghadiri rapat untuk membahas program baru di bulan depan. Lagian juga sudah terlalu lama. Telinga Laura mulai panas. Dalam hidup Laura, berada dalam panggilan lebih dari tiga puluh menit merupakan pengalaman pertama saat ini. Laura sebenarnya lebih menyukai chat dari pada telefon. Tapi, demi Naren, apa sih yang engga. Merubah kebiasaan juga Laura rela saja. "Aduh selalu deg-deg an deh kalo telponan. Untung suaranya gak kedengeran sampe sana. Coba kalo kedengeran malu banget pasti," gumam Laura memegangi jantungnya yang berdetak tak normal. Ternyata efek Naren sehebat ini. Padahal hanya berbincang lewat telfon tapi efeknya tidak jauh berbeda dengan saat berbicara secara langsung. "Elah Dek. Dipanggilin dari tadi gak nyaut-nyaut. Lagi ngapain si?" teriak Kevin kesal. Niatnya mengajak Laura jalan. Tapi sudah mengetuk pintu dan berteriak memanggil lumayan lama tidak ada respon juga. Apa Laura tiba-tiba memiliki gangguan pendengaran? "Apa sih Bang. Gak jelas banget. Dateng-dateng marah-marah," cibir Laura. "Heh Adek kurang ajar. Gue dari tadi ketuk pintu Lo sambil panggil nama Lo. Lo nya gak nyaut-nyaut. Padahal maksud dan tujuan Gue itu baik. Mau ngajak Lo jalan, eh malah dibikin kesel. Ya udah, gak jadi jalan," jelas Kevin dengan amarah tertahan. "Ya maap. Tadi Gue lagi telpon. Mana denger. Biasanya kan Lo juga langsung masuk aja. Pake ketok pintu segala lagi," cibir Laura. Memutar bola matanya malas. Untuk apa mengetuk. Biasanya juga lamgsung masuk saja. Ah tapi, sedari tadi Laura tidak mendengar apapun. Apa telinganya bermasalah? "Gue kan biasa ketok sekali ya. Terus Lo teriak nyuruh masuk. Baru Gue masuk. Tadi Gue ketok berulang gak ada yang nyaut. Mana tau kan Lo lagi ganti baju. Nanti Gue lagi yang kena," dengus Kevin. Menyadari bahwa apapun yang dilakukan pasti ada saja salahnya. Huh. "Yaudah maap. Jadi ngajak jalan kaga?" tanya Laura malas terlalu lama berdebat dengan Kevin. "Kaga. Udah gak mood Gue." Kevin meninggalkan kamar Laura. Dengan membanting pintu kamar gadis itu. "Heh dasar Abang laknat," teriak Laura. "Kesel banget Gue ih." Laura menendang guling yang kebetulan terletak dekat dengan kakinya. Padahal Laura juga ingin jalan. Ini kan malam Minggu. Gadis seusia dirinya pasti tengah sibuk bersiap untuk keluar. Dengan kekasih atau temannya. Masa Laura harus di rumah seperti malam Minggu sebelum-sebelumnya? "Gini banget nasib jomblo." Berguling-guling di atas kasur. Mencoba mengusir bosan yang ada. Laura ingin merasakan sekali saja menghabiskan malam Minggu dengan seseorang spesial walau hanya sekedar keliling atau makan. Sayangnya belum pernah. Palingan dengan keluarga saja. Ya memang keluarga juga spesial bagi Laura. Tapi dalam konteks ini, Laura ingin dengan kekasih atau gebetan. Mana ada gebetan apalagi kekasih. Hidup Laura terlalu monoton, tanpa ada sosok istimewa yang pernah hadir. Ah, mungkin bukan saat ini. Tok tok tok "Dek," panggil suara Lilina dari luar pintu kamar. "Iya Ma, masuk aja," balas Laura dengan berteriak. Tidak sopan memang. "Itu, ada yang nyariin di bawah," beri tahu Lilina. "Lah siapa? Perasaan gak ada janji sama siapa-siapa deh," bingung Laura. Siapa yang mendatangi rumahnya? Apa Niana. Kemungkinan besar memang Niana. Siapa lagi yang tahu alamat dan memiliki tujuan untuk berkunjung? "Suruh ke sini aja Ma. Males banget buat ke luar," ucap Laura setengah merengek. Laura memang bosan. Tapi untuk meninggalkan ranjang, rasanya tidak ikhlas. "Hus sembarangan. Udah sana turun. Jangan lama-lama ya." Lilina meninggalkan kamar Laura dengan sedikit ancaman agar Laura segera menemui tamunya. Dengan malas, Laura menuruni tangga. Untuk menemui tamu tak diundang itu. Lagian siapa sih? Kalau Niana kan juga biasanya langsung ke kamar saja. Sepenting apa sih urusan sampai-sampai mendatangi di rumah. Padahal ada handphone jika memang ada sesuatu yang penting. "Ada apa ya?" tanya Laura saat belum sepenuhnya memasuki ruang tamu. "Hai Laura," sapa seseorang yang tengah duduk manis di kursi ruang tamu sendiri. Laura melotot horor. Melihat seseorang yang tengah tersenyum manis di hadapannya. Seseorang yang telah mengganggu waktu rebahannya. Seseorang yang beberapa saat lalu dirutuki dalam hati. Seseorang yang sekarang menambah kerja detak jantungnya. Seseorang itu Arion Narendra. Untuk apa seorang aktor terkenal menyambangi rumahnya dan meminta bertemu. Dan darimana tahu alamat Laura? Alamat yang kadang Laura sendiri lupakan. "Duduk kali Dek," kata seseorang dari belakang tubuh Laura. Laura tersentak kaget dan berbalik. Mendapati wajah datar David di belakangnya. Laura bodoh. Tentu saja Naren datang untuk David. Mereka kan berteman. "Oh, hai. Bang David nya udah ada. Em... A... Gue ke atas dulu ya," pamit Laura. "Lah Dek. Ngapain ke atas? Yang Arion cari kan Lo, bukan Gue," tahan David sebelum Laura pergi lebih jauh. "Gue? Mau ngapain?" tanya Laura menunjuk dirinya sendiri. "Mana Gue tau. Tanya aja langsung sama orangnya. Jangan bilang, Lo grogi ya deket Arion sampe mau kabur aja," ledek David di akhir kalimatnya. "Di saat-saat seperti ini malahan Bang David ketularan Bang Kevin. Kesel maksimal. Eh, lebih ke malu sih," rutuk Laura dalam hati. "Eh itu, cuma mau main aja. Boleh kan?" Naren membuka suara. "Ya boleh lah. Ya udah Gue tinggal dulu ya," pamit David dan hilang di balik pintu utama. "Duduk aja Ra," ucap Naren. Mengedikkan dagunya pada kursi kosong di hadapannya. Tunggu. Ini seoerti Laura yang bertamu ke rumah Naren. Padahal faktanya sebaliknya. Laura mendudukkan dirinya. Sesekali mengambil nafas panjang mencoba menenangkan jantungnya yang bergerak abnormal. Jantung tahu saja jika sedang berdekatan dengan pria tampan pujaan hati. "Mm... Ada apa ya Kak?" tanya Laura akhirnya. Sekuat tenaga menahan gejolak yang ada. "Ah itu. Cuma mau main aja," jawab Naren terdengar tak yakin. "E... Katanya tadi Kak Naren mau rapat program baru?" "Oh udah selesai. Emang cepet sih. Tinggal tanda tangan kontrak aja tadi," jelas Naren. Laura mengangguk mengerti. Urusan Naren sudah selesai ternyata. Lumayan lama saling diam. Obrolan melalui ponsel lebih lancar dari pada obrolan langsung seperti ini. Laura terlalu gugup sedang Naren tidak tahu harus berkata apa lagi. "Dek, ayo jalan. Mood Gue udah bagus lagi," teriak Kevin dari dalam rumah. Laura tersenyum canggung pada Naren yang netranya ternyata menghadap dirinya. Berkata seolah 'apa kau akan pergi? Dan aku mengganggunya?' "Eh ada tamu ternyata," ucap Kevin yang sudah berada di ruang tamu. Melihat keberadaan Naren di sana. "Kalau mau keluar, Saya pulang dulu ya," pamit Naren undur diri. Takut mengganggu. "Ya udah sana balik," usir Kevin dengan senang hati. Kevin tidak ingin Laura dekat dengan pria. Setidaknya untuk saat ini. Karena Kevin takut, adiknya akan merasakan sakit. Kevin terlalu menyayangi Laura sampai sanggup melakukan apapun. Bahkan menemui dan memberi sedikit pelajaran bagi mereka yang terang-terangan mendekati adik bungsunya. Laura terlalu berharga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD