Part 18 - Penasaran

1050 Words
Hari Jumat, Laura berhasil membujuk Niana untuk tidak lagi bolos sekolah. Niana sebenarnya enggan dengan alasan malu dan takut. Malu akan perbuatan buruknya dan takut bila mendapat balasan melalui teman satu sekolahnya dengan mendapatkan perlakuan buruk juga. Dengan rayuan dan sedikit paksaan dari Laura dan Ibu Niana, akhirnya Niana luluh juga. Laura juga berjanji akan selalu ada di samping Niana. Kemarin, setelah pelukan yang diiringi isak tangis, Ibu Niana menghampiri keduanya. Ikut menangis, menyesali ke tidak pekaannya pada kondisi Niana selama ini. Berakhir dengan Niana dan Ibunya yang saling meminta maaf. Dengan Laura menjadi penonton. Untung selesai urusan di rumah Niana tidak begitu sore. Jadi tidak perlu menghadapi pertanyaan seperti kemarin lagi. Laura pulang dengan hati lega. Tidak ada rasa penasaran yang bersarang. Semua sudah jelas. Dan berjanji akan lebih menjaga perasaan Niana ke depannya. Sebisa mungkin membuat Niana nyaman berada di dekatnya. Masalah Niana selesai. Semoga saja tidak ada sesuatu yang menimbulkan masalah lagi dalam waktu dekat ini. “Wih, ada yang lagi bahagia banget nih,” tegur Kevin menyindir Laura yang tak juga melunturkan senyum. Menonton film action masih disertai senyum. Terlalu aneh di pandangan Kevin. “Dih, ribet amat sih jadi orang. Tinggal diem aja kok susah,” dengus Laura kesal. Heran dengan Kakaknya yang tidak bisa sebentar saja untuk tidak berkomentar. Ada saja perlakuan Laura yang salah di mata Kevin. Laura diam juga salah. “Lo serem senyum terus,” cibir Kevin. Membuat adiknya berteriak marah atau menangis saking kesalnya menjadi kesenangan bagi Kevin. Sudah sejak Kevin beranjak remaja. Dan sampai saat ini. “Kesel banget Gue sama Lo,” dengus Laura. Bangkit meninggalkan ruang keluarga. Berdiam diri di dalam kamar sepertinya ide yang paling baik. Bisa bersantai dan yang jelas tidak ada gangguan Kevin. Laura merebahkan tubuhnya. Ini belum satu jam sejak meninggalkan rumah Niana. Pantas saja tubuhnya terasa lelah. “Handphone Gue mana ya?” gumam Laura melupakan keberadaan handphone yang belum di sentuhnya sedari memasuki rumah. “Ah, ketinggalan di mobil.” Laura terburu mengambilnya. Takut ada pesan atau panggilan penting masuk. Dan benar saja. Handphone ber case merah muda itu tergeletak di dashboard mobil. Banyak pesan masuk. Dari grup kelas dan beberapa dari kenalan. Satu notifikasi menarik bagi Laura. Pesan chat dari seseorang yang di kontak di beri nama Kak Naren. Laura mengernyit. Untuk apa Naren mengiriminya pesan? Bukannya semua sudah selesai? Apa ada sesuatu yang Laura lewatkan? Dengan rasa penasaran tinggi, di lihatnya dengan cepat. Dari : Kak Naren Hai Laura. Gimana kabarnya? “Lah. Dia nge chat Gue Cuma buat nanyain kabar?” tanya Laura heran pada dirinya sendiri. Kabar Laira itu apa penting bagi seorang Naren? Apa hanya basa-basi saja? Ya walau sebagian hati Laura di selimuti rasa bahagia tak terkira. Di tanya kabarnya oleh orang yang menjadi idola itu luar biasa bahagia rasanya. Pesan itu dikirim setengah jam yang lalu. Waktu lumayan lama untuk membalas sebuah pesan. Jadi tidak ada alasan Laira untuk membalas nanti. Laura merasa kurang ajar jika mengabaikan chat dari seorang idola dengan waktu lumayan lama. Untuk : Kak Naren Hai Kak. Kabar baik Kak Send Pesan balasan terkirim. Laura menggigit bibirnya gelisah. Apa setelah ini Naren akan kembali membalasnya? Laura memegangi jantungnya yang bertalu cepat. Efek Naren begitu luar biasa. Padahal hanya lewat pesan singkat dan menanyakan kabar saja. Tak menunggu lama, balasan kembali masuk. Seperti memang balasan dari Laura yang begitu di harapkan. Dari : Kak Naren Syukur deh. Sibuk gak Laura? HAh? Untuk apa Naren menanyakan Laura sibuk atau tidak. Laura kan jadi lebih mengharap. Padahal beberapa hari ini sudah berhasil sedikit demi sedikit lepas dari bayang-bayang Naren. Sayangnya, di sapa lewat pesan singkat saja semua hancur. Rasa sukanya pada Naren sudah terlalu besar rupanya. Untuk : Kak Naren Iya Kak. Kalo sekarang sih engga Kak. Emang ada apa ya Kak? Balas Laura. Barangkali saja mau jujur dan terus terang apa maksudnya. Karena Laura yakin, semua perilaku manusia memiliki maksud dan tujuan. Entah itu baik atau buruk. Lima menit berlalu tidak ada balasan masuk. Huft. Padahal Laura sudah penasaran ada apa. Tapi malah pesannya tidak di balas atau sekedar di baca. Dasar. Drrt drrt Nama Kak Naren terpampang melakukan panggilan suara. Laura melotot kaget. Apa ini tujuan tadi bertanya sibuk atau tidak? Ya ampun. “Mampus Gue. Aduh angkat engga yah,” gumam Laura bingung. Dengan tangan agak gemetar, Laura menggeser pada tombol berwarna hijau. “Ha... Halo Kak, ada apa ya?” tanya Laura to the point. Ingin segera mengakhiri sambungan telefon ini. Bukan karena apa, tapi untuk kesehatan jantungnya yang sekarang memompa dua kali lebih cepat dari biasanya. “Hai Laura,” sapa Naren dari balik telefon. Suara pria itu terdengar riang. “Iya Kak, hai,” gugup Laura. Menjerit tertahan untuk mengungkapkan rasa bahagia yang membuncah. “Mm... lagi ngapain? Gue gak ganggu waktu Lo kan ya?” tanya Naren. “Ah, Saya lagi santai Kak. Gak ganggu kok. Santai aja,” jawab Laura. “Oh, oke.” Hening beberapa saat. Laura mengecek handphone nya melihat apa panggilan ini sudab berakhir atau belum. Masih tersambung. Apa Naren bingung akan mengucap apa lagi ya? Atau bagaimana? Masa Laura harus membuka pembicaraan. Pembicaraan apa? Kan yang menelfon Naren. Jadi Naren juga yang harus membuka pembicaraan kan. “Kak?” tanya Laura bermaksud menyadarkan atau memanggil Naren. Barangkali handphone nya di tinggal. “Ah, eh iya. Ya udah. Udah dulu ya, bye.” Klik Naren langsung mematikan panggilan tanpa memberikan kesempatan Laura mengucap kata lagi. “Lah. Malah buat orang penasaran deh. Ya kali telefon cuma buat tanya lagi ngapain doag. Orang waras mana yang kayahk gitu? Atau jangan-jangan ini hanya hukunan kalah dafi game? Dan diminta menghubungi nomer secara acak?” tanya Laura pada dirinya sendiri. Bertanya pada Naren percuma saja. “Dasar Arion Narendra. Buat otak Gue penasaran aja. Gak bisa di ajak sante nih otak akhirnya,” rutuk Laura. Laura masih mencoba mencari jawabannya. Namun tetap saja tidak mendapatkan. Karena ya, memang hanya Naren saja yang tahu. “Bodo amat ah. Lupain Laura. Lupain. Mungkin Dia cuma iseng aja. Ya, iseng. Ingat, iseng. Lagian Lo juga bukan siapa-siapanya juga kan,” sugesti Laura pada dirinya sendiri agar segera melupakan. Menghela nafas berat, pikirannya tak mau di ajak jauh dari kejadian mendadak tadi. Ya ampun, apa Laura akan berakhir begadang malam ini? Demi memikirkan hal sepele serta tidak penting ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD