Part 17 - Alasan dibalik pengkhianatan

1080 Words
“Hai Ni. Apa kabar?” tanya Laura saat melihat kedatangan Niana. Dapat Laura lihat, Niana menampilkan raut terkejut. Terdiam cukup lama. Tanpa menyapa Laura atau mendekat ke arahnya. Ibu Niana menghela nafas. Sudah sepantasnya Niana demikian. Putrinya pasti malu dan merasa bersalah. Dia yang tidak ikut terlibat di dalamnya saja malu saat mengetahui bahwa teman Niana yang datang bersama Nayla itu adalah Laura. Tentu saja sangat mengenal Laura. Teman putrinya itu terlalu baik. Sering membawakan makanan saat setelah mengajak Niana keluar. Dan Rani -ibu Niana- juga heran apa yang menyebabkan putrinya nekat dan tega melakukan itu pada temannya sendiri. Yang sampai saat ini alasan itu belum juga diketahui. Setiap ditanya, Niana enggan membuka mulut. “Ibu tinggal dulu ya. Kalian ngobrol dulu. Ayo Nayla, bantu Ibu,” ajak Reni pada anak bungsunya. Memilih meninggalkan dua teman yang tengah bermasalah hubungannya. Memberi mereka waktu untuk mengobrol dan semoga saja juga menyelesaikan masalahnya. Nayla menurut. Mengekori ibunya menuju dapur. Menyelesaikan menggoreng gorengan yang nantinya akan di jual keliling. Mau tak mau, Niana mendekat. Duduk lesehan di hadapan Laura. Ruang tamu di rumah kontrakkan ini tanpa meja atau kursi. Hanya di alasi karpet merah untuk duduk. Selama beberapa menit, keduanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Niana sedari tadi hanya menunduk dan memilin jarinya gusar. Perasaan bersalah pada hatinya begitu besar saat ini. Seharusnya waktu ini digunakan dengan sebaik mungkin untuk meminta maaf pada Laura. Temannya yang sudah ia perlakukan buruk. Tapi sayangnya, Niana terlalu takut. Kesalahannya begitu besar dan kemungkinan besar tidak termaafkan. “Ini, silakan dinikmati. Maaf ya Nak Laura, kalau seadanya,” ucap Rani menyajikan dua gelas minuman berwarna coklat dengan dua piring berisi gorengan. “Ah, gak usah repot-repot Tante,” jawab Laura tak enak. “Gak papa. Ayo diminum dulu. Sama cicipi jualan Ibu ya.” Reni tak lama. Hanya mengantar suguhan dan kembali masuk lagi. Sebelum itu, sempat memelototi Niana. Memberi kode pada putrinya untuk segera meminta maaf. Niana langsung mengalihkan pandangnya kala melihat Reni yang seakan memberi kode. Menghela nafas panjang mengumpulkan keberanian. “Mm... Ra, Gu... Gue minta maaf. Udah buat hidup Lo kacau akhir-akhir ini,” ucap Niana gugup. Tanpa berani menatap wajah Laura di hadapannya. Laura diam. Menunggu barangkali ada kelanjutan yang menjelaskan alasan kenapa Niana melakukannya. Namun ternyata sepertinya hanya itu kalimat yang ingin Niana katakan. “Hmm... Gue udah maafin Lo kok Ni.” Laura berucap pelan. Mengambil nafas sebelum melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang masih saja bersarang. “Gue gak marah sama Lo. Gue Cuma kecewa aja. Gak percaya kenapa Lo bisa tega sama Gue. Gue dengan percaya diri ungkapin rahasia yang ada. Tapi kayanya Gue percaya sama orang yang salah. Seminggu Gue sakit. Mikir, apa yang salah sama Gue sampe Lo tega lakuin itu? Apa alasan Lo buat ngirim screenshoot chat kita ke admin lambe-lambean? Dan sampe sekarang Gue belum nemu jawabannya,” ujar Laura. Mengeluarkan perasaan kecewanya. Mata Laura berkaca-kaca. Masih tak habis pikir kenapa Niana bisa melakukannya. “Gu... Gue minta maaf Ra. Gue nyesel banget, Gu-,” ucap Niana disertai isak tangis. “Udah cukup Gue nerima permintaan maaf Lo. Tolong jawab pertanyaan Gue. Kenapa Lo lakuin itu? Apa Gue punya salah atau pernah ngelakuin hal yang buat Lo sakit hati dan gak nyaman?” potong Laura. Tak sabar untuk mengetahui. “Lo gak punya salah sama Gue. Lo baik, bukan Cuma Gue. Tapi juga sama keluarga Gue. Lo sering beliin Kita sesuatu. Lo baik banget selama ini. Cuma Gue nya aja yang kurang ajar,” sesal Niana. Ya, selama ini Laura baik, terlalu baik malah. “Terus kenapa?” tanya Laura ketiga kalinya. “Gu... Gue iri sama Lo. Lo cantik, Lo baik, hidup nyaman, kaya, punya keluarga yang saling menyayangi. Lo gak perlu susah-susah kerja buat dapetin sesuatu yang Lo inginkan. Atau kerja demi bayar sekolah dan uang saku Lo sendiri. Lo punya semua yang Gue penginin. Hidup Lo terlalu sempurna. Gue iri. Gue lakuin itu biar Lo juga tahu dan ngerasain hidup juga bisa susah.” Niana tergugu setelah selesai mengungkapkan semua isi hatinya selama ini. Niana iri. Melihat hidup Laura yang sempurna. Tidak seperti dirinya yang hidup penuh kekurangan. Untuk dapat sekolah, harus mencari biaya sendiri. Mengandalkan pendapatan Ibunya yang berjualan tidak dapat menutupi kebutuhan Niana. Apa lagi ada tiga adik Niana yang mulai beranjak remaja. Mengandalkan Ayahnya? Ayah yang sekarang saja tidak diketahui keberadaannya. Pamit awal untuk bekerja. Namun beberapa bulan terakhir hilang tanpa kabar. Tidak ada nafkah yang memang kewajiban datang. Menurut tetangga yang satu rantauan, Ayah telah menikah lagi dengan janda anak satu di sana. Menikahi janda dan membuat istrinya menjadi seperti janda. Laura sedih dan sakit hati. Namun di sekolah malah sering mendengar Laura dengan bangga dan semangat menceritakan Ayahnya yang membelikan ini, Ayahnya yang membelikan itu, Ayahnya yang menambah uang jajannya. Membuat perasaan iri hati Niana makin besar. Dan saat itulah tanpa pikir panjang menyebarkan chat nya pada admin lambe-lambean. Dan boom, menjadi besar. Kala itu ada perasaan menyesal di hati Niana. Makanya selalu membela Laura di sekolah. Menjadi tameng gadis itu dari nyinyiran teman sekolah. “Gue juga iri waktu Lo bilang dapet ini atau itu dari bokap Lo. Gue iri. Bokap Lo baik, sedang Gue yang dengerin, selalu berandai kenapa Bokap Gue gak kaya Bokap Lo. Bokap Gue breng*sek, nikah lagi dan lepas tangan sama kehidupan Gue sama Adik-adik Gue.” Tangis Niana makin kencang. Ada rasa lega mengungkapkan semuanya pada orang lain. Beban yang selama ini hanya dirinya sendiri yang merasa terbagi dengan Laura. Rasanya lega. Laura mendekat. Memeluk tubuh Niana yang bergetar hebat karena tangis. Ini pertama kalinya Niana bercerita lepas sampai menangis. Beban Niana sungguh berat. Berbagi tugas dengan Ibunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bekerja dari tempat satu ke tempat lainnya. Di tambah sang Ayah malah lepas tanggung jawab. “Kenapa Lo gak pernah cerita sama Gue? Walau Gue gak bisa ngasih solusi, setidaknya dengan Lo cerita, bisa ringanin beban Lo,” ucap Laura. Suara Laura bergetar. Sekuat tenaga menahan agar tak ikut terbawa tangis. Mereka saling berpeluk. Laura sesekali membisikan bahwa Dia akan selalu ada untuk Niana. Dan sebisa mungkin membantu apa pun yang Niana butuh kan. Dengan syarat tidak mengulangi dan berbagi dengan dirinya. Laura dan Niana tidak menyadari di balik tirai pembatas ruang tamu dan dapur, wanita yang merupakan Ibu Niana ikut menangis. Menyadari ternyata bukan hanya dirinya yang sakit akan pengkhianatan suaminya. Namun Niana juga diam-diam memendam sakitnya seorang diri. Reni kira, diamnya Niana membuktikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Ternyata salah. Salah besar. Anak gadisnya terluka, sama seperti dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD