Gerbang Tertutup telah terbuka. Dan di baliknya, berdirilah Purwa Manik—kota kuno kerajaan Taruma, dikelilingi tembok tinggi dari batu hitam, menjulang seperti dinding langit. Kota itu tidak mati. Masih ada kehidupan. Masih ada kekuasaan. Masih ada penjaga warisan.
Arsa dan rombongannya ditahan segera setelah masuk. Pasukan berbaju perak membawa mereka menuju pusat kota: Balairung Mandala Wulan, tempat berkumpulnya Dewan Klan Tertua—tujuh pemimpin darah murni Taruma.
- Dewan Klan Tertua-
Di balairung, duduk para tetua klan:
-Ratu Sundari Wulan – pemimpin Klan Angkara Wulan, keturunan kakak perempuan Purnawarman. Dingin dan cerdas.-
-Pangeran Bima Raksa – Klan Rakai Gana, ahli perang.-
-Nara Pradipta – Klan Giri Langit, mewakili kaum spiritual.-
-Dewi Anantari – Klan Puspa Jaya, ahli ramuan dan ilmu halus.-
- Tunggadewa – Klan Taya Murti, pembela tradisi paling ekstrem.-
-Sri Wardana – Klan Bala Seta, pemilik pasukan besar.-
- Tirta Rukmi – yang kini duduk sebagai anggota kehormatan, dan tiba-tiba mulai berbicara...-
“Wahai Dewan, aku membawa dua calon pengganti. Satu dari darah garis lurus: aku. Dan satu dari darah yang dibuang: Arsa Wijaya.”
Semua mata menatap tajam.
--Sidang Pengesahan
Ratu Sundari berdiri. “Taruma bukan kerajaan lemah. Takhta ini bukan untuk anak gelandangan yang datang membawa dongeng. Kau punya bukti darah?”
Soma Dipa melangkah maju, membawa Lambang Dharma Taruma, pusaka rahasia yang hanya bereaksi terhadap darah Purnawarman. Ia melukai telapak tangan Arsa dan menempelkan pada lambang itu.
Cahaya biru menyala. Pertanda Lambang itu menerima darah Arsa.
Tapi Tunggadewa berdiri, membentak. “Darah saja tak cukup! Ia harus melewati Ritual Sidang Arwah. Di hadapan leluhur! Kalau dia lolos, baru kita akui. Tapi jika gagal... ia mati.”
Semua setuju.
Arsa mengangguk.
--Ritual Sidang Arwah
Malam itu, di dalam Kawah Leluhur, Arsa berdiri di tengah lingkaran batu, dikelilingi api dan jimat kuno. Para tetua duduk mengelilingi, berdoa.
-Ritual Sidang Arwah akan memanggil roh-roh raja Taruma. Mereka akan menguji Arsa—bukan hanya tubuh, tapi jiwanya.-
Saat mantera dibacakan, tubuh Arsa jatuh. Jiwanya masuk ke dunia bayangan.
--Pengadilan di Dunia Arwah
Ia berdiri di tengah kehampaan. Di sekelilingnya, satu per satu muncul:
Purnawarman, ayah yang tak pernah ia kenal.
Mahadaru, berdiri diam di belakangnya, matanya kosong.
Para raja lama—bermahkota, berjubah perang, membawa luka dan sejarah.
Purnawarman angkat bicara:
“Apa yang kau cari, Arsa? Takhta? Nama? Balas dendam?”
Arsa menatap ayahnya, lalu berkata, “Aku mencari akhir dari dendam. Aku ingin Taruma yang tidak memuja darah, tapi memilih berdasarkan keinginan menjaga.”
Salah satu raja lama berteriak, “Kau tak cukup kuat! Lihat tanganmu! Kau hanya anak buangan!”
Arsa membuka luka-lukanya—bekas perang, pengkhianatan, kehilangan.
“Aku memang bukan pewaris sempurna. Tapi aku membawa luka semua rakyat yang tak pernah dianggap.”
Sunyi.
Lalu Purnawarman maju dan menyentuh bahu Arsa.
“Mungkin kau bukan bayanganku… tapi kau adalah cahayaku yang terakhir.”
Semua raja lama menunduk.
Sidang Arwah menerima Arsa sebagai raja baru.
-Kembali ke Dunia Nyata
Tubuh Arsa tersentak bangun.
Cahaya dari pusaka di dadanya menyala terang. Bahkan Tunggadewa tak bisa menyangkal. Ratu Sundari berdiri dan mengangguk kecil.
“Mulai hari ini, kau bukan anak gelap. Tapi Raja Cahaya Bayangan.”
****
Setelah pengakuan sebagai raja oleh Dewan dan para leluhur, Arsa Wijaya resmi dinobatkan sebagai pemimpin Taruma. Tapi baru sehari berselang, takhta yang baru diduduki itu sudah mulai retak.
Purwa Manik bersorak menyambut raja muda. Tapi di lorong-lorong istana batu, konspirasi mulai berakar. Dan di balik senyum para bangsawan… tersembunyi niat untuk menjatuhkan.
--Mata yang Mengintai
Malam hari, Gala Dirga mendapati seorang mata-mata tertangkap di bagian barat istana. Di tubuhnya ditemukan gulungan kulit bertanda Klan Bala Seta—klan milik Sri Wardana, salah satu anggota Dewan.
Isi suratnya hanya satu kalimat:
“Raja lahir dari darah, tapi dibunuh oleh kesunyian.”
Kudeta sedang disusun.
-- Pengkhianatan Tirta Rukmi
Sementara Arsa memimpin rapat perdana dengan para penasihat, Tirta Rukmi menghilang. Ia membawa sebagian kecil pasukan ke arah timur.
Soma Dipa mencurigai gelagatnya. “Tirta membawa lambang Pusaka Giri. Jika ia mempersembahkan itu ke Klan Rakai Gana, mereka bisa mengklaim hak atas takhta.”
Mayang Puspa mendesis. “Kita tidak punya waktu untuk membujuk. Kita harus mencegat.”
Arsa ragu. “Jika kita bertindak, kita menumpahkan darah saudara sendiri…”
Resa Langit, yang sejak awal diam, berkata:
“Jika kau tak bisa melindungi takhtamu, bagaimana bisa melindungi rakyatmu?”
--Pertempuran di Gerbang Timur
Malam itu juga, Arsa dan tujuh pengikutnya menghadang Tirta Rukmi di Gerbang Timur. Langit hujan, tanah berlumpur.
Tirta, mengenakan jubah upacara, tersenyum melihat Arsa.
“Kau cepat. Tapi terlalu lembek. Taruma butuh raja dari baja, bukan bayang-bayang.”
“Taruma butuh hati,” balas Arsa. “Dan kau tak memilikinya.”
Tirta memberi aba-aba. Puluhan prajurit muncul dari balik hutan.
Pertempuran pecah.
Mayang Puspa berduel dengan tangan kosong melawan dua pendekar klan Gana.
Kirana melindungi Saka, menusuk dengan gerakan cepat dan senyap.
Gala Dirga dan Lodra Geni bekerjasama membakar pagar duri dan memutus suplai musuh.
Arsa menghadapi Tirta langsung—dua darah Taruma, dua takdir.
--Duel Darah Taruma--
Arsa dan Tirta bertarung di tengah hujan, bayangan mereka berkedip bersama kilat.
“Kau selalu takut jadi besar,” ejek Tirta.
“Aku hanya tak ingin menjadi tirani,” sahut Arsa.
Tirta menusuk—Arsa menangkis. Tangan Arsa berdarah. Tapi ia tak berhenti. Dengan satu tebasan terbalik, ia menjatuhkan senjata Tirta.
Namun ia tak membunuh. Ia hanya menatap dan berkata:
“Jika kau ingin tanah ini, kau harus melewati aku—dan semua luka yang kubawa.”
Tirta tertawa, lalu pingsan.
- Kembali ke Istana
Dewan menerima laporan. Beberapa anggota mencela tindakan Arsa. Tapi sebagian—bahkan Sri Wardana—mulai diam.
“Raja yang membunuh, mudah ditemukan,” kata Sri Wardana.
“Tapi raja yang memberi ampunan, hanya muncul sekali setiap zaman.”
Ratu Sundari memandang Arsa dengan mata berbeda. “Kau baru saja berdarah… dan itu membuatmu hidup.”