Malam pertama setelah penobatan, Purwa Manik tak sepenuhnya tenang. Lampu lentera di sepanjang lorong istana menari-nari di dinding batu, namun bayangan yang bergerak di sudut mata lebih cepat dari cahaya.
Di bagian barat istana, Gala Dirga berjalan pelan, mata tajam menelusuri setiap pintu. Ia menemukan seorang mata-mata yang tergeletak di selasar. Tubuhnya lemah, napas tersengal.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Gala, menekankan gagang kapaknya di bahu pria itu.
Mata-mata itu hanya tersenyum pahit. Ia mengeluarkan gulungan kulit dari balik jubahnya, lalu terjatuh pingsan. Gala mengambil gulungan itu.
Segera ia menyadari, lambang Klan Bala Seta tercetak jelas di kulit itu.
“Raja lahir dari darah, tapi dibunuh oleh kesunyian.”
Gala menelan ludah, langkahnya cepat menuju kamar Arsa. Ia mengetuk pintu, menyerahkan gulungan kulit itu.
Arsa membuka mata, membaca sepenggal kata yang tersirat: kudeta.
“Ini baru sehari,” gumamnya. “Dan mereka sudah menyiapkan pisau di balik senyum.”
---
Tirta Rukmi Menghilang
Sementara itu, Tirta Rukmi telah menghilang dari balairung. Ia membawa sebagian kecil pasukan ke arah timur, menyembunyikan langkahnya di balik kabut malam.
Soma Dipa, yang selalu waspada, menatap kosong ke arah hilangnya Tirta.
“Jika ia mempersembahkan Pusaka Giri ke Klan Rakai Gana, mereka bisa mengklaim hak atas takhta,” katanya.
Mayang Puspa menyipitkan mata, menggigit bibir.
“Kita tidak punya waktu untuk membujuk. Harus dicegat sebelum terlambat.”
Arsa menunduk, menahan napas panjang.
“Jika kita bertindak… kita menumpahkan darah saudara kita sendiri.”
Resa Langit, yang sejak awal lebih banyak diam, melangkah maju. Suaranya tenang tapi berat:
“Jika kau tak bisa melindungi takhtamu, bagaimana kau bisa melindungi rakyatmu?”
Kata-kata itu menusuk hati Arsa. Ia mengangguk perlahan, memutuskan.
“Baik. Kita akan menghadang Tirta. Tapi aku… aku tidak akan membunuhnya. Tidak hari ini.”
---
Gerbang Timur
Hujan deras membasahi tanah saat Arsa dan tujuh pengikutnya bergerak ke Gerbang Timur. Tanah berlumpur, kilat sesekali menembus langit gelap.
Dari balik pepohonan, Tirta Rukmi menampakkan diri. Jubah upacara membasahi tanah, senyum dingin menghias wajahnya.
“Kau cepat. Tapi terlalu lembek. Taruma butuh raja dari baja, bukan bayang-bayang,” ejek Tirta.
Arsa mengangkat pedang, matanya menatap tajam.
“Taruma butuh hati. Dan kau… kau tidak memilikinya.”
Tirta memberi aba-aba. Puluhan prajurit muncul dari balik hutan, siap menyerang.
Pertempuran pecah.
Mayang Puspa bertarung tangan kosong, gesit menahan dua pendekar klan Gana.
Kirana melindungi Saka, menusuk diam-diam dengan gerakan cepat dan senyap.
Gala Dirga & Lodra Geni membakar pagar duri, memutus suplai musuh.
Di tengah hujan, Arsa menghadapi Tirta secara langsung—dua darah Taruma, dua takdir yang berseteru.
“Kau selalu takut jadi besar,” ejek Tirta.
“Aku hanya tak ingin menjadi tirani,” balas Arsa.
Tangan bertemu, pedang beradu, kilat menyambar. Arsa berdarah, tapi ia menahan diri. Dengan satu gerakan, ia menjatuhkan senjata Tirta.
Namun ia tidak membunuh. Ia menatap Tirta, kata-katanya seperti palu di malam yang basah:
“Jika kau ingin tanah ini, kau harus melewati aku—dan semua luka yang kubawa.”
Tirta tertawa, lalu pingsan di tanah.
***
Kembali ke Istana
Laporan segera dikirim ke Dewan. Beberapa anggota mengecam tindakan Arsa, menilai ia terlalu lembek. Tapi sebagian, termasuk Sri Wardana, diam dan merenung.
“Raja yang membunuh, mudah ditemukan,” kata Sri Wardana.
“Tapi raja yang memberi ampunan, hanya muncul sekali setiap zaman.”
Ratu Sundari, yang dari awal dingin, kini memandang Arsa dengan mata berbeda.
“Kau baru saja berdarah… dan itu membuatmu hidup.”
Arsa menunduk, merasakan beratnya takhta yang baru ia duduki. Ia sadar, kemenangan malam itu hanyalah awal dari ujian yang lebih gelap.
Hujan deras malam itu menebal. Gerimis berubah menjadi hujan lebat, membasahi tanah Gerbang Timur. Lumpur menempel di sepatu, pakaian, dan pedang. Tapi tidak ada yang mundur.
Arsa berdiri tegak, napasnya berat, pedang terangkat. Di hadapannya, Tirta Rukmi tersenyum dingin, jubah upacara basah menempel di tubuhnya.
“Kau cepat. Tapi terlalu lembek. Taruma butuh raja dari baja, bukan bayang-bayang,” ejek Tirta.
Arsa menatap lurus. “Taruma butuh hati. Dan kau… kau tidak memilikinya.”
Puluhan prajurit berdiri di belakang mereka, bersiap menyerang. Namun duel sesungguhnya adalah antara dua darah Taruma: dua takdir, dua masa depan yang berseteru.
---
Duel Dimulai
Tirta menyerang pertama. Pedangnya menyambar ke arah Arsa, cepat dan berbahaya. Arsa menangkis, suara logam bergesekan keras, kilat sesekali menerangi wajah mereka.
“Selalu takut jadi besar,” ejek Tirta.
“Aku hanya tak ingin menjadi tirani,” jawab Arsa, suaranya tenang tapi tegas.
Arsa bergerak, menangkis, menyerang balik dengan gerakan yang mengalir. Setiap tebasan, ia ingat luka-luka rakyat yang pernah ia saksikan. Setiap belokan, ia ingat penderitaan yang harus dilindungi.
Tirta berputar, menyerang dengan gerakan licik, mencoba menemukan celah. Tapi Arsa tetap fokus. Hujan membasahi wajah mereka, tapi sorot mata Arsa tak pernah luntur.
Luka di tangannya mulai berdarah, namun ia tidak berhenti. Ia menahan amarah, menahan dorongan untuk membalas dendam dengan darah.
---
Puncak Duel
Akhirnya, dalam satu gerakan yang cepat dan terkontrol, Arsa membalik pedangnya, menjatuhkan senjata Tirta dari tangan musuhnya. Tirta terhuyung ke belakang, lumpur melekat di jubahnya.
Rombongan pasukan terdiam. Semua mata tertuju pada raja muda itu.
Arsa menunduk, menatap Tirta di tanah. Suaranya dalam, penuh kekuatan tapi tanpa kebencian:
“Jika kau ingin tanah ini, kau harus melewati aku—dan semua luka yang kubawa. Tapi aku tidak akan membunuhmu. Tidak hari ini.”
Tirta tertawa, suara itu bergema aneh di tengah hujan. Lalu ia pingsan.
---
Kemenangan Pengampunan
Pasukan Tirta mundur. Rombongan Arsa berdiri di sekelilingnya, basah kuyup, lelah, tapi masih hidup.
Laporan segera dikirim ke Dewan. Beberapa anggota masih mengkritik tindakan Arsa: terlalu lembek, terlalu hati-hati.
Namun sebagian, termasuk Sri Wardana, mulai mengangguk pelan.
“Raja yang membunuh, mudah ditemukan,” katanya.
“Tapi raja yang memberi ampunan, hanya muncul sekali setiap zaman.”
Ratu Sundari, yang sebelumnya dingin, menatap Arsa dengan mata berbeda.
“Kau baru saja berdarah… dan itu membuatmu hidup,” katanya pelan, penuh pengakuan.
Arsa menunduk, merasakan berat takhta yang baru ia duduki. Ia tahu kemenangan malam itu hanyalah awal dari perjalanan panjang sebagai raja.
Namun satu hal jelas: Taruma baru saja menyaksikan bahwa darah bukan satu-satunya pengikat kekuasaan. Hati, keberanian, dan pengampunan sama kuatnya.