part 8

941 Words
Purwa Manik kembali tenang setelah hujan reda, tapi Arsa tahu ketenangan itu hanyalah topeng. Istana batu yang megah tampak sunyi, namun setiap lorong, setiap bayangan, bisa menjadi ancaman. Di Balairung Mandala Wulan, Arsa duduk di singgasana. Mata rakyat menatapnya penuh harap, tapi tatapan para tetua berbeda: ada yang ingin mendukung, ada yang menunggu celah untuk menyerang. Soma Dipa duduk di sampingnya. “Yang Mulia… kudeta malam lalu hanyalah awal. Tirta Rukmi mungkin tersadar besok dan melapor ke klannya. Beberapa anggota Dewan sudah memulai permainan mereka sendiri.” Arsa menatap lambang Dharma Taruma di dadanya. “Aku sadar. Aku baru duduk sehari, tapi sudah merasakan racun di balik senyum mereka. Kita harus bergerak sebelum racun itu menyebar.” Mayang Puspa, yang berdiri di belakang, menambahkan: “Kita perlu mengetahui siapa yang setia, siapa yang berpura-pura. Kita tidak bisa bertindak secara terburu-buru, tapi juga tidak bisa diam.” Arsa mengangguk. “Kita mulai dari pengamatan. Semua langkah, semua pesan, harus tercatat. Aku tidak ingin menumpahkan darah saudara… tapi kita harus siap menghadapi jika mereka nekat.” Dewan yang Retak Malam itu, Arsa memanggil semua anggota Dewan kecuali Tirta Rukmi. Di ruang rahasia bawah balairung, lampu obor temaram menerangi wajah-wajah serius. Ratu Sundari menatap Arsa, lalu bersuara: “Raja muda… kau baru sehari duduk, tapi sudah terlihat ketegasanmu. Kita perlu stabilitas. Namun ingat, beberapa klan masih memikirkan kepentingan mereka sendiri.” Sri Wardana menambahkan, suaranya berat: “Aku akan mengamati pasukanku. Tapi aku juga ingin tahu siapa yang benar-benar loyal.” Tunggadewa hanya tersenyum tipis, matanya menyelidik. “Keputusanmu malam ini akan menentukan siapa yang hidup dan siapa yang menjadi sejarah. Jangan tersesat oleh kelembutan.” Arsa menatap mereka satu per satu. “Aku paham. Aku tidak akan membiarkan istana ini hancur oleh intrik. Kita akan bekerja sama, tapi setiap tindakan dicatat. Loyalitas bukan soal kata, tapi bukti.” Menyusun Strategi Di ruang rahasia lain, Arsa bersama Gala Dirga, Mayang Puspa, Kirana, Resa Langit, dan Lodra Geni menyiapkan strategi: Pengawasan – Mata-mata loyal ditempatkan di setiap sudut istana untuk mengamati gerak-gerik anggota Dewan. Kontrol Pasukan – Pasukan Bala Seta dan Rakai Gana tetap diawasi, pasukan loyal diberi tugas patroli malam. Informasi Rahasia – Gulungan surat, pesan, dan berita dicatat secara sistematis. Kesiapan Darurat – Rute evakuasi, titik penghadangan, dan senjata cadangan disiapkan jika kudeta dimulai. Arsa menatap teman-temannya. “Kita baru duduk di singgasana sehari, tapi kita sudah tahu: ancaman terbesar bukan dari musuh luar, tapi dari mereka yang berpura-pura tersenyum di sampingmu.” Mayang Puspa tersenyum tipis. “Dan kau akan menunjukkan bahwa Taruma punya raja yang berbeda. Raja yang menguatkan hati, bukan hanya pedang.” Arsa mengangguk pelan. “Benar. Dan aku akan membuktikannya… sebelum mereka sempat menghancurkan kita dari dalam.” Bayangan malam menutupi Purwa Manik. Di balik senyuman bangsawan, benih pengkhianatan sudah tertanam. Namun Arsa, Raja Cahaya Bayangan, telah menyalakan lilin pengawasan dan strategi. Pertarungan politik yang lebih berbahaya dari pedang akan segera dimulai. Beberapa hari setelah pertempuran di Gerbang Timur, Purwa Manik kembali terlihat damai. Pasar ramai, anak-anak bermain, dan rakyat bersorak menyambut raja muda mereka. Namun di lorong-lorong istana, bayangan gelap bergerak cepat. Di Balairung Mandala Wulan, Arsa duduk bersama Dewan. Ratu Sundari menatapnya tajam. “Kita harus tahu, siapa yang benar-benar loyal, siapa yang hanya menunggu saat yang tepat,” katanya. Soma Dipa mengangguk. “Yang Mulia, Tirta Rukmi tidak hilang begitu saja. Dia telah mengumpulkan pasukan rahasia di arah timur. Jika dia menyerahkan Pusaka Giri ke Klan Rakai Gana, klaim atas takhta akan semakin kuat.” Arsa menatap lama ke arah jendela balairung. Hujan semalam masih menempel di kaca, seolah membawa kabut ancaman yang belum hilang. “Jangan ada yang sampai mati karena ambisi Tirta,” kata Arsa. “Tapi kita harus mengetahui rencana lengkapnya.” Mata-mata dan Penyelidikan Gala Dirga bergerak cepat. Ia memerintahkan mata-mata loyal untuk menelusuri setiap gerak Tirta dan pasukannya. Beberapa gulungan surat, pesan rahasia, dan kode-kode yang ditemukan mengungkap arah pergerakan pasukan Tirta: Tirta berencana menyerahkan Pusaka Giri kepada Klan Rakai Gana malam itu juga. Sebagian anggota Dewan, yang tidak puas dengan keputusan Arsa, diam-diam mendukung langkah Tirta. Sebagian rakyat biasa juga sudah dipengaruhi kabar bohong tentang raja muda yang “lemah”. Arsa mengerutkan dahi. Ia sadar bahwa perang berikutnya bukan hanya di medan tempur, tapi juga di istana dan hati rakyat. Konfrontasi Awal Malam itu, Arsa memimpin tim kecil ke Gerbang Timur. Hujan deras membasahi tanah. Lampu lentera bergetar di tiang batu. Tirta muncul dari kabut, jubah basah menempel di tubuhnya, senyum dingin masih menghias wajahnya. “Kau menemuiku lagi,” ejek Tirta. “Dan aku tidak akan membiarkanmu memecah Taruma dari dalam,” jawab Arsa. Pertemuan mereka bukan hanya pertarungan fisik, tapi juga pertarungan pikiran. Tirta mencoba merayu beberapa pasukan untuk berpaling, namun Arsa dengan tenang menahan semua serangan itu. Keputusan Arsa Saat Tirta menyerang langsung, Arsa menangkis. Ia berdarah, tapi tetap menahan diri. Ia menatap Tirta, kata-katanya tegas: “Kau bisa menguasai pasukan, tapi kau tidak akan menguasai hatiku. Taruma bukan hanya milikmu, dan aku tidak akan membiarkan darah saudara jatuh di tanah ini.” Tirta tersenyum pahit, lalu mundur sementara pasukannya terdiam, bingung menghadapi raja yang memberi ampunan tapi tetap tegas. Gala Dirga berbisik kepada Arsa: “Kita tahu sekarang siapa yang bermain di balik layar. Kita punya waktu untuk mempersiapkan langkah selanjutnya.” Arsa menunduk, menatap lambang Dharma Taruma di dadanya. “Ya. Ini baru awal. Tirta mungkin masih bergerak, tapi setiap langkahnya akan kita catat. Aku tidak akan menunggu darah jatuh, aku akan menghentikannya sebelum itu terjadi.” Bayangan Tirta Rukmi masih mengintai di timur, tapi Arsa telah menyalakan api pengawasan dan strategi. Pertarungan politik yang lebih berbahaya dari pedang kini resmi dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD