Fajar baru menyinari Purwa Manik, tapi hujan semalam masih meninggalkan genangan di lorong-lorong istana. Gerbang Timur kini menjadi titik ketegangan terbesar. Arsa berdiri di puncak benteng, memandang pasukan Tirta yang berkumpul di kejauhan.
Mayang Puspa dan Gala Dirga berada di sampingnya. Map strategi dibentangkan di meja batu basah.
“Kita tidak bisa menyerang langsung,” kata Gala.
“Jika kita menumpahkan darah, kita akan kehilangan moral rakyat. Kita harus lebih cerdik,” tambah Mayang Puspa.
Arsa menatap peta. Titik-titik pasukan Tirta, jalur pasokan, dan area rawan sudah dicatat.
“Kita tidak akan menghancurkan mereka. Kita akan memaksa mereka menyerah melalui pengawasan dan manuver. Taruma tidak boleh dirusak oleh perang saudara.”
Manuver Strategis
Arsa membagi pasukannya menjadi tiga kelompok:
Kelompok Pengawas – dipimpin Gala Dirga, bergerak diam untuk memotong jalur komunikasi dan pasokan Tirta.
Kelompok Penghadang – dipimpin Mayang Puspa, menjaga posisi kritis tanpa menimbulkan korban.
Kelompok Cadangan & Mediasi – dipimpin Arsa sendiri, siap turun tangan jika situasi memanas, tapi fokus pada diplomasi dan negosiasi.
Sementara itu, Tirta Rukmi terus menunggu dengan pasukannya, yakin bahwa Arsa akan menyerang secara frontal.
Konfrontasi
Ketika pasukan Arsa mulai bergerak, Tirta menyadari sesuatu berbeda.
“Kau bermain cerdik… tapi apakah hatimu cukup baja untuk memimpin?” ejek Tirta.
Arsa menatap lurus, suaranya tegas:
“Hatiku cukup untuk melindungi rakyat, dan cukup untuk menghentikan saudara yang tersesat tanpa menumpahkan darah mereka.”
Pertempuran dimulai—tapi bukan pertempuran pedang. Kelompok pengawas Gala memutus suplai Tirta, kelompok Mayang Puspa menutup jalur mundur, sementara Arsa dan kelompok mediasi bergerak ke tengah lapangan untuk menghadapi Tirta secara langsung.
Duel dan Diplomasi
Arsa menantang Tirta satu lawan satu di tengah hujan. Pedang mereka bertemu, tapi Arsa tidak menyerang untuk membunuh. Ia hanya menahan, memblok, dan menjaga agar Tirta tidak melukai pasukan yang lain.
“Kenapa kau tidak menyerang?” tanya Tirta, napasnya berat.
“Aku bukan tirani,” jawab Arsa. “Aku ingin kau melihat bahwa Taruma bisa berbeda. Bahwa pengampunan lebih kuat daripada darah.”
Tirta terdiam sejenak. Hujan deras menetes di wajahnya. Lambat laun, pasukannya mulai ragu. Mereka melihat raja muda itu berdiri dengan tegak, tanpa membunuh, tapi tetap menang.
Kemenangan Strategis
Akhirnya, Tirta dan pasukannya menyerah. Mereka tidak kalah karena kekuatan, tapi karena strategi dan ketegasan Arsa yang menunjukkan pengampunan.
Rakyat dan pasukan loyal menyaksikan kemenangan ini dengan kagum.
Sri Wardana menepuk pundak Arsa.
“Raja yang memberi ampunan… benar-benar berbeda. Mereka menyerah karena hati, bukan pedang.”
Ratu Sundari menatap Arsa.
“Kau bukan hanya raja yang lahir dari darah. Kau raja yang lahir dari cahaya hati. Itu membuatmu hidup… dan membuat Taruma selamat.”
Arsa menunduk. Ia tahu, kemenangan ini hanyalah awal. Masih banyak intrik dan pengkhianatan yang menunggu di balik senyum Dewan dan bayangan istana.
Namun satu hal jelas: Taruma baru saja menyaksikan kelahiran Raja Cahaya Bayangan—raja yang tidak hanya menguasai pedang, tapi juga hati rakyatnya.
Hari-hari setelah kemenangan strategis di Gerbang Timur, Purwa Manik mulai terasa hidup kembali, tapi bagi Arsa, ketenangan itu semu. Setiap langkahnya di balairung terasa diawasi, setiap kata yang ia ucapkan bisa menimbulkan konsekuensi.
Arsa duduk di singgasana batu, dikelilingi para penasihatnya. Map kota, laporan pasukan, dan surat-surat rahasia tersusun rapi di meja.
“Yang Mulia,” kata Soma Dipa, “kita harus mulai menata pemerintahan. Loyalitas Dewan masih retak, dan beberapa klan masih menyimpan dendam.”
Arsa mengangguk.
“Kita mulai dengan transparansi dan peraturan. Setiap keputusan dicatat, setiap langkah dipertanggungjawabkan. Keadilan harus terlihat, bukan hanya dirasakan.”
Mayang Puspa menambahkan:
“Kita juga harus memperkuat pasukan loyal. Mereka bukan hanya alat perang, tapi simbol keamanan bagi rakyat dan istana.”
Memperkuat Loyalitas Dewan
Arsa memanggil Dewan satu per satu.
Ratu Sundari diberikan wewenang untuk mengatur administrasi dan pendidikan kerajaan.
Sri Wardana memimpin pasukan cadangan, tapi di bawah pengawasan langsung Arsa.
Tunggadewa ditugaskan menjaga tradisi dan ritual, agar akar budaya tetap kuat.
Bima Raksa diberi mandat latihan militer dan strategi pertahanan.
Dewi Anantari menjaga ilmu ramuan dan perlindungan spiritual.
Arsa menatap mereka.
“Kita harus bersatu. Taruma tidak boleh retak karena ambisi pribadi. Kita punya tanggung jawab lebih besar daripada ego.”
Beberapa anggota Dewan masih menunduk, ragu. Tapi mereka mulai menyadari, Arsa bukan raja biasa—ia memimpin dengan hati dan kepala, bukan hanya pedang.
---
Ancaman Internal
Namun bayangan gelap tetap ada. Tirta Rukmi masih berada di wilayah timur, diam-diam membangun jaringan baru. Beberapa bangsawan yang sempat mendukungnya masih menyimpan dendam.
Gala Dirga membawa laporan mata-mata:
“Yang Mulia, ada beberapa orang di Dewan yang masih bersekongkol. Mereka menunggu momen untuk menyerang dari dalam.”
Arsa menatap lambang Dharma Taruma di dadanya, cahaya biru bergetar.
“Kita akan memonitor mereka. Jika mereka bergerak, kita hadapi dengan strategi, bukan reaksi. Taruma harus tetap selamat—rakyat di atas segalanya.”
Mayang Puspa menunduk.
“Yang Mulia… hatimu kuat, tapi kau juga harus berhati-hati. Ancaman yang datang dari dalam bisa lebih mematikan daripada perang.”
Arsa menegakkan punggungnya.
“Aku sadar. Tapi aku tidak akan menyingkirkan mereka dengan darah. Aku akan menundukkan mereka dengan kepemimpinan, bukan pedang. Ini jalan Raja Cahaya Bayangan.”
Langkah Awal Konsolidasi
Langkah pertama Arsa adalah memperkuat sistem administrasi kerajaan.
Pembagian tugas yang jelas untuk setiap klan.
Sistem pengawasan internal yang ketat, tapi transparan.
Pasukan loyal yang siap siaga, namun tetap menjaga keamanan rakyat.
Diplomasi internal untuk menjalin kerja sama antara klan, bukan kompetisi.
Rakyat mulai merasakan perubahan. Pesta kecil di pasar, distribusi bantuan, dan pengawasan terhadap pejabat korup mulai memberi rasa aman.
Arsa menatap Purwa Manik dari balkon balairung. Kota ini penuh sejarah dan luka, tapi kini ada harapan.
“Ini baru awal,” gumamnya. “Taruma akan bangkit, bukan dari darah atau dendam… tapi dari cahaya hati.”