Aku tidak berbohong saat mengatakan bahwa jalan-jalan malam yang aku lakukan bersama dengan Kale benar-benar mampu membuat aku lupa. Bukan hanya lupa pada masalah ku tapi aku juga lupa pada waktu. Karena begitu aku dan Kale benar-benar pulang, waktu sudah melewati pukul sembilan malam. Dan yang membuat aku terkejut saat tiba di rumah adalah karena Fattah yang sesaat lalu membatalkan janji, sudah duduk di kursi teras seorang diri. Aku menatapnya sekilas, sebelum kemudian kembali menghadap Kale. "Makasih ya karena kamu udah nganterin aku dan nemenin aku tadi," ucapku tulus. Kale yang juga menyadari keberadaan Fattah, sempat melirik ke arah teras sebelum kemudian kembali menatapku. "Iya, kalau begitu saya pulang ya, Mbak?" Aku mengangguk. Merasa bersalah pada Kale yang sepertinya merasa

