[2] Jangan Datang Lagi Padaku

1103 Words
Ivanka menatap layar ponsel. Perasaannya semakin tidak karuan ketika tidak juga ada pesan uang masuk. Padahal dia begitu membutuhkan uang tersebut. Selain itu dia juga cukup ingat kalau Kenzo akan mengirimkannya. “Apa dia berbohong?” gumam Ivanka dengan raut wajah cemas. Dia sudah mengorbankan kesuciannya hanya untuk mendapatkan uang tersebut. Kalau sampai Kenzo membohonginya, Ivanka tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah dia datang dan meminta kembali uangnya? Namun, Ivanka cukup malu untuk melakukannya. Rasanya semalam saja sudah cukup untuk menurunkan harga dirinya. Kalau harus datang dan meminta seperti pengemis, dia benar-benar semakin tidak memiliki harga diri sama sekali. “Tapi, kalau aku tidak memintanya, bagaimana dengan kehidupan? Aku begitu membutuhkan uang itu,” gumam Ivanka lagi. “Kamu kenapa melamun? Ada masalah?” Ivanka yang sejak tadi diam pun tersentak. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke arah sahabatnya berada. Dengan tenang, dia menggelengkan kepala. Kedua sudut bibirnya juga tertarik, membentuk senyum yang jelas dipaksakan. “Kalau kamu ada masalah, Kamu bisa cerita denganku, Ivanka. Mungkin aku tidak banyak membantu, tetapi itu bisa sedikit meringankan perasaan dalam hatimu,” ucap Safira—sahabat Ivanka. Ivanka pun kembali tersenyum dan berkata, “Aku tidak ada masalah sama sekali, Safira. Kamu tenang saja.” “Baiklah kalau memang gak ada,” ucap Safira. “Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kondisi kakakmu? Apa sudah membaik?” Kali ini, Ivanka yang ditanya pun terdiam. Kenangannya kembali ke masa dimana dia masih duduk dibangku sekolah menengah. Dia tengah duduk di ruang makan bersama dengan keluarganya dan tampak begitu bahagia. “Dasar anak manja. Apa-apa harus kakaknya. Sampai menu sarapan juga kakaknya yang menyiapkan,” ucap sang mama. “Soalnya masakan kakak enak,” sahut Ivanka dan menatap ke arah sang kakak. Dia kembali berkata, “Kak, kamu mau memasakan untukku selamanya, kan?” Sang kakak yang mendengar tersenyum lebar. Dia mengacak rambut sang adik dan menjawab, “Tenang saja. Aku akan memasak untukmu. Kakak pastikan gizimu akan cukup dan gak akan pernah kelaparan.” Ivanka yang mengingat hal itu pun hanya bisa tersenyum miris. Semua kebahagiaan yang dia dapatkan dulu, kini sudah menghilang. Ivanka bahkan merasa sendiri. Hingga dia menyingkirkan kesedihan di hatinya kembali fokus dengan ponsel. “Aku harus mengingatkannya. Aku butuh uang itu,” ucap Ivanka dengan diri sendiri. Jemarinya pun mulai mengetikan pesan dan mengirimnya dengan cepat. Ivanka sudah kehilangan harga diri sebelumnya. Jadi, kali ini hilang lagi tidak masalah. Toh Kenzo sudah menatapnya dengan sorot mata meremehkan. Sedangkan di tempat lain, Kenzo masih fokus dengan pekerjaan saat denting singkat ponsel terdengar. Dia mengambil ponsel dan membuka pesan yang masuk. ‘Maaf, apakah anda belum mentransfer uangnya? Saya harap anda segera mentransfernya.’ Itulah isi dari pesan yang dikirim Ivanka. Kenzo yang membaca tersenyum sinis, seakan meremehkan wanita itu. Tapi, dia tetap membalas. Dia mengirimkan sebuah foto kartu ATM dengan kalimat, ‘Datang ke kantorku sekarang dan ambil bayaranmu. *** “Kamu mau pulang bersamaku?” tanya Safira yang baru sampai parkiran. Biasanya Ivanka memang pulang dengan sahabatnya, tetapi hari ini berbeda. Dia harus ke kantor Kenzo untuk mengambil bayaran. Rasanya cukup kesal karena pria itu seperti mempermainkannya. Kalau memang mau memberikan dalam bentuk kartu, kenapa tidak dari pagi tadi? Namun, Ivanka tidak memiliki keberanian untuk memprotesnya. Kenzo yang sekarang benar-benar berbeda dengan yang dulu. Kenzo dulu sangat lembut dan penuh kasih sayang. Sedangkan sekarang, dia tampak menakutkan. “Terima kasih, tapi hari ini aku pulang sendiri saja, Safira. Ada urusan yang harus aku selesaikan,” jawab Ivanka pada akhirnya. “Kamu yakin? Aku bisa mengantarmu ke tempat itu,” kata Safira, tidak tega melihat Ivanka. Sahabatnya sudah susah. Dia yang tidak bisa membantu apa pun hanya bisa menawarkan tumpangan untuk wanita itu. “Gak perlu. Lebih baik kamu pulang saja,” sahut Ivanka dengan tegas. Safira yang mendengar hanya bisa membuang napas lirih. Dengan pasrah dia berkata, “Baiklah kalau kamu tidak mau. Tapi, kamu harus hati-hati. Kabari aku kalau ada sesuatu yang terjadi.” Ivanka hanya bergumam pelan dan menganggukkan kepala. Dia menatap kepergian Safira. Setelah itu, dia menaiki taksi dan menuju ke alamat yang sudah Kenzo berikan. Tidak berselang lama, aksi yang dinaiki pun berhenti. Ivanka juga tidak menyiakan hal itu. Dia segera keluar dan menatap bangunan pencakar langit di depannya. “Mari, nona. Tuan Kenzo sudah menunggu.” Ivanka yang melihat pria di depannya pun langsung menurut, mengikuti pria tersebut. Dia juga tidak cukup asing karena sebelumnya pria itu juga yang membawanya ke kamar Kenzo. Ivanka merasa jika pria itu adalah orang kepercayaan Kenzo. “Silahkan.” Ivanka yang melihat pintu terbuka pun melangkah pelan. Dia mengamati sekitar dan berhenti ketika melihat Kenzo yang sedang bersandar dengan meja. Dengan perasaan tidak karuan dia pun semakin mendekat, sesekali menelan saliva pelan. “Selamat sore, Tuan Kenzo,” sapa Ivanka. Namun, Kenzo tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya diam dan mengulurkan sebuah kartu. Dengan suara dingin dia berkata, “Itu bayaranmu semalam. Untuk pin-nya ada di belakang kartu.” Ivanka tersenyum tipis dan menerima kartu itu. Perasaannya sedikit tidak karuan. Dia merasa malu sekaligus tidak menyangka kalau pada akhirnya dia akan menyerahkan diri dengan Kenzo, pria yang sempat dikaguminya. “Mengenai tawaranku kemarin, apa kamu sudah memikirkannya?” Kenzo menatap ke arah Ivanka dengan sorot mata tajam. “Aku akan memberikanmu uang dengan jumlah yang tidak terhingga.” Ivanka yang mendengar hal itu pun terdiam. Dia masih memikirkan tawaran Kenzo. Bukannya karena dia mata duitan, tetapi kali ini Ivanka membutuhkan uang dengan jumlah yang begitu banyak. Dia tidak tahu apakah dia mampu memenuhi semua kebutuhannya atau tidak. Namun, Ivanka masih cukup ingat dengan rasa sakit hatinya. Dia merasa kecewa karena Kenzo yang ternyata tidak mengenali dirinya. Selain itu dia juga merasa hancur ketika melihat Kenzo yang menatapnya dengan sorot mata mengejek. “Aku sudah katakan sebelumnya. Aku tidak bisa,” ucap Ivanka. Dia pun langsung membalikkan tubuh, bersiap untuk pergi. Sayangnya Kenzo yang tidak terima langsung meraih pergelangan tangan Ivanka dan menarik kasar, membuat Ivanka yang tidak siap sedikit oleng. Beruntung karena Kenzo langsung meraihnya. Pria itu pun memutar tubuh, membuat Ivanka yang bersandar dengan pinggiran meja. “Jangan terburu-buru menolak, Ivanka. Aku akan memberimu waktu dua hari untuk memikirkannya,” ucap Kenzo. Ivanka menelan saliva pelan. Dengan gugup berkata, “Kontrak kita sudah berakhir semalam. Setelah ini kita sudah tidak memiliki kerjasama apapun. Aku juga tidak ingin menjadi selingkuhanmu. Jadi, setelah ini kita tidak memiliki hubungan apapun. Kalau bertemu nanti, aku juga akan bersikap seperti tidak mengenalmu sama sekali.” Mendengar jawaban yang jelas tidak diinginkan membuat Kenzo semakin merasa kesal. Rahangnya tampak mengeras dengan sorot mata tajam. Dengan suara penuh penekanan dia pun berkata, “Oke kalau begitu. Jangan pernah datang lagi padaku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD