[3] Menunggu Hingga Lelah

1147 Words
“Kenapa banyak sekali?” Ivanka sayang baru saja mengecek isi di dalam ATM pun dibuat terkejut. Kedua matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka. Pasalnya dia mendapat bayaran sepuluh kali lipat dari apa yang dimintanya. Hal yang membuat Ivanka semakin tidak enak. “Aku harus mengembalikan kartu ini. Aku tidak ingin ada hubungan apapun dengannya lagi,” ucap Ivanka dengan perasaan tidak karuan. Dia mengambil sejumlah uang yang dibutuhkan dan juga kartu ATM yang diberikan Kenzo. Ivanka buru-buru keluar. Dia langsung melangkahkan kaki, sesekali menatap sekeliling. Dia harus mencari taksi untuk mengembalikan kelebihan uang yang Kenzo berikan. Ivanka tidak ingin dianggap sebagai wanita matre karena menerima bayaran yang tidak diinginkannya. Setelah mendapatkan taksi, Ivanka langsung menyuruh sang sopir datang ke perusahaan Kenzo. Meski hari sudah malam, Ivanka tetap harus mengembalikannya. Dia pun meraih ponsel dan menekan nomor pria itu, tetapi nomornya tidak bisa dihubungi. Ivanka pun mengetikkan beberapa kalimat dan mengirimkannya. “Diblokir?” Ivanka yang melihat tanda peringatan di sebelah pesannya pun hanya bisa membuang nafas lirih. Meski begitu dia merasa tidak enak hati. Dia yakin Kenzo masih marah dengannya. Itu juga yang membuat pria itu memblokir nomornya. “Meski uang ini cukup untukku, tetapi aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa mengambil uang yang bukan menjadi hakku,” gumam Ivanka. Beberapa menit perjalanan, mobil yang dinaikinya berhenti. Setelah membayar ongkos, Ivanka pun langsung keluar. Gedung di depannya sudah cukup sepi. Lampu putih sudah mulai menyala karena langit yang sudah mulai menggelap. Hanya ada dua penjaga yang masih berdiri dengan setia. “Anda dilarang masuk.” Ivanka yang hendak menerobos pun langsung berhenti. Dengan tenang Dia berkata, “Saya hanya ingin bertemu dengan bos kalian. Ada sesuatu yang harus saya kembalikan.” “Apa anda sudah membuat janji?” tanya salah satu penjaga. Ivanka pun menggelengkan kepala dan menjawab lirih, “Belum.” “Kalau anda belum membuat janji, anda dilarang masuk.” “Tap—” “Silahkan pergi dari sini.” Ivanka yang mendapat perlakuan berbeda pun cukup merasa sedih. Padahal tadi Dia baru saja datang dan mendapat sambutan yang ramah, tapi kali ini berbeda. Ivanka yang tidak berdaya pun memilih melangkahkan kaki, sedikit menjauh dan duduk di dekat parkiran. “Aku akan menunggumu di sini,” ucap Ivanka. Meski malam yang sudah semakin larut dan udara dingin membuatnya menggigil, Ivanka tetap dengan tekadnya. Dia harus mengembalikan uang yang diberikan Kenzo. Sedangkan di tempat lain, Kenzo masih duduk sembari memegang segelas anggur. Entah sudah berapa kali pria itu meneguknya, tetapi tidak juga berhenti. Tatapannya tetap tertuju pada meja kerja yang begitu berantakan. “Tuan, nona Ivanka ada di bawah,” ucap Arya—anak buah sekaligus orang kepercayaannya. “Untuk apa dia datang?” Kenzo balik bertanya dan menatap Arya. “Saya juga tidak tahu, tetapi penjaga bilang dia ingin bertemu dengan anda,” jawab Arya. “Biarkan saja. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya,” ucap Kenzo. “Tap—” “Jangan membantah perintahku, Arya,” sela Kenzo dengan tegas. Arya pun hanya bisa menutup mulut dan melangkah mundur. Melihat sikap dingin sang atasan membuat Arya tidak ingin mendapat masalah. Setelah kepergian Arya, Kenzo pun bangkit dan melangkah ke arah jendela. Di sana dia melihat Ivanka yang terduduk di pinggir perusahaan dan sesekali mengelus lengan. Hari ini mungkin akan turun hujan, tetapi Kenzo tidak memiliki simpati sama sekali. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Kenzo meraih benda pipih di saku celana dan mengangkatnya. “Malam ini Papa mau kamu pulang, Kenzo. Ada urusan yang harus Papa bicarakan.” Kenzo tidak mengatakan apapun. Dia bahkan langsung mematikan panggilan dan membalik tubuh. Dengan tenang kakinya melangkah, menuju ke arah pintu keluar ruangannya. “Kita kembali ke rumah, Arya,” perintah Kenzo. “Mengenai Nona Ivanka, bagaimana, Tuan?” “Suruh penjaga kita mengusirnya. Aku sudah tidak mau bertemu dengan dia lagi,” jawab Kenzo dengan tegas. **** “Tuan Kenzo mengatakan tidak mau bertemu dengan anda, Nona. Jadi, silahkan pergi.” Ivanka yang mendengar hal itu pun hanya bisa membuang nafas lirih. Sudah hampir dua jam dia menunggu, tetapi Kenzo tidak juga menemuinya. Dia bahkan mulai bertanya-tanya, apakah Kenzo begitu membenci dirinya? Namun, Ivanka tidak bisa menyalakan Kenzo. Dia yang salah karena berbicara dengan kalimat yang tidak sopan. Seharusnya dia bisa menolak secara halus, tidak mengatakan bahwa tidak ada hubungan diantara keduanya. Ivanka pun membuang nafas, menyusuri trotoar yang sudah begitu sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Ivanka sendiri tidak yakin akan mendapatkan angkutan umum di tempat tersebut. Jangankan angkutan umum, taksi dia tidak bisa mendapatkannya. “Sekarang aku harus pulang naik apa? Masa iya jalan kaki,” gerutu Ivanka dengan raut wajah masam. Ivanka menendang batu di depannya dan menghentikan langkah. Dia berkata, “Seharusnya aku tidak menunggunya. Percuma menunggu kalau hasilnya malah aku yang susah.” Ivanka benar-benar emosi melihat tingkah Kenzo yang begitu mempermainkannya. Hingga sebuah mobil berhenti di sebelahnya, membuat Ivanka menghentikan langkah. “Ivanka, kamu kenapa di sini?” “Justin.” Ivanka yang melihat pria di dalam mobil itu langsung tersenyum lebar. Justin yang melihat pun ikut tersenyum. Dia membuka pintu mobil dan berkata, “Ayo masuk. Aku akan mengantarmu pulang.” Ivanka tidak malu-malu lagi. Dia dengan cepat masuk, duduk di sebelah Justin dengan ekspresi penuh kelegaan. “Aku pikir akan pulang sampai rumah dengan jalan kaki,” ucap Ivanka. Justin pun tertawa kecil. Dia menyahut, “Memangnya kamu dari mana? Kenapa kamu bisa di kompleks perkantoran ini? Seingatku arah rumahmu juga tidak melewati jalanan ini.” Ivanka yang ditanya pun tertawa canggung dan menjawab, “Aku baru bertemu seseorang.” “Siapa?” “Hanya teman lama.” Justin yang mendengar pun mengalihkan pandangan, tidak lagi menanyakan hal yang cukup privasi tersebut. Dia mengubah topik pembicaraan dan bertanya, “Terus sekarang kamu mau ke mana?” “Bisa kamu mengantarku pulang ke rumah?” “Bisa,” jawab Justin. Sedangkan di tempat lain Kenzo sudah memasuki rumah kedua orang tuanya. Raut wajahnya tampak begitu tenang, tapi sorot matanya tidak terlihat bersahabat sama sekali. Sepanjang melangkah, tidak ada senyum yang terlihat. Bahkan para karyawan yang mencoba menyapanya tidak mendapat balasan sama sekali. “Kenapa kalian menyuruhku datang?” Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut Kenzo ketika sampai di ruang keluarga. Benny dan Rosalind yang merupakan kedua orang tua Kenzo langsung mengalihkan pandangan. Rosalind yang lebih dulu bangkit dan menyapa putranya. “Akhirnya kamu pulang ke rumah juga, Kenzo. Mama begitu merindukanmu,” kata Rosalind. Namun, Kenzo tidak menjawab sama sekali. Meski mendapat pelukan dari sang mama, Kenzo tetap bersikap biasa. Dia memilih melepaskan dekapan dan duduk dengan kaki disilangkan. “Aku tidak memiliki banyak waktu. Kalian katakan saja apa yang ingin kalian bicarakan,” ucapnya serius. Benny yang mengetahui sikap putranya pun memilih meletakkan ponsel dan menatap Kenzo. Dengan tegas dia mengatakan, “Papa memintamu datang ke sini karena Papa ingin mengatakan mengenai perjodohanmu. Papa dan mama sudah mengatur siapa wanita yang akan menikah denganmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD