“Aku menolak! Aku tidak mau menerima perjodohan yang kalian atur untukku!”
Jawaban Kenzo yang begitu tegas membuat kedua orang tuanya langsung terkejut, terutama Benny. Pria itu tidak menyangka jika putra yang dibesarkannya selama ini tidak berbakti sama sekali. Padahal jelas pernikahan kali ini untuk kepentingan putranya sendiri.
“Papa tidak menerima penolakan apapun, Kenzo,” ucap Benny tidak kalah tegas. Raut wajahnya tampak begitu serius.
Namun, Kenzo yang memang sejak dulu sudah bertentangan dengan sang papa malah mengatakan, “Kalau begitu, Papa saja yang menikah dengan wanita itu. Aku, tidak tertarik untuk mengikuti perjodohan ini.”
“Kam—” Benny yang siap menjawab pun memilih berhenti. Melawan Kenzo dengan amarah yang sama tidak ada gunanya. Kenzo pasti akan semakin menjadi-jadi.
Benny menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Sebisa mungkin dia mengendalikan emosi yang sudah memuncak, berusaha membujuk putranya dengan cara yang lebih lembut.
Rosalind yang melihat hal itu pun mencoba menjadi penengah. Dia berkata dengan lembut, “Mama rasa Tidak ada salahnya untuk melihat lebih dulu calonmu, Sayang. Mama yakin, pilihan papamu kali ini bukanlah wanita sembarangan. Dia pasti wanita yang baik dan juga dari kalangan yang sama dengan kita.”
“Meski begitu, aku tidak tertarik sama sekali,” sahut Kenzo dengan nada penuh penekanan.
“Kenapa kamu sudah menolak, padahal belum lihat calonmu, Kenzo?”
Semua yang berada di ruang keluarga itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Tidak jauh dari ketiganya, seorang wanita dengan dress di atas lutut dan mengenakan heels. Rambutnya dibiarkan tergerai.
Meski begitu, Kenzo yang melihat seperti tidak tertarik sama sekali. Dia malah mengalihkan pandangan, memasang raut wajah tidak suka.
“Selamat malam Om, Tante,” sapa wanita itu.
Benny langsung tersenyum dan berkata, “Kenapa gak bilang kalau mau ke sini, Vega. Kalau tahu kamu mau ke sini, om bisa suruh Kenzo untuk menjemputmu.”
“Gak masalah, Om. Aku ke sini juga karena mendengar kalau Kenzo akan pulang malam ini,” sahut Vega. Dia pun melangkah ke arah Kenzo berada.
“Lama tidak bertemu, Kenzo.” Vega mengulurkan tangan dan tersenyum manis.
Namun, tingkah itu tidak membuat Kenzo luluh. Dia tidak membalas uluran tangan wanita di depannya. Kenzo malah memilih berdiri dan berkata dengan nada ketus, “Aku mau pulang. Aku rasa urusanku disini sudah selesai.”
“Kenzo, Vega baru saja datang,” ujar Benny memperingatkan.
“Dia datang sendiri dan bukan aku yang menyuruhnya. Jadi, aku pulang pun tidak ada hubungannya dengan dia,” sahut Kenzo. Dia yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu pun memilih melangkahkan kaki.
“Kenzo,” panggil Benny dengan suara lantang.
Namun, Kenzo tidak mendengarkan sama sekali. Pria itu terus melangkahkan kaki, meninggalkan ruang keluarga yang tampak membosankan. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.
“Maafkan Kenzo yang tidak sopan, Vega,” ucap Rosalind dengan perasaan tidak enak hati.
“Tidak masalah, Tante. Aku akan menemuinya lain kali,” sahut Vega. Bibirnya menunjukkan senyum misterius.
Sedangkan di tempat lain, Ivanka baru sampai di rumah, diantar Justin yang langsung pulang. Ivanka sudah menyuruh untuk mampir, tetapi sahabatnya itu menolak. Sekarang, Ivanka sudah berbaring di ranjang, menatap langit kamar yang tampak begitu sendu. Entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Ivanka dengan cepat meraih benda pipih tersebut.
“Halo,” sapa Ivanka.
Kedua matanya langsung melebar ketika mendengar penjelasan dari seberang. Tanpa menunggu lama dia pun bangkit dan berkata, “Aku akan segera datang.”
***
Ivanka berlari menyusuri koridor dengan nafas terengah. Beberapa menit yang lalu dia mendapat panggilan dari rumah sakit dan langsung datang tanpa pikir panjang. Dia bahkan mengabaikan hari yang sudah semakin malam. Hingga dia berada di depan sebuah ruang perawatan, membuatnya berhenti dan membuang napas kasar. Tepat saat itu seorang dokter keluar dari ruangan.
“Bagaimana kondisi kakak saya, Dok?” tanya Ivanka dengan d**a naik-turun.
“Kondisi kakakmu masih sama, belum ada perubahan sama sekali. Tadi dia juga mengalami kejang, tetapi kami sudah menyelamatkannya,” jawab sang dokter.
“Kira-kira sampai kapan kakakku akan terbaring seperti itu, Dok?” tanya Ivanka kembali.
“Kami juga tidak bisa memastikannya, tetapi kami akan berusaha sebaik mungkin. Tapi saya juga mau mengingatkanmu, kalau kakakmu masih dirawat di sini, itu pasti akan membutuhkan biaya yang banyak. Apa kamu yakin akan terus membiayai pengobatan kakakmu?” Dokter di depan Ivanka menatap iba.
Siapa yang tidak tahu dengan perjuangan Ivanka selama ini. Seluruh petugas rumah sakit sudah mengetahuinya. Tidak jarang dari mereka membantu untuk pembayaran pengobatan kakak Ivanka, tetapi Ivanka tidak mungkin terus meminta pertolongan para staf rumah sakit. Hingga dia pun menjawab dengan tegas, “Aku akan tetap membiayai sampai kakak sembuh.”
“Baiklah kalau begitu.”
Setelah mengatakan itu, sang dokter pun pergi. Ivanka melangkah ke arah ruang rawat sang kakak, menatap pria yang dulu gagah ini hanya terbaring di ranjang tanpa bergerak sama sekali. Banyak sekali alat yang terpasang di tubuh pria itu, membuat Ivanka cukup sedih.
“Kak, kapan kamu akan bangun? Bukannya dulu kamu bilang akan selalu memasak untukku? Kalau kamu tidur terus, siapa yang akan merasakannya?” Ivanka lagi-lagi mengajak kakaknya bercerita. Dia berharap dengan ini kakaknya akan segera bangun, tetapi sayangnya usaha yang dia lakukan sia-sia. Kakaknya tidak merespon apapun. Hingga Ivanka membuang nafas lirih.
“Aku pastikan kalau pengobatan kakak akan terus berjalan sampai kakak bangun. Apapun yang terjadi kakak harus segera bangun dan sembuh. Jangan khawatir, Ivanka pasti akan membiayai Kakak. Meski Ivanka tidak memiliki uang, tetapi Ivanka akan berusaha mendapatkannya. Kakak tidak perlu cemas,” ucap Ivanka dengan penuh keyakinan.
Setelah mengatakan itu, Ivanka pun menutup mata dengan kepala diletakkan di punggung tangan sang kakak. Hari ini cukup melelah, membuat Ivanka ingin beristirahat sejenak.
Sedangkan di tempat lain Kenzo baru saja meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Dia yang sampai rumah pun langsung menuju ke arah ruang kerja, diikuti Arya yang masih begitu setia.
“Apa Ivanka sudah pulang?” tanya Kenzo tanpa menatap ke arah Arya.
“Kata para penjaga dia sudah pulang sejak tadi,” jawab Arya singkat.
“Kalau begitu, sekarang aku memiliki tugas untukmu,” ucap Kenzo.
“Tugas apa, Tuan?”
“Cari tahu semua informasi tentang Ivanka. Aku merasa seperti pernah mengenalnya,” perintah Kenzo.
“Baik. Saya pasti akan mencari informasinya. Kalau begitu saya pamit dulu.”
Arya pun langsung keluar dari ruangan. Kenzo yang masih duduk di bangku kerja pun hanya memasang raut wajah datar. Dengan sinis Dia berkata, “Kamu berani menolakku? Aku ingin tahu bagaimana hidupmu setelah ini, Ivanka.”