Wanita paruh baya dengan penampilan parlente itu membelalakkan matanya pada Paula. “Dasar w************n! Tidak tahu diri! Kerjaannya cuman ngerusak rumah tangga orang!” bentaknya keras dan tampak emosional.
“Maaf, Ibuk! Saya sama sekali tidak merusak rumah tangga siapa-siapa. Ibuk kalau tidak tahu apa-apa soal pekerjaan saya, tolong jangan asal bicara, ya!” tandas Paula yang terdengar tajam tapi masih berusaha menahan mulutnya.
Geram mendengar bantahan Paula, wanita paruh baya itu pun langsung menjambak rambut Paula. “w************n! Saya nggak rela ngelihat kamu hidup!” Tak hanya itu, ia juga melayangkan tamparannya di pipi Paula.
Frans yang menyaksikan langsung melerai. “Apa apa ini? Ibuk jangan main kekerasan di sini ya, Buk?” ujar Frans.
“Siapa kamu? Jangan ikut campur! Ini bukan urusan kamu!” maki wanita paruh baya itu.
“Ini urusan saya karena Ibuk telah mengganggu kenyamanan di lingkungan tempat tinggal saya. Apa perlu saya panggilkan petugas keamanan juga?”
Wanita itu terdiam. Ia tampak enggan jika harus berurusan dengan petugas keamanan, mungkin tidak ingin menyebar aib rumah tangganya sendiri. Sebelum memasuki mobilnya, wanita paruh baya itu sempat meludahi Paula. Terang saja hal itu semakin menyulut emosi Frans.
“Sudah, Frans.” Paula menahan Frans yang hendak mengejar wanita itu.
“Dia sudah keterlaluan, Paul. Kamu nggak bisa diam saja, kamu juga harus membela diri,” ucap Frans.
“Tidak perlu,” tandas Paula. Kelopak mata Paula tampak tertunduk saat membersihkan ludah di bajunya. Frans tertegun melihat sorot mata itu tak lagi seberani biasanya.
“Bibir kamu berdarah, saya bantu obati, ya.” Frans menarik tangan Paula ke dalam mobil, karena kotak P3K Frans ada dalam mobil.
Sambil mengobati luka di sudut bibir Paula, Frans tidak henti mendumel. “Saya paling nggak tahan ngelihat orang ngelakuin kekerasan terhadap perempuan, meskipun pelakunya juga perempuan. Seharusnya sesama perempuan yang lebih saling menjaga.”
“Laki-laki, kaum sepertimu yang sering menyakiti perempuan Frans. Ibuk-ibuk tadi korban laki-laki,” balas Paula.
“Kenapa kamu bisa berurusan dengan dia, Paul? Apa kalian saling mengenal sebelumnya?” tanya Frans. Paula menggelengkan kepalanya.
“Lalu?” Frans kembali bertanya sambil menaikkan alisnya.
Paula tersenyum tipis. “Sudahlah, Frans. Itu bukan masalah besar. Semua pekerjaan punya resiko bukan? Dan anggap saja ini adalah resiko dari pekerjaanku,” jawab Paula yang lagi-lagi membuat Frans terdiam sekaligus mempertanyakan pekerjaan wanita itu. “By the way, terima kasih untuk obatnya,” lanjut Paula.
Saat Paula hendak ke luar dari mobil, Frans justru menahan tangan perempuan itu. Mata keduanya kembali bertemu. “Apa pekerjaan kamu sebenarnya, Paul?” tanya Frans, itulah yang ingin ia tanyakan semenjak pertama kali bertemu Paula kembali di Indonesia.
Paula membalas tatapan Frans. “Kamu bertanya karena benar-benar ingin tahu atau hanya karena sekadar bertanya?”
“Saya bertanya karena saya khawatir,” jawab Frans langsung. “Saya khawatir melihat kamu ke luar setiap malam, dan baru kembali dini hari, bahkan sampai pagi hari. Saya jadi semakin melihat kamu diserang oleh orang asing seperti tadi,” terang Frans.
Paula menghela napasnya. Frans bukanlah orang pertama yang bertanya hal demikian padanya. Tapi Frans adalah orang pertama yang mengajukan pertanyaan itu karena alasan khawatir. “Kamu sungguhan ingin tahu pekerjaan aku, Frans?” tanya Paula lagi. Frans menganggukkan kepala tanpa berhenti menatap Paula.
“Pukul delapan malam nanti, aku akan berangkat kerja. Kalau kamu sungguhan ingin tahu, kamu bisa ikut denganku,” ucap Paula.
“Okay,” sahut Frans.
Setelah itu Paula pun ke luar dari mobil Frans.
***
“Kita pakai satu mobil saja,” ucap Paula saat ia berhadapan dengan Frans di halaman rumahnya. Frans mengenakan kemeja rapi, mungkin menyesuaikan penampilan Paula yang seperti hendak menghadiri sebuah pesta mentereng.
“Okay, biar saya yang menyetir.” Frans mengambil kunci di tangan Paula.
Tidak lama kemudian, mereka pun sudah berada di dalam mobil. Frans menyetir dengan kecepatan sedang. Paula yang duduk di sebelahnya terlihat sangat anggun sekaligus sexy.
“Kamu tahu, Frans. Kamu adalah orang pertama yang menyupiri aku saat berangkat kerja,” ucap Paula.
“Oh, ya? Apa sebelumnya kamu tidak pernah pakai supir atau ditemani oleh orang lain?”
“Bahkan tidak ada laki-laki lain yang aku izinkan masuk mobil ini selain kamu dan Bram,” jawab Paula.
Frans tersenyum tipis sambil menoleh pada Paula. “Paula, Bram itu seekor kucing. Jangan menggolongkan saya dan Bram dalam kelompok yang sama.”
“Apanya yang salah? Kalian sama-sama laki-laki kan?”
“Dia jantan,” tandas Frans.
Paula tersenyum tipis. “Oke, baiklah.”
“Jadi, sekarang saya harus mengantarkan kamu ke mana, Nona?” tanya Frans beberapa detik berselang.
“Hotel Lamouir,” jawab Paula.
Kepala Frans spontan memutar sembilan puluh derajat menghadap Paula, berharap ia salah mendengar. Tapi Paula sama sekali tidak meralat jawabannya.
Pukul delapan kurang lima menit, mereka tiba di hotel tersebut. Frans mengiringi langkah Paula hingga memasuki hotel itu, sambil menahan seribu satu pertanyaan yang ada di kepalanya. Di depan kamar bernomor 1717, mereka berdua berhenti.
“Waktu kerjaku dua jam. Kamu mau menunggu di sini, di mobil, atau mau langsung pulang saja?” tanya Paula.
Frans tampak kesulitan untuk menggerakkan bibirnya. “Di sini saja,” lirih Frans akhirnya.
“Yakin?” Paula menaikkan alisnya.
Sebelum Frans sempat menganggukkan kepalanya, pintu kamar itu lebih dahulu terbuka. Tampaklah seorang laki-laki paruh baya berkimono yang ke luar dari sana. Frans benar-benar tersentak, terlebih saat laki-laki itu menarik lengan Paula masuk dan mengunci pintu dengan rapat. Frans merasakan tenggorokannya tercekat, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Tangannya mengepal. Ia tidak rela Paula berada dalam kamar itu berdua dengan laki-laki yang tampak sangat menjijikkan, terlebih jika Frans harus membayangkan apa yang mereka lakukan di dalam sana.
‘Apa benar itu adalah pekerjaan Paula?’
Frans rasanya tidak bisa menerima kenyataan itu. Tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Dua jam menunggu di luar adalah dua jam terlama yang Frans rasakan sepanjang hidupnya. Hatinya terus bergejolak, matanya terasa sangat panas. Ia ingin mendobrak pintu kamar itu tapi ia tidak siap menyaksikan apa yang sedang berlangsung di dalam sana.
Hingga, dua jam berselang, pintu itu pun kembali terbuka. Paula ke luar dari ruangan itu. Frans tidak melihat perbedaan Paula sebelum dan sesudah memasuki kamar itu. Rambutnya masih rapi, pakaiannya masih rapi, aroma parfumnya seperti tidak terkontaminasi oleh apapun. Mungkinkah yang dilakukan Paula di dalam sana tidak seperti yang Frans pikirkan?
Sama halnya dengan Frans, Paula juga tersentak melihat Frans masih berdiri di depan pintu kamar itu. “Oh, kau masih di sini rupanya,” lirih Paula.
“Apa pekerjaanmu sudah selesai, Paul?” tanya Frans, suaranya terdengar berat.
“Belum. Ada dua klien lagi. Kamu masih mau menemaniku atau mau pulang saja?”
“Saya ikut.”