Berhasil Merebut Hati Papa

1084 Words
Seperti dugaan Frans, Paula tidak akan pulang cepat. Bahkan ia baru pulang ketika hari sudah pagi, bertepatan saat Frans hendak berangkat ke kantor. “Hei, Paul! Selamat pagi!” sapa Frans. Paula membalikkan badannya. “Hei! Mau ngantor, ya?” balas Paula hangat. “Iya,” jawab Frans dengan senyum tipisnya yang khas. “Kamu kelihatan OK dengan setelah kemeja dan jas kayak gitu,” celetuk Paula. Ia jadi teringat dengan pertemuan awalnya dengan Frans di London, saat itu ia melihat Frans dengan pakaian yang lebih santai. “Hehehe, kamu bisa aja.” Frans tampak tersipu dengan pujian Paula. “Anyway, kamu dari mana, Paul?” tanya Frans. “Baru pulang kerja,” jawab Paula yang terdengar lugas. “Oh, jam kerja kita beda, ya?” balas Frans setengah menyindir. Tapi Paula tampak tidak tersinggung. Ia justru tersenyum mendengar celetukan teman barunya. “Kan kerjaan kita juga beda, Frans,” ucap Paula. “Oh ya, aku mau masuk dulu. Mau mandiin sekaligus mau ngasih makan Bram. Kamu juga harus langsung cabut ke kantor, kan?” “Oh, iya.” “Oke, see you.” Paula mengangkat sebelah tangannya sekilas, lantas langsung memasuki kediamannya. Tampaklah Bram yang sudah menunggu di depan pintu, untunglah kucing persia itu tidak kabur seperti tempo hari lagi. Frans masih memandangi pintu rumah Paula. Ia sangat penasaran dengan pekerjaan yang dijalani oleh perempuan itu. Frans tahu, ia tidak berhak mencampuri urusan Paula, tapi jujur saja ia merasa khawatir. “Mari, Pak!” Anwar membukakan pintu untuk majikannya. “Oh, ya, terima kasih.” Frans memasuki mobilnya dan melupakan sejenak perihal Paula, karena ada hal lain yang harus ia pikirkan pagi itu. *** Frans adalah orang pertama yang berada di ruang meeting pagi itu. Ia tampak sudah siap dengan dokumennya, laptop beserta proyektor. Saat Tuan Richardson dan Charley memasuki ruangan, mereka tampak kaget dengan keberadaan Frans di sana. “Kamu datang hari ini?” tegur Tuan Richardson pada putranya itu. “Iya, Pa. Hari ini ada rapat penting, saya tidak mungkin tidak hadir. Bukankah Papa sendiri yang mengatakan saya harus turut mengambil peran dalam menjalankan perusahaan ini?” balas Frans. “Ya, benar. Kamu memang harus melakukan itu.” Tuan Richardson mengalihkan pandangan pada salah satu slide presentasi yang ada di layar laptop Frans. “Kamu siap untuk presentasi hari ini, Frans?” tantang Tuan Richardson. “Siap, Pa,” jawab Frans yang tampak begitu yakin. Tuan Richardson tersenyum dan mempersilakan Frans untuk mengendalikan rapat pagi itu. Sementara wajah Charley langsung berubah masam. Keberadaan Frans jelas membuatnya merasa terancam. Itu adalah presentasi pertama yang dilakukan Frans dalam perusahaan ayahnya sendiri. Tapi penampilannya cukup memukau, ia memberikan penjelasan yang mudah dimengerti, pun disertai dengan gambar yang tidak bisa dikatakan sketsa biasa. Semua peserta rapat tampak antusias mendengar penjelasan Frans, kecuali Charley yang beberapa kali menyampaikan argument untuk mematahkan penjelasan Frans. Untunglah semua sanggahan Charley ditanggapi dengan sangat bijak oleh Frans. Gritte yang juga mengikuti rapat pagi itu semakin kagum melihat Frans. Kemampuan laki-laki itu ternyata mampu mengalahkan ekspektasi Gritte sendiri. “Presentasi yang sangat memukau, Frans,” puji Tuan Richardson pada putranya itu saat rapat sudah berakhir. “Terima kasih, Pa,” balas Frans. “Oh ya, kamu ikut dalam rapat dengan klien nanti siang, ya. Papa yakin, klien akan sangat senang dengan pemaparan kamu yang seperti tadi,” ucap Tuan Richardson lagi. Frans tersenyum puas, ia merasa sudah mulai bisa mengambil hati ayahnya itu. “Kalau rapat nanti sore berjalan lancar, Papa akan meminta kamu menghandle proyek hotel dan homestay yang di Anyer,” lanjut Tuan Richardson. Charley langsung melongo mendengar hal itu, padahal sebelumnya Tuan Richardson pernah mengatakan akan memberikan proyek tersebut pada Charley. “Maaf, Pak, bukannya proyek yang di Anyer adalah tugas saya?” Charley memberanikan diri untuk menyanggah. “Kamu handle proyek yang di Bandung saja, Charley. Berikan juga kesempatan untuk adikmu,” balas Tuan Richardson. Adik? Charley tentu tidak sudi menganggap Frans sebagai adik, Frans sendiri pun tidak ingin mengakui Charley sebagai kakaknya meski di dalam tubuh mereka sama-sama mengalir darah Tuan Richardson. Charley hanya bisa mengepalkan tangan dan menahan emosinya, proyek yang di Bandung hanyalah proyek kecil, sementara proyek yang di Anyer adalah salah satu proyek terbesar yang dikerjakan oleh Geoff Company sepanjang tahun itu. Charley tidak menyangka posisinya sebagai orang kepercayaan Tuan Richardson akan digantikan oleh Frans dalam sekejap mata. Mereka bertiga pun ke luar dari ruangan rapat. Charley mendampingi Tuan Richardson menuju ruangan CEO, sementara Frans tampak dihampiri oleh Gritte. “Mas Frans! Aku bangga banget deh sama, Mas! Mas benar-benar hebat. Presentasi Mas tadi pagi adalah presentasi terkeren yang pernah aku lihat sepanjang umur aku,” puji Gritte. “Tidak usah berlebihan gitu kalau muji,” tandas Frans, lagi-lagi dingin dan datar. “Hehehe.” Gritte tertawa lirih. “Tapi, Mas nggak lupa dong, keberhasilan Mas tadi berkat bantuan aku juga lho.” “Kamu sebenarnya mau apa sih, Gritte?” “Cuman mau makan siang sama Frans aja, kok. Plis, mau ya, Mas!” bujuk Gritte sambil mengedip-ngedipkan mata sipitnya. Frans tampak menghela napas. Ia tidak ingin menuruti kemauan Gritte tapi juga tidak enak menolak perempuan itu. Bagaimana pun, Gritte memang telah menolongnya. “Baiklah! Tapi hanya satu jam saja. Karena nanti siang, saya juga harus ikut papa rapat dengan klien,” ucap Frans. “Oke, siap, Mas.” Gritte menyahut dengan semangat. *** Frans turun dari mobilnya sambil mengangkat panggilan telepon dari mamanya. “Kamu kapan mau tidur di rumah sih, Nak?” tanya Nyonya Richardson. “Belum bisa untuk saat ini, Ma. Saya harus mempelajari banyak hal tentang perusahaan, apalagi Papa udah minta saya buat ngehandle proyek yang di Anyer,” jawab Frans. “Apa? Kamu diminta ngehandle proyek yang di Anyer?” Nyonya Richardson terdengar terkejut. “Iya, Ma. Ini adalah satu proyek yang besar. Mama tenang saja, kita akan semakin dekat ke tujuan, Ma,” ucap Frans meyakinkan sang mama. “Ya. Mama percaya sama kamu, Frans. Kamu pasti bisa. Terima kasih sudah mau berjuang dan berkorban banyak demi mama, ya, Nak.” “Perjuangan mama buat aku jauh lebih besar dengan apa yang aku lakuin sekarang,” jawab Frans. Di ujung sana, Nyonya Richardson mengusap air mata haru yang mengalir di ujung matanya. “Ma, aku baru tiba di rumah. Mau langsung bersih-bersih dan istirahat. Teleponnya aku tutup, ya.” Frans pun mengakhiri panggilan tersebut. Ketika hendak memasuki rumahnya, pandangan Frans beralih pada kediaman Paula. Tampak Paula yang sedang bersitegang dengan seorang perempuan paruh baya. Bahkan wanita itu sampai berani mendorong tubuh Paula. Frans pun bergegas menghampiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD