Frans mendorong pelan tubuh Gritte. “Saya ingin istirahat, nggak mau diganggu. Kamu sebaiknya pulang aja,” ujar Frans dingin.
Gritte menatap Frans dengan bola matanya yang sipit. “Mas, aku tahu Mas sedang ada dalam masalah. Tante sudah cerita semuanya ke aku, katanya Om Richardson nggak mau kasih perusahaan ke Mas, ya?” Gritte mengusap pelan pundang Frans. “Aku ada di sini untuk bantu kamu, Mas.”
Gantian, giliran Frans yang menyipitkan matanya pada gadis berdarah campuran Indo-Jepang. “Saya jadi penasaran sama kamu, kenapa kamu mau kerja di perusahaan keluarga saya? Bukannya keluarga kamu sendiri juga punya bisnis yang banyak?” selidik Frans. “Apa kamu punya tujuan tertentu?”
“Ah, itu bukan masalah yang penting sekarang, Mas. Yang penting sekarang, kita urus masalah Mas dulu,” tukas Gritte.
“Tapi, itu sangat penting bagi saya, Gritte. Supaya saya bisa mengukur berapa persen kepercayaan yang bisa saya beri ke kamu.”
Gritte tampak menghela napasnya, dari kecil ia memang tidak akan bisa menang jika berdebat dengan Frans. “Well, aku kerja di Geoff Company awalnya karena pengen dekat sama, Mas. Eh tau-taunya Mas stay di London. Tapi, di luar itu semua, aku emang kepengen mandiri juga. Dan sejauh ini aku ngerasa cocok kok kerja di perusahaan keluarga Mas. Toh, pada akhirnya Mas juga kembali ke Indonesia, kan, itu artinya tujuan awal aku juga nggak sia-sia,” terang Gritte sambil tersenyum dan tampak bersemangat.
“Okay, tadi kamu bilang kamu bisa bantu saya. Emangnya bantuan seperti apa yang bisa kamu kasih?” balas Frans dingin.
“Masa kita ngobrol di sini sih, Mas? Mas nggak mau ngajak aku masuk atau nawarin aku minum, gitu?”
Frans pun melangkahkan kakinya memasuki kediaman itu lebih dulu. “Anwar!” Ia memanggil asisten pribadinya sekaligus satu-satunya orang suruhan di rumah itu.
“Iya, Tuan!” Tampak Anwar tergopoh-gopoh menghampiri majikannya. Sebenarnya Anwar ingin bertanya kemana majikannya itu tadi malam, tapi ia juga tidak ingin dianggap lancang. Toh, Frans sudah kembali dalam keadaan baik-baik saja.
“Tolong buatkan minuman untuk nona ini, ya,” pinta Frans.
“Baik, Tuan.”
Setelah Anwar menuju dapur, Frans kembali menghadap Gritte yang juga sudah menyusul masuk ke dalam rumah itu. “Oke, kita lanjutkan pembahasan yang tadi.” Frans duduk di sofa, berhadap-hadapan dengan Gritte. “Silakan jelaskan!” lanjutnya dingin.
Gritte menelan ludah. Kedatangannya memang untuk membahas perihal pekerjaan, tapi ia punya maksud lain selain itu, dan mestinya Frans mengerti itu. Gritte mengeluarkan dokumen yang telah dibawanya. “Ini berkas-berkas berisi proyek besar yang sedang dikerjakan dan sedang diincar oleh Geoff Company. Mas harus mempelajari ini dengan baik agar Mas bisa unjuk diri saat rapat mingguan besok. Kalau Mas berhasil meyakinkan Om Richardson, aku yakin Om Richardson juga nggak akan ragu ngasih perusahaan buat Mas,” terang Gritte.
Frans mengambil tumpukan berkas itu dan membolak-balikkan halamannya. Membaca dokumen-dokumen itu tentunya hanya akan membuatnya sakit kepala, apalagi sebenarnya Frans sama sekali tidak punya minat ke sana. “Gritte, kamu tahu kan, saya nggak sejenius yang kamu pikir. Saya nggak akan bisa mempelajari ini dalam waktu satu hari,” ucap Frans.
“Nah, justru karena itu aku ada di sini, Mas.” Gritte pindah duduk ke sebelah Frans. “Aku akan menjelaskan semuanya secara detail dan terperinci ke Mas. Dan Mas juga bebas bertanya soal apapun ke aku.” Gritte meyakinkan Frans.
Frans sebenarnya merasa tidak nyaman dengan sikap agresif perempuan itu, tapi ia mengerti bahwa keberadaan Gritte di sana akan sangat-sangat membantunya. Frans juga teringat akan ucapan papanya tempo hari, Gritte menunjukkan progress yang baik selama bekerja di Geoff Company.
“Oke, kamu bisa mulai menjelaskan satu-satu isi dokumen ini ke saya,” ucap Frans.
“Kita lunch dulu ya, Mas?” bujuk Gritte sambil mengerlingkan matanya.
“Kamu sebenarnya memang beneran mau bantuin saya atau cuman mau ngegoda saya, hah?” Frans menaikkan alisnya. Bagi Gritte, raut wajah Frans yang dingin itu saja sudah cukup memabukkannya.
“Aku memang beneran mau bantuin, Mas, tapi kan ini udah waktunya makan siang juga, dan Mas juga butuh asupan makanan sebelum mempelajari ini semua. Benar, kan?”
Frans menghela napas. Seiring itu, Anwar datang mengantarkan minuman buat mereka berdua. “Anwar, sekalian siapkan makanan, ya. Delivery order juga boleh,” pinta Frans.
Gritte langsung melongo mendengarnya. “Hah? Kita makan di sini, Mas? Nggak makan di luar?”
“Makan di luar cuman akan buang-buang waktu. Sekarang, sambil nunggu makanannya jadi, kamu bisa langsung mulai menjelaskan isi dokumen ini ke saya,” tandas Frans sambil memberikan satu dokumen ke tangan Gritte.
“Iyaaa.” Gritte memanyunkan bibirnya.
***
Pukul tujuh malam, Paula tampak sudah rapi dengan setelan dress ketatnya yang selalu tampak mewah. Aroma parfumnya akan tercium dari jarak sekian meter, menjadi magnet yang akan menarik para lelaki padanya. Seperti biasa, sebelum meninggalkan rumah, Paula selalu bicara dengan kucing persia miliknya. “Jangan kabur lagi malam ini. Jaga rumah dengan baik dan tunggu aku pulang,” bisik Paula sambil mengelus kucing orange itu.
Sebelum memasuki mobilnya, Paula sempat melirik pada rumah tetangganya. Ia melihat mobil yang tadi pagi masih terparkir di halaman rumah itu, artinya perempuan muda tadi pagi juga masih ada di sana. ‘Apa yang mereka lakukan sampai malam begini?’ Paula jadi bertanya-tanya dalam hati, meski sejenak kemudian ia langsung menyadari bahwa ia tidak berhak ingin tahu lebih tentang aktivitas tetangga barunya itu. Tapi, bukankah mereka tak hanya sekadar tetangga? Bukankah mereka sudah berkenalan dan memulai pertemanan nanti malam?
Tidak lama berselang, tampak Gritte ke luar dari kediaman itu didampingi oleh Frans yang masih mengenakan baju yang sama.
“Mas, kayaknya aku nginap di sini aja, deh. Soalnya kan dokumennya masih banyak, aku belum menjelaskan semuanya lho,” ujar Gritte pada Frans.
“Saya sudah bisa mempelajari sendiri, merujuk pada dokumen-dokumen sebelumnya,” tandas Frans.
“Tapi, Mas nanti pasti ada yang bingung, kan? Dan Mas pasti juga butuh aku buat nanya-nanya.”
“Gritte! Saya minta kamu pulang karena saya juga ingin istirahat,” tegas Frans akhirnya.
“Hmmmh.” Gritte mendengus kecewa. “Baiklah. Sampai ketemu besok pagi di kantor, Mas,” lirihnya.
“Yaa…”
Gritte pun memeluk Frans sekilas sebelum berpisah, meski Frans juga tidak membalas pelukan itu. Setelah itu, Gritte langsung memasuki mobilnya. Sementara dari teras rumahnya, Paula masih memerhatikan pemandangan itu. ‘Sepertinya mereka punya hubungan khusus,’ batin Paula. Lantas ia langsung memasuki mobil silver miliknya.
Malam itu, Frans kembali melihat siluet Paula meninggalkan rumah dengan pakaian serba minim seperti malam kemarin. Frans yakin, Paula baru akan kembali dini hari nanti. Kembali Frans bertanya dalam hati. Apa pekerjaan Paula sebenarnya?