Bermalam di Rumah Tetangga

1082 Words
“Kau menetap di rumah itu atau hanya sekadar singgah?” tanya Paula setelah menuangkan wine lagi ke gelas Frans. “Saya menetap dan kemungkinan akan tinggal di daerah ini untuk seterusnya,” jawab Frans. “Bagaimana dengan London?” Paula menaikkan alisnya. “Hmmm.” Frans lebih dahulu meneguk wine di dalam gelas kecil itu, membahas perihal London terasa berat baginya, karena begitu banyak mimpi yang Frans tinggalkan di sana demi pulang ke Indonesia. “Saya sudah meninggalkan London. Mungkin hanya akan kembali ke sana untuk sekadar liburan saja,” terangnya. Paula menyipitkan matanya, menyelidiki apa yang tersembunyi di balik bola mata Frans. Semenjak pertama kali bertemu dengan pria itu, Paula menyadari sosok itu ia berbeda, ia seperti menyimpan teka-teki tersendiri. Meski bagi Frans, Paula justru terlihat lebih misterius. “Kau tidak minum wine?” tanya Frans pada Paula. “Aku tidak terbiasa minum wine dengan orang lain, lebih suka menikmatinya sendiri,” jawab Paula. Kening Frans kontan berkerut. “Kenapa begitu?” “Setiap orang punya kebiasaan tersendiri, kan? Dan aku rasa, setiap kebiasaan tidak perlu alasan,” tandas Paula. Frans menarik sudut bibirnya, lagi-lagi ia kagum dengan jawaban Paula yang terdengar ketus sekaligus cerdas. Andai perempuan satu itu bisa bersikap hangat sedikit saja, mungkin Paula adalah perempuan paling asik diajak bicara. “Kau mau menginap?” ujar Paula setelah beberapa menit berselang. Sontak saja alis Frans terangkat kembali. ‘Apa ia sedang menawarkan aku atau hanya sekadar pura-pura bertanya saja?’ “Apa saya boleh menginap di sini?” balas Frans. “Tentu saja. Sebentar, aku akan siapkan kamar untukmu.” “Oh, tidak perlu, saya tidur di sini saja. Sofa ini juga terasa nyaman sekali.” Frans berbasa-basi. “Baiklah, aku akan mengambilkan bantal dan selimut untukmu.” Paula bangkit berdiri dan menuju kamarnya. Sementara Frans masih melongo di ruang tamu itu. Ia masih bertanya-tanya sendiri dengan kepribadian Paula. Ia memang terlihat dingin, tapi juga hangat di saat yang bersamaan. Caranya menyambut tamu sudah cukup memperlihatkan bahwa dia adalah orang yang ramah. Namun, mengapa Paula mau menawarkan Frans untuk menginap di sana? Bukankah mereka baru saling mengenal? Bagi Frans yang sudah lama tinggal di Eropa, menginap di rumah seorang perempuan memang bukanlah hal yang aneh. Ia bahkan sering menginap di apartemen seorang perempuan yang baru ditemuinya di sebuah club atau pusat perbelanjaan. Ia pun sering mengajak perempuan asing menginap di apartemennya. Tapi, menginap di rumah Paula malam itu sungguhan membuat jantung Frans berdebar. Paula kembali dengan membawakan bantal dan selimut tebal untuk Frans. “Maaf, aku tidak bisa menemanimu minum lebih lama. Tubuhku lelah sekali, butuh istirahat. Jika kau masih butuh tambahan minuman, ambil saja di lemariku. Kau tahu tempatnya, kan?” “Seharusnya saya yang minta maaf karena bertamu dini hari begini, Paula. Silakan beristirahat. Maaf telah mengganggu waktumu,” balas Frans. Paula menganggukkan kepalanya lantas kembali berbalik ke dalam kamarnya. Frans memandangi punggung perempuan tersebut sambil tersenyum sendiri. Apa Frans sungguhan tidak ingin ditemani Paula? Tentu saja tidak. Jika menuruti hasrat kelaki-lakiannya, barangkali Frans ingin sekali mengekor Paula ke dalam kamar itu. Tapi, berada seatap dengan wanita itu saja sudah membuatnya bahagia. Frans yakin ia bisa tertidur lelap malam itu dengan perasaan berbunga. *** “Hei, Bram! Kau mau ke mana? Hei! Kenapa tidak mau makan? Kau merajuk?” Paula kejar-kejaran dengan seekor kucing persia berwarna orange itu. Tadi pagi, saat Paula terbangun, kucing itu sudah ada di depan pintu rumahnya. Tapi, Bram tampak tidak mau didekati. Saat Paula memberikannya makan, Bram justru lari, menaiki tubuh Frans yang masih tertidur di ruang tamu. Paula tampak menghela napas, lelah membujuk kucing orange itu. “Ayolah, Bram! Jangan merajuk seperti ini! Kau tahu aku tidak suka ditarik ulur. Kalau kau masih sayang aku, ayo sini makan denganku. Tapi kalau kau sudah tidak sayang lagi, silakan pergi saja, tinggalkan aku!” Kucing orange itu hanya menatap Paula dengan bola mata tembaganya. “Kenapa hanya diam saja, hah?” Melihat kucing orange itu masih mematung di atas tubuh Frans, Paula pun mencoba menjangkaunya. Namun, Bram lari ke balik sofa. Alhasil, tubuh Paula terjatuh tepat di atas tubuh Frans. “Mmmhh…” Frans terbangun saat merasakan ada sesuatu yang jatuh di atas badannya. Ketika ia membuka mata, ia mendapati wajah Paula tepat berada di depan wajahnya, jaraknya sangat dekat sekali. Frans kehilangan kata. ‘Apa yang dilakukan oleh perempuan ini? Apa dia menyerangku saat tidur? Ah, tapi memang inilah serangan yang aku mau.’ Hati Frans membatin, tapi tangannya bergerak menaiki punggung Paula, namun saat itu juga Paula sudah bangkit berdiri. “Maaf, aku telah mengganggu tidurmu. Tapi, aku ingin mengambil Bram, tapi kucing itu malah lari,” terang Paula sambil merapikan kemeja putih gombrongnya. Frans menelan ludah sekaligus menelan asumsinya tadi. “Ya, tidak apa-apa.” Frans bangkit duduk. “Apa kucing orange itu sudah kembali?” “Sudah. Tapi sekarang dia malah tidak mau makan. Sepertinya ia sedang merajuk.” Frans tertawa kecil mendengar jawaban Paula. “Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?” “Kamu yang lucu, Paula. Kamu memperlakukan kucing itu seperti memperlakukan manusia,” ujar Frans. “Bukankah itu memperlakukan binatang seperti manusia jauh lebih baik daripada memperlakukan manusia seperti mempelakukan binatang?” balas Paula yang terdengar tajam. Lagi-lagi Frans terkesiap mendengar ucapan Paula. Perempuan satu itu memang lain kritisnya. “Ya, kamu benar,” lirihnya. “Oh ya, saya mau pulang. Terima kasih sudah mengizinkan saya menginap di sini tadi malam, Paul,” ujar Frans lagi. “Oke,” balas Paula singkat. Lantas ia mengiringi tamunya itu ke luar. Frans pun menuju rumahnya yang hanya berbatas halaman dengan kediaman Paula. Frans melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halaman. Apa Nyonya Richardson datang kembali? Saat Frans baru menginjakkan kaki di teras rumah, seorang perempuan muda ke luar dari rumah itu. Ia adalah Gritte. “Selamat siang, Mas Frans!” sapa Gritte hangat, seperti biasanya. Mendengar sapaan Gritte, barulah Frans menyadari kalau hari sudah siang, pantas saja matahari sudah terik sekali. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” balas Frans dingin. “Tadi aku ke rumah orang tua Mas Frans, tapi ternyata Mas nggak ada di sana. Ya udah, langsung aku samperin ke sini. Mas dari mana? Tadi aku tanya Anwar, dia juga nggak tahu Mas ke mana,” terang Gritte panjang lebar. “Ya, saya dari luar.” Gritte mendekati Frans. Perempuan itu mulai mengendus-endus tubuh Frans. “Mas habis minum alkohol, ya?” selidiknya. Sementara itu, dari teras rumahnya Paula masih melihat interaksi Frans dan Gritte. Tiba-tiba Paula menyunggingkan senyum sinisnya, lantas memasuki rumahnya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD