Panas

1766 Words
. . "Rodja ... Rodja ... kamu kena kutukan apa, sih? Gadis secantik Laura ngajakin nge-dance kok ditolak?" . . Malam itu agak dingin. Ketika Rodja mengeluarkan mobil dari garasi, ternyata di luar gerimis. Cuaca seperti ini bikin malas keluar rumah. Kalau bukan karena ada Laura di club SC malam ini, Rodja lebih suka nobar bersama Riko sambil makan camilan. Hampir puluhan meter sebelum gerbang masuk club, Rodja melihat seorang perempuan nampak kebingungan lantaran mobil Honda Jazz-nya mogok di tepi jalan. Rodja menepikan mobilnya tak jauh dari mobil yang mogok. Ia turun ke trotoar dan menghampiri perempuan itu, meski gerimis masih membasahi bumi. "Mobilnya kenapa?" Rodja mendekati perempuan itu membelakangi tubuhnya, menatap bingung ke arah mesin mobil. Perempuan itu menoleh ke arah Rodja. "Laura?" Jantung Rodja nyaris terhenti rasanya. Laura mengenakan baju terusan merah terang yang panjangnya selutut kaki. Rambutnya diikat ke belakang dan gelombang ikalnya dibiarkan terurai menutupi punggung. Wajahnya dipulas make up yang cukup tebal dengan lipstik merah menyala berkilau, yang membuatnya nampak seksi seperti Marilyn Monroe. Penampilannya nampak berbeda saat di sekolah, tapi Rodja masih bisa mengenalinya. "Rodja? Kamu Rodja?" Ujung jari telunjuknya dengan kuku dicat merah, diacungkan ke arah Rodja. Rodja tak menyangka Laura mengenal dirinya. "Kamu kenal aku?" tanya Rodja heran. "Iya lah. Anak-anak di kelasku sering membicarakanmu." Laura mengatakannya dengan senyum menggoda, membuat tubuh Rodja bagai terangkat ke udara saking bahagia. Hanya perasaan Rodja saja kah, atau senyuman itu punya arti lebih? "Kamu mau ke club, 'kan?" tebak Rodja, mengingat Ray sendiri yang bilang bahwa Laura akan datang malam ini ke club. "Iya. Mendadak mesin mobilku mati. Aku sama sekali gak ngerti mesin. Di sekitar sini gak ada bengkel yang buka. Tolongin aku dong, Ja," ucap Laura merajuk manja, mencondongkan tubuhnya. Tingkahnya membuat Rodja memasang senyum cool khasnya, berharap semoga wajahnya tidak berubah merah sekarang. "Coba kucek dulu mesinmu. Kamu bisa masuk ke dalam? Nanti kalau kukasih aba-aba, tolong coba di starter, ya," kata Rodja mengarahkan, macam montir saja gayanya. Laura mengangguk. Dia masuk ke dalam mobilnya dan membuka jendela. Rodja mengamati mesin mobil Laura. Syukurlah manual. Dia tidak paham sama sekali mesin matic. Rodja selalu memperhatikan setiap kali papanya menjelaskan tips membetulkan mobil mogok, namun tips hanya berlaku untuk manual. Hari ini ilmu dari papanya berguna. Setelah dipandu Rodja, Laura mencoba men-starter mobilnya beberapa kali, dan akhirnya mesin kembali menyala. Rodja menutup kap mobil dan mendekati Laura. "Thanks banget Rodja. Untung ada kamu," ucap Laura sumringah. Rodja membalas senyumnya. "Kamu jalan duluan, ya. Parkir di basement, 'kan? Aku nyusul di belakangmu," kata Rodja melambaikan tangan. "Okee!" Laura balas melambaikan tangan dengan semangat. Sepuluh menit kemudian, Rodja dan Laura sudah memarkir mobil dan berjalan bersama dari tempat parkir ke sebuah ruang kaca, memasuki lift ke lantai atas. Setelah keluar dari lift, mereka berjalan di koridor yang dilapis karpet motif mozaik. Rodja merasa bahagia tak ketulungan. Dia sama sekali tak menyangka akan bertemu Laura di jalan, dan mereka akan berjalan bersama ke club. Setelah mendapatkan tiket di pintu utama, mereka memasuki ruangan temaram. Panggung disoroti lampu terang dari lantai, dan sebuah band sedang memainkan musik pop rock. Puluhan orang jejingkrakan di bawah panggung. Ray, Andre dan Toni duduk di sofa lounge merah tua, di pojok ruangan. Mereka terkejut melihat Rodja dan Laura datang bersama. "Wah kita kedatangan tamu lama yang sempat hilang!" Ray menepuk lengan Rodja sambil tertawa. "Sudah lama enggak nongkrong bareng kita, Ja!" kata Andre. Andre dan Toni juga nampak senang melihat Rodja datang. Rodja merespon dengan seulas senyum. Rodja dan Laura duduk di sofa yang masih kosong. Ray melirik mereka Rodja dan Laura. "Jadi ... gimana, nih? Kalian masih perlu dikenalin atau sudah kenalan?" "Sudah kenalan, kok. Kami tadi ketemu di jalan. Mobilnya Laura sempat mogok," jawab Rodja. "Mobilmu mogok, Ra? Kok kamu gak chat aku?" tanya Ray pada Laura dengan nada khawatir. "Gak sempat chat, Rodja keburu datang bantuin aku," kata Laura melirik Rodja. Yang dilirik hanya senyum mesem. Mereka mengobrol, tapi fokus Rodja hanya terarah kepada Laura. Cahaya dari lampu kekuningan di langit-langit memantulkan kilau dari anting lingkaran keemasan yang tergantung di telinga Laura. Kilau emasnya memendar menyentuh kulit pipi Laura yang putih mulus. Rodja menahan napas. Belum pernah ada perempuan yang sanggup membuat hatinya berdebar sekencang ini, hanya dengan memandangi wajahnya. Ray agaknya bisa membaca mood di antara mereka berdua. "Kalian mau minum apa?" tanya Ray. "Tequilla," jawab Laura. "Aku mau ice lemon tea. Biar aku yang pesan, Ray," kata Rodja. Ray segera melambaikan tangannya, memanggil seorang pelayan berseragam hitam putih. "Santai aja Ja. Biar aku saja," kata Ray dengan gaya bos. Rodja tersenyum kaku. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman. Ray terlalu sering mentraktir teman-temannya. Walaupun Rodja tahu, Ray adalah anak seorang konglomerat. Ayahnya seorang pengusaha ekspor kayu di Kalimantan. Rodja melihat tiga botol bir di atas meja, milik Ray, Toni dan Andre. Dua botol baru berkurang sedikit, tapi satu botol nyaris habis. Pelayan datang menghampiri Ray, dan Ray memesan, "satu Tequilla, satu Ice Lemon Tea dan dua bir." Pelayan itu mencatat lalu berjalan ke arah bar. Rodja memperhatikan Ray. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ray. Tambahan dua botol bir itu pasti untuk Ray, karena minuman milik Toni dan Andre masih bersisa banyak. "Nanti jam dua belas, band-nya mulai, Ja," kata Ray menjelaskan. Ray menebak, Rodja pasti tidak tahu menahu tentang jadwal main band di club ini. Rodja hanya datang karena tahu Laura datang. "Band tamu?" tanya Rodja seraya melemparkan pandangan ke panggung, menyadari yang manggung sekarang adalah personil yang biasa main di sini. Ray mengangguk sambil meneguk sisa bir di botolnya. "Kamu jarang nongkrong bareng kita. Ke mana aja?" tanya Andre pada Rodja. "Gak ke mana-mana. Paling nobar Liga Inggris aja, bareng Riko," jawab Rodja. "Oh ya? Nobar di mana?" tanya Toni penasaran. "Di rumah Riko." Ekspresi wajah Ray berubah. "Ooh ... di rumah Riko. Kamu kok belum pernah ke rumahku, Ja?" Pertanyaan Ray menyadarkan Rodja bahwa dia memang belum pernah sekalipun main ke rumah Ray. "Nanti kapan-kapan aku main ke rumahmu, Ray," kata Rodja. Laura mencondongkan tubuhnya sembari bertopang dagu. "Rumahmu belum pindah, Ray? Masih di PI?" "Masih," jawab Ray singkat, sebelum kembali meneguk minumannya. "Yah ... siapa tahu kamu punya beberapa rumah di Jakarta. Ayahmu 'kan kaya raya," ucap Laura terkikik. Rodja menatap mereka berdua. Dari komentar Laura, terkesan kalau dia sepertinya sudah sering main ke rumah Ray. Sedikit banyak membuat Rodja iri. "Kalian sudah kenal sebelum Laura pindah ke sekolah kita?" tanya Rodja akhirnya, setelah sedari tadi menahan diri untuk tidak bertanya. Tadinya dia bermaksud menunggu sampai Ray cerita dengan sendirinya. Apalah daya, dia tak sanggup meredam kekepoan yang mendera. "Aku sama Laura teman sejak SMP," jawab Ray nyengir. Jelas ia merasa kalau Rodja cemburu padanya karena nampak dekat dengan Laura. Jawaban Ray membuat Rodja nampak lega. Sepertinya, itu artinya mereka teman biasa, bukan pacaran. Mereka dekat hanya karena sudah mengenal sejak SMP. Pelayan datang dan meletakkan minuman pesanan mereka. Ray segera meneguk botol bir barunya hingga sepertiganya. "Wooo hooo! Pelan-pelan, Ray," komentar Toni tertawa. "Minumnya diirit-irit sambil nunggu band tamu manggung," timpal Andre dengan alis naik-turun. Spontan Ray tertawa. "HA HA HA! Irit? Kalau aku mau, seisi club ini, sama gedungnya sekalian bisa dibeli sama ayahku!" ujar Ray jumawa. "Iya sih. Kalau ayahmu, sekalian sama pelayan-pelayannya bisa dibeli semua," komentar Andre ngasal, disambut tawa Toni dan Laura. Ray dan Laura kemudian saling bercerita tentang kenakalan masa SMP mereka. Bolos, kabur dari sekolah di tengah pelajaran, dan menjaili guru atau teman sekelas. Mereka tertawa, kecuali Rodja yang nampak tersenyum basa-basi. Rodja memang bukan tipikal siswa teladan, tapi papa dan guru ngajinya mengajarkan dia untuk menghormati orang yang lebih tua. Rodja jelas tidak pernah mem-bully siapa pun. Ini bukanlah topik pembicaraan favoritnya, jadi dia mencoba menganggap pembicaraan ini sebagai angin lalu. Mereka masih mentertawakan cerita Ray dan Laura. Sementara Rodja lebih suka mencuri pandang ke arah Laura. Ray meletakkan botol keduanya dan mulai meneguk botol ke tiga. Ada sesuatu dengan Ray hari ini, tapi Rodja tidak tahu apa. Hampir sejam berlalu. Ini akan menjadi sejam yang berat untuk Rodja, jika tidak ada Laura di sini. Dia teringat ajakan nobar Riko. Pasti anak itu masih menonton pertandingan. Berapa ya skornya? batin Rodja. Rodja mengetik chat untuk Riko. Lama tak ada jawaban dari Riko. Rodja kemudian menyadari kebodohannya. Tentu saja, Riko pasti sedang fokus menonton televisi. Ponsel Riko otomatis terbengkalai setidaknya sampai pertandingan bola usai. Rodja memasukkan kembali ponsel ke saku celana, memperhatikan gelagat Andre yang celingukan menatap dua perempuan seksi yang duduk di sofa seberang mereka. "Gaes, aku mau pindah tempat dulu ya," pamit Andre tiba-tiba. "Ke mana?" tanya Toni mengernyitkan dahi. "Ke sana, Ton," tunjuk Andre dengan lirikan matanya ke seberang mereka. Toni segera mengidentifikasi dua wanita 'bening' yang duduk di sana. "Kamu mau deketin mereka? Kok gak ngajak-ngajak aku?" protes Toni. Andre tertawa. "Ya udah, sini ngikut!" ajak Andre dengan isyarat tangan. Andre dan Toni berjalan menuju sofa seberang dengan semangat 45. "Berhubung aku yang duluan lihat mereka, aku pilih yang kanan ya Ton," kata Andre. "Aku juga suka yang kanan!" seru Toni. Mereka berdebat sambil berjalan. Ray yang nampaknya mulai sedikit mabuk, hanya menggelengkan kepala melihat kedua temannya itu. Ray mengambil lagi botol minumannya, tapi Rodja menahan pergelangan tangan Ray. "Kamu terlalu banyak minum, Ray," kata Rodja tersenyum. Ray menajamkan mata ke arah Rodja, seolah pandangannya kurang fokus. Senyum Ray mengambang. "Seperti biasa, kamu terlalu serius, Ja. Besok Sabtu. Kita bisa senang-senang hari ini, ya 'kan?" Ray melepaskan genggaman Rodja dan kembali meneguk bir. Rodja menghela napas. Terdengar suara dari MC di atas panggung, "Perhatian, semuanya. Band kehormatan kita malam ini sudah datang. Mari kita sambut!" Kalimat itu disahuti sorak sorai pengunjung, lalu puluhan orang turun berkumpul di lantai dansa. Andre, Toni dan kedua wanita yang mereka dekati, ikut turun. Ray melirik Rodja dan Laura. "Kalian gak turun?" tanya Ray. Laura tersenyum manis dan tiba-tiba menggenggam tangan Rodja, membuat jantung Rodja terasa ingin copot dibuatnya. "Dance, yuk, Rodja," ajak Laura yang di mata Rodja kecantikannya bagai berkilauan. Muka Rodja pucat. Sejak kecil dia tidak pernah suka menyanyi dan menari. "Emm ... aku ... maaf, aku di sini saja" tolak Rodja halus. Berat rasanya menolak, tapi apa boleh buat. Dance is a big no no bagi Rodja. Laura terlihat kecewa. "Oh begitu? Oke, aku turun dulu, ya." Laura berjalan ke lantai dansa. "Rodja ... Rodja ... kamu kena kutukan apa, sih? Gadis secantik Laura ngajakin nge-dance kok ditolak?" gumam Ray dengan mata menerawang. Dari kejauhan, Laura terlihat asik berdansa dengan pria lain entah siapa. Rodja jelas tak suka melihatnya. Tapi apalah daya. Dia bukan siapa-siapanya Laura. Kenalan juga baru malam ini. Teman bukan, apalagi pacar. Rodja meneguk es teh lemonnya, berharap minuman itu bisa mendinginkan hatinya yang panas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD