Musik Pengusir Sunyi

2095 Words
. . "Apa di rumahmu sama seperti di rumahku? Sunyi sekali. Biasanya, aku selalu menyalakan musik. Musik pengusir sunyi." . . "Kamu kenapa, Ray?" tanya Rodja tanpa basa-basi. Dia gerah juga melihat Ray yang tak henti meneguk minuman keras bagai orang yang bosan hidup. "Gak ada apa-apa," sahut Ray mendengkus pelan. Rodja jelas tak percaya jawaban itu. Ray, Andre dan Toni memang biasa minum minuman beralkohol, tapi tidak sebar-bar seperti yang dilakukan Ray sekarang. Teriakan personel band terdengar nyaring, disambut histeria orang-orang yang berdansa. Rodja dan Ray duduk tanpa bicara sepatah kata pun, hingga tiba-tiba kepala Ray terantuk, nyaris menghantam meja, jika tidak ditopang lengannya. Rodja mengguncang tubuh temannya. "Ray! Ray!" Suara Rodja tenggelam ditelan hingar bingar musik. Tangan Ray bergerak, membuat Rodja lega, karena dia sempat berpikir Ray tewas karena alkohol. "Gak apa-apa, Ja. Cuma pusing dikit," gumam Ray setengah sadar. "Aku bilang juga apa! Kamu kebanyakan minum!" kata Rodja dengan nada kesal. "Sebenarnya sebelum ke sini sudah minum bir tadi di rumah, tapi cuma dikit, kok," kata Ray dengan suara tidak jelas dan wajah dibenamkan. Rodja mengernyitkan dahi. Tidak percaya dengan kata 'dikit' versi Ray. Berapa botol bir yang dimaksud sedikit oleh Ray kira-kira? "Kamu mabok parah, Ray. Mana bisa kamu pulang naik mobil? Kuantar kamu pulang, ya," kata Rodja menawarkan bantuan. Namun kemudian ia menyadari sesuatu. "Oh iya. Aku gak tahu rumahmu di mana. Sebentar." Rodja berdiri. Ray menahan tangan Rodja. "Terus mobilku gimana, Ja? Masa' ditinggal?" "Gampang. Besok kita ambil mobilmu ke sini. Bentar," Rodja berjalan cepat ke lantai dansa, sambil menghindari orang-orang yang sedang melompat dan bergerak mengikuti irama musik pop rock. Rodja menepuk pundak Andre. "Ndre!" panggilnya. Andre terhenti dari dance-nya, dan menoleh. "Kenapa, Ja?" Mereka harus setengah berteriak, karena suara musik lebih keras di lantai dansa. "Kayaknya Ray mabok parah. Mungkin sebaiknya kita antar dia pulang. Kamu tahu di mana rumah Ray?" Andre melihat sekilas ke arah perempuan seksi di sampingnya, yang sedang asik berdansa. "Ja, aku masih mau menikmati malam ini. 'Kan malam minggu malam yang panjang, Ja," kata Andre cengengesan. Rodja terlihat bingung "Terus, Ray gimana?" tanya Rodja. "Coba kamu tanya Laura. Dia tahu kok rumah Ray," jawab Andre. Rodja mengangguk. Tanpa basa-basi, dia langsung berjalan ke arah Laura, yang saat ini sedang menari bersama seorang lelaki. Rodja tidak suka melihat lelaki itu nyaris berhimpitan dengan Laura. Rodja sengaja merangkul pundak Laura dari belakang. "Laura," panggil Rodja tersenyum. Lelaki itu menatap Rodja dengan tatapan heran. Tatapannya seolah berusaha menebak, apakah Rodja adalah pacar Laura atau bukan. Laura terkejut melihat Rodja yang menyentuh pundaknya. "Kenapa, Rodja?" tanya gadis cantik itu. "Ray kayaknya mabok. Kamu tahu di mana rumah Ray?" Mata Laura melebar "Mabok?" Dia melongok ke arah Ray yang sedang membenamkan wajahnya di atas meja. "Oke. Aku bawa mobilku di depan ya. Nanti kamu ikuti aku dari belakang, gimana?" kata Laura. Rodja mengangguk. Laura mengatakan sesuatu pada lelaki teman dansanya, bahwa dia harus pergi. Sebelum mereka berjalan ke arah Ray, Rodja masih merangkul pundak Laura sambil menatap lelaki itu, yang tak henti menatapnya sinis. Rodja dan Laura membopong Ray keluar dari club, masuk ke dalam lift, dan keluar di parkir basement. "Mobilku parkir di sana. B-23. Ray biar di mobilku saja," kata Rodja. Laura mengangguk. Setelah Ray dibaringkan di jok belakang, pintu mobil Rodja ditutup. Laura segera menuju mobilnya dan Rodja mengikutinya dari belakang. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah di jalan raya. Rodja menyandarkan siku di tepi kaca jendela yang terbuka. Dia masih tak habis pikir kenapa Andre begitu acuh, bahkan melihat kondisi Ray pun tidak. Dipikirnya, mereka sangat dekat dengan Ray. Mungkin mereka sebenarnya tidak sedekat itu, batin Rodja. "Aroma apa ini? Kopi?" Ray terbangun dari tidur singkatnya. "Sudah sadar, Ray? Maksudmu aroma mobilku? Iya. Parfum mobilku aroma kopi." Rodja tersenyum seraya melihat ke kaca spion di dalam mobilnya. Dia baru sadar tak bisa melihat wajah Ray di sana, karena posisi Ray sedang berbaring. Ray menutupi matanya dengan sebelah tangan, menahan pusing. "Aku benci aroma kopi. Mengingatkanku pada ayah," ucap Ray terdengar setengah meracau. Rodja terdiam. "Aku akan buka semua jendela. Supaya aromanya berkurang," kata Rodja. Dia menekan tombol di dekatnya, membuka semua jendela lebar-lebar. Setelahnya, Ray diam saja. Rodja tidak tahu, apakah dia tidur atau masih bangun. Sekitar setengah jam kemudian, mereka memasuki daerah Pondok Indah. Mobil Rodja masih persis di belakang mobil Laura. Mobil Laura berbelok ke sebuah jalan cabang dari jalan utama, lalu berbelok lagi ke kanan. Lima menit kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah bergaya arsitektur Mediteranean. Laura turun dari mobilnya dan membuka pintu belakang mobil Rodja. Laura menepuk-nepuk pundak Ray. "Ray! Bangun, Ray. Di mana kamu taruh kunci rumahmu?" tanya Laura. Ray terbangun dan merogoh kantung celananya. Laura mengambil kunci dari Ray dan membuka pintu gerbang. Rodja dan Laura membopong Ray menaiki tangga ke teras depan. Laura membuka pintu depan dengan kunci berbeda. Setelah pintu terbuka, mereka membawa Ray ke lantai dua melalui tangga putar. Sebuah lampu dekoratif gantung bergaya klasik, berpendar kekuningan, menerangi dari langit-langit lantai atas. Laura membuka pintu kayu jati bermotif ukiran. Mereka memasuki interior ruang tidur mewah a la hotel bintang lima, berlantai permadani bulu berwarna krem. Lampu gantung di kedua sisi tempat tidur, mencipta nuansa temaram. Ray dibaringkan di tempat tidurnya. Laura berjalan keluar kamar. "Aku ke kamar Mang Dedi dulu, ya. Dia pengurus rumah ini. Aku akan minta tolong dia buatkan sesuatu untuk Ray." Rodja mengangguk. Rodja tertegun memperhatikan kamar Ray yang super mewah, saat tiba-tiba Ray berkata, "Aku mual." Rodja segera membopong Ray ke kamar mandi. Ray berjongkok, muntah di depan kloset, dan Rodja menepuk-nepuk punggung Ray. Setelah keluar dari kamar mandi, Ray kembali berbaring di kasur. Pusingnya berkurang, namun kepalanya masih terasa di awang-awang. "Maaf merepotkanmu, Ja," ucap Ray pelan. "Santai saja, Ray. Jangan dipikirkan. Kamu istirahat saja," kata Rodja. Sedikit banyak, respon itu membuat Ray terharu. Rodja memang teman yang baik. Di saat dirinya kepayahan seperti sekarang, yang membawanya pulang justru Rodja, bukan duo Andre-Toni yang bolak-balik menemaninya mabuk. Hening, sebelum Ray kembali bicara. "Ayahku akan menikah lagi." Rodja diam. Dia memang sudah menebak ada yang aneh dengan Ray hari ini. "Kupikir itu lebih baik. Ketimbang dia membawa perempuan-perempuan jalang itu ke dalam rumah. A ha ha. Itu juga yang membuatku 'kabur' sekolah ke sini," lanjut Ray dengan tawa dipaksakan. Rodja menatapnya iba. Tiap orang punya masalah. Bahkan anak bengal seperti Ray. "Aku pernah melihat mereka. Ibuku dan anaknya dari suami yang baru. Mereka jalan-jalan di mall. Terlihat bahagia. Pantas saja Ibuku gak pernah telepon aku lagi. Biarpun Ayahku seperti itu, dia selalu menanyakan kabarku. Tapi kalau dia nanti menikah, apa dia akan seperti Ibu? Mungkin dia akan sibuk dengan keluarga barunya," kata Ray dengan suara bergetar di ujung kalimat. Rodja gamang. Ia ingin menghibur, namun khawatir salah ucap. Percakapan ini sungguh berat. Adakah Ray menceritakannya juga pada Andre dan Toni yang nyaris sepanjang waktu tertawa-tiwi? "Kamu juga sama 'kan, Ja? Mamamu sudah tidak ada. Kita beda sama anak-anak itu, Ja. Anak-anak yang keluarganya lengkap dan bahagia. Kamu pasti ngerti maksudku." Ray menutup matanya dengan tangan, menyeka sesuatu yang mulai membasahi wajah. "Aku ngerti," respon Rodja. Singkat, namun cukup untuk membuat Ray merasa lebih nyaman. "Apa di rumahmu sama seperti di rumahku? Sunyi sekali. Biasanya, aku selalu menyalakan musik. Musik pengusir sunyi." Keheningan terasa makin kental di ruangan itu. Sebuah rumah dengan sentuhan Ibu di dalamnya, pasti akan berbeda rasanya. Seperti rumah Riko, misalnya. Terasa lebih hangat. Bulir air mata yang mengalir di pipi Ray, menetes ke kasur. Terdengar suara Laura dan Mang Dedi berjalan mendekat ke kamar. Ray segera menghapus air mata dan memejam. Mang Dedi membawakan minuman hangat dan minyak gosok. Dia membantu tubuh Ray agar duduk lebih tegak. Lelaki itu mengoleskan minyak ke punggung dan d**a Ray, mengganti bajunya dengan kaus dan menyelimutinya. Laura mengecek kunci mobil di dompet kecilnya. "Ray, aku dan Rodja pulang dulu ya," pamitnya. "Okay thanks," ucap Ray berusaha tersenyum pada dua orang yang rela bersusah payah mengantarnya pulang. Rodja menepuk pundak Ray. "Istirahat, Ray. Besok aku akan chat kamu, oke?" Ray mengangguk. "Ja, tolong nyalakan musik di HP-ku." *** Rodja dan Laura keluar gerbang rumah Ray dan menutup gerbang. Udara bahkan lebih dingin dari saat Rodja berangkat ke club dari rumahnya. Rodja baru akan berpamitan pulang pada Laura, ketika gadis itu berkata, "Kamu mau buru-buru pulang, atau mau temani aku nongkrong dulu di mana gitu?" ajaknya dengan senyuman menggoda. Senyuman yang mendadak membuat Rodja hilang kantuk. Saat ini pukul setengah dua dini hari. Namun jika bersama Laura, Rodja sanggup terjaga sampai pagi. Sepuluh menit kemudian, mereka berdua duduk di teras mini market 24 jam. Dua cup kopi hangat berasap lembut mengepul di meja. Hanya ada sedikit pengunjung selain mereka. Lalu lintas sangat sepi, namun kendaraan sesekali melintas. "Maaf ngajakin kamu ke sini, padahal sudah hampir jam dua," kata Laura membuka percakapan. "Gak apa-apa. Aku juga gak buru-buru, kok," ucap Rodja tersenyum. Pikirannya sudah mengatur siasat untuk berjingkat-jingkat saat pulang ke rumah nanti, agar papanya tidak terbangun dan tidak tahu kalau dia pulang dini hari. Laura mengaduk kopi dan menyesapnya sedikit. "Jadi, kenapa kamu pindah sekarang, Ra? Saat semester akhir menjelang kelulusan," tanya Rodja tanpa basa-basi. Laura nampak terkejut. Tidak menyangka Rodja akan menanyakan itu. "Soalnya, aku baru pindah rumah. Papa-Mamaku beli rumah yang dekat sama sekolah kita. Jadi kupikir, gak ada salahnya kalau aku pindah. 'Kan enak kalau jarak dari rumah ke sekolah dekat," jawab Laura meyakinkan. Rodja mengangguk. Ia hanya penasaran saja, teringat komentar geng gosh*t di dekat tukang pangsit kantin sekolahnya yang mempertanyakan kedatangan Laura di saat yang tidak biasa. Ternyata alasannya masuk di akal. "Apa kamu blasteran?" tanya Rodja lagi. "Ha ha! Kenapa jadi kamu yang interview aku? Padahal aku yang ngajak kamu ke sini!" Tawa Laura lepas, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Rodja tersenyum sumringah melihat sorot mata Laura yang bercahaya, penuh gairah hidup, sama sekali tidak terlihat lelah padahal dia tadi dance lumayan lama di club. "Mamaku keturunan Italia," kata Laura. Rodja mengangguk. Dia memang sudah menebak Laura blasteran. Warna putih kulitnya yang seperti porselen, berbeda dengan putih kulit orang Manado, Sunda atau Palembang. "Apa kamu muslim?" tanya Rodja lagi. Pertanyaan ini penting, setidaknya untuknya. Dia tentu harus berpikir ulang jika agama mereka berbeda. Rodja tidak mau terjebak dalam drama beda keyakinan. Too much bagi Rodja. Jika orang lain tidak keberatan, silakan saja. Laura mengeluarkan KTP-nya dan tersenyum manis, persis di samping foto KTP. Ujung jarinya menunjuk ke keterangan 'AGAMA : ISLAM'. "Aku Islam KTP," kata Laura nyengir. Rodja mengangguk. Dia paham yang dimaksud Islam KTP. Tak masalah untuknya. Rodja kembali menyesap kopi. "Interview-nya sudah selesai?" tanya Laura tersenyum menyelidik. Rodja tertawa. "Sudah selesai," jawabnya singkat. "Kalau begitu sekarang giliranku. Aku cuma punya satu pertanyaan," kata Laura mengacungkan jari telunjuk ke udara. "Apa itu?" tanya Rodja menaikkan sebelah alisnya. "Kayak apa tipe calon pacar idamanmu?" Rodja berhenti minum dan tertawa kaku. Rona wajahnya berubah dan sepertinya Laura menyadarinya. Entah bagaimana, pertanyaan Laura membuat Rodja merasa bahwa Laura sudah tahu dirinya naksir Laura. Siapa kiranya yang memberitahu? Ray, tebaknya. Agaknya Ray tahu saat memergokinya mengamati Laura saat berlatih cheer leader. Dan pertanyaan Laura ini, sepertinya adalah pancingan supaya dirinya mengakui bahwa dia naksir Laura. Rodja menyunggingkan senyum tipis. Demi martabat siswa ter-cool se-sekolahan, jangan harap Rodja rela 'nembak' Laura duluan. "Gak ada tipe tertentu, sih. Kalau aku ketemu orangnya, aku akan langsung tahu," jawab Rodja mengendikkan bahu. Laura nampak terkejut dengan jawaban yang terkesan cuek itu. Gadis itu mencoba mengingat kembali yang diucapkan Ray padanya kemarin. Kamu masih ingat Rodja, yang aku pernah tunjukin di kantin? Dia bakal datang ke SC besok malam. Pastikan kamu datang, oke? Pakai make up dan baju terbaikmu. Ray tertawa penuh arti setelahnya. Laura mengenal Ray. Ray tidak akan bicara begitu kalau tidak ada maksud tertentu. Biasanya, itu artinya Ray sedang berusaha menjodohkannya dengan laki-laki yang akan dikenalkan padanya. Biasanya sih begitu, tapi ini kok ... Laura menatap Rodja yang menyesap kopinya santai. Rodja yang sadar diri sedang ditatap Laura, sibuk membatin. Sekalipun Laura tahu aku suka dia, jangan harap aku bakal 'nembak' duluan! Itu tak akan terjadi dalam sejarah hidupku! Suasana hening hingga kopi keduanya habis. "Kamu masih mau duduk di sini?" tanya Rodja tersenyum. Pertanyaan itu mengesankan Rodja ingin segera pulang. Laura salah tingkah. "O-Oh iya. Sudah jam segini. Sebaiknya kita pulang," kata Laura melirik jam tangan Guess hitamnya. Mereka berjalan keluar dari area mini market, menapaki trotoar merah bata. Lima menit berjalan kaki dari tempat mobil mereka diparkir. Rodja mulai gusar. Gimana nih? Laura gak ngomong apa-apa! Apa malam ini bakal berakhir gitu aja? Apa aku terpaksa menurunkan gengsiku dan 'nembak' dia duluan? Ah gak mau! Aku akan bertahan! Aku masih yakin Laura suka aku! . . ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD