Masa Lalu Kelabu

1690 Words
. . Sungguh berat menceritakan keburukan diri sendiri. Jika bukan demi kebaikan Rodja, Joni tidak akan melakukannya. . . *** Malam itu, Joni gelisah. Sejak tadi dia mondar mandir ke pantry, minum, makan cemilan di ruang tamu, lalu ke ruang TV tapi tidak ada acara TV yang menarik minatnya. Setelah duduk terdiam di ruang TV, Joni naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Dia mengambil dompet di dalam tas, dan mengeluarkan secarik kertas bertuliskan nomor ponsel. Ustadz Yahya 0818298xxx Joni meraih ponsel di nakas, menyimpan nomor itu ke daftar nomor dan menekan tombol telpon. “Assalamualaikum,” salam terdengar dari lawan bicaranya. “Wa alaikum salam. mohon maaf malam-malam telpon, pak Ustadz. Apa benar ini dengan Pak Ustadz Yahya?” “Iya saya Yahya. Maaf dengan siapa saya bicara?” Joni terkesan dengan cara bicara beliau yang tenang. Dia bahkan menyebut namanya tanpa sebutan Ustadz, seolah gelar itu memberatkannya. “Nama saya Joni, Ustadz. Seorang imam masjid bernama Pak Rusli Abdullah, memberikan nomor Ustadz pada saya. Saya ada masalah penting sekali, menyangkut anak saya, Rodja. Kapan kira-kira Ustadz ada waktu? Sepertinya lebih baik kalau saya sampaikan langsung ketimbang lewat telepon.” “Oh begitu. Insyaallah saya ada waktu hari Sabtu ini. Kita bisa bertemu di pondok. Pak Joni tahu alamat pondok pesantrennya?" Joni merasa bahagia sekali mendengarnya. Seolah separuh masalahnya telah terpecahkan. “Iya saya tahu alamatnya. Insyaallah saya bisa ke sana. Jam berapa, Ustadz?” *** Siang itu pertengahan antara Zuhur dengan Ashar, Joni tiba di pondok pesantren milik keluarga Ustadz Yahya. Joni tampak necis dengan kaos Polo berwarna biru langit, dan celana panjang katun berwarna hitam. Ia turun dari mobil Toyota Corolla Twin Cam merahnya. Dari tempat parkir belum begitu nampak gedung pondok, tapi begitu memasuki gerbang, terlihat beberapa blok bangunan abu muda berlantai dua dan tiga , dengan lapangan olah raga. Beberapa menit kemudian, Joni tiba di depan pintu kantor kepala pondok. Ia mengucap salam setelah mengetuk pintu. “Wa alaikum salam. Silakan masuk, Pak Joni,” sahut Ustadz Yahya ramah. Joni terkejut melihat pak Ustadz Yahya yang ternyata masih muda, mungkin usianya kepala dua, menuju tiga puluh. Ustadz Yahya mengenakan baju atasan longgar hitam polos, dan celana panjang berwarna senada. Ustadz Yahya berdiri dari kursi kerjanya dan mengarahkan Joni duduk di sofa berwarna putih. Mereka bersalaman, dan duduk berhadapan. Ustadz Yahya yang berparas tampan dengan alis agak tebal itu, terlihat lebih cerah saat tersenyum. Pancaran matanya teduh tapi penuh optimisme. “Sebenarnya Kepala Pondok bukan saya, tapi Abi saya. Hanya saja beliau sedang sakit, jadi saya sementara menggantikan beliau,” kata Ustadz Yahya seolah menjelaskan keheranan Joni mengingat usianya yang masih muda. Setelah perkenalan sesaat, seorang lelaki paruh baya datang membawakan beberapa kue camilan dan teh hangat. Suasana terasa lebih cair. “Jadi, apa yang membuat Pak Joni datang ke mari?” tanya Ustadz Yahya tersenyum, namun dengan air muka yang lebih serius. Dengan berat hati dan rasa malu, dia menyampaikan kekhawatirannya terhadap pergaulan putra tunggalnya, Rodja. Tentang bagaimana Rodja bergaul dengan teman -teman yang akrab dengan minuman keras, dan yang terakhir yang cukup mengejutkannya adalah ketika dia menyaksikan sendiri Rodja dan pacarnya sedang bermesraan di kamar. Joni menyatukan jemari, gelisah. Ini jelas bukan cerita keluarga yang ingin dia ceritakan pada orang luar. Lebih ke arah aib. Dia merasa malu karena sudah gagal mendidik Rodja, anak satu-satunya. Sebuah tepukan hangat di pundak, membuat Joni mengangkat wajahnya ke arah lawan bicaranya. “Jangan khawatir, Pak Joni. Anak anda bukan satu-satunya yang mengalaminya. Di zaman teknologi canggih sekarang ini, banyak pengaruh buruk yang bisa mempengaruhi anak-anak muda. Dari televisi, internet, hape, majalah, billboard di pinggir jalan, dari mana saja. Bahkan di pondok ini juga, ada beberapa anak yang perlu perhatian khusus oleh pengajar-pengajar kami, karena mengalami hal serupa dengan anak anda,” kata Ustadz Yahya berusaha menyemangati tamunya. “Iya, memang saya tidak bisa memungkiri, faktor-faktor yang Ustadz sebutkan tadi, memang benar adanya. Tapi, saya sebagai satu-satunya orang tuanya, merasa bertanggung jawab,” ucap Joni dengan nada sesal. “Satu-satunya? Apa ibunya Rodja meninggal?” tanya Ustadz Yahya. “Bukan, Ustad. Mm ... sebenarnya, saya tidak yakin. Mantan istri saya -- maksud saya, Mamanya Rodja, masih hidup atau sudah meninggal," jawab Joni mengejutkan Ustadz Yahya. "Mohon maaf sebelumnya. Kisah masa lalu saya mungkin tidak begitu menyenangkan untuk didengar. Mantan istri saya, Mamanya Rodja, dulu pergi dari rumah dalam kondisi kecanduan obat-obatan, meninggalkan Rodja yang masih bayi," jelas Joni, sontak membuat Ustadz Yahya terperanjat. "Rodja masih dalam masa menyusui waktu itu. Rodja akhirnya disusui oleh saudara saya yang baru melahirkan anaknya," lanjut Joni. Lawan bicaranya mendengarkan dengan ekspresi prihatin. "Kalau Pak Joni merasa tidak nyaman, Bapak tidak perlu cerita pada saya," ucap Ustadz Yahya. Joni menggeleng. "Tidak apa-apa. Justru karena saya percaya pada Ustadz, maka saya cerita, supaya Ustadz bisa punya bayangan seperti apa latar belakang Rodja. Mana tahu, dengan cerita ini, bisa memudahkan Ustadz untuk menolong Rodja." Mereka saling tatap. "Baiklah," kata Ustadz Yahya dengan isyarat tangan mempersilakan Joni meneruskan kisahnya. "Pernikahan kami dulu, bukan pernikahan normal pada umumnya, Ustadz. Saat kami menikah, Rodja sudah di dalam kandungan. Saya dan mantan istri saya, kami bertemu di klub malam. Saat itu, dia memang sudah lama jadi pemakai obat-obatan. Saya kemudian jadi seperti dia, seorang pecandu. Dia hamil, dan keluarga saya marah besar. Kami menikah di bawah paksaan, dan menjalani program rehabilitasi. Rodja lahir. Mamanya Rodja sempat menyusuinya beberapa bulan, sebelum dia pergi meninggalkan rumah dan tidak terdengar kabarnya hingga kini,” tutur Joni dengan pandangan tertunduk. Malu rasanya menceritakan keburukan kehidupan pribadi. Jika bukan demi kebaikan Rodja, Joni tidak akan mau melakukan ini. Ustadz Yahya mengangguk dengan sorot mata sedih. Joni menyadari sedari tadi tangan kanan Ustadz Yahya sembunyi di dalam kantung baju. “Rodja tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Saya berusaha jadi ayah yang baik untuknya. Terkadang, jadi sahabatnya. Karena saya tidak ingin Rodja menjalani kehidupan yang berantakan seperti saya, maka saya sengaja mendatangkan guru ngaji untuknya. Rodja sering diminta jadi qori di sekolahnya, mengisi acara maulid. Sering juga menjuarai MTQ di sekolahnya." Raut muka Ustadz Yahya menampakkan ketertarikan. "Rodja seorang qori?" tanya beliau. Joni mengangguk. "Iya, Ustadz. Dia punya suara yang indah. Anehnya, kalau diminta menyanyi lagu biasa, dia tidak pernah mau. Kalau baca qur'an, dia mau. Katanya baca qur'an beda, tidak sama dengan menyanyi." Lawan bicara Joni manggut-manggut. "Menarik," sahut beliau dengan pancaran minat di matanya. "Maka itu, saya sungguh tidak menyangka Rodja bisa terjerumus pada -- maksud saya, anak saya itu ... dia sebenarnya bukan anak nakal, Ustadz. Sungguh. Dia lebih baik dari saya waktu muda dulu!" Joni mengatakannya dengan emosional. Pria itu kemudian mengusap ujung matanya. Ustadz Yahya menepuk pundak Joni, menguatkannya. "Jujur saya sendiri juga masih belajar ilmu agama, meski sangat minim. Hanya dari ceramah di televisi, ceramah sholat Jum'at di masjid, dan beberapa buku. Saya sendiri ilmu agamanya masih sangat kurang, Ustadz. Mungkin karena saya juga sibuk menata usaha restoran seafood peninggalan mendiang orang tua saya," kata Joni dengan ekspresi merasa bersalah. “Saya sedang mengatur tiga cabang restoran di Jakarta, dan belum memiliki manajer yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, seringkali saya sendiri harus turun tangan mengecek semua supaya berjalan lancar. Saya berencana akan melibatkan Rodja dalam bisnis saya setelah dia lulus SMA. Saya bermaksud ingin 'merapikan' semuanya untuk Rodja, supaya saat dia terlibat nanti, dia tidak merasakan kesulitan-kesulitan yang saya alami di awal. Tapi saya tidak menyangka kalau kesibukan saya membuat saya tidak sadar kalau pergaulan Rodja sudah sampai tahap itu,” imbuh Joni dengan suara bergetar di akhir kalimatnya. “Karena saya sering memposisikan diri sebagai sahabat bagi Rodja, sulit bagi saya untuk bisa tegas dengan dia. Saya pikir karena saya jarang di rumah, kebebasan yang saya berikan akan menghibur dia. Rumah juga sepi karena tidak ada sosok ibu. Jadi saya biarkan dia main ke luar. Ternyata --” Ustadz Yahya mengangguk. “Pak Joni tidak berencana menikah lagi?” Joni spontan tertawa malu. “Sebenarnya, bukannya sama sekali tidak pernah terpikir. Hanya saja, saya saat ini lebih fokus menyiapkan usaha restoran untuk Rodja, karena tinggal beberapa bulan lagi Rodja lulus SMA.” Ustadz Yahya kembali mengangguk. Joni melirik ke arah kantung baju Ustadz. Tangan kanan beliau masih di sana. Joni mulai berpikir, mungkinkah Ustadz Yahya menyimpan benda yang sangat berharga di kantung baju, semacam kunci brankas? “Apa saya boleh lihat foto Rodja?” tanya Ustadz Yahya. Joni merogoh kantung celana. “Sepertinya di hape saya ada. Sebentar, Ustadz.” Tak lama, dia memperlihatkan layar ponselnya ke Ustadz Yahya. Foto Rodja dan dirinya saat berlibur ke Bali tahun lalu. Ustadz Yahya memperhatikan foto Rodja dengan saksama. Sesaat dahinya mengernyit, lalu tersenyum. Beliau mengembalikan ponsel Joni. “Jadi ... bagaimana menurut Ustadz? Sementara ini yang terpikir oleh saya, apa ada salah satu staf pengajar di sini yang bisa memberi materi dakwah untuk Rodja? Maksud saya, pengajian di rumah saya, hmm ... sejam sehari, mungkin?” tanya Joni ragu. “Insyaallah tidak masalah, Pak. Saya sendiri yang akan berusaha meluangkan waktu untuk memberikan materinya,” jawab Ustadz Yahya tegas. Joni terkejut sekaligus senang. “Ustadz sendiri yang akan membimbing Rodja? Alhamdulillah! Terima kasih, Ustadz!” Joni refleks hendak mencium tangan Ustadz Yahya. Beliau menarik tangannya dengan halus. “Santai saja, Pak Joni. Kita 'kan saudara sesama muslim. Wajar kalau kita saling bantu,” ucapnya merendah. Joni menegakkan tubuhnya. “Oh ya! Mengenai uang transport dan biaya lainnya, Ustadz tidak perlu kuatir. Insyaallah saya siapkan semuanya!” “Jangan dipikirkan, Pak. Saya tidak perlu dibayar. Kalau Pak Joni mau menyumbang ke pondok kami, saya persilakan. Bapak bisa bicara dengan staf admin di sini, atau Pak Joni bisa menyumbang di kotak amal masjid pondok. Sama saja,” kata Ustadz Yahya. Joni tersenyum. Dia merasakan secercah harapan. Ustadz Yahya terdiam berpikir. Matanya tertunduk tenang. “Hanya saja, saya kurang yakin satu jam sehari dampaknya akan signifikan,” ucap beliau. “Oh begitu? Kalau begitu, berapa jam sehari yang Ustadz sarankan?” tanya Joni. “Oh bukan itu,” sahut Ustadz. “Pak Joni, menurut Bapak, apa Rodja tertarik untuk menikah muda?” Mata Joni melotot. “HAHH???” Jerit Joni spontan ternganga syok. Ustadz Yahya tersenyum padanya, namun jelas bukan senyum bercanda. Joni menelan saliva. U-Ustadz ini serius?? . . ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD