Nyaris

1554 Words
. . Rodja ingin berhenti, setelah mereka sejauh ini? . . Sejak Rodja pacaran dengan Laura, hampir tiap pulang sekolah, mereka jalan ke mall untuk nonton atau belanja. Sore itu, Rodja sedang menemani Laura di sebuah butik pakaian wanita. Rodja berdiri di belakang pacarnya yang sibuk memilih baju terusan. "Sayang, bagusan mana? Yang merah atau yang biru?" Laura mengangkat gaun dengan kedua tangannya. "Yang ini," pilih Rodja menunjuk baju berwarna merah. "Masa? Beneran bagusan yang ini, ya?" Laura terlihat bimbang, seolah kurang percaya dengan penilaian Rodja, karena Rodja bahkan tidak berpikir lebih dari tiga detik. "Iya bener," jawab Rodja singkat sembari tersenyum. Rodja sengaja tidak mau terlalu lama memberi jawaban. Karena kalau pun dijawabnya dengan "warna apa aja cocok buat kamu," jawaban itu tentunya tidak akan memuaskan Laura. Tak lama, mereka berdiri di depan kasir. Rodja mengeluarkan kartu ATM dari dompet hitamnya. Apa pacaran memang seperti ini? batin Rodja. Rodja cukup beruntung karena papanya selalu mentransfer uang bulanan ke rekening. Biasanya Rodja selalu bisa menyisihkan uang di akhir bulan, tapi sekarang? Baru tanggal segini, uang bulanan Rodja tinggal sepertiganya. "Kak, ini notanya," kata kasir memanggil Rodja yang tidak juga menerima kertas nota yang disodorkannya. Rodja tersadar dari lamunan. "Oh iya. Makasih," sahut Rodja memasukkan kertas nota dan kartu ATM ke dalam dompet. Laura mencubit lengan Rodja. "Ih, sayang. Kamu kok bengong, sih?" "Kita mau nonton sekarang?" tanya Rodja tersenyum. "Iya dong," jawab Laura menggandeng tangan Rodja. Orang-orang yang lalu lalang di koridor, melirik ke arah mereka berdua. Paras cakap mereka, membuat orang berpikir Rodja dan Laura adalah artis remaja atau model. Antrian bioskop tidak terlalu panjang. Mereka mendapatkan tiket film horor yang sedang digandrungi saat ini. Sesaat kemudian, mereka duduk di kursi empuk khas teater modern dengan lapisan kursi merah, sandaran nyaman dan bersih. Rodja meletakkan pop corn dan minuman bersoda di antara kursi mereka berdua. Beberapa menit kemudian, lampu-lampu dimatikan dan film dimulai. Film itu sebagus review di internet. Mereka menikmati film hingga tak terasa nyaris satu jam berlalu. Rodja terkejut saat merasakan lengannya disentuh. Laura yang menggenggam lengannya lembut. Mereka bertatapan. Detik-detik yang berlalu membuat Rodja merasakan hawa panas di dadanya. Laura mendekat padanya hingga mereka tak berjarak. Bibir mereka berpagut. Laura memberi jarak sesaat. Mereka saling tatap sekali lagi, namun kali ini terasa berbeda. Pagutan bibir keduanya barusan, membangkitkan efek candu. Mereka kembali berciuman, tapi kali ini Laura lebih agresif. Rodja merasa tubuhnya bagai melayang. Ekstasi yang memabukkan itu memancing imaji Rodja liar. Namun Rodja malah mencengkeram lengan Laura dan memaksanya memberi jarak. Napas mereka memburu. Laura menatapnya heran. "Malu. Kita di tengah orang ramai," bisik Rodja yang baru saja berhasil meredam gejolak nafsunya yang nyaris mengalahkan logika. Laura salah tingkah. Dia sungguh tak menyangka Rodja akan menghentikan paksa keintiman mereka barusan. Padahal dia sengaja memulainya lebih dulu. *** Siang itu di kantin, Laura duduk bersama Ray. Toni dan Andre sedang memilih camilan di warung, dan Rodja sedang salat Zuhur di masjid. "Jadi gimana, Ra? Kesan-kesanmu sebulan-an pacaran sama Rodja?" Ray bertanya dengan lirikan nakal ke Laura. Laura menghembuskan napas. "Hhh ... yah gitu, lah." Ray tertawa. "Kamu barusan kayak emak-emak yang udah nikah belasan tahun sama suaminya, dan sekarang mulai bosen!" Laura meresponnya dengan tatapan sewot. "Bukan gitu. Aku seneng pacaran sama Rodja. Well ... maksudku, Rodja -- tentu saja -- sangat ganteng. Aku seneng dengan tatapan iri perempuan-perempuan itu. Di sekolah, mall dan ke mana aja kami pergi," jelas Laura dengan senyum kasmaran. "Terus masalahnya apa?" tanya Ray menyeruput minuman soda di meja. Laura melirik Ray, dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Ray mendekatkan telinganya. "Masalahnya, aku selalu harus 'mulai' duluan. Kamu ngerti 'kan? Kami emang udah ciuman, tapi--" "Ooh," ucap Ray nyengir. "Mungkin kamu kurang agresif kali," lanjut Ray. Laura mengernyitkan dahi. "Aku? Kurang agresif?" "Rodja itu anaknya pemalu. Kamu harus lebih agresif. Ralat : LEBIH AGRESIF dari biasanya!" imbuh Ray tertawa. Laura terdiam, sibuk dengan rencana-rencana di otaknya. *** Bel pulang sekolah berbunyi. Rodja dan Laura sudah di parkiran. Rodja membukakan pintu mobilnya untuk pacarnya tersayang. "Kita mau ke mana hari ini?" tanya Rodja tersenyum. "Rumahmu di mana, sayang?" tanya Laura balik. Rodja terkejut. "Rumahku? Rumahku di -- eh -- kamu mau ke rumahku?" Laura tersenyum manja. "Iya dong. Aku 'kan pacarmu. Masa' gak boleh ke rumahmu?" Rodja menggeleng. "Oh ... bukan. Bukannya gak boleh. Boleh, dong. Yuk berangkat," Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, pikiran Rodja sibuk. Kenapa tiba-tiba Laura mau ke rumahku? Kemungkinan sore begini, Papa belum pulang. Mungkin gak apa-apa. Kami bisa minum teh di ruang tamu. Jalanan agak macet. Sekitar sejam kemudian, mereka sampai di rumah Rodja. Setelah memarkir mobil, Rodja dan Laura memasuki ruang tamu. Rodja meletakkan tas di sofa ruang tamu. Laura tertegun melihat ruangan itu. "Wah. Rumahmu besar ya, sayang. Lebih besar dari rumahku." Rodja hanya merespon dengan senyum. "Kamu duduk di sini dulu ya. Aku akan minta Bibi buatkan sesuatu. Kamu mau apa? Teh, kopi, atau sirup?" Laura menggeleng. "Jangan repot-repot. Aku belum haus. Nanti saja." Laura melihat sekeliling "Kamarmu di mana, sayang?" tanya Laura. Pertanyaan itu seketika membuat jantung Rodja berdebar karenanya. "Mm ... kamarku di atas," jawab Rodja dengan telunjuk mengarah ke atas. Laura melihat ke arah tangga. "Aku mau lihat kamarmu, ya?" pinta Laura penuh harap, membuat Rodja gamang. Gimana ini? Tunggu. Mungkin dia cuma mau lihat-lihat saja. Baiklah. Mungkin gak apa-apa. Dengan ekspresi tegang, Rodja tersenyum. Dia mengambil tasnya. "Ayo ke atas," katanya sok cool. Setiap langkah anak tangga, Rodja bisa merasakan denyut jantungnya. Dia mengatur napas. Gak akan ada apa-apa. Tenang saja, batin Rodja diulang-ulang pada dirinya sendiri. Rodja membuka pintu kamar dan mempersilakan Laura masuk. Rodja sengaja membiarkan pintu terbuka, tapi kemudian ditutup oleh Laura. Suara pintu saat tertutup, membuat Rodja semakin tegang. Laura duduk di tepi kasur Rodja. Melihat pacarnya duduk di tempat tidurnya, memberi sensasi aneh pada diri Rodja. "Wah. Kamarmu lebih rapi dibanding kamar kakak lelakiku," komentar Laura seraya mengedarkan pandangan. "Masa'? Kamu punya kakak laki-laki?" tanya Rodja. "Iya. Kakakku kamarnya berantakan. Kadang pacarnya yang membereskan kamarnya," jawab Laura enteng. Rodja tersenyum kaku. Pacar kakaknya Laura terbiasa membereskan kamar kakaknya. Pertanyaan : kenapa dibereskan? Karena berantakan. Kenapa bisa berantakan? Habis ngapain? Hus! Jangan mikir yang aneh-aneh! Tenang. Tenang, ucap benak Rodja yang sibuk berpikir. "Kamu ngapain berdiri di situ, sayang? Kayak robot aja. Duduk sini," ajak Laura. Rodja berjalan perlahan ke tempat tidur, mengambil jarak dari Laura dan duduk. Laura tertawa. "Kok jauh-jauhan gitu? Kayak lagi bertengkar aja. Sini dong," kata Laura menarik lengan Rodja hingga mereka duduk lebih dekat. Hening sesaat. "Rodja, aku merasa beruntung bisa pacaran dengan laki-laki setampan kamu," bisik Laura. Pujian itu membuat keduanya saling tatap. Hanya perasaan Rodja saja kah? Atau Laura hari ini terlihat lebih cantik dari biasanya? Bibir merah muda lembutnya nampak menggoda untuk dipagut. Matanya yang besar dan indah, dan bulu matanya yang lentik, membuatnya persis seperti boneka porselen. "Kamu cantik sekali," ucap Rodja membelai lembut pipi Laura. Laura menyentuh tangan Rodja. Bibir keduanya berpagut lembut. Sekali, dua kali. Entah kenapa, matahari sore ini dirasa Rodja lebih panas. Padahal dia sudah menyalakan kipas. Rodja menyentuh rambut Laura yang terurai. Belaian Laura terasa memabukkan. Mereka kembali berciuman, kali ini lebih intens. Darah Rodja terasa mendidih. Napas mereka terengah, saat keduanya mengambil jeda. "Kamu tahu, sayang? Kamu bisa lakukan apa saja padaku. Apa saja," ucap Laura dengan tatapan menggoda. Rodja menahan napas saat Laura membuka kancing teratas baju seragamnya, lalu kancing kedua. Laura mendorong pelan tubuh Rodja hingga terempas di kasur. Rambut Laura yang acak-acakan membuatnya nampak binal. Rodja panik. Tubuhnya bereaksi. Situasi ini pernah dialaminya sewaktu di club, tapi kali ini berbeda. Perempuan di hadapannya ini adalah pacarnya, dan mereka berada di ruangan tertutup. Tidak ada yang melihat. Tidak ada, tapi ... Kancing ke tiga terbuka. Lapisan di balik baju seragam Laura mulai nampak. "STOP, Laura!" cegah Rodja dengan wajah merah. Laura terkejut. Rodja ingin berhenti, setelah mereka sejauh ini? pikirnya. Mendadak terdengar suara pintu kamar dibuka. "RODJAAA!! KEJUTAAN!! Papa pulang lebih cepat hari ini, karena tadi ada -- " Papanya berdiri di depan pintu, ternganga menatap Rodja di atas kasur, dan Laura di atas Rodja. Rodja memejamkan mata. MATI AKU!! *** Lima belas menit lalu, Laura baru saja pulang dengan taksi. Ruang tamu terasa lebih tegang dari biasanya. Di atas meja ada dua cangkir teh hangat, asapnya mengepul lembut. Rodja menundukkan wajah menatap lantai. Walau tidak melihat, tapi Rodja tahu tangan papanya mengangkat cangkir sambil gemetar. Rodja sama sekali tidak menyentuh cangkirnya. Setelah menyesap teh, Joni meletakkan cangkir kembali ke meja. "Rodja, Papa memang memberi kamu kebebasan, tapi bukan berarti kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau," kata Joni memecah hening. Rodja diam. "Apa kalian sering ke sini, saat Papa tidak ada di rumah?" tanya Joni. Rodja menatap papanya. "Nggak, Pa! Sungguh! Ini pertama kalinya. Laura bilang mau melihat rumah kita, jadi aku ... " Untuk beberapa saat, Joni menyoroti mata putranya menyelidik. Dia mengangguk pelan, merasa percaya dengan kata-kata Rodja barusan. "Apa dia pacarmu?" tanya Joni. "Ya," jawab Rodja tertunduk. "Sejak kapan?" "Sebulan lebih," jawab Rodja singkat. Baru sebulan padahal, tapi mereka tadi nyaris melakukan 'itu' di kamarnya. Joni menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Mobilmu Papa sita sebulan. Mang Pardi akan mengantar jemput kamu ke sekolah. Gak ada keluyuran. Setelah pulang sekolah, langsung ke rumah." Rodja merasa kecewa, karena dia terbiasa bebas kemana pun dia mau. Tapi dia merasa tidak dalam kondisi bisa bernegosiasi. Rodja mengangguk lemas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD