“Papa apa-apaan sih!” Utami tidak terima dengan apa yang barusan diucapkan oleh papanya. Perjodohan? Yang benar saja.
Utami menatap ibunya meminta pertolongan. Tapi wanita setengah baya itu hanya diam tersenyum kecil.
“Ma, Ini seriusan? Utami mau dijodohin? Utami nggak mau ah!” Sungut utami.
Baru saja pulang dari kantor setelah sibuk bekerja seharian sebagai sekretaris di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang keuangan yang cukup tersohor di negeri ini, Utami langsung mendapatkan berita bahwa dirinya akan segera dijodohkan dengan seorang pria anak dari sahabat papanya.
“Kalian kan sudah saling kenal dari dulu. Sewaktu kecil dahulukan kalian berteman bukan? Papa juga beberapa kali sempat bertemu dengan Hans, dia pria yang baik, ramah, santun lagi. Kenalan lagi dulu aja kan tak ada salahnya,” tutur Papa.
“Pa, Itu dulu banget. Sekarang Utami bahkan nggak pernah ketemu sama Hans lagi. Mana boleh dijodoh-jodohin begini.”
Utami menoleh pada sang mama. Berharap mamanya bisa membantu dirinya keluar dari niat sang papa yang ingin menjodohkan dirinya.
“Papa terpaksa menjodohkan kamu sayang, kita berdua khawatir kamu terlalu sibuk bekerja dan tidak memikirkan untuk menikah. Apalagi…. Mama dan Papa nggak pernah lihat kamu mengenalkan seseorang kepada Kami.” Ucap Laras lembut pada Utami menjelaskan sedikit kekhawatiran kepada sang anak.
Orang tua mana yang tak khawatir melihat putri semata wayang mereka yang sekarang sudah menginjak usia 29 tahun tapi sampai sekarang masih belum juga menikah.
“Nggak bisa gitu dong, Ma, Pa! Emang ini jaman Siti Nurbaya apa main dijodohkan segala. Pokoknya Utami nggak mau titik!” Sungut Utami berdiri dari duduknya hendak pergi ke kamarnya.
Papa menarik napas panjang lalu menghembuskannya sedikit kasar. Lalu kembali menatap anak semata wayangnya dengan tegas.
“Kalau nggak mau dijodohkan bawa kemari calon suami pilihanmu sendiri. Kalau kamu bisa membawa calon suamimu kesini dalam waktu satu bulan, Papa tak akan menjodohkanmu dengan Hans!” Titah Danu.
“Mana bisa begitu, Pa! Utami kan sibuk kerja. Gimana bisa nyari calon suami dalam waktu satu bulan!” Suara Utami meninggi semakin kesal mendengarkan persyaratan dari papanya.
“Mana Papa tau. Itu urusan Kamu.” Danu menjawab santai sambil mengedikkan bahunya.
“Papa…” Utami mulai merengek. Kehabisan akal menentang keinginan papanya jika sudah bersikeras sulit untuk merubahnya.
“Nggak ada salahnya untuk mencoba dulu, Utami. Lagipula Kami tidak akan langsung memaksamu untuk menikah dengan Hans. Kamu bisa bertemu dengan Hans dulu dan mengobrol. Kalian kan sudah pernah kenal merupakan awal yang bagus kan?” Mama mulai mengeluarkan suaranya lembut.
Utami memandangi mamanya tidak percaya.
“Jahat banget sih!” Utami langsung pergi menuju ke kamarnya dengan langkah kaki yang disentak.
Ayu Utami Hapsari wanita berusia 29 tahun ini bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan top 3 yang bergerak dibidang keuangan. Wanita yang biasa dipanggil Utami ini sudah bekerja selama 7 tahun lamanya sebagai sekretaris seorang CEO yang bernama Baskara Putra Pratama pria berstatus duda yang memiliki usia terpaut 6 tahun lebih tua darinya ini merupakan anak tertua dari keluarga konglomerat yang juga sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Dengan kesibukan sehari-harinya yang begitu padat membuat Utami tak memiliki waktu hanya untuk sekedar berkenalan dengan seorang pria. Waktunya hanya ia habiskan di kantor, pulang kantor di rumah mengistirahatkan badan yang sudah lelah bekerja seharian, weekend waktunya ‘Me Time’. Jadi gimana bisa dia bertemu dengan pria terus berkencan selayaknya wanita dewasa lainnya yang seumuran dengannya.
Dan lagi. Pria yang akan dijodohkan kepadanya adalah pria yang tak ia kenal, tak dicintai bahkan. Memang benar dulu semasih kanak-kanak, Utami dan Hans pernah bermain bersama beberapa kali. Tapi sudah hanya sampai disitu. Semakin beranjaknya usia baik Utami maupun Hans tidak lagi pernah saling bertemu dan bertegur sapa!
Bagaimana bisa mereka dijodohkan begitu saja!
Lagi pula Utami tak suka memaksakan perasaannya seperti itu. Ia akan menikah dengan pria pilihannya sendiri. Bukan dari ajang perjodohan!
***
Tapi meski begitu Utami sudah menginjakkan kakinya di sebuah kedai kopi yang mana akan menjadi tempat dirinya menemui Hans untuk pertama kali dan membuat dirinya terpana pada pandangan pertama. Sudah sepuluh menit ia menunggu kedatangan Hans yang belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Hai? Utami ya?”
Utami mengangkat pandangannya saat ada pria tinggi dan tampan berdiri tepat di hadapannya. Utami terpana untuk beberapa saat sebelum akhirnya menyambut uluran tangan pria tampan ini.
“Kamu, Hans?” tanya Utami tidak mempercayai pandangannya.
“Aku Hans. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Utami.”
“Wah ini beneran Hans? Cakep banget sekarang!”
Batin Utami.
Utami hanya bisa membalas dengan senyuman manisnya dan menganggukkan kepala pelan. Hans langsung mendudukkan bokongnya di kursi yang berada tepat di hadapan Utami. Setelah memesan makanan dan minuman yang akan menemani obrolan mereka, keduanya hanya saling memandang dan memperhatikan satu sama lain. Utami yang sedikit terpesona dengan penampilan Hans yang sekarang membuat wanita itu berpikir dua kali tentang niat papanya yang akan menjodohkan dirinya dengan Hans.
“Dia cantik juga.”“ Batin Hans memuji kecantikan Utami.
“Kamu sekarang makin cantik, Utami.” Puji Hans.
Utami hanya menundukkan kepalanya malu lantaran sudah lama sekali rasanya ia tak merasakan moment bertemu dengan seorang pria dan dipuji seperti ini.
“Kamu pasti sudah tau kalau kedua orang tua Kita sedang berupaya untuk menjodohkan kita. Aku ingin mendengar bagaimana pendapatmu?” Hans membuka pembicaraan to the point.
Utami mengangguk dan menyesap minuman hazelnut lattenya sesaat sebelum menanggapi pertanyaan dari Hans.
”Hm, sebenarnya Aku kurang setuju dengan kegiatan menjodoh-jodohkan seperti itu. Kayak Kita dipaksa untuk menerima, bukan karena keinginan sendiri.”
Hans menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Utami.
“Apalagi Kita nggak saling mengenal satu sama lain, maksudnya setelah dewasa Kita punya kehidupan masing-masing bukan,” lanjutnya lagi.
Hans menatap Utami dengan tatapan penuh arti.
“Tadinya, aku pun berpikiran hal yang sama. Di zaman sekarang siapa yang mau dijodohkan? Tapi setelah ketemu denganmu, Aku rasa perjodohan tidak seburuk itu.”
Utami tidak menjawab.
“Tentu aku tidak keberatan asalkan Kamu juga tidak keberatan. Kamu belum ada yang punya kan?”
Mata Utami membelalak. Dirinya sudah tidak mampu menutupi rasa terkejut mendengar pertanyaan dari Hans.
“Nggak punya.” Pada akhirnya Utami pun menjawab dengan gugup.
Hans tersenyum simpul mendengar jawaban dari wanita itu.
“Jadi, mari Kita kencan.”
“Kamu harus jadi istriku, Utami. Agar semua rencanaku berjalan lancar.” Lanjut Hans dari dalam hatinya saja.
***