Bukan hal yang mudah bagi Utami untuk jatuh cinta. Semasa hidupnya yang ia dedikasikan hanyalah untuk mengejar karir hingga melupakan kisah percintaan yang tak kalah penting.
Ketika bertemu dengan Hans, pria itu dengan mudah mengambil hatinya yang sudah lama tidak tersentuh rasa hangat dari pria yang memperhatikannya.
Terbukti pada hari ini seperti yang telah mereka janjikan. Hari ini antara dirinya dan Hans akan melakukan kencan pertama mereka guna mencari kecocokan satu sama lain, saling membangun kemistri, seperti kata pepatah cinta karena terbiasa. Mungkin dengan cara ini baik Utami maupun Hans bisa menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tua mereka.
Karena ini merupakan kencan pertama bagi Utami setelah sekian lama. Tak urung dirinya sendiri merasakan dadanya berdebar dan pipinya merah merona.
“Setelah sekian abad, akhirnya ada yang ngajakin aku kencan!” Teriak Utami kegirangan dari dalam hatinya.
Ponselnya kembali berbunyi dan bebarengan dengan itu suara ketukan dari luar menyadarkan lamunannya.
“Utami? Hans udah jemput kamu di bawah.” Mamanya membuka pintu dan langsung tersenyum melihat putrinya sudah berdandan cantik dan antusias bertemu dengan Hans. Hal itu merupakan awal yang baik, pikirnya.
Mendengar itu membuat Utami menjadi agak sedikit panik. Ia lalu mengambil tas dan menghampiri Hans yang sedang mengobrol dengan papanya.
“Hai. Oh wow kamu cantik banget hari ini.” Puji Hans saat melihat kedatangan Utami.
Utami yang dipuji seketika malu menundukkan kepalanya karena ia takut jika mereka bisa melihat pipinya yang sekarang mungkin sudah terlihat seperti kepiting rebus.
“Thanks. Yaudah yuk, jalan sekarang aja keburu macet di perjalanan.”
Hans dan Utami sudah memasuki mobil dan bersiap segera untuk menuju tempat pertama yang akan mereka kunjungi. Namun Hans tak urung segera menjalankan kendaraan roda empatnya pria itu tiba-tiba mendekati Utami yang berada di kursi penumpang di sebelahnya.
Utami yang terkejut dengan sikap Hans memundurkan badannya ke belakang, wanita itu menegang ditempatnya lantaran saat ini wajah mereka berdua sangat dekat bahkan Utami bisa ikut merasakan nafas Hans yang sempat mengenai wajahnya.
Hans menarik seatbelt yang berada disini sebelah kiri wanita itu dan segera memasangkannya. Utami yang sudah sempat berpikir macam-macam menghela nafasnya lega. Hans hanya tersenyum melihat tingkah Utami.
“Kamu belum pakai seatbelt.”
Hans tersenyum mengucapkan kalimat tersebut sambil mengelus sayang puncak kepala Utami.
Lagi-lagi hal itu membuat Utami membeku, bagaimana tidak di usianya yang sudah memasuki akhir 20an ini Utami hampir tidak pernah lagi mendapatkan perlakuan manis dari lawan jenis seperti tadi. Hidupnya benar-benar hanya tentang kerja kerja dan dirinya sendiri, tidak ada yang lain.
***
Hans benar-benar menjalankan niatnya untuk memperlakukan Utami sebaik mungkin. Bahkan pria itu tak melepaskan genggaman tangannya pada Utami barang sedetik pun. Mereka melakukan segala aktivitas kencan sebagaimana mestinya seperti menonton film, bermain di area time zone dan terakhir pria itu menuruti keinginan Utami untuk membeli eskrim yang sedang viral.
“Kamu suka atau doyan?” Hans terkekeh begitu melihat mulut Utami yang belepotan karena memakan es krim dan berinisiatif membersihkannya menggunakan ibu jarinya. Bahkan pria itu tidak segan-segan menjilat ibu jarinya yang terkena es krim dari bibir Utami.
“Sebaiknya aku ke toilet dulu.” Utami pamit karena terlalu salah tingkah mendapatkan perlakuan dari Hans. Bahkan sebelum pria itu menjawab, Utami sudah membalikkan badan mencari toilet yang terletak di dalam pusat perbelanjaan elit itu.
Di dalam toilet, ia menatap wajahnya yang masih memerah dan dadanya yang tidak henti berdebar kencang.
Sementara di lain tempat, Hans menerima panggilan telepon dari seseorang.
“Aku lagi nggak bisa ngomong sama kamu saat ini. Aku lagi sama Utami.”
“Jadi kamu setuju dijodohin sama Utami itu, Hans?” Pekik seorang wanita dari seberang telepon.
“Lidya, kamu tenang dulu. Kita kan sudah pernah ngobrolin hal ini. Aku nggak benar-benar menerima perjodohan ini.”
“Gimana bisa aku tenang saat ngeliat kamu kencan sama dia! Siapa namanya tadi? Tami? Tamia? Kayak mainan anak cowok aja!” Semprot Lidya. Emosinya tidak kunjung mereda.
“Namanya Utami, Sayang. Jangan gitu dong. Semua ini demi kebaikan kita berdua.” Hans menjawab selembut mungkin untuk menenangkan hati kekasihnya itu agar tak semakin merajuk padanya.
Lidya mendengus kasar.
“Kalau sampai aku dan Utami menikah, kamu dan aku aman sayang. Dan lagi bisnis ayah akan jatuh ke tanganku, kamu nggak mau kan kehilangan uang bulanan dari aku dan gaya hidup mewah mu itu? Hubungan kita nggak akan ada yang tau.” Hans melanjutkan penjelasannya.
“Aku nggak rela! Sampai kapanpun aku nggak rela membagi kamu sama wanita itu, Hans!” Rengekan Lidya semakin keras dari seberang telepon.
“Hei sayang dengarkan aku dulu. Aku janji tak akan menyentuh wanita itu! Aku hanya akan membuatnya jatuh dalam pesonaku dan menerima perjodohan sialan itu! Agar aku bisa mendapatkan hak waris tersebut dan ayah pasti akan sangat percaya bahwa aku mencintai wanita itu! Orang tua itu tak akan mengganggu kita lagi sayang, percayalah ini demi kebaikan kita berdua.”
“Janji?” Tanya Lidya memastikan.
“Tentu dong, orang yang aku cintai cuma kamu seorang.”
Lidya akhirnya setuju dan mematikan sambungan teleponnya. Hans menghembuskan napas lega lalu membalikkan badan dan terkejut melihat Utami sedang menatapnya dengan pandangan yang tajam.
“U-Utami?” Hans tergagap.
“Jadi kamu hanya memanfaatkan aku, Hans?”
“Kamu sudah dari tadi disitu?”
Utami tersenyum sinis. “Hm, aku sudah ada di sini sejak tadi. Sampai aku mendengar jelas semua rencana busuk kamu itu!”
Utami berbalik badan hendak meninggalkan Hans. Namun pria itu mencekal tangannya dan membuat langkah Utami tertahan.
Wajah Hans memucat. “Dengerin aku dulu, Utami. Aku bisa jelasin.”
“Jelasin? Jelasin apalagi? Semuanya sudah jelas. Kamu setuju dengan perjodohan ini hanya untuk kepentingan kamu saja. Sudah jelas kamu mempermainkan aku. Sekarang bagian mana lagi yang mau kamu tambal untuk menutupi kebohonganmu?”
Hans pun akhirnya membisu.
“Aku nggak nyangka kamu bisa sejahat ini? Padahal aku kira niat kamu tulus tapi ternyata–,” Utami bahkan tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Air matanya sudah ingin keluar dari pelupuk mata.
Sebelum air matanya mulai mengalir, Utami menyentak lengannya yang masih digenggam oleh pria itu dan berbalik meninggalkan Hans. Ia tidak ingin menangis di depan pria yang hanya memanfaatkannya demi keuntungan pria itu sendiri.
***