5. Sabar Ya, Pak Dud!

1047 Words
Sesuai yang dijanjikan oleh pria itu, saat ini Baskara telah duduk manis di hadapan kedua orang tua Utami. Pria itu ingin mengutarakan niatnya untuk meminang anak gadisnya Danu. “Jadi kedatangan, Nak Baskara kesini ada maksud dan tujuan apa?” Tanya Danu setelah sebelumnya mengenal pria muda di depannya ini dengan nama Baskara. Utami yang duduk berdampingan dengan Danu dan Laras disampingnya hanya bisa menundukkan kepala sambil menggenggam tangannya kuat. Untuk kedua kalinya ia merasakan momen menegangkan seperti saat dirinya akan sidang kelulusan pada masa kuliah dulu. Namun sekarang terasa lebih menegangkan lagi karena ini adalah penentuan yang paling penting dalam hidupnya. Akankah keputusannya kali ini membawakan kebahagian atau malah sebaliknya di dalam hidup Utami. “Saya ingin menikahi Utami putri Anda, Pak.” Jawab Baskara mantap. Pria itu melirik ke arah Utami yang juga sedang melihat ke arahnya. Danu menaikkan sebelah alisnya. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya ke arah Utami. Matanya tak putus memandang lurus pada Baskara yang masih bergeming. “Padahal Papa ingin menjodohkanmu lagi dengan Tito.” Danu tidak benar-benar dengan ucapannya. Pria setengah baya itu hanya ingin menguji bagaimana reaksi Baskara yang mengatakan ingin menikahi putri semata wayangnya. Utami melototkan matanya pada sang Papa saat mendengar ucapan pria setengah baya itu. “Papa! Tito, siapa lagi sih?” Bisik Utami. Mustahil Baskara tidak mendengar percakapan diantara mereka berdua apalagi di saat Danu mengatakan kalimatnya tadi. Baskara hanya bisa tersenyum tipis melihat interaksi antara anak dan bapak itu. “Tapi yang berniat untuk menikahi Utami saya, Pak.” Ucap Baskara dengan bangganya. “Sebelum saya membawa kedua orang tua dan keluarga saya untuk melamar Utami, saya meminta izin terlebih dahulu dengan, Bapak dan Ibu selaku orang tua dari Utami.” Lanjut Baskara menatap Danu dan Laras secara bergantian. Baskara tak merasakan gugup sama sekali beda dengan dahulu saat ia datang menemui orang tua Lira untuk melamar wanita itu. Mungkin karena pernikahannya dengan Utami tidak di dasari oleh cinta, makanya Baskara bisa lebih tenang menghadapinya. Pikir Baskara. “Maaf sebelumnya, Nak Baskara sudah bekerja?” Tanya Laras sungkan. Utami melototkan matanya pada Laras karena mempertanyakan pertanyaan seperti itu. Utami jadi merasa sungkan dengan Baskara, mau bagaimana pun Baskara itu bos dan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. “Sudah Buk, di kantor yang sama dengan, Utami.” Baskara menepati janjinya pada Utami untuk tidak memberitahu identitas dirinya yang sebenarnya kepada kedua orang tua Utami. Danu dan Laras hanya menganggukan kepalanya pelan. Ada satu hal lagi yang harus Baskara sampaikan kepada Danu dan Laras. Semoga mereka mau mengerti dengan kondisinya. Pria itu menarik nafasnya panjang. “Satu hal lagi yang perlu Bapak dan Ibu ketahui tentang saya. Saya sudah pernah menikah sebelumnya, pernikahan pertama saya harus berakhir karena satu dan lain hal yang tidak bisa Saya ceritakan sebabnya.” Hening. Setelah Baskara mengucapkan kalimat panjang tersebut tak ada satu orang pun yang bersuara termasuk Utami. Utami hanya sedang menyembunyikan kekhawatirannya, bagaimana kalau Danu menentang dan tidak bisa menerima status Baskara sebagai duda tanpa anak. “Ooh duda!” Seru Danu dan Laras kompak. Utami hanya bisa menepuk jidatnya ketika kedua orang tuanya secara bersamaan mengatakan Baskara seorang duda. “Sabar ya, Pak Dud!” Ucap Utami dalam hatinya. *** “Maaf ya, Pak. Orang tua Saya memang agak aneh kelakuannya.” Baskara menoleh sebentar ke arah Utami yang saat ini sudah duduk manis dibangku penumpang di sampingnya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah kediaman orang tua Baskara. “Nggak apa, Saya maklum. Namanya juga orang tua, khawatir melepas anaknya akan menikah sama orang yang mereka nggak kenal asal usulnya.” “Kamu, sudah siap ketemu sama Mami Papi Saya?” “Belum siap! Tapi mau nggak mau haruskan.” Jawab Utami lemas. Dia sedang memikirkan bagaimana reaksi kedua orang tua Baskara saat tahu anaknya menikahi sekretarisnya sendiri. Utami sudah sering bertemu dengan Mona jika wanita paruh baya tersebut datang ke kantor anaknya, untuk bertemu dengan bos besar alias Papinya Baskara hanya bisa dihitung jari saja. “Nggak usah takut. Mereka nggak doyan makan orang kok.” Baskara dengan candaannya yang datar. Baskara sempat mengira bahwa kedua orang tua Utami akan menolak dan menentangnya setelah pria itu mengungkapkan statusnya sebagai seorang duda. Namun ternyata mereka tak mempermasalahkan statusnya itu. “Tak apa, Nak Baskara. Utami, masih ada yang mau saja Saya sudah bersyukur. Dia sudah tua soalnya kalau masih milih-milih kebangetan sekali.” Ucap Danu pada saat itu. Danu akhirnya memberikan izin kepada Baskara yang berniat untuk meminang putri semata wayangnya. Pria setengah baya itu memberi izin kepada Baskara untuk segera membawa kedua orang tuanya dan melamar Utami secara resmi. *** Baskara memarkirkan mobilnya di halaman rumah kedua orang tuanya yang luas. Mereka telah sampai di kediaman mewah milik Nugroho Adi Pratama dan Mona Pratama. “Pak, nggak usah aja deh ya?” Tanya Utami ketika dirinya ragu untuk menemui kedua orang tua pria di sampingnya ini. Baskara mengerutkan keningnya menatap heran pada Utami. “Kamu jangan main-main ya, Utami!” Utami rasanya ingin menangis saja. Tampilan wajah memelasnya ternyata tak berpengaruh apapun bagi Baskara. “Ayo, buruan turun dari mobil.” Titah Baskara mutlak. Utami semakin merasa kecil hati saat mereka mulai memasuki rumah besar itu. Hatinya berdebar tak karuan, wanita itu mempersiapkan diri jika kemungkinan terburuknya adalah didepak dari rumah ini dan mungkin juga bisa berujung pemecatan dirinya. Karena telah berani-beraninya ingin menikahi anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. “Pak, pulang aja yuk! Saya takut.” Rengek Utami menahan baju Baskara yang berada di depannya. Utami tidak berbohong, dia benar-benar takut akan menghadapi Mami Papinya Baskara. “Utami.” Panggil Baskara mentapanya tegas. Wanita itu hanya bisa pasrah, toh dari awal dia juga sudah menyetujui rencana ini. “Mami Papi ada, Bik?” “Ada Den, sudah menunggu kedatangan, Den Baskara di ruang keluarga.” Jawab Bibi sambil mengantarkan anak dari majikannya ke ruang keluarga. Sedang Utami masih betah bersembunyi dibalik badan Baskara yang tinggi besar itu, bahkan pembantu rumah tangga yang menyambut mereka tadi tidak menyadari adanya kehadiran Utami dibelakang majikannya. “Papi, Mami.” Sapa pria itu ketika mereka telah tiba di ruang keluarga. “Hai, Son!” Mona mengalihkan pandangannya ke arah Baskara. Wanita paruh baya itu terlampau semangat menanti kedatangan sang anak yang katanya akan membawa seseorang. “Baskara, Mana? Katanya kamu bawa calon mantu buat, Mami?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD