Mona mengalihkan pandangannya ke arah belakang tubuh sang anak, ia dapat melihat ada seorang wanita yang sedang bersembunyi dibalik badan besar Baskara.
Baskara sedikit menggeser tubuhnya agar wanita dibelakangnya ini bisa terlihat dengan jelas oleh kedua orang tuanya.
“Oh, Utami ?” Tanya Mona terkejut melihat siapa yang dibawa Oleh anak sulungnya ini. Wanita paruh baya ini sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Utami.
Utami yang masih menunduk perlahan mengangkat kepalanya, wanita itu menggigit bibirnya kuat sambil memaksakan senyumnya.
“Selamat siang, Bapak, Ibu.” Sapa Utami gugup. Menganggukkan kepalanya perlahan.
Baskara tersenyum tipis melihat tingkah Utami yang terkesan malu-malu kucing. Pria itu merangkul bahu Utami dan sedikit mengelusnya.
“Kenalin calon istri, Baskara.” Ucap Baskara tanpa ragu.
Pria yang memiliki tinggi badan 188 cm itu menundukkan pandangannya menatap wanita yang ia sebut sebagai calon istri. Senyum manis terbit dari pria itu, sejenak Utami terpaku menyaksikan senyum yang sangat jarang sekali ia lihat dari sosok Baskara.
“Pak Bas, kalau dilihat dari dekat kayak gini ganteng banget! Calon suaminya siapa sih? Hihihi.” Kekeh Utami dalam hatinya.
Saat ini mereka berempat sudah duduk di posisi masing-masing. Utami duduk berjajar dengan Mona sedang Baskara duduk di depan wanita itu dan Nugroho berada di single sofa kebesarannya.
“Jadi calon istrinya, Utami? Sekretaris, kamu?” Tanya Mona menatap Baskara dan Utami bergantian. Utami mendadak tegang, ia menautkan jemarinya kuat. Baskara yang melihat kegelisahan Utami langsung membuka suaranya.
“Hm. Baskara maunya, Utami. Nggak ada yang salahkan? Mami minta menantu, sudah Baskara bawakan.” Ucap Baskara santai. Meskipun Baskara sudah berucap demikian tapi tak urung membuat perasaan Utami lega.
“Kamu yakin sama, Baskara? Anak saya duda loh.” Lagi Mona menanyakan keyakinan wanita yang ada di sampingnya ini. Mona tak ingin jika Utami hanya berniat main-main saja dengan anak sulungnya.
Utami mengerjapkan matanya beberapa kali, wanita itu menganggukkan kepalanya mantap.
“Mami. .” Tegur Baskara.
“Kamu, masih gadis loh! Nggak ngerasa rugi emang nikah sama duda?” Lanjut Mona seolah tak peduli dengan Baskara yang sudah menegurnya.
“Mona. .”
“Mami!”
Nugroho dan Baskara menegur wanita paruh baya itu secara bersamaan saat mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan kepada tamu mereka. Utami hanya bisa memaksakan senyumnya, ia pun bingung harus menjawab bagaimana.
“Mami cuman tanya doang.” Seru Mona memanyunkan bibirnya cemberut.
“Mami setuju kok. Ada yang mau sama, Baskara duda datar yang kalau ngomong kadang suka nyelekit aja Mami udah seneng.” Ucap Mona tersenyum tulus meraih tangan Utami dan menggenggamnya lembut.
“Nanti kalau anak Mami macem-macem sama kamu, bilang ke Mami, biar Mami karungin!” Lanjut Mona sambil melirik tajam ke arah anak sulungnya itu.
Utami hanya bisa senyum tersipu malu.
“Jadi kapan kita kerumah orang tuanya, Utami. Untuk melamar?” Tanya Nugroho menginterupsi Mona.
Baskara menyesap kopinya sesaat.
“Secepatnya, Pi. Semakin cepat semakin bagus.” Ucap Baskara santai.
***
Huufftt
Utami membuang nafasnya lega begitu mendudukan bokongnya di bangku penumpang mobil Baskara. Akhirnya Utami bisa sedikit bernafas lega setelah pertemuan dengan kedua orang tua pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya ini.
“Segitu tegangnya ketemu sama orang tua, Saya?”
Utami menghadap kearah Baskara menganggukkan kepalanya dengan bibirnya yang manyun. Baskara tersenyum tipis melihat wajah menggemaskan Utami.
Jika diingat-ingat Baskara mulai terlihat lebih sering tersenyum semenjak dirinya dan Utami semakin lebih dekat lagi setelah terjadi kesepakatan diantara mereka untuk menikah demi menyelamatkan diri masing-masing.
Baskara mengelus puncak kepala Utami, pria itu mulai menghidupkan mesin mobilnya dan fokus pada setir kemudi.
“Baru ketemu Mami Papi, gimana kalau liat hal yang lain?” Lanjut Baskara.
“Haaa? Ngeliat hal yang lain? Memangnya hal apa, Pak?” Tanya Utami tak mengerti maksud Baskara.
Baskara berusaha menahan senyumannya yang ingin terbit, pria itu hanya menggelengkan kepalanya yang tatapan tetap fokus pada kegiatan menyetirnya. Utami memanyunkan dan mengerutkan alisnya tak suka, sungguh Utami paling kesal menghadapi seseorang yang suka menggantungkan kalimatnya
“Pak, kayak-nya karena habis ketemu Mami Papi, Pak Baskara, Saya jadi laper banger deh,” Ucap Utami yang tak berbohong dengan ucapannya. Sepertinya energi wanita itu benar-benar terkuras habis menyiapkan diri bertemu dengan kedua orang tua Baskara.
Salah satu sudut bibir Baskara tertarik ke atas mendengarkan ucapan sekretarisnya yang tak akan lama lagi menyandang status sebagai istrinya.
“Terus kalau Kamu lapar, Saya, harus ngapain?”
Utami langsung mengalihkan pandangannya ke samping menatap Baskara, alis mata wanita itu mengkerut hebat.
“Dih! Apaan? Nggak peka banget, masih nanya lagi disuruh ngapain?! Ajak makan kek! Nyebelin banget.” Kesal Utami dalam hatinya.
“Nggak tau, nyedot wc kali.” Cicit Utami pelan membalas pertanyaan Baskara, yang masih bisa terdengar oleh pria itu.
Baskara tersenyum puas, di alihkan pandangannya sebentar pada Utami. Wanita itu sudah melipat kedua tangannya di bawah d**a dan pandangannya menatap ke arah jendela mobil. Pria itu sebenarnya hanya sedang ingin menjahili Utami saja, sebenarnya dirinya pun sama halnya dengan Utami, perutnya mulai terasa lapar mengingat ini pun sudah hampir mendekati jam makan malam.
“Ngambek?”
“Nggak. Mana berani ngambek sama bos sendiri”
“Calon suami, Utami!” Ucap Baskara mengoreksi ucapan Utami.
Baskara melirik sebentar pada Utami yang semakin menyudutkan badannya ke arah pintu mobil. Lagi lagi sudut bibirnya tertarik ke atas. Sedang wanita di sebelahnya itu melipat bibirnya dalam-dalam, sudah bisa dipastikan saat ini wajah Utami memerah seperti kepiting rebus. Punggung tangan kirinya menyentuh pipinya yang memanas.
“Ini beneran Pak Baskara Putra Pratama?! Si muka datar?! Dia ngegombalin kan ya barusan? Atau apa?! Aduh jantung gue gak aman nih!” Ucap Utami dalam hati.
Tak berselang lama mobil sedan putih tersebut berhenti didepan sebuah restoran nusantara yang menyajikan menu menu khas nusantara. Baskara memperhatikan Utami yang sepertinya tidak menyadari dimana mereka sekarang.
“Turun.”
Utami langsung mengalihkan pandangannya pada Baskara saat mendengar suara perintah dari pria di sampingnya itu. Wanita tersebut mengerutkan alisnya tak mengerti.
“Hm?”
“Katanya tadi laper?”
Utami memandang sekitar, benar saja mereka telah berhenti di sebuah resto. Matanya kembali memandang pada pria tampan di sampingnya ini, matanya mengerjap beberapa kali. Baskara menjulurkan tangannya mengusap puncak kepala Utami.
“Ayo turun, Saya, juga udah laper.”
Lagi lagi Utami harus menggigit bibir bagian dalamnya kuat, jantungnya berdetak tak karuan saat ini, sungguh dirinya tak siap menerima segala perlakuan manis pria itu, pria yang notabennya seorang bos di tempat kerjanya dan sialnya yang mungkin sebentar lagi akan di panggil suami olehnya. Baskara sudah melangkahkan kakinya keluar dari mobil, Utami segera mengikuti pria itu, tak ingin kembali kena omelan oleh Baskara karena sudah membuatnya menunggu.
Utami dan Baskara sudah memesan menu makan malam mereka berdua. Hening, tak ada yang berusaha membuka suara satu sama lain. Baskara memperhatikan wanita yang ada di depannya ini, pria itu bisa melihat bagaimana Utami berusaha untuk tidak melihat ke arahnya dengan seolah olah sedang memandangi lingkungan sekitar restoran yang menjadi tempat makan malam mereka.
“Utami,?”
“Hm, ya?” Jawab Utami yang menatap mata Baskara sebentar, namun wanita langsung memutuskan pandangan mata mereka. Baskara tersenyum tipis di buatnya.
“Kenapa?”
“Kenapa, kenapa apanya, Pak?” Utami masih berusaha untuk tidak menatap mata pria di depannya ini, entahlah melihatnya saja sudah membuat jantung Utami bernari-nari tak karuan di buatnya.
“Kenapa dari tadi menghindari natap mata, Saya?”
“E-enggak kok, nggak menghindar tuh!” Utami menjawab dengan menatap mata Baskara namun hanya sebentar saja, hanya sepersekian detik lalu kembali membuang pandangannya ke arah lain.
“Kamu, grogi?”
“Dih! S-siapa juga yang grogi!”
Baskara hanya bisa terkekeh kecil melihatnya. Obrolan mereka terhenti saat melihat pramusaji membawa beberapa pesanan makan malam Baskara dan Utami, dan menyusunnya di atas meja mereka. Utami tersenyum melihat hidang lezat yang siap memenuhi perutnya yang sudah keroncongan.
“Makasih, Mas.” Ucap Utami mengucapkan terima kasihnya pada sang pramusaji dengan senyuman.
“Sama-sama, Mbak, selamat menikmati.”
Baskara memperhatikan interaksi antara Utami dan Pramusaji itu dengan tidak suka.
“Kamu, manggil pria barusan, Mas?”
“Iya kan, laki-laki jadinya manggilnya ya Mas dong.”
“Sama Saya, manggilnya kenapa masih, Bapak? Kenapa tidak Mas juga?”
“Yakan, Bapak atasan Saya, Pak.”
“Saya calon suami Kamu, Utami! Masih kurang jelas?” Tanya Baskara tenang namun sorot matanya berkata lain.
“J-jelas, M-mas.”
Baskara tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya pelan. Utami bagaimana? Jangan ditanya, wanita itu diam tak berkutik. Pria yang selama ini hanya berbicara seupil dan tak banyak menampakkan ekspresi wajah, sekarang dihadapannya pria itu malah bertingkah sebaliknya. Tak ingin memikirkan tingkah dan sikap aneh atasannya itu, Utami langsung memulai kegiatannya menyantap ria bebek bakar yang telah di pesannya.
“Itu sudah nggak ada dagingnya, Utami. Ngapain masih di grogoti begitu?” Tanya Baskara yang aneh melihat wanita di depannya itu sedang menggerataki sisa tulang bebek dipiringnya.
“Justru disitu letak kenikmatannya, Pak.” Ucap Utami tak memperdulikan tatapan aneh dari Baskara.
Menyadari Utami kembali memanggilnya dengan sebutan Pak, membuat Baskara berdehem tak suka.
“Eh, Mas, Maksudnya hehe.” Ucap Utami dengan senyum nyengir kudanya.
Baskara dan Utami sudah menyelesaikan makan malam mereka. Saat ini sedan putih tersebut sedang membawa mereka ke rumah kediaman orang tua Utami, untuk mengantarkan wanita itu pulang. Tak ada yang berbicara sepanjang perjalan tersebut selain suara radio yang menemani perjalanan mereka. Utami hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai pada akhirnya manik hitamnya melihat pagar rumahnya yang sudah tidak jauh lagi dari jarak mobil mereka.
Mobil Baskara berhenti tepat di depan pagar rumah Utami, pria itu bersiap melepaskan seatbeltnya berniat untuk ikut Utami memasuki rumah dan berpamitan kepada Danu dan Laras.
“Bapak, Eh Mas, mau ngapain?”
Baskara mengerutkan alisnya tak mengerti. “Ikut Kamu masuk kerumah, pamit sama Papa Mama, Mu.”
“Nggak usah deh, ntar Papa sama Mama malah nahan, M-mas Bas, jadi pulangnya nanti makin kemaleman. Udah nggak apa, nanti Aku yang bilangin kalau, Mas Baskara buru-buru pulangnya dan tak sempat mampir.” Ucap Utami yang masih canggung memanggil Baskara dengan sebutan Mas.
Baskara mengurungkan niatnya dan kembali memakai seatbelt. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya paham. Utami sedikit canggung, haruskan dirinya berpamitan atau bagaimana. Wanita itu langsung membuka seatbeltnya dan pintu mobil, sejenak mengalihkan pandangannya menatap pada Baskara yang juga menatap pada dirinya.
“Makasih, Pak Baskara, sudah di antar pulang.”
“Hm, masuk gih sudah malam.”
Utami menganggukkan kepalanya dan membawa dirinya keluar dari sedan putih itu. Tangannya melambai kaku saat melihat mobil Baskara mulai mundur dan pergi dari hadapannya. Wanita itu menghela nafasnya lega. Entahlah seharian ini dia merasa tidak bisa bernafas dengan leluasa apalagi ketika hanya berdua dengan Baskara saja.
Utami telah menyelesaikan kegiatan bebersih diri. Saat ini wanita itu telah membaring tubuhnya di atas ranjang. Matanya mengerut kala melihat notifikasi di ponselnya yang datang dari sang majikan tempat ia bekerja yang tak lain adalah Baskara sendiri.
Pak Baskara CEO
“Selamat malam, Utami. Sampai bertemu besok di kantor.”
Bagaimana reaksi Utami saat menerima pesan singkat dari Baskara? Tentu saja full senyum, sudah bisa dipastikan malam ini wanita itu tidak bisa tidur hanya karena perkara pesan singkat yang dikirim oleh Baskara. Wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
“Hihi, ya ampun malu banget, berasa balik abegeh lagi!” Ucap Utami menutupi wajahnya dengan kedua tanganya.
***