Telepon PABX di meja kerjanya berbunyi, terlihat dari lantai dasar yang tengah menghubungi wanita berusia 29 tahun itu. Utami mengerutkan alisnya, ada apa pihak resepsionis meneleponnya? Perasaan Baskara tidak sedang ada janji dengan siapapun, jadwal pria itu hari ini full di kantor saja. Namun tak urung membuat panggila tersebut menunggu, lantas langsung saja wanita berlesung pipi tersebut mengangkat panggilan telepon itu.
“Selamat siang, dengan Utami, ada yang bisa di bantu?”
“Siang, Ibu Utami. Maaf, Bu, ini ada seorang pria yang ingin bertemu dengan, Ibu Utami. Saya tanya apakah sudah ada janji sebelumnya, tapi beliau bilang tidak membuat janji dengan, Bu Utami sebelumnya. Saya tidak kasih izin buat memberitahu beliau ruangan, Ibu, tapi pria tersebut terus memaksa Saya untuk menghubungi, Bu Utami.”
Alis wanita yang dipanggil Utami tersebut makin mengkerut kuat. Siapa yang ingin bertemu dengannya? Apakah Danu? Tapi biasanya pria setengah baya itu pasti akan mengabarinya terlebih dahulu sebelum ingin menemuinya di kantor, tapi ini sang Papa sama sekali tidak ada menghubunginya.
“Saya, tidak merasa ada janji dengan siapapun hari ini, Siapa ya pria itu? Bisa tanyakan siapa namanya?”
“Baik, Bu, sebentar. Saya tanya dulu,,,Bu pria tersebut menyebutkan namanya sebagai Hans Setiawan. Bagaimana, Bu?”
Raut wajah Utami berubah marah seketika. Untuk apa lagi pria itu hendak menemuinya? Terlebih lagi di kantor seperti ini. Bukankah sudah jelas? Mereka tidak akan melanjutkan perjodohan sialan itu! Utami masih merasakan sakit hatinya dengan kebohongan pria itu yang ingin memperalat dirinya sebagai pengeruk harta warisan kedua orang tua pria itu. Tangan Utami menggenggam kuat gagang telepon PABX tersebut. Dadanya bergemuruh hebat hanya dengan mendengar nama pria b******n itu.
“Katakan padanya kalau Saya sedang tidak berada di kantor, satu hal lagi, jangan beritahu ruangan, Saya.”
“Baik, Bu. Akan Saya sampaikan pada, Beliau.
“Terima kasih, Putri.”
“Sama-sama, Ibu Utami.”
Utami memejamkan matanya sesaat, wanita itu berusaha menenangkan dirinya sendiri. Hans, pria itu tidak boleh mengacaukan harinya. Cukup sudah bersinggung dengan pria b******n seperti dirinya, Utami tak akan lagi memberi pria itu kesempatan untuk mendekati dirinya. Utami tidak menyadari kedatangan seseorang ke meja kubikelnya.
“Kenapa, lu?”
Nama yang dipanggil itu pun terkejut, Utami menaikkan alisnya kebingungan. Wanita itu menggelengkan kepalanya kecil. Utami mengerutkan alisnya saat melihat teman sejawatnya pada masa kuliah dulu sudah berada di hadapannya.
“Oh? Ah, nggak apa, kenapa? Tumben ke lantai 10?” Tanya Utami pada seseorang yang telah berdiri di depan meja kerjanya.
“Ini, nih, kasihin ke bos Lu. Beberapa berkas perlu di tinjau oleh, Beliau.” Ucap Prasetya sambil menunjukkan dan menyerahkan sebuah berkas pada Utami. Utami pun menganggukkan kepalanya paham.
“Oke baiklah, nanti Gue antar ke, Beliau. Ada lagi?”
“Idih syombong banget Ibu Sekretaris ini! Ntar makan siang dimana? Bareng lah, yuk, udah lama banget Lu nggak makan bareng kita di kantin lantai 4,” Ajak Prasetya pada Utami.
Utami memukul pria di hadapannya ini menggunakan berkas yang tadi di bawa oleh Prasetya.
“Apaan sih lu, Pras! Bukan sombong, kadang tuh gue nggak bisa seenaknya makan di luar gitu tuh, mentok-mentok di pantry lantai 10. Kalaupun bisa pasti kalau bos memilih lunch di luar, kalau sama-sama di kantor terus gue makan di luar, bisa berabe urusan. Kalau si bos butuh sesuatu terus gue nggak ada di tempat bisa-bisa kena omel ntar gue sama si ono noh,” Jawab Utami sambil mengarahkan dagunya ke arah ruangan Baskara berada.
“Hahaha nasib lu deh, Bu Sekre. Dah ah gue cabut, kabari aja ntar, titip tuh!” Ucap Prasetya sambil menepuk pundak Utami dan menunjukkan jari telunjuknya pada berkas yang berada di tangan wanita di hadapannya ini.
“Siap!”
Lagi lagi telepon PABX di atas mejanya berbunyi, sang penelepon datang dari dalam ruangan yang berada di depan meja kubikelnya. Lantas saja Utami segera mengangkat panggilan dari bosnya yang tak lain adalah Baskara.
“Si-,”
Belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya sudah lebih dulu di potong oleh Baskara.
“Kerja, Utami. Jangan menggosip!”
Utami melototkan matanya tak percaya, apa Baskara melihatnya saat berbincang sebentar bersama Prasetya beberapa saat lalu? Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah ruangan Baskara, terlihat dari dinding kaca ruangan nya pria itu dua jarinya sedang diarahkan kepadanya seolah sedang mengatakan ‘Eyes on me!’
Utami menghela nafasnya kasar, semenjak kedekatan mereka dengan niat akan menikah dengan tujuan menyelamatkan diri masing-masing. Baskara semakin menunjukkan dirinya yang menurut Utami sangat sangat menyebalkan.
“Siap, Pak Baskara Putra Pratama.” Ucap Utami sambil memaksakan senyumannya menatap pada pria yang berada di sebalik dinding kaca tersebut.
***
“Sialan! Utami Pasti sedang berbohong padaku, wanita itu tidak mau menemuiku ternyata?! Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja, Utami! Rencanaku belum seluruhnya terlaksana, Aku harus bisa kembali meyakinkan dirinya! Aku akan berdiri disini menunggunya sampai jam pulang kantor, dengan begitu dia bisa melihat perjuanganku dan kembali luluh padaku.” Ucap pria yang bernama Hans itu dengan senyuman jahatnya.
Hans memutuskan untuk menunggu hingga kepulangan wanita itu. Hans bertekad untuk membawa Utami kepada pelukannya kembali, semua ini terjadi karena waktu itu dirinya mengangkat telepon dari sang kekasih. Jika saja dia memilih untuk mengabaikan panggilan telepon dari Lidya yang membuat Utami mengetahui semua rencananya, pasti rencananya tidak akan gagal seperti ini.
Sementara itu di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Utami tengah membawakan secangkir kopi panas ke ruangan Baskara atas permintaan pria itu. Utami sudah memasuki ruangan Baskara, namun pria itu masih saja fokus dengan pekerjaan yang berada di depan matanya, bahkan Utami tak di hiraukan sama sekali oleh Baskara.
“Kopi panasnya, Pak.”
“Hm.”
Utami mendenguskan nafasnya kasar sambil memutar bola matanya malas.
“Sama-sama, Pak.” Ucap Utami yang seketika membuat Baskara mengangkat pandangannya dari komputer beralih kepada Utami.
“Makasih atas kopinya, Utami.”
“Pak, Saya izin ya nanti makan siang di lantai 4, pekerjaan sudah nggak ada yang urgent kok, tapi kalau Bapak butuh Saya sewaktu-waktu Saya bakal gerak cepat!”
“Makan siang bersama, Saya.”
“Memangnya kenapa harus sama, Saya makan siangnya?” Tanya Utami.
“Jangan membantah, Utami. Ikut apa kata Saya tanpa tapi.”
“Pak, tapi Saya udah janji dengan teman-teman buat makan siang bareng, Pak.” Ucap Utami dengan memelas, berharap Baskara memberikan izin padanya.
“Nurut sama calon suami, Utami!”
Utami menyerah, wanita itu memilih mengikuti keinginan Baskara. Toh mereka masih di kantor yang artinya titah bosnya masih harus ia ikuti.
“Kan masih calon,” Cicit Utami pelan yang ternyata masih bisa didengar oleh pria itu.
“Saya masih bisa mendengarnya, Utami.”
Utami hanya mengedikkan bahunya santai. Memilih untuk mendudukkan bokongnya di salah satu sofa yang terdapat di ruangan Baskara. Utami segera memesankan menu makan siang untuk mereka berdua.
***
Saat ini wanita yang bekerja sebagai sekretaris Baskara itu tengah menunggu taxi online yang telah dipesannya. Utami menolak tawaran Baskara untuk ikut pulang bersama pria itu, Utami tak ingin menjadi bahan gosip untuk mereka mereka yang bermulut lemes ketika melihat seorang sekretaris pulang satu mobil bersama majikannya.
“Utami!”
Utami tersentak saat ada yang menarik lengannya dan semakin terperangah melihat siapa orang yang baru saja memanggil namanya dan meraih lengannya itu. Manik hitam milik Utami menatap garang pada pria tak sopan yang sembarangan menyentuh paksa dirinya ini.
“Mau apa lagi, Kamu?”
***