Kepastian

1909 Words
"Ban gue bocor Ed!". "Terus?". "Bilangnya aja kemaren, gue sayangnya elo, tapi apa munafik". "Gue sayang sama Samara gue bukan elo". "Yang Lo maksud itu gue Edwin, gue Samara elo yang dulu". "Enggak, elo cuma Samara pegawai papa gue, cewek ambisius yang nggak punya hati". "Elo yang buat gue kaya gini Edwin, elo cowok paling jahat yang pernah gue kenal!", Samara mematikan panggilan telvonnya lalu menendang ban mobilnya yang bocor keempat-empatnya. *** "Loh Ed, kok kamu udah pulang?", tanya pak Lewis yang kaget melihat Edwin sudah berada dirumahnya. "Anak pulang bukannya seneng, malah ditanyain gitu!, Sini sayang duduk sama mamah". "Mama buat teh sana, ini anaknya pingin teh anget hujan-hujan gini", perintah pak Lewis yang sengaja ingin berbicara pribadi dengan putranya. "Samara gimana?", Pak Lewis menarik turunkan alisnya menggoda putranya. "Papa bener-bener ya!", Edwin tau maksud dari ayahnya hanya geleng-geleng kepala. "Tapi tadi kamu anterin kan Ed?". "Nggak, ngapain bocornya di kantor ini banyak yang nolongin!", jawab Edwin santai. "Ehh siapa bilang, papah nyuruh orang bocorinnya di luar kantor kali!". "What?", Edwin membulatkan matanya. "Jadi Samara sekarang, argh papah!". Edwin mengambil ponselnya lalu menghubungi Samara. Edwin menghembuskan nafasnya kasar saat panggilan Samara sedang berada di panggilan lain. Jangan bilang dia lagi telfon petugas pajak itu", batin Edwin. "Edwin, sini kamu!", Mama Farah menghampiri Edwin dengan langkah lebarnya. "Kamu kurang ajar ya, Samara minta tolong, kamu nggak mau, pacar macam apa kamu itu hah?", Omel ibu Farah. Edwin melirik ke arah ayahnya yang ikut terkejut dengan Omelan istrinya. "Samara telvon mama?, Dia dimana mah, aku jemput sekarang". "Nggak perlu!", Bu Farah meninggalkan Edwin begitu saja lalu mencari sesuatu di almarinya. "Mah, Samara dimana mah, aku jemput, bilang dong mah", rengek Edwin tapi tak ditanggapi oleh ibunya. **** "Mbak aku pulang aja deh, hatchu". "Enggak Ra, kerumah mama papa dulu, biar diobatin mamah, kamu flu berat gitu, rumah mama Deket kok!". Samara tidak bisa menolak saat, Clarisa mengajaknya untuk ikut kerumah orang tua Edwin sore itu. Clarisa bertemu Samara saat dia akan mengunjungi orang tuanya, dan saat dijalan dia melihat Samara berada di trotoar sedang berteduh, sedangkan mobilnya tak jauh dari tempat itu. Merasa mendapat kesempatan untuk membalas Edwin, Samara mulai membuat cerita yang sangat-sangat memprihatinkan, dan Edwin adalah tokoh antagonis disana. Mobil Clarisa akhirnya masuk ke halaman rumah orang tuanya, dan di teras sudah terlihat ibu Farah berdiri menunggu. Ditangan wanita itu sudah ada handuk untuk calon menantu impiannya. "Sini cepet mbak Risa!", Ibu Farah segera menyelimutkan handuk pada punggung Samara. "Aduh sayang, maafin anak mama ya, kamu jangan sedih ya!", Ibu Farah memeluk Samara untuk masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh pembantunya. "Itu mamah sudah siapin air hangat, kamu bersih-bersih bentar, dan pakai baju ini ya!", Samara mengangguk dengan perintah ibu Farah. Lalu wanita paruh baya itu, keluar ke dapur dan memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan makanan untuk Samara, sedangkan dia sendiri pergi ke bufet tempatnya menyimpan obat-obatan. Lalu memilih beberapa, dan dia letakkan ke meja makan. "Mah!". "Diam kamu!", Bentak ibu Farah saat Edwin memanggilnya. "Mama, itu Samara nggak bisa minum tablet, dia bisanya sirup rasa apa aja selain jeruk", ibu Farah melirik sebentar kearah obatnya, lalu kembali ke bufet obat miliknya dan memilih beberapa obat untuk Samara lagi. "AHA, di kacangin mama, kacian adek ku tayangggg!", Goda Clarisa pada adiknya. "Mbak Risa, coba dilihat Samaranya udah belum, diajak kesini kalau udah", titah ibu Farah yang di angguki Clarisa. Clarisa pun segera menemui Samara dan Mengajak gadis itu untuk ikut bergabung di meja makan. "Ayo sayang sini makan dulu, nanti makan obat ya biar nggak sakit", ibu Farah mendekati Samara dan menarik kursi untuk Samara. "Makan sup ya, biar anget?", ibu Farah menuangkan sup dan nasi pada mangkuk didepan Samara. "Eh kamu masih menggigil ya, mama suapin ya!", tawar ibu Farah saat memegang tangan Samara yang ternyata bergetar. "Weh engg enggak usah mah, aku bisa kok", tolak Samara lembut. "Mah, biar yang membuat kaya gini tanggungjawab mah, nggak gentle banget!", sindir Clarisa untuk adiknya, namun tak disangka pak Lewis ikut tersindir dengan kalimat itu, bagaimanapun ban bocor itukan rencananya, meskipun hujan dan Edwin yang tidak peka adalah Rancana Tuhan. "Edwin ayo suapin, kalau sama mama pasti Samara nggak enak!", titah Ibu Farah pada Edwin. Langsung saja Edwin menggantikan ibu Farah duduk di samping Samara. "Makan ya!", Bisik Edwin. "Minta maaf dulu!", Samara ikut berbisik. "Kenapa?", Jawab Edwin. "Nangis nih", ancam Samara. "Nggak akan!", Bisik Edwin lagi. "Mama", kali ini Samara memanggil ibu Farah manja. "Eh kenapa sayang?", Ibu Farah menoleh kearah Samara dengan khawatir. "Nggak papa mah, samara cuma mau bilang enak makanannya", Edwin yang menjawab pertanyaan ibunya. "Maaf, puas!", Edwin kembali berbisik. "Buka mulut buruan!". "Yang lembut kenapa sih Ed, panggilnya kaya dua hari yang lalu", samara mencebikkan bibirnya. "Idih manja", Edwin menahan tawanya. "Buka mulut sayang, akkkk!", perintah Edwin dengan lembut namun suaranya dapat didengar oleh keluarganya. "Mau teh itu!", Samara menunjukkan teh yang ada didepannya dengan dagu. "Pake sendok ya, panas banget ini", Edwin meniup teh di sendok yang dia pegang lalu mengarahkan ke mulut Samara. "Idih pencitaraan banget!", Cibir Samara namun tetap menerima teh dari Edwin . "Emang yang bisa pencitraan kamu aja hem?, Edwin menyentil kening Samara. Clarisa dan kedua orang tua Edwin hanya tersenyum melihat interaksi antara kedua orang itu, "duh berasa dunia milik berdua ya, yang lain mah ngontrak", sindir Clarisa. Samara dan Edwin tersenyum dan melanjutkan kegiatan mereka hingga akhirnya sup di mangkok itu tandas tak bersisa. Dan terakhir Edwin memberikan obat dengan perasa strawberry ke mulut Samara. "Istirahat biar enakan Ra, besuk ke kantornya biar bareng sama papa ya!", tawar pak Lewis saat melihat Samara selesai makan. Samara hanya mengangguk patuh kepada pak Lewis, karena memang kondisinya hari ini sangat tidak baik. Edwin mengantarkan Samara ke kamar tamu dan menyelimuti gadis itu hingga batas dada, lalu duduk disamping Samara dan mengecek suhu tubuh Samara lewat dahi gadis itu. "Udah tidur dulu, gue keluar!". "Ed tunggu", Samara meraih tangan Edwin yang akan berdiri untuk tetap duduk disampingnya. "Kenapa berubah?", tanyanya. "Gue belum jadi Spiderman tuh", Edwin melihat pada dirinya sendiri. "Nggak lucu, udah pergi sana!", Ketus Samara, namun tetap menggenggam tangan Edwin. "Yang kaya gini di suruh pergi?", Edwin menunjuk ke arah tangannya yang digenggam Samara. "Edwin kenapa elo berubah, elo bilang gue sayangnya elo, tapi apa?, cuma gara-gara gue tonjok heh, terus jadi gini, cupu banget sih Lo Ed, elo kan juga jago bela diri pasti tonjokan kaya gitu nggak ada rasanya juga kan?". Rengek Samara pada Edwin. "Ra, bukannya elo yang berubah?, gue kaya nggak kenal sama elo yang sekarang". "Itu bukan jawaban Edwin". "Yang kaya gini Ra, Samara gue bukan pemaksa". "Elo berubah Ed, elo beda, gue nggak suka", Samara mencebikkan bibirnya. "Gue tanya sekarang, gue beda gimana?", Edwin menatap mata Samara. "Elo udah nggak sayang ke gue, elo cuekin gue, dan elo nggak butuh gue lagi". "Sekarang jawab lagi pertanyaan gue, emang elo sayang juga ke gue, elo nggak cuekin gue, dan elo butuh gue?", Edwin semakin menatap lekat ke Samara. "Gu gue, nggak nyuekin elo!", Samara terbata saat mengucapkan itu. "Lo cuma menyangkal satu pertanyaan Ra, dan dua pertanyaan yang lain gue anggep jawabannya nggak, right?", kesimpulan yang diberikan Edwin sukses membuat Samara kelimpungan. "Lo tau Ra, gue cinta sama elo dari dulu kita masih di Betrich, rasa itu nggak pernah hilang, coba bayangin, gue cuma nyimpen rasa ini sendiri tanpa balas, gue cuma dapat penolakan dari elo, apa iya gue sebodoh itu untuk tetap bertahan, setelah penolakan itu". Samara bangkit dari tidurnya, dia menghela nafas pelan lalu melihat ke manik mata milik Edwin, "gimana gue mau cinta sama elo Ed, kalau setiap gue udah terbuai melayang ke awan, dengan se enak jidat, elo hempasin gue ke got. Lo inget saat Lo bilang kalau gue bukan apa-apa dibanding cewek-cewek yang ngantri buat elo didepan temen-temen elo saat kita masih di Betrich, padahal saat itu elo memperlakukan gue bak orang spesial, sakit hati gue Ed, sampai gue minta pindah dari sana karena gue nggak sanggup. Yang kedua, elo inget saat kita kuliah, dengan yakinnya elo minta gue buat nunggu elo di kampus karena elo mau ngasih gue kejutan, dan ternyata kejutannya adalah elo pergi selamanya, elo tau enggak rasanya Ed?". Samara mengusap air di pipinya dengan kasar, "dan sekarang elo tanya, gue sayang atau enggak ke elo, gue butuh elo atau enggak?". "Seharusnya elo bisa menjawab pertanyaan elo itu dari rasa sakit dan kecewa gue ke elo yang sedalam ini Ed, dan untuk pertanyaan terakhir elo, ", Samara menjeda kalimatnya. "Bukannya gue nggak butuh, hanya saja nggak mau bergantung sama elo, karena gue tau kapan aja elo bisa campain gue se enak jidat elo!". Edwin diam dan menatap samara erat, sedangkan wanita itu, menatap ke depan tanpa melirik sedikitpun pada Edwin. Matanya masih terlihat basah dan wajahnya terlihat sangat dingin, terlihat raut kecewa dari hembusan nafas yang sesekali dia lakukan. "Tapi gue selalu menyatakan rasa itu ke elo Ra, dan respon Lo, elo seperti nggak minat ke gue, gue bisa apa?", kilah Edwin setelah lama diam. "Hello Edwin, gue cewek biasa kali, Lo taukan kamus cewek kaya gimana, kita itu nggak bisa lugas kaya kaum elo, apa yang kita pikir sering berbanding terbalik dengan yang kita ucapkan ke cowok", Samara memutar bola matanya dan memukul lengan Edwin dengan kesal. "So?", tuntut Edwin. "So apa?". "Oke, oke gue tanya sekarang, elo cinta nggak ke gue, Lo butuh gue nggak?", Tuntut Edwin dengan mengulum senyumnya. "Lo pikir aja sendiri Edwin!", jawab Samara dengan wajahnya yang merah padam merasa terjebak dengan pertanyaan Edwin. "Lo pikir aja sendiri Edwin, itu kebalikannya apa coba, gue stres cari jawabannya", Edwin terkekeh melihat ekspresi wajah Samara. Samara membuang mukanya dari Edwin, lalu memejamkan matanya untuk mengurangi kegugupannya. "Hei, lihat gue!", Edwin menangkup wajah Samara dengan tangannya, lalu menatap lekat manik mata gadis itu. "Mati gue", umpat Samara dalam hati, saat melihat mata coklat milik Edwin. "Gue cinta sama elo Ra, elo mau jadi pendamping gue?", Jleb, kata-kata itu langsung saja menancap ke dada Samara. Bibirnya melebar karena tak percaya apa yang dikatakan Edwin itu. "Gu, gue, gue nggak tau!", jawab Samara dengan terbata. Langsung saja Edwin melepas tangan nya dari wajah Samara, "tuh kan selalu kaya gitu, elo maunya ngegantung gue Samara, gue terus yang menyatakan cinta dan elo yang cuma nggak jelas gini, gue capek!". "Ya elo tiba-tiba gini, gue nggak siap jawabnya", jawab samara dengan cepat, sungguh jantungnya baru saja tak beraturan. "Tinggal elo jawab, iya atau tidak, bukan yang lain, arggh", Edwin berdiri dari tempat duduknya. "Lo itu selalu kaya gitu, dan endingnya gue yang salah, elo emang egois Ra, elo,, ". "Oke iya gue mau!", Jawab Samara dengan cepat dan sukses membuat Edwin berhenti berbicara. "Apa Ra, Lo bilang apa?", Edwin kembali duduk di samping Samara. "Au ah gelap!", Samara kembali tidur lalu bersembunyi dibalik selimut. "Ra Lo tadi bilang apa heh?", Edwin berusaha menarik selimut dari tubuh Samara. "Apa sih Ed, nggak ada siaran ulang". "Elo harus jelasin dulu, Lo tadi bilang iya kan, itu tadi beneran atau nggak, kata Lo cewek nggak pernah bilang yang sebenarnya, come on Ra!". "Yang elo denger, yang sebenarnya, udah titik, pergi sana gue mau tidur", jawab Samara masih dibalik selimutnya. Edwin terkekeh lalu meninggalkan Samara dengan senyum yang tercetak di wajah tampannya, "oke kamu istirahat sayang, pengen cium ihhhhh". "Berani Deket, aku patahin tangan kamu!". ************ Tadaaaaaaaaa Aku butuh kepastian Kejelasan Hubungan kita Aku mau semestinya Kau dan aku jadi satu ???? Song Kepastian by Aurel Hermansyah. Jadian nih si SamaRed, uhuy, gumushhhh. Vomen ya gaes.. maafkan typo. Lope u.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD