One

1609 Words
"elo!, Lo ngapain disini?". "Nemenin calon istri". "Ohhh, siapa?". "Cewek dengan blouse Navy". Samara melihat tubuhnya sebentar, "dalam mimpi Lo". Edwinpun terkekeh kecil melihat raut wajah Samara. "Mbak, yang perlu aku tanda tanganin yang mana aja, aku tinggal aja ya, ntar dititipin Kila aja kalau Depositoku udah jadi", permintaan samara diangguki oleh petugas Koprasi yang memang sudah mengenal Samara dengan baik karena telah menjadi Anggota mereka yang cukup aktif dan lumayan lama. "Buru-buru banget sih mbak, padahal mau cerita-cerita dulu lho", "Maafin ya, tiba-tiba panas banget ada dedemit kayaknya di dekat aku mbak, oke aku permisi ya!", Pamit Samara sambil pergi meninggalkan tempat itu. Edwin yang merasa gemas dengan gadis itu segera bangkit untuk menyusul Samara yang ternyata sudah menyalakan alarm untuk membuka mobilnya. Sontak saja Edwin segera berlari dan ikut masuk lalu duduk di kursi penumpang disamping driver. "Ngapain?", Bentak samara "Duduk". Edwin tersenyum manis. "Keluar!". Bukannya keluar dari mobil sport milik Samara, Edwin justru memasang sabuk pengaman ditubuhnya. "Orang gila!", Samara membuka pintu lalu keluar meninggalkan Edwin dan mobilnya begitu saja. "Loh, ara, kemana?", Edwin menyusul Samara yang sudah berjalan menyusuri trotoar jalan. "Hei, ceritanya mau jalan kaki aja nih, so sweet juga!", Dengan wajah sok manisnya, Edwin mensejajarkan langkahnya dengan Samara. Samara menghentikan jalannya, lalu menghentakkan kakinya karena kesal, "Lo kenapa sih, gue itu cuma mau me time , gue mau santai, gue mau happy, gue mau sendiri, arrgh". "Kan aku jagain kamu, we time aja ya, aku janji nggak bikin kamu BT deh Baby". "Iyuhhhhh, baby kepala Lo geser", jawab Samara lalu berlari meninggalkan Edwin yang masih mengikuti. "Hancur rencana gue hari ini, gara-gara itu alien satu, argggh". Samara mendumel kesal, " ok gue tau!". Samara menyebrang jalan untuk masuk ke Klinik kecantikan yang memang menjadi langganannya sejak beberapa tahun terakhir. Sebenarnya Samara menjadwalkan dirinya untuk ke klinik itu di sore hari. Namun dia berfikir untuk mengunjungi saat ini, agar Edwin meninggalkan dia karena bosan menunggu perawatannya yang akan butuh waktu hampir empat jam. " Mau ditemenin ke Klinik kecantikan baby!". Edwin ikut masuk ke tempat itu. "Mbak aku mau treatment paket komplit mbak, buruan mbak". Pinta Samara kepada petugas pendaftaran. "Baik kak, ditunggu dulu ya, kami siapkan peralatannya dulu". Jawab petugas itu ramah. Edwin menepuk sofa biru yang ia duduki, "duduk sini baby!". "Ogah!", Ketus Samara, lalu dia memilih tempat duduk yang jauh dari Edwin. Edwinpun mendekati Samara di lalu duduk disampingnya, "diajak duduk disana yang empuk nggak mau, malah disini". "Jauh-jauh Lo", seperti biasa samara memberi ancaman dengan tangan mengepal nya. "Sayang jangan gitu donk, aku kan jadi makin cinta", jawab Edwin yang tersenyum manja dengan tingkah gadisnya. Sedangkan Samara, dia hanya memutar bola matanya malas. "Sayang!", Samara dan Edwin melihat kearah suara yang jelas ada di belakang mereka. "Mamah", seorang gadis yang berusia sekitar tujuh belas tahun terlihat syock lalu berlari ke arah sebaliknya. "Siapa?", Tanya Samara aneh, sedangkan Edwin hanya tertawa garing dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tak lama ada seorang wanita paruh baya, yang masih cantik dan seorang wanita dewasa berumur sekitar empat puluhan tahun yang sama-sama mengenakan stelan jas putih khas dokter. Mereka keluar bersama gadis tujuh belas tahun yang tadi mengagetkan mereka dan anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun. "Edwin!", Panggil seorang wanita paruh baya yang mengenakan stelan jas putih. "Mampus Lo, mertua elo kan itu, yang sebelahnya istri Lo, itu yang baby kecil anak Lo, oke selamat, gue nggak ngikut ya", Samara mengukir senyum di wajahnya puas. Dengan Edwin yang sedari tadi hanya menutup wajahnya dengan satu tangannya namun masih terlihat jelas bagi siapa saja yang melihatnya. "Kamu sama siapa Ed, tadi kata Sabila kamu manggil cewek, sayang?", Tanya wanita itu lembut. Edwin hanya nyengir kuda, "kenalin mah, ini Samara pacar Edwin". "Mah?, Maksudnya,,,", Samara terdiam sejenak, "What Pacar!", Gadis itu kaget menyadari perkataan laki-laki disampingnya. "Iya iya, dia bukan pacar Edwin mah", Samara terlihat lega dengan kalimat Edwin, eitts tapi tak lama, "Dia calon istri Edwin mah", gubrak. Samara menginjak kaki kiri Edwin dengan kuat, "kok aunty injek kaki om Ed", tanya sikecil Welly yang memiliki paras kebulean. Samara melepaskan kakinya dari Edwin, "Aunty nggak sengaja sayang, kamu namanya siapa?", Tanya Samara ramah sambil mengulurkan tangannya pada baby Welly. "Aku Welly!", Jawabnya singkat dengan nada yang menggemaskan. "Ihhh, gemesin banget sih kamu, boleh cium?", Samara ikut menggunakan nada menggemaskan Welly. "Boleh", jawabnya lagi. "Oke, sini!", Samara mengambil tubuh Welly lalu mencium pipinya gemas. Lalu menurunkan tubuh gembul itu lagi. "Ohiya bu, saya Samara, kebetulan saya karyawan pak Lewis, dan pak Edwin ini sering datang ke kantor jadi kami saling kenal, tapi kami tidak memiliki hubungan apapun, memang pak Edwin senang sekali bercanda seperti itu". Samara menjabat tangan Ibu Raisa sambil menjelaskan dirinya. Dia juga menjabat tangan Clarisa dan Sabila. "Sayang nggak usah ditutupi sih, mama pasti juga setuju, iyakan mah?", Edwin menaikan alisnya. "Pasien Atas nama Samara Nadine Narendra", suara perawat seolah menjadi penyelamat dari kekesalan Samara pada Edwin pagi itu. "Oh mau treatment ya Samara?", tanya ibu Raisa lalu ikut mendekati perawat yang memanggil nama gadis itu. "Sus tolong kasih perawatan yang terbaik ya, dia calon mantu saya!". Perintah ibu Farah yang diangguki Perawat itu. "Argh!", samara mendengus kesal mendengar penuturan ibu Raisa kepada pegawainya. "Saya duluan bu, mbak Clarisa, Sabila dan Welly aunty duluan ya!", Pamit Samara yang di angguki mereka semua.. "Sayang aku nggak dipamitin nih, oiya mau ditungguin sih ya?", Edwin menunjuk dirinya sendiri, lalu menyugar rambutnya pelan. Samara hanya diam lalu melewati Edwin yang memainkan alisnya. Four hours letter "Semoga itu kunyuk satu udah enyah dari sini, Ya Allah mimpi apa gue semalem, mau ngehindar dari tu manusia, ehh malah masuk kesini ketemu keluarganya". Gumam Samara, dia berjalan pelan sambil mengedarkan pandangannya berharap Edwin tidak ada disana. Samara bernafas lega, karena ternyata Edwin sudah tidak ada di lobby klinik itu, diapun melangkah santai meninggalkan klinik kecantikan yang ternyata milik keluarga edwin itu. "Udah selesai sayang, gimana puas?", Samara terdiam saat keluar dari klinik kecantikan itu, di depan pintu sudah ada Ibu Raisa, Clarisa dan Sabila dan satu lagi mereka mengobrol disamping mobi Rubicorn yang didalamnya ada laki-laki yang paling Samara hindari. Itu tadi suara ibu Raisa yang membuat samara hanya melongo. "Kok bengong, gimana sayang?, Ulang bu Raisa lagi. Samara mengangguk dan tersenyum, "Puas bu". "Seneng deh kalau gitu, ayo sana udah ditunggu Edwin itu, katanya mau jalan bareng", ibu Raisa menarik tangan Samara menuju mobil Edwin. "Edwin buruan dibukain pintunya donk", Clarisa ikut menyahut saat melihat Edwin menatap Samara kagum. "Eh, iya ayo sayang", Edwin turun dari mobilnya lalu menggandeng Samara mengitari mobilnya. "Silahkan masuk My queen!", Bisik Edwin. "Awas Lo ya!", Balas Samara kesal. Namun dia tetap saja masuk kedalam mobil Edwin. Yah gimana mau nolak coba, disana ada ibu Raisa yang notabenenya istri dari pak Lewis yang tak lain adalah Bosnya di kantor. "Kita duluan ya semua", pamit Edwin dan Samara hanya memandang kepada mereka lalu mengangguk sebagai tanda pamitnya. "Lo turunin gue di gedung itu, mobil gue ada disana!", Perintah Samara yang tidak digubris Edwin. "Ehhh, berhenti nggak!, Gue bilang berhenti, hey". Samara berteriak di telinga Edwin. "Aduh, kalau telinga aku sakit gimana coba sayang?", Edwin menutup telinga kirinya dengan bahu kirinya. "Gue mau turun!, Kenapa sih elo ganggu kehidupan gue yang tenang, gue itu capek dari Senin sampai Jumat kerja full seharian, otak gue mumet dan penuh, gue cuma mau seneng-seneng sendiri tanpa ada yang ganggu, tapi elo emang kampret ganggu hidup gue!", Samara menghentakkan kakinya sebal. "Sayang, aku cuma mau nemenin kamu, aku nggak ganggu sayang, aku mau jagain kamu my love", Edwin menatap Samara sekilas lalu fokus memperhatikan jalan. "Lo tuh argggh", Samara menatap Edwin kesal. Sedangkan Edwin hanya tersenyum kecil. Samara memalingkan wajahnya untuk menatap jalan melalui kaca jendela mobil itu. "Sayang, kita kemana ini?", Tanya Edwin karena bingung akan mengarahkan mobilnya kemana. "Lo yakin mau nemenin gue?, Gue lama lho!". "Apa sih yang enggak buat kamu sayang!", Gombal Edwin yang membuat Samara memutar matanya kesal. "Nih, TDL gue hari ini", Samara menunjukkan catatan kecil miliknya yang berisi kegiatannya hari ini. Weekend TDL 1. Deposito Koperasi ✓ 2. Beli jam tangan 3. Beli cincin 4. Nonton 5. Lux lunch 6. Shoping time 7. Spa facial manja✓ 8. Go home "Kok yang nomer tujuh udah di check list", tanya Edwin. "Gara-gara elo, kalau mau tau". "Ohhh, so sekarang beli jam tangan kan, dimana ini?".Edwin bertanya lagi. "Nomer dua sampai enam ada di Retro grand Mall", jawab Samara malas. "Oke deh sayang, let's go!", Teriak Edwin senang. "Berhenti didepan!", Perintah Samara lagi. "Enggak!", Edwin tidak menghiraukan keinginan samara. "Kok nggak berhenti", Samara memukul lengan Edwin. "Mundur nggak, buruan!". "Apa sih sayang, aku kan mau nemenin kamu". Rajuk Edwin. "Mundur nggak, buruan, gue marah nih!", Ancam Gadis itu. "Iya". "Stop di situ", Samara menunjukkan stand booth minuman yang menjadi favorit gadis itu. "Buka pintunya, gue mau beli minum". "Ohh, kirain". Edwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sayang aku greentea aja, pake es kaya biasa". Edwin berteriak posesif dari dalam mobilnya agar memancing perhatian pelanggan disana. "Busyet, kaya toa tuh orang", gumam Samara, "mas red Velvet Satu sama greentea satu", Samara mengorder pesananya. Tak lama kemudian, Samara kembali masuk kedalam mobil Edwin lalu memberikan minuman dengan perasa greentea kepada Edwin. Dia pun segera menikmati minuman itu. "Sayang, tusukin sedotannya donk!", Pinta Edwin manja. "Ihh, manja banget sih, nihhh", Samara memutar bola matanya dengan malas setelah menyerahkan minuman pada Edwin. "Makasih sayang, eh tapi aku minumnya gimana?". "Mangap buruan, ihhh", Samara membantu memegang gelas milik Edwin dengan malas. "Makasih sayang, makin cinta dehhhh", Edwin menaikkan alisnya. Hai hai, Alhamdulillah banget cerita baru aku udah up ya gaes.. Bab 1 done. Tolong like dan vote ya, kalau baca. Doain bisa up tiap hari pemirsa... Love you
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD