Seven

2043 Words
Edwin merebahkan dirinya pada ranjang king size yang ia pesan untuk malam ini. Sebenarnya ini tidak bisa dibilang malam, karena hari telah berganti dan jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Edwin mengambil benda pipih disakunya. Membuka aplikasi chatting yang sering dia gunakan, lalu menyusuri deretan kontak dan berhenti pada nama yang dia beri icon tanda hati . Ada rasa rindu kepada satu nama itu, Samara Nadine Narendra. Gadis yang dia cinta hingga kini telah menjadi wanita dewasa. Dialah orangnya, seseorang yang mencuri hatinya sejak belasan tahun yang lalu. "Hai, kok belum tidur?". Edwin segera mengetikkan kalimat itu saat melihat status online dibawah nama gadis itu. "Mata, mata siapa mohon maap". Edwin tersenyum geli melihat balasan dari gadisnya. "Mata Abang ya dek?". "Buset, berasa dangdut gue!". "Hatinya dangdutan karena chat Abang ya dek?". "Go a hell aja deh Lo, Bangsul". "Peace, kok belum tidur?", Edwin mengulangi pertanyaannya. "Baru kelar liat film gue, Lo sendiri?". "Abang terharu dek, adek perhatian gini", Edwin menambahkan icon mata berkaca-kaca. "Ebusettt, PD banget seh, dari club' lo ya, tau gue sih!". "Abang dari rumah temen dek, nggak ada club' juga disini, kota kecil gini!". "Emang elo dimana?". "Aku di Klaten, Jawa tengah ada urusan bentar". "Bohong, kapan berangkat emang?". "Tadi jam sembilan". "Kurang kerjaan banget". "Abang tau adek rindu". Samara mengirimkan rekaman suaranya, "Dasar sarap", dengan nada yang memekikkan telinga. "Tidur, besuk kerja!". Edwin ikut mengirimkan suaranya. Dan lalu mendapat jawaban "Hem", dari gadisnya. Edwin tersenyum melihat riwayat chat yang dia kirim untuk gadis itu. "You always be mine Samara". Gumamnya. Edwin lalu menatap ke arah langit-langit kamarnya untuk malam ini. Bayangannya melambung pada belas tahun yang lalu saat dirinya masih berseragam SMP. Edwin mendudukkan dirinya pada kursi taman dekat dengan kelasnya. Matanya tak sengaja melihat gadis berseragam putih merah berdiri di depan pintu utama untuk memasuki gedung Betrich Accademy. Suasana cukup lenggang saat itu karena saat itu waktu menunjukkan pukul tujuh lebih lima puluh lima menit, yang artinya tinggal lima menit lagi sebelum jam pertama dimulai. Wajah gadis itu menunduk tak percaya diri, sesekali dia mendongak membaca sesuatu lalu kembali menunduk seolah tali sepatunya sangat menarik. Edwin mengikuti gerak gadis itu, dan sepertinya dia akan menuju tempat Edwin duduk. Benar saja, gadis itu dengan langkah pelan dan wajah yang menunduk menghampiri Edwin di tempat duduknya. "Emm, ma-ma-maaf kak, mau tanya ruang tata usaha dimana ya?". Gagap gadis itu dengan wajah yang masih menunduk. Edwin hanya diam tak menjawab sedikitpun pertanyaan gadis itu. Dia hanya ingin gadis itu melihat wajahnya yang kata orang tampan. Benar saja, tak lama gadis itu mengangkat wajahnya, "maaf kak, ruang tata usaha dimana ya?". Edwin tersenyum saat melihat gadis itu kembali menunduk, "kamu ngomong sama siapa heh?". Gadis itu tampak tersentak kaget melihat pertanyaan dari Edwin, "sa sa sama kakak". Masih dalam mode menunduk. "Hei, kalau hicara itu lihat orangnya!". "I-iya kak!". Jawab gadis itu lalu mengangkat wajahnya. "Hem, ikuti gue". Jawab Edwin lalu berjalan didepan gadis itu. Si gadis hanya mengekor pada Edwin sampai akhirnya ketika Edwin menghentikan langkahnya, kepala gadis itu menabrak punggung kokoh Edwin. "Aaaelah bocah, lu nunduk sepanjang jalan, ada apa emang di kaki Lo?, nih ruang tata usahanya!". "Ma maaf kak, makasih kak!". Jawabnya lagi. "Hem", jawab Edwin lalu meninggalkan gadis itu. * * * Beberapa hari kemudian, Edwin sedang menikmati teh berperisa green tea yang ia pesan dari kantin sekolahnya. Sesekali dia tersenyum dengan teman-teman nya di Genk the lion. Genk cowok most wanted di SMP Betrich, bahkan kadang anak SMA dan SD di Betrich pun ada beberapa yang cukup mengidolakan Genk itu. Tak sengaja Edwin melihat kegaduhan di sepanjang koridor kelas elementary yang setara dengan SD di sekolah itu. Matanya mengerjap beberapa saat ketika melihat gadis yang beberapa hari lalu meminta tolong kepadanya. Gadis berbadan gempal dengan kacamata kotak dan rambut acak-acakan itu terlihat dikelilingi oleh beberapa siswi SD yang lain, mereka terlihat mempermainkan sebuah buku yang Edwin yakini milik gadis itu, mereka melempar kesana-kemari, dan gadis itu berusaha menangkapnya, namun usahanya gagal dan berakhir dengan tersungkurnya gadis itu kelantai. Lalu terdengar suara tertawa yang membahana di sepanjang koridor. "Mau kemana Lo Ed?", Tanya Rashel melihat Edwin yang sepertinya ingin meninggalkan meja mereka. "Itu, di elementary lagi ada pembullyan!". Jawab Edwin dengan lantang. "Emang apa peduli elo hah!". Tanya Rashel lagi penasaran. "Kasian bego, cewek itu!". "Biasa juga elo bully orang, ini berlagak kasian, cih!". Kali ini Nathan yang ikut berbicara. "Au ah gelap, gue mau kesana, kasian". Edwin berlari menuju kerumunan itu. Para siswi di level itu memperhatikan Edwin yang tengah berjalan mendekati kerumunan itu, lalu Edwin menghentikan aktivitas bullying itu. "He, ada apa ini?", Suara Edwin memecahkan suasana yang riuh itu seketika. Semua wajah melihat ke arah Edwin. Edwin meraih tangan gadis yang masih terduduk.dibawahnya, lalu menarik gadis itu ke bangku yang ada di taman, " lo itu ngelawan kenapa sih kalau di kaya gitu in!". Edwin mengusap kasar wajahnya lalu ikut duduk di samping gadis itu. "Ta tapi mereka ,a aku nggak", gagapnya lagi. "Apa heh, apa, mereka apa?". Edwin memandang wajah gadis itu, yang membuat gadis itu semakin menunduk sambil meremas tangannya sendiri. "Gini ya, elo nggak usah takut sama mereka, elo itu harus berani, kalau mereka jahatin elo, elo bilang aja ke guru oke!". Samara tiba-tiba mendongakkan wajahnya dan memandang siswa di sampingnya, Edwin melihat mata hazel itu berbinar meski terhalang kaca mata. "Kakak kaya aunty Sania yang aku temuin kemarin". Katanya dengan senyuman yang memperdalam lesung pipi di kedua pipinya. Edwin tersenyum sesaat terpesona dengan senyuman gadis di sampingnya, "eh maksudnya?", Katanya saat sadar dari lamunan. "Kemarin pas teman-teman ngerjain aku di depan sekolah, ada aunty Sania namanya, dia bilang persis kaya kakak itu". Jawabnya dengan senyum yang memperlihatkan gigi kelincinya yang rapih. Edwin semakin terkesima dengan gadis itu, wajahnya yang penuh dengan jerawat itu terlihat sangat cantik bila di pandang dengan seksama, "kamu cantik". kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Edwin. Samara terkekeh geli mendengar kalimat Edwin, "kakak orang nomor dua setelah aunty Sania yang bohong sama aku karena bilang aku cantik". Edwin tersenyum, "oiya, aunty kamu itu bilang kamu cantik juga?, kok kamu bilang bohong, kenapa?". "Ya emang kalian bohong, nggak ada satu orangpun yang bilang aku kaya gitu, mereka bilang aku jelek malahan". Gadis itu terkekeh geli saat mengucapkan itu, rasa malu dan mode menunduk nya hilang seketika. "Eh nggak mungkin donk, seenggaknya mama papa kamu bilang kamu cantik kan?". Gadis itu semakin terkekeh mendengar kalimat Edwin yang benar-benar sama dengan kalimat aunty Sania. "Lagi, kalian benar-benar sama!". "Oiya, apanya?" Edwin semakin bingung saat melihat gadis itu tertawa. "Aunty Sania bilang , seenggaknya mama papa aku pasti bilang aku cantik". Jawabnya masih dengan senyuman di bibirnya. "So, benerkan KITA bilang, pasti mama papa kamu bilang kamu cantik?". "Mama papa nggak pernah bilang aku cantik ataupun jelek, entahlah mungkin mereka nggak enak untuk bilang sebenarnya". Terang gadis itu dengan senyum manisnya. "Elo jangan insecure gitu bocah, Lo harus ngehargain diri elo sendiri sebelum orang lain hargain elo". Ceramah Edwin siang itu. Sigadis kembali pada mode menunduk nya, membuat Edwin menggeleng sebal. " Dimulai dengan pandang kedepan, bukan kebawah!". Edwin menegakkan kepala gadis itu. "Gue Edwin, kelas delapan junior!", Edwin mengambil tangan gadis itu mengajak berjabat tangan. "A aku Samara, kelas empat elementary, a aku siswa baru". Samara dengan malu membalas jabatan tangan kakak tingkatkan itu. "Good, lihat kedepan oke!". Lanjut Edwin lagi. Sejak saat itu, Edwin selalu mengunjungi Samara dikelasnya saat jam istirahat. Siswa siswi di level itu cukup segan dengan Edwin yang notabenenya adalah ketua Genk Lion, jadi melihat kedekatan itu mereka tidak berani lagi untuk merundung Samara. Dari saat itupun Edwin melihat perubahan yang terjadi pada gadis kecil itu, mulai dari tubuh samara yang mulai berubah dari gempal menjadi lebih ideal, kaca mata yang senantiasa di kenakan Samara dia tanggalkan karena gadis itu menjalani pengobatan untuk mata minusnya yang belum seberapa, lalu rambutnya yang asal-asalan di cutting menjadi model Bob yang sangat sesuai dengan wajah oval miliknya. Satu lagi jerawat yang menghuni wajah gadis itu pelan-pelan meninggalkan wajah Samara, dan menampakkan wajah menawan gadis itu. Tiga tahun berlalu akhirnya Edwin sudah duduk di kelas sebelas Senior dan Samara duduk di kelas tujuh junior. Saat itu tidak seperti biasa, dengan berani Samara datang ke gedung Senior untuk menemui Edwin. Gadis itu mengedarkan matanya pada koridor kalas yang akan dikunjunginya, tak sengaja Samara melihat Edwin yang sedang sibuk dengan teman-teman nya. Dan gadis itu mendekati mereka,. "Dasar elo pedofil, suka bocah ingusan Lo Ed", kata Nathan saat itu. "He jaga mulut Lo, gue nggak suka sama Samara kali!". Jawab Edwin yakin. "Haduh tiap jam istirahat kesana ngapel, itu Lo bilang nggak suka?, Muna Lo!". Lanjut Rashel yang sebelumnya tertawa. "Geblek, gue cuma kasian dia itu dibully, kalau dia jadi temen gue kan, nggak akan ada yang bully". "Oiya, percaya deh, lagian kalau elo Suka sama tu bocah, itu Asyilla, Donita, Seren sama Kalisa mau elo taruh dimana heh?". Nathan berjalan lalu jongkok disamping Edwin. "Hey, mereka selalu dihati gue, Samara sih nggak ada apa-apa nya buahahaha". Ledakan tawa Genk Lion menggelegar di hati gadis itu. Samara yang membawa makanan untuk Edwin berbalik arah lalu berlari kekelasnya. Namun sebelumnya tanpa sengaja Edwin melihat Samara yang telah berlari meninggalkannya, namun untuk mengejar gadis itu rasanya tidak mungkin karena teman2nya. Dan sejak saat itu Samara selalu mengacuhkan Edwin yang selalu datang untuk menemuinya. Hingga suatu hari, Edwin mendengar Samara telah berpindah sekolah tanpa berpamitan dengannya. Flashback off * * * Edwin menghela nafasnya panjang saat mengingat kejadian belasan tahun yang lalu, hal yang terbodoh yang pernah dia lakukan hanya karena malu mengakui perasaannya pada gadis ingusan. Fikirannya berkelana saat dia menemukan Samara untuk kedua kalinya pada masa lalunya. Flashback Edwin membaca buku yang baru saja dia pinjam di perpustakaan kampusnya, dia mengusap matanya beberapa kali saat melihat Samara baru saja datang lalu menghilang di deretan rak khusus buku manajemen. Sontak, dia langsung menghampiri gadis itu, "Samara". Panggilnya. Gadis itu menoleh, lalu membeku seketika. "Elo, ngapain Lo disini?". Tanyanya dengan tatapan yang dingin. "Gue, lagi cari bahan buat skripsi, elo kuliah disini juga?", Tanya Edwin dengan antusias. "Menurut Lo?". Jawab gadis itu lalu meninggalkan Edwin. Edwin melangkah lebar berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Samara, "jurusan apa Ra?". "Buat apa Lo tau hah?", Samara memutar bola matanya malas. Edwin merasakan hawa dingin dan tak bersahabat dari Samara, namun hatinya mengatakan untuk tetap mendekati gadis itu. "Ya kan kita dulu kenal Ra, dekat juga kan?". "Ha ha ha", Samara seolah tertawa, " gue nggak merasa dekat tuh, pergi Lo!". Samara mengibaskan tangannya seolah mengusir Edwin. Edwin terdiam sesaat melihat samara yang sangat acuh padanya dan malah fokus pada rak bukunya, sampai seorang gadis memanggil namanya. "Honey, kamu disini ternyata", Samara melirik kearah Edwin saat mendengar suara seorang gadis yang sepertinya mendekati Edwin. Dan benar saja gadis itu mengapit lengan Edwin manja. Samara memutar bola matanya lagi, "iyuhhhhh", lirihnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Beberapa saat kemudian, Edwin mengunjungi fakultas manajemen, yang kemungkinan besar samara ada disana. Mengingat gadis itu kemarin mendatangi rak buku bertema manajemen. Dan benar saja Samara menyesap red Velvet miliknya di ujung taman gedung fakultas manajemen sambil melihat laptop miliknya. Melihat gadis yang dicarinya ada disana, Edwin langsung saja menemui gadis itu. "Hai Ra", sapa Edwin mengejutkan samara yang tengah menyesap red Velvet miliknya. "Kenapa Lo disini?". Tanya Samara saat melihat Edwin didepannya. "Cari kamu Ra!". Jawab Edwin seperti biasa. "Hei Samara", sapa dua orang gadis, yang mendekati Samra. "Hei sesil, anggun", sapa ramah dan hangat Samara. Samara berbincang sesaat dengan teman-teman nya, hingga mereka meninggalkan samara. Beberapa kali gadis itu bersikap manis dengan setiap orang yang menyapanya. Sedangkan saat berhadapan dengan Edwin, sikapnya berubah menjadi ketus dan dingin. "Lo bisa manis dengan mereka dan ketus sama gue Ra?", Edwin menunjuk ke hidungnya. " Orang muka dua kaya elo nggak perlu di baikin", jawabnya masih ketus. "Oiya, kalau gue muka dua ,elo apa hah". Balas Edwin . "Serah gue lah, muka muka gue juga". Samara meninggalkan Edwin setelah menutup laptop miliknya dan memasukkan ke tas punggungnya. Edwin memandang punggung Samara yang semakin menjauh. Hatinya terasa panas melihat Samara begitu mengacuhkannya. "Samara kecil gue". Senyumnya menandakan tekadnya yang ingin mendapatkan hati gadis itu lagi. *. *. *. Waw amazing banget bisa nulis sampai 2000 kata.. Dukung dengan vote tulisan ini ya.. Hug you. Write, edit and publish on, 10- 15 Juni 2021.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD