Sebuah Konsekuensi

954 Words
Pagi hari penuh ketegangan sempat Helena rasakan, pasalnya semalam ia di interogasi oleh kakak tertuanya Adam. Adam yang penuh intimidasi dan ketegasan nyatanya benar-benar tak mampu Helena kelabuhi sama sekali dan pada akhirnya ia terpaksa menceritakan segalanya pada pria itu. Sekarang keduanya sedang berada di ruang makan untuk sarapan pagi dengan Jason yang ikut bergabung disana atas perintah Adam. Suasana tegang jelas sekali Jason rasakan karena ia tahu sendiri bagaimana sikap seorang Adam yang sangat tegas dan keras. "Kakak sebenarnya mau membahasnya tapi... Tapi kamu udah dewasa dan udah bisa mengambil seluruh keputusan, kalau emang itu keputusan kamu maka kakak akan menghormatinya." Tutur Adam pada Helena. Namun tatapan tajamnya sejak tadi tak lepas dari Jason. Semalam Helena benar-benar sudah memohon-mohon pada Adam supaya tidak menyalahkan Jason atas semua kejadian yang menimpanya. Adam sebenarnya sudah ingin menghajar bodyguard kepercayaan ayahnya itu namun hal itu urung ia lakukan karena menghormati keputusan adiknya. Apalagi sebentar lagi Jason akan menikah dengan Marina atas perintah Adiyaksa. "Makasih kak!" Gumam Helena dengan senyuman tipis kearah Adam. Pagi ini sebenarnya ia sangat tidak berselera makan, Helena merasa stres dan tertekan dengan keadaannya. Ia butuh mamanya, namun ia juga tidak ingin membuat seisi rumah menjadi gaduh karena kehamilannya. Biar cukup Adam saja yang tahu. Helena sudah memastikan jika ia akan pergi ke Berlin dan menetap disana selamanya setelah ia mengurus masalahnya di Jakarta. "Setelah ini kakak akan antar ke rumah sakit, kamu kelihatan nggak sehat." Mendengar perkataan Adam, sontak membuat Jason langsung menatap kearah nonanya, rasa cemas seolah langsung menyergap perasaannya namun segera ia cegah dengan begitu sempurna. "Aku nggak nafsu makan, aku benci masakan Marina." Melihat sup daging dengan aroma kuat didepannya rasanya membuat Helena ingin muntah. "Makanan apaan ini? Aku jijik!" Pyar! "Helen!" "Aku nggak kuat-" Setelah menjatuhkan piring dan membuat seluruh makanan berserakan di lantai, Helena pun buru-buru pergi ke kamar dan Adam pun segera menyusulnya. Jason yang melihat itu tentu saja sangat terkejut, namun pria itu selalu bisa menutupi rasa terkejutnya dengan tenang. "Astaga mas, ada apa? Kenapa sama makanannya?" Tanya Marina dengan nada terkejut bukan main, ia mendengar suara pecahan piring dan langsung menghampiri Jason. "Nona sedang tidak fit, dia tidak berselera makan." Jelas Jason seraya membersihkan pecahan kaca bersama dengan Marina yang turut membantunya. "Kayaknya bukan karena itu deh mas, segitu nggak sukanya nona sama mas, dan sekarang nona juga ikutan nggak suka sama aku. Nona nggak biasanya kayak begini, tapi akhir-akhir ini nona jadi makin dingin sama aku." Ujar Marina dengan wajah memelas. "Jangan berpikiran macam-macam." Tukas Jason. "Setelah kita menikah, lebih baik kita tinggal di rumah kita sendiri aja mas. Aku beneran nggak nyaman kalau kita tinggal disini." Pinta Marina. "Kita bisa membahasnya nanti, tidak untuk saat ini." "Mas tuh kenapa sih sebenarnya? Mas kayak berubah banget sekarang sama aku, mas sebenarnya mau nggak sih nikah sama aku?" Marina tampak kesal, sedangkan Jason kini hanya bisa menghela nafas jengah. Siapa bilang dia mau menikah? Dia hanya dipaksa untuk menghormati keputusan tuannya. "Saya periksa nona dulu!" Pamit Jason meninggalkan Marina yang tampak semakin kesal dibuatnya. "Mas Jason mas! MAS!" Seruan Marina bahkan sama sekali tak digubris oleh Jason, pria itu tetap melangkah menuju kamar nonanya tanpa mempedulikan panggilan Marina. *** Adam menunggui sang adik, menemaninya mengeluarkan seluruh isi perutnya di dalam toilet kamar milik Helena. Ayah dua anak itu tampak begitu perhatian memijit-mijit tengkuk adik perempuan kesayangannya itu. Ia prihatin, tentu saja. Bagaimana tidak, adiknya hamil, bahkan hamil anak Jason, suatu hal yang begitu miris untuk ia ingat-ingat. "Ayo!" Adam menarik tangan Helena. "Enggak aku nggak mau, aku baik-baik aja, kakak nggak perlu cemas kayak gini." Tolak Helena seraya mendongakkan wajah pucatnya. "Asal kamu tau ini bukan masalah kecil, ini masalah besar Helen." Tegas Adam dengan penuh rasa kesal. "Aku tau kak." "Kalau udah tau, harusnya kamu bertindak tegas! Jangan biarkan Jason seperti orang t***l dengan tidak memberitahunya apa-apa, jangan biarkan dia lepas tanggung jawab gitu aja! Masa depan kamu masih panjang, bahkan kamu belum sempat mewujudkan cita-cita kamu, dan sekarang..." Adam tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. "Aku sanggup besarin dia sendirian." "Bullshit! Jangan mengada-ada." "Aku serius kak! Aku udah dewasa." "Lalu dengan kamu yang bertambah dewasa lantas kamu bisa menanggung semuanya sendirian ha? Kamu itu sedang membesarkan anak manusia, bukan anak anjing Helena!" "KAKAK!" "APA? MAU BICARA APA KAMU HA? Dengan hal seperti ini aja kamu udah buat malu, andai papa tau, akan sehancur apa dia, reputasi keluarga kita hancur karena kamu coreng dengan masalah ini." Adam sebenarnya tak tega memarahi adiknya, namun ia juga merasa kesal dengan keadaan ini. Kenapa harus Helena yang hamil anak Jason? Kenapa bukan Marina saja. "Maafin aku kak, maaf..." Helena kembali menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku hiks, waktu itu aku nggak sadar kalau ada yang ngerjain aku, lalu Jason datang nolongin aku, entah kenapa aku bisa tiba-tiba tidur sama dia, aku bener-bener nggak inget sama sekali." Jelas Helena dengan sesenggukan. "Kakak sebenarnya nggak masalah kalau orang itu adalah Jason. Tapi masalahnya, sebentar lagi Jason akan menikah sama Marina." "Kak, pernikahan mereka berdua akan tetap berlangsung, aku nggak akan dan nggak akan pernah nuntut tanggung jawab Jason. Aku... Aku akan pergi... Hiks, aku akan tinggal sama nenek." "Lalu kamu? Gimana sama nasib kamu ha? Gimana sama kamu Helena?" Adam membalikan tubuhnya, tak kuasa menatap kerapuhan sang adik. Sungguh ia tidak tega. "Aku... Aku akan tanggung semuanya sendirian, karena ini semua salah aku, aku akan terima seluruh konsekuensinya." Tutur Helena dengan nada bergetar dan penuh keraguan. Tentu ia merasa amat ragu karena sebelumnya ia bahkan belum pernah menghadapi masalah besar sendirian. Mendengar itu, Adam pun mengepalkan kedua tangannya. Lalu setelah itu segera beranjak meninggalkan kamar sang adik. Tetapi alangkah terkejutnya ia, ketika membuka pintu kamar Helena. Disana ada Jason yang tengah berdiri tegap seraya membawa secangkir minuman. "Jason..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD