Hanya Pelayan

1028 Words
Adam sempat terkejut bukan main saat melihat Jason yang berdiri tegak didepan pintu kamar Helena. "Bagaimana nona tuan?" Pertanyaan Jason langsung membuat Adam merasa amat lega. "Ah... I-itu, ya yah..." Adam bahkan sempat merasa gugup namun segera mampu menguasai diri. "Helen baik-baik aja. Aku tidak perlu membawanya ke rumah sakit. Dia hanya sedikit lelah." Imbuh Adam. "Syukurlah tuan, saya membawakan minuman hangat untuk nona." "Ya, baguslah. Biar a-" Drrrttt... Adam tak melanjutkan ucapannya karena ponselnya tiba-tiba saja berdering. Panggilan tersebut berasal dari sekretarisnya yang artinya sangat penting dan tentu saja Adam harus buru-buru mengangkatnya. "Ada telepon, sebentar! Kamu masuk aja!" Adam pun buru-buru meninggalkan kamar Helena. Jason sempat tertegun ketika Adam menyuruhnya masuk ke dalam kamar Helena. Pria tampan itu jelas tidak mungkin melakukannya, tapi jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sangat khawatir dengan kondisi Helena. "Nona!" Panggil Jason yang pada akhirnya masuk ke dalam kamar bernuansa biru laut tersebut. Mendengar suara bariton yang sangat ia kenal, tentu saja membuat Helena benar-benar terkejut bukan main. Ia lantas langsung menoleh kearah Jason yang tengah berjalan kearahnya. "Ada apa?" Tanya Helena dengan nada dingin, bahkan setelah itu ia memalingkan wajahnya karena melihat kehadiran Jason. Hal itu tentu saja membuat Jason merasa agak terganggu, padahal ia tak punya hak sedikitpun untuk merasakannya. "Saya membawakan minuman." Jason lantas meletakkan secangkir teh daun sereh yang ia buat sendiri diatas laci kecil dekat ranjang Helena. Ada rasa canggung dan tegang yang mereka berdua rasakan, namun bukan Jason namanya jika tidak mampu menutupi seluruh perasaan itu. "Makasih." Ungkap Helena acuh. "Saya bisa memesankan makanan diluar jika nona tidak berselera memakan masakan Marina." Ujar Jason. "Nggak perlu, aku nggak mau makan apapun hari ini." Helena mencoba mengetes Jason rupanya, ia sedang menggali perhatian pria itu, entah mengapa ia malah nekad mencobanya. Ia berharap Jason akan memberikannya perhatian yang lebih. Oh Tuhan, apa Helena memang sudah sebodoh ini mengharapkan seorang Jason? "Baiklah jika begitu, saya permisi dulu nona!" Jason tiba-tiba pamit undur diri, dan hal itu membuat Helena langsung mengepalkan kedua tangannya. "Jason!" Panggil Helena tiba-tiba membuat langkah Jason terhenti. "Iya nona?" Pria bertubuh tegap itu lantas membalikkan badannya menatap sang nona. "Udah semingguan aku nggak lihat Jery main kesini, apa dia sakit?" Tanya Helena. "Tidak nona, Jeremy baik-baik saja." "Lalu?" "Saya sengaja melarangnya datang kesini lagi." Deg Jantung Helena seolah berhenti berdetak. "Kenapa Jas?" "Nona sebaiknya anda tidak perlu lagi berhubungan dengan putra saya, maaf jika saya terpaksa menjauhkan kalian berdua tapi ini semua demi kebaikan Jeremy." Jelas Jason membuat hati Helena seperti tersayat-sayat. Padahal ia sudah begitu menyayangi Jeremy, Jeremy sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, sejak usia Jeremy lima tahun hingga lima belas tahun seperti sekarang, Helena adalah saksi hidup bocah tampan dan menggemaskan itu. Oleh sebab itu ia tentu saja merasa sangat sakit hati ketika Jason berkata seperti itu padanya. "Apa maksud kamu Jas? Aku nggak ngerti apa salah aku sehingga kamu nggak ngebolehin aku untuk berhubungan sama Jery lagi." Tekan Helena. "Nona tolong mengerti, sebentar lagi saya akan menikah dengan Marina, saya hanya tidak ingin membuat Jeremy bergantung pada siapapun terutama pada nona. Jeremy sudah semakin dewasa dan dia bukanlah anak kecil lagi. Dia juga harus paham tentang perbedaan kasta dan status diantara nona dan dia, sampai kapanpun saya adalah pelayan nona, seseorang yang ditugaskan untuk menjaga keluarga Adiyaksa. Jeremy dan nona harus tau batasan-batasan, karena sampai kapanpun status sosial kita tetap bagaikan langit dan bumi." "Tap-" "Saya permisi dulu nona!" Sahut Jason sembari bergegas meninggalkan kamar Helena dan menutup pintunya. Setelah keluar dari kamar tersebut, pria itu tampak menghembuskan nafas beratnya sebelum kembali beraktivitas untuk menjalankan tugas-tugasnya. "Kh!" Sedangkan di kamar Helena tampak tersenyum masam, hingga airmatanya kembali jatuh tanpa ia sadari. "Status sosial katanya?" *** Di sebuah sekolah swasta, seorang remaja laki-laki yang masih duduk di bangku kelas satu SMA tampak duduk termenung seraya menatap langit siang yang terasa begitu panas menyengat. Jeremy yang biasa dipanggil dengan panggilan Jery oleh Helena. Bocah itu tampak melamun mengingat masa-masa indahnya bersama sang nona. Jeremy tentu sangat menyukai Helena yang baik hati dan selalu perhatian padanya. Rasa suka terhadap seorang anak yang merindukan kasih sayang seorang ibu, itulah yang Jeremy rasakan terhadap Helena. Bukan rasa suka terhadap laki-laki kepada perempuan pada umumnya. Bukan seperti itu, Jeremy tahu betul bagaimana perasaannya terhadap Helena yang sejak kecil sudah begitu dekat dengannya. "Jer! Jeremy!" Panggil Flora, sahabat Jeremy. "Hm?" "Ngelamun terus, mikirin apaan sih? Mikirin bokap Lo yang cakep itu? Eh iya dia kapan nikahnya sih? Jangan lupa undang gue lho, awas kalau Lo sampai nggak ngundang gue." Ancam Flora. "Tau, gue males bahas itu." "Kok Lo gitu sih? Lo nggak suka ya bokap Lo nikah lagi? Bukannya calon bokap Lo itu baik banget sama Lo." "Nggak sebaik nona." "Nona? Nona siapa? Maksud Lo apa sih Jer?" "Ck, udahlah gue males bahas dia." "Apa nona yang Lo maksud itu, cewek cantik kayak Barbie yang pernah anter Lo sekolah itu?" Tebak Flora. "Flo, gue nggak mau bahas itu, Lo tuh kepo banget sih?" "Ya habisnya gue kan penasaran Jer. Bokap Lo kan jadi idola di sekolah kita, dia yang mau nikah tapi kayaknya nanti bakalan ada yang patah hati berjamaah deh hehe... Kalau Lo nggak seneng bokap Lo nikah, harusnya Lo bilang sama dia, jangan diem aja. Dia pasti akan mentingin kebahagiaan Lo." Jelas Flora. "Percuma Flo, bokap gue nggak bisa nolak, dia terlalu patuh sama atasannya dan terlalu hormat. Hidupnya disetir kayak gitu pun bokap gue mau-mau aja karena saking hormatnya. Gue pernah cerita kan dulu waktu bokap gue terpuruk siapa yang nolong dan nyelametin, ya pak Adiyaksa itu, yang ngasih rumah, ngasih mobil, ngasih kerjaan, ngasih segalanya. Makanya bokap gue segan buat nolak perintahnya." Papar Jeremy panjang lebar. "Hmmm... Kalau gitu ceritanya sih ya mau nggak mau Lo harus bisa terima apapun keputusan bokap Lo." Flora menyentuh pundak Jeremy memberikan dukungan. "Iya Flo." Jeremy pun mengangguk pelan. 'Termasuk menerima perpisahanku sama nona Rossa, andai aku masih bisa diberikan satu kesempatan untuk bisa ketemu sama beliau, aku mau bilang kalau aku sayang, aku sayang banget sama nona, semoga nona selalu sehat dan bisa mewujudkan seluruh impiannya.' gumam Jeremy dalam hati dengan mata berkaca-kaca. "Udah ya jangan sedih-sedih lagi." Tutur Flora. "Iyaaa..." Balas Jeremy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD