Pernikahan Jason dan Marina

1196 Words
Melihat Marina yang terus gencar mendekati Jason dan memberikan perhatian lebih, entah mengapa membuat Helena tak suka dan tersiksa. Seolah ada api yang berkobar membakar hatinya, membuatnya uring-uringan, ingin marah, dan merasa kesal setengah mati. Akhir-akhir ini sikap Helena memang semakin berbeda. Bahkan lebih jauh berbeda dari biasanya. Helena jadi lebih tertutup dan pemarah. Sulit makan hingga bobot tubuhnya turun secara derastis. Jason bukannya tidak menyadari itu semua, ia tentu saja diam-diam memperhatikan nonanya. Namun kembali lagi, Jason selalu berusaha untuk bersikap cuek dan profesional. Memperhatikan Helena bukanlah tugas utamanya. Tugas utama Jason adalah menjaga keselamatan Helena, bukan menjadi baby sitternya. "Nona!" Panggil Elia, seorang asisten pribadi Helena. Elia adalah gadis yang Helena pungut dari jalanan, sudah lima tahun gadis itu menjadi sahabat sekaligus kaki tangan Helena. Mereka berdua memiliki usia yang sama, oleh sebab itu Helena cepat akrab dengan Elia. Helena lebih suka menjalin pertemanan dengan Elia yang apa adanya bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya dari kalangan sosialita yang penuh akan tujuan dan maksud tertentu ketika mendekatinya. "Ada apa El?" Tanya Helena. "Me-menurut saya, se-sebaiknya nona memeriksakan diri ke dokter Obgyn nona, ini sudah satu bulan, apa nona tidak khawatir tentang kondisi kehamilan nona? Maaf jika saya salah nona. Saya hanya merasa cemas." Ungkap Elia. Mendengar itu, Helena sempat terdiam sejenak. Perkataan Elia memang sangat benar. Ia seharusnya pergi ke dokter dan memeriksakan kandungannya. Bukan malah berdiam diri saja di rumah seperti orang bodoh. "Hari ini papa pulang kan El?" "Maaf nona, beliau bahkan sudah berada di meja makan bersama dengan nyonya." "Jadi papa udah dateng?" "Sudah nona." Angguk Elia. "Apa jadinya kalau mereka sampai tau semuanya?" Gumam Helena dengan penuh rasa frustasi, kedua matanya kembali berkaca-kaca. "Aku harus cepet-cepet!" Gumamnya. "El!" Panggil Helena. "Iya nona?" "Kemasi barang-barangku dan barang-barangmu segera! Bawa secukupnya aja. Kita akan pindah ke apartemenku mulai hari ini." Tegas Helena. "Pindah nona?" "Iya, turuti aja semua perintahku. Aku mau temuin papa dulu." "Baik nona. Ta-tapi bagaimana dengan saran saya tadi?" "Kamu nggak perlu cemas, nanti aku akan buat janji sama dokter kandungan di rumah sakit Citra Pratama." "B-baik nona." Elia tampak tersenyum lega mendengarnya. Sedetik kemudian, Helena pun segera bergegas turun menuju lantai bawah untuk menemui sang ayah dan ibu. Namun alangkah terkejutnya wanita itu ketika ia melihat pemandangan dan mendengarkan percakapan yang menyayat hati. "Saya udah disini dan masalah saya di Singapore udah terkendali. Jadi untuk apa lagi kalian menunda-nunda pernikahan? Saya akan siapkan pesta dan segala yang kalian berdua perlukan. Apalagi yang kalian inginkan? Rumah? Mobil? Jangan khawatirkan itu semua. Jeremy juga Jason! Saya akan menjamin pendidikan anak kamu sampai lulus kuliah." Jelas Adi pada Jason dan Marina. "Tiara sama Boby juga tuan?" Tanya Marina. "Oh anak kamu juga? Tentu, saya juga akan menjamin pendidikannya jadi kamu nggak perlu khawatir." Mendengar itu, Marina pun tampak tersenyum sangat senang. "Makasih banyak tuan." Ungkap Marina. "Mas udahlah mas, jangan kebanyakan mikir, bulan depan aja kita nikahnya, nggak usah nunggu dua bulan lagi. Ya mas ya!" Bisik Marina pada Jason seraya menggoyang-goyangkan tangannya. Jason pun bingung harus bersikap seperti apa, menghadapi tuntutan Marina dan Adi secara bersamaan, ia benar-benar seperti tidak bisa bergerak. "Rin tapi kamu juga nggak bisa paksa Jason, pa! Kamu juga jangan terlalu menekan Jason pa!" Tutur Fiola istri Adi pada Marina dan juga Adi. Fiola paham betul tentang apa yang sebenarnya Jason rasakan, ia bisa melihat dengan jelas banyak sekali keraguan dimata pria tampan itu. "Jas kamu beneran mau kan nikah sama Marina? Kalian berdua sama-sama suka kan?" Tanya Adi pada Jason dengan penuh intimidasi. Jason sudah akan menjawabnya namun Marina buru-buru mendahuluinya. "Kami berdua tentu saling suka dan cinta tuan, kalau nggak suka lantas kenapa kami berdua mau menerima usulan pernikahan dari tuan? Kami berdua sudah lama saling kenal, tau luar dan dalam masing-masing, kami juga punya nasib yang sama, masalalu yang sama, kami berdua sudah sangat cocok tuan." Jelas Marina pada Adi, hal itu tentu saja membuat Adi merasa lega. Sedangkan Jason seolah tercekat, bibirnya kelu, ia bingung harus berkata apa. "Syukurlah, saya seneng banget dengernya. Kalian berdua emang paling cocok. Udahlah Jas, nggak usah kelamaan nunggu, ayo kita segera tentukan tanggal pernikahan kalian bulan depan. Saya akan segera pesankan gedung untuk acara resepsi." "Tapi tu-" "Dasar bodoh!" Umpat Helena secara tiba-tiba membuat semua orang langsung menoleh kearahnya dengan tatapan terkejut. "Helen! Maksud kamu apa bicara begitu?" Tanya Adi dengan tatapan tak mengerti. "Apa? Aku nggak bilang apa-apa kok." Sangkal Helena. "Itu tadi kam-" "Udah... Kamu salah denger kali!" Sahut Fiola membela sang putri. "Aku cuma mau bilang kalau mulai hari ini aku akan pindah ke apartemenku sama Elia. Aku udah kemasin barang-barangku." Jelas Helena membuat Adi merasa terkejut, begitu pula dengan Jason, namun pria itu sangat pintar dalam menutupinya. "Apa maksud kamu? Kenapa kamu mau pindah secara mendadak begini? Papa nggak suka kalau kamu tiba-tiba main pindah-pindah seenaknya begini Len!" Tegas Adi dengan tatapan marah. "Pa! Aku udah lama mikirin hal ini, aku mau mandiri, aku mau cari ketenangan aku sendiri pa. Lagian papa sering sibuk ke luar negeri kan? Mama juga sibuk nemenin papa. Aku udah biasa sendiri, aku mau bangun bisnis aku sendiri." Tutur Helena dengan penuh keberanian. "Helen sayang... Apa kamu kesepian sayang? Ini semua salah mama nak, maafin mama karena sering ninggalin kamu." Fiola pun menghampiri sang putri dan memeluknya. "Nggak ma, aku udah terbiasa, mama nggak salah." Ungkap Helena. "Kalau mama terserah kamu, selama kamu bahagia mama akan selalu dukung, asalkan ada yang menjaga kamu, mama nggak masalah kamu mau tinggal di apartemen. Pa! Biarin Helen tinggal di apartemen, asalkan ada yang jagain dia, nggak ada masalah kan?" Tanya Fiola pada Adi. "Jika kamu tetap bersikeras, ya sudah. Tapi Jas-" "Aku nggak mau sama Jason." Jason langsung menatap Helena dengan tajam. "Nggak masalah kalau papa mau kirim salah satu bodyguard papa buat aku, asalkan itu bukan Jason. Aku nggak mau sama Jason pa, sama sekali nggak mau, kalau papa tetep maksa, aku akan kabur dari rumah." Ancam Helena sebelum pergi meninggalkan ruang makan menuju halaman depan. "HELENA!" Panggil Adi dengan suara lantang namun Helena sama sekali tidak mempedulikannya. "Maaf tuan, saya permisi sebentar!" Pamit Jason seraya menundukkan kepalanya. Ia lantas bergegas untuk segera mengejar nonanya. "Mas! Mas Jason!" Dan panggilan Marina pun sama sekali tidak Jason pedulikan. *** "Non-" perkataan Jason tiba-tiba saja terputus ketika ia melihat dan mendengar tangisan pilu Helena dalam dekapan Elia. "Hiks, ayo kita pergi El, aku udah nggak sanggup tinggal disini lagi, aku kesiksa tiap hari hiks, aku udah nggak kuat..." Ungkap Helena dengan penuh keputusasaan. "Iya nona, saya akan terus bersama nona, saya nggak akan tinggalin nona, nona harus kuat, nona harus bertahan demi kalian berdua." Perkataan terakhir Elia membuat Jason langsung memicingkan kedua matanya. "Perutku agak kram El, kenapa ini?" Keluh Helena. "Nona pasti baik-baik saja, sekarang kita ke rumah sakit dulu bertemu dr. Sonya, tadi saya sudah buat janji sesuai instruksi nona. Nona harus segera diperiksa nona." Jelas Elia. Helena pun mengangguk patuh, lalu ia lantas segera masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh Elia. Sedangkan disisi lain Jason kini sedang terdiam mematung seperti orang bodoh. Pria itu masih tercengang dan terperangah dengan perkataan Elia tadi, entah apa maksudnya yang jelas sekarang Jason harus mengikuti kepergian nonanya menuju rumah sakit. Ya, harus!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD