Setibanya di rumah sakit, Jason langsung turun dari mobil dan mengikuti Helena serta Elia. Namun disana ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Adam yang tampak terburu-buru menghampiri sang adik.
Disana Helena langsung memeluk kakaknya dengan erat, menangis pilu membuat hati Jason seperti diremas-remas saat melihatnya.
"Kakak hiks, aku nggak kuat lagi di rumah kak, aku nggak sanggup hiks... Aku mau secepatnya ke rumah nenek kak, aku mau tinggal selamanya disana." Ungkap Helena dalam pelukan Adam.
Jason berada tak jauh dari mereka bertiga namun ia bersembunyi supaya tidak sampai ketahuan, samar-samar ia bisa mendengar apa yang Helena ucapkan, dan ia pun mendengar kata nenek disebut. Itu artinya Helena ingin menetap di Berlin selamanya? Meninggalkan negara ini? Untuk apa? Apa karena kejadian itu? Apa terjadi sesuatu kepada nonanya?
"Kita akan urus hal itu setelah ini, tapi yang penting sekarang kamu harus diperiksa dulu, kakak akan temani kamu hm? Udah jangan sedih, kakak nggak mau lihat kamu nangis terus sayang." Dengan penuh kasih sayang, Adam menyeka airmata sang adik.
Mereka bertiga pun segera menuju poli kandungan. Ketika Jason ingin kembali mengikuti mereka, tiba-tiba saja ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari sang putra, sepertinya sangat penting dan Jason harus segera mengangkatnya.
'Ya Jer?'
'Ini Flora om, Jeremy demam sejak kemarin, ini aku lagi rawat dia di apartemen. Demamnya nggak turun-turun dari kemarin, kayaknya perlu dibawa ke rumah sakit deh om, soalnya dia muntah-muntah juga, aku takut dia kena tipes. Om cepetan kesini ya om, aku beneran takut.'
'Baik Flora, saya akan segera kesana, terimakasih sudah menjaga Jeremy.'
Jason buru-buru menutup teleponnya, niatnya untuk mengikuti Helena pun ia urungkan karena harus pergi ke apartemen untuk membawa sang putra ke rumah sakit.
***
Adam terus menemani sang adik hingga selesai pemeriksaan kandungan. Kehamilan Helena sudah berjalan enam Minggu, kondisi fisiknya cukup lemah dan berat badannya tidak memenuhi standar.
Dua Minggu lagi Helena diharuskan untuk kembali periksa sampai berat badannya stabil. Ketika mendengar detak jantung janinnya, Helena terus menangis pilu dan haru. Ia begitu menyesal karena sempat punya pikiran untuk melenyapkannya.
Helena benar-benar merasa sangat berdosa. dr. Sonya sangat mengharapkan kehadiran calon ayah janin itu, namun tentunya Helena tidak bisa menuruti dr. Sonya, Helena ingin segera pergi ke Berlin namun dr. Sonya belum bisa mengijinkannya sebelum berat badannya memenuhi standar ibu hamil.
Sekarang Helena bingung harus berbuat apa, sedangkan ia tak ingin melihat wajah Jason sama sekali meskipun ia sangat merindukan dan mengharapkannya setengah mati.
Tapi semakin Helena berusaha untuk menjauhi Jason, rindu ingin bertemu dan menatap wajah tampan pria itu semakin menyiksa relung batinnya.
"Untuk sementara kamu tinggal di apartemen, kamu dengar sendiri tadi dr. Sonya bilang apa, untuk sementara waktu kamu nggak boleh bepergian terlalu jauh apalagi menggunakan pesawat, jika kondisi fisik kamu sudah stabil, baru kakak akan mengantar kamu ke rumah nenek." Tutur Adam pada Helena yang tampak melamun hingga ia tiba-tiba tak sengaja melihat Jason keluar dari mobil dengan mengangkat tubuh seorang pemuda.
"Kak itu..." Reflek Helena menunjuk kearah Jason.
"Kayaknya Jason lagi ada masalah, kamu duluan sama Elia, biar kakak yang temui dia." Ujar Adam pada Helena, meskipun ia sedang marah pada Jason, namun tetap saja Adam tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Selama ini Jason sudah begitu patuh dan setia pada keluarganya.
"Enggak kak, itu... Itu Jery, kayaknya Jery lagi sakit deh kak, aku harus temui dia, dia kalau sakit susah makan, kalau dia susah makan lantas kapan sembuhnya coba?" Helena sudah akan beranjak menuju IGD namun Adam segera menarik tangannya.
"Kamu udah gila ya? Buat apa lagi kamu peduli sama Jery? Jason sendiri yang udah minta kamu untuk jauhi anaknya, sekarang buat apa lagi kamu menemui mereka? Sebulan lagi Jason mau nikah sama Marina, inget itu baik-baik Helen!" Tegas Adam sambil mengguncangkan bahu sang adik.
"Tapi aku nggak bisa kak, dulu kalau Jery sakit, aku yang selalu rawat dia, kalau nggak ada aku hiks... Gimana, gimana sama-"
"Udah ada Marina calon ibu tirinya, jadi kamu nggak perlu peduli lagi sama dia!" Sahut Adam membuat Helena langsung menatap sang kakak dengan penuh kesedihan.
"Tapi kak..."
"Helen, kakak nggak suka kalau kamu jadi plin-plan begini, sekarang belum terlambat, kakak akan dukung apapun keputusan kamu, kalau kamu benar-benar mencintai Jason, maka berjuangkan dia, kakak rasa dia juga sebenarnya ragu untuk menikah sama Marina. Dia terpaksa menerima pernikahan itu karena tuntutan dari papa. Kakak yakin dia juga sebenarnya ada rasa sama kamu."
"Itu nggak mungkin kak, kakak jangan mengada-ada. Mana mungkin Jason suka sama aku? Dari dulu dia hanya anggap aku sebagai anak kecil, dia bahkan sama sekali nggak pernah perlihatkan gelagat seolah dia suka sama aku."
"Helen, Jason itu pintar, dia sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Kita yang udah bertahun-tahun kenal sama dia aja nggak pernah bisa nebak isi hatinya. Pikirkan ini Helena, demi masa depan kalian berdua, sekali-kali egois apa salahnya?"
"Kak."
Helena kini dalam kebimbangan, setelah memantapkan hati untuk pergi dari negara ini, sekarang ia malah ragu untuk pergi.
***
Jeremy benar-benar terkena Typus, berat badannya langsung turun derastis karena tak mau makan selama empat hari lamanya.
Jason merasa bodoh dan t***l karena lalai menjaga sang putra. Mentang-mentang Jeremy sudah dewasa, Jason menganggap jika putranya bisa menjaga dirinya sendiri.
"Ayo makan! Biar ayah suapi, bagaimana bisa kamu nggak makan selama berhari-hari? Kamu mau cari mati ha?" Jason bukannya marah pada Jeremy, tapi ia marah pada dirinya sendiri, ia menahannya mati-matian saat ini.
"Orang sakit gimana bisa makan yah? Aku udah coba makan, tapi selalu muntah." Ungkap Jeremy.
"Kenapa nggak bilang sama ayah kalau kamu sakit? Kenapa kamu sok kuat begini?"
"Ayah aja sibuk sama dunia ayah sendiri, ayah sibuk sama rencana pernikahan ayah, apalagi yang aku denger pernikahan ayah akan dipercepat bulan depan. Tante Marina emang baik, tapi maaf, aku nggak bisa tinggal sama dia. Terserah mau ayah marah sekalipun, tapi aku bener-bener nggak mau tinggal sama dia." Jelas Jeremy membuat Jason mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tau ayah juga terpaksa terima pernikahan ini, harusnya ayah bisa ngelawan, harusnya ayah bisa nentuin kebahagiaan ayah sama aku, tapi ayah malah nurut sama Tuan Adi, ayah terlalu lemah, ayah pengecut." Imbuh Jeremy membuat Jason memalingkan wajahnya.
"Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana pengabdian ayah selama ini Jer."
"Siapa yang nggak ngerti? Aku paham yah aku ngerti, pengabdian adalah pengabdian, tapi pengabdian bukan berarti tunduk pada perintah yang nggak pernah sejalan sama hati ayah, apalagi ini menyangkut hidup ayah." Mendengar penuturan sang putra yang didewasakan oleh keadaan itu membuat Jason tak bisa mengelak lagi.
"Satu aja yah yang aku minta, aku... Aku pengen ketemu sama nona untuk yang terakhir kali, karena setelah ini ayah pasti nggak akan pernah ijinin aku untuk ketemu sama beliau. Aku mau lihat wajahnya yah, aku... Aku kangen sama nona..." Jeremy bahkan sampai memalingkan wajahnya, airmatanya jatuh secara tiba-tiba membuat Jason kembali dirundung rasa bersalah yang tak terkira.
Ia tak menyangka sama sekali kenapa Jeremy dan Helena bisa mempunyai ikatan seperti ini. Padahal keduanya mempunyai perbedaan status yang sangat mencolok. Harusnya hal ini tidak boleh terjadi, karena bagaimana pun Helena adalah bintang di langit yang tak mampu Jason dan Jeremy gapai untuk selamanya.