Jason Sakit

1034 Words
Jason yang gelisah, sepanjang malam ia tak bisa tidur karena memikirkan keinginan putra semata wayangnya untuk bertemu dengan Helena. Jason sudah memberikan pengertian pada Jeremy namun remaja itu masih tetap bersikeras ingin bertemu dengan Helena. Jika Jason tidak mengabulkan keinginannya, Jeremy akan mogok makan dan mogok bicara dengan Jason. Sejak tadi Marina tak henti-hentinya menghubungi Jason namun Jason tak pernah mempedulikannya. Perasaannya terlalu berkecamuk dan dalam benaknya hanya ada nama Helena yang terus terngiang-ngiang didalam kepalanya. "Flora!" Panggil Jason pada Flora yang sejak tadi menjaga Jeremy. "Iya om?" "Saya mau pergi dulu, maaf kalau saya kembali merepotkan kamu. Saya titip Jeremy dulu!" Ujar Jason dengan penuh rasa sesal. "Nggak masalah om, om pergi aja, biar aku yang jaga Jeremy." "Terimakasih Flora." "Sama-sama om." "Saya pamit dulu, kalau ada apa-apa tolong segera hubungi saya!" Pinta Jason. "Beres om!" Jason pun segera bergegas meninggalkan rumah sakit menuju apartemen Helena. Biarlah ia mencobanya sekarang, memohon pada nonanya demi sang putra. Jason tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Jeremy, ia tentu saja ingin melihat putranya kembali sehat seperti sedia kala. "Sial!" Jason mengumpat keras ketika menyadari hujan deras mengguyur Jakarta malam ini. Bukan cuma itu, angin kencang juga menyertai. Sedangkan mobilnya berada di parkiran luar. Maka dengan terpaksa, Jason pun berlari menerobos hujan menuju mobilnya. Pria tampan itu tak peduli lagi meskipun harus basah kuyup karena kehujan. *** Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam namun Helena masih belum bisa tidur. Ia bersyukur karena malam ini bisa makan meskipun sedikit, namun setidaknya ia bisa memasukkan makanan ke dalam perutnya. "Nona! Nona belum tidur?" Tanya Elia pada Helena dari luar kamar. "Maaf jika saya mengganggu nona tengah malam begini." Imbuhnya. "Iya El ada apa?" Seru Helena seraya berjalan kearah pintu kamarnya dan membukanya. "Kenapa El?" Tanyanya. "Itu nona, eum... Diluar..." Elia tampak cemas dan ragu. "Kenapa diluar El?" "Sepertinya diluar ada pak Jason." Balas Elia. Mendengar nama Jason disebut sontak membuat jantung Helena langsung berdebar. "Jason? Kamu jangan gila!" Helena sepertinya tidak percaya. "Serius nona, saya nggak mungkin salah." Ucapan Elia tampak meyakinkan dan membuat Helena tentu saja percaya. "Jason... Ngapain dia malam-malam datang kesini? Apa mungkin papa yang nyuruh?" Mengingat itu, Helena jadi merasa kesal. "Udah biarin aja El, nggak usah kamu suruh masuk, palingan papa yang nyuruh dia buat datang kesini. Aku udah bilang nggak mau dijagain sama dia, tapi papa selalu aja maksain kehendaknya." Ujar Helena. "Tapi non... Apa nona nggak kasihan, seenggaknya saya buatin teh dulu non, soalnya pak Jason basah kuyup." Mendengar itu Helena pun jadi merasa cemas. Jason memang punya pertahanan tubuh yang mengerikan, padahal usianya sudah menginjak kepala empat, namun Helena selalu kagum dengan ketahanan fisik pria itu. Selama lima belas tahun ini Helena bahkan tidak pernah melihat Jason sakit. "Ck! Nggak usah peduliin dia El, aku bilang enggak ya enggak! Suruh aja dia balik." Tegas Helena dan Elia sepertinya tak mampu membantah perintah sang nona. "Baik nona." Angguk Elia dengan patuh. Elia pun lantas segera menghampiri Jason dan menyuruhnya pergi karena Helena tak mau melihatnya. Namun tiba-tiba saja Helena malah berubah pikiran. "Harusnya aku lihat wajahnya dulu, baru suruh dia pergi. Anak ini pengen lihat papanya dari tadi." Gumam Helena dengan penuh rasa bimbang. "Tapi..." Wanita itu terus berpikir sampai setengah jam lamanya, dan selama itu ia pikir Jason pasti sudah pergi. "Nona..." Suara itu, suara bariton dari balik pintu itu langsung membuat jantung Helena seperti berhenti berdetak. "Nona..." Suara berat itu kembali terdengar dan membuat Helena penasaran. Helena lantas segera membuka pintu kamarnya dengan perlahan, dan setelah itu ia benar-benar terkejut setengah mati saat melihat siapa yang ada didepan matanya saat ini. "Maaf nona, saya terpaksa bawa pak Jason masuk, saya nggak tega lihat dia menggigil kedinginan. Tadi saya udah bilang kalau nona nggak mau ketemu sama pak Jason, tapi dia cuma diam aja. Udah saya suruh pergi tapi pak Jason cuma diam. Maafin saya nona, saya salah." Jelas Elia pada Helena dengan wajah tertunduk. Helena tak terlalu fokus dengan ucapan Elia, ia terlalu terkejut dengan pemandangan yang ada didepan matanya saat ini. Pria tampan yang sejak lama menempati kasta tertinggi dihatinya itu tampak lebih pucat, tatapannya sayu, tak setajam biasanya. Entah apa yang terjadi, jika begini Helena tidak bisa mengusir Jason pergi. "Buatin dia minuman hangat El, ambilin kaos tipis sama celana training milik kak Adam di kamar tamu." Titah Helena pada Elia. "Baik nona." Angguk Elia. Lalu segera bergegas melaksanakan perintah Helena. "Ganti baju kamu! Setelah itu pergi!" Tutur Helena pada Jason, setelah itu, Helena segera bergegas masuk ke dalam kamarnya, namun Jason segera menahan tangannya. "Nona..." Panggil Jason dengan suara beratnya. Jantung Helena semakin berpacu, ia merasakan tangan Jason yang begitu dingin menggenggam pergelangan tangannya. Helena terdiam mematung seperti orang bodoh, selalu saja seperti ini. "Pergi Jas! Aku nggak suka kamu disini!" Tegas Helena seraya menepis tangan Jason dengan kasar. "Tolong nona, sebenarnya saya malu meminta ini, tapi... Tapi saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Jeremy sakit, dia masuk rumah sakit tadi siang, dia tidak ingin makan jika tidak dipertemukan dengan nona." Jelas Jason tak enak hati, sungguh ia sangat malu mengatakannya, tapi ia tak punya pilihan lain selain melakukannya demi sang putra. Mendengar itu, rasa cemas dan khawatir langsung menyergap Helena. Jeremy sampai masuk rumah sakit pasti kondisinya sangat parah. "Jery... Jery sakit apa?" Tanya Helena seraya membalikan badannya menghadap Jason. "Typus nona, sudah empat hari dia tidak mau makan, nona paham sendiri dia akan sangat sulit makan jika sedang sakit." Ungkap Jason. "Anak itu... Anak itu pasti menderita. Harusnya kam-" "Hatchim!" Ucapan Helena langsung terpotong akibat Jason yang tiba-tiba saja bersin. "Maaf no-hatchim!" Jason kembali bersin dan menggosok-gosok hidungnya yang gatal. Ia bahkan sempat menyentuh pelipisnya yang terasa pening sejak tadi. Helena tentu saja tidak bisa tinggal diam, prianya tampak sakit dan pucat seperti ini bagaimana mungkin ia bisa tenang. "Jas, kamu sakit?" Helena tiba-tiba saja menyentuh pipi Jason. Rasa panas langsung menjalar di telapak tangannya. "Tidak nona, saya baik-baik saja." Jason menyentuh tangan nonanya, bahkan menggenggamnya dengan erat. Tatapan keduanya beradu, tatapan Jason yang biasanya tajam kini tampak sendu. Seolah sedang mengadu pada nonanya jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan Helena pun sudah semakin tak sanggup untuk menahan perasaannya lagi. Membuatnya semakin tak sanggup melepaskan Jason jika seperti ini jadinya. "Dasar bodoh!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD