Pelukan Hangat

1179 Words
Helena benar-benar menyuruh Jason untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kering yang sudah ia siapkan. Jason sudah menolak tentunya namun Helena terus memaksanya, Jason tak mungkin menolak lagi karena ia takut Helena tidak mau menemui Jeremy yang selalu menanti-nantikannya. "Nona, tidak perlu seperti ini, saya duduk di sofa ruang tamu saja nona, setelah ini saya akan kembali ke rumah sakit." Ungkap Jason pada Helena. Padahal sedang demam dan wajahnya sangat pucat, tapi Jason bahkan seperti orang yang tidak sedang sakit sama sekali. Hal itu tentu saja membuat Helena sangat kesal, padahal ia sudah berbaik hati mau merawat pria itu ditengah malam seperti ini. "Pergi aja deh kalau gitu! Pergi aja kamu sekarang! Aku udah berbaik hati ya mau urusin kamu, yang seharusnya aku lagi tidur, tapi aku malah terima kamu disini. Oh aku tau, kamu nggak enak kan sama Marina? Ya ud-" "Bukan begitu nona, Marina sama sekali tidak ada kaitannya." Sahut Jason. "Aku telepon dia aja kalau gitu." Helena sudah akan mengambil ponsel, namun Jason segera menarik tangannya. "Nona tidak perlu, tidak usah nona." Tutur Jason seperti anak kecil yang sedang ketakutan. Ya ampun lucu sekali, Jason yang dingin dan tegas seolah menghilang entah kemana. "Ck, ya udah kalau gitu kamu nurut!" Tegas Helena. "Baik nona." Dengan terpaksa, mau tidak mau Jason pun menuruti perintah Helena. Bukannya apa Jason sengaja menolak perlakuan Helena, ditengah malam berada di kamar nonanya, hanya berdua saja, bagaimana mungkin Jason bisa tahan melakukannya. Jantungnya berdebar kencang seperti mau keluar dari peraduannya. Malam panas itu langsung terngiang didalam benaknya namun ia terus berusaha untuk bersikap tenang seperti biasanya. "Kamu tidur disini, biar aku nanti tidur sama Elia. Besok baru kita pergi ke rumah sakit setelah sarapan." Jelas Helena. "Terimakasih nona." Ungkap Jason dengan penuh rasa lega, lega karena Helena mau menemui putranya. "Hm." Angguk Helena. "Elia buatin bubur, kamu makan dulu terus minum obatnya!" Titahnya. "Tidak usah nona, saya hanya perlu istirahat sebentar." Jason kembali menolak membuat Helena merasa kesal. "Kamu tuh bawel banget ya! Aku tadi bilang apa? Nurut aja! Apa susahnya sih? Kamu nggak suka sama masakan Elia? Mau masakan Marina, begitu?" Omel Helena dengan penuh rasa kesal. "Bukan nona..." Jason rasanya sudah hampir menyerah menghadapi Helena. Ia merasa heran dengan perubahan sikap Helena yang menurutnya semakin culas dan bawel. Dengan terpaksa, Jason pun segera mengambil mangkuk berisi bubur buatan Elia. Ia memakannya dengan cepat dan benar-benar terkejut ketika merasakan lidahnya terbakar karena bubur yang masih sangat panas. "Sshhh..." Jason bahkan sampai mendesis merasakan panas di bibir dan lidahnya. "Ya ampun Jas! Kamu tuh hati-hati dong! Sini coba lihat!" Helena pun buru-buru menyentuh bibir tipis Jason dan reflek meniupnya perlahan, bukan hanya itu, Helena juga mengusap-usapnya dengan lembut. "Makanya hati-hati, sakit nggak?" Tanya Helena. Degub jantung Jason sudah semakin susah untuk dikendalikan, apalagi melihat Helena dengan balutan gaun tidur berwarna hitam dengan bibir yang merona. Demi Tuhan ini sungguh godaan dan siksaan yang sangat nyata. "Nona!" Jason pun buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah padam seperti kepiting rebus. Helena yang terkejut pun juga ikutan salah tingkah akibat ulah gilanya barusan. "Ekhem! Eum... Apa... Itu, ya ya udah, biar aku suapin sini!" Helena buru-buru meraih mangkok ditangan Jason. Lalu mengambil sesuap bubur dan meniup-niupnya sampai agak hangat. "Ayo buka mulut kamu Jas! Ini udah malem banget, aku juga pengen tidur." "I-iya nona." Angguk Jason dengan penuh rasa gugup. Karena pintu kamar tidak dikunci, Elia sengaja mengintip dari luar kamar. Gadis itu benar-benar terkejut saat melihat Helena dengan penuh kesabarannya mengurus dan merawat Jason. Padahal Jason hanyalah seorang bodyguard keluarga Adiyaksa, tapi kenapa Helena malah memperlakukan Jason seperti orang yang sangat spesial dalam hidupnya. "Kayak ada yang disembunyikan diantara mereka berdua." Gumam Elia dengan penuh tanda tanya. *** Keesokan harinya Marina datang ke rumah sakit untuk menjenguk calon anak tirinya, Jeremy. Marina datang dengan harapan bisa bertemu dengan sang pujaan hati, namun ternyata disana ia tak mendapati keberadaan Jason. Jeremy hanya ditemani oleh seorang gadis yang sebaya dengannya. Marina sudah bertanya pada Flora tentang keberadaan Jason, namun Flora memang tidak tahu Jason kemana. "Jemy... Bunda tadi udah masakin makanan kesukaan kamu, biar bunda suapin ya sayang. Kamu harus makan banyak supaya cepet sembuh. Selama Jemy sakit Bunda akan berusaha luangkan banyak waktu untuk Jemy supaya bisa rawat Jemy." Marina mulai beraksi untuk mengambil hati Jeremy, mendengar kata Jemy membuat Jeremy merasa sangat mual. Bukan hanya Jeremy, Flora juga merasa sangat Ilfeel mendengar panggilan tersebut disebutkan oleh Marina. Marina memang sengaja membuat panggilan khusus untuk Jeremy karena tak mau kalah dengan Helena. Helena saja punya panggilan khusus yaitu Jery, kenapa Marina yang bahkan akan menjadi calon ibu tiri Jeremy saja tidak punya? "Tante, Jeremy kalau lagi sakit emang susah makannya Tante, jadi tolong jangan dipaksa." Tutur Flora pada Marina. "Justru kalau lagi sakit itu harus dipaksa buat makan, kalau nggak mau makan terus-terusan lalu kapan sembuhnya? Ayo Bunda suapin sayang! Masakan Bunda enak kok." Marina terus berusaha menyuapi Jeremy, namun Jeremy tetap saja enggan dan malas meladeni Marina. "Tante saya nggak mau!" Ungkap Jeremy parau seraya mengibaskan tangannya. "Jem, udah berapa kali Bunda bilang, jangan panggil Tante, sebentar lagi kamu akan jadi anak Bunda, harusnya kamu udah terbiasa panggil Bunda." Tutur Marina agak kesal. "Tante jangan maksa dong, terserah Jeremy mau panggil apa." Ujar Flora tak kalah kesal. "Kamu jangan ikut campur ya! Saya nggak lagi ngomong sama kamu! Sebaiknya kamu pulang aja, biar saya yang gantiin jagain Jemy, kamu nggak pulang emangnya orangtua kamu nggak nyariin apa?" Marina menatap Flora dengan tajam. Flora rasanya ingin sekali menjambak rambut Marina tapi hal itu tentu saja harus ia tahan-tahan. 'Sabar Flo... Kamu harus sabar ngadepin nenek lampir, pantesan aja Jeremy nggak suka sama Lo, orang Lo kayak Mak lampir gini.' gumam Flora dalam hati. *** Helena sedang menyiapkan makanan yang akan ia bawa ke rumah sakit untuk Jeremy. Meskipun Helena adalah tuan puteri, namun jangan ragukan kemampuan memasaknya, memasak adalah salah satu kegemaran Helena. Meski tidak sering melakukannya, namun Helena tetap bisa memasak makanan enak. "Demam kamu udah turun?" Tanya Helena pada Jason yang sedang sarapan, sarapan bubur ayam buatan nonanya, sungguh pencapaian yang luar biasa. Kapan lagi seorang pelayan dibuatkan makanan oleh majikannya. Ketika Helena menyentuh keningnya, sontak hal itu membuat Jason langsung terkejut dan menegang. "Masih agak hangat tapi udah mendingan kayaknya. Abisin buburnya terus minum obatnya lagi." Tutur Helena. "Saya tidak apa-apa nona." Ucap Jason. "Tidak apa-apa tapi semalaman kamu peluk aku terus sambil menggigil kedinginan. Inget Jas abis ini kamu mau nikah lho! Jangan jadi laki-laki b******k ya kamu!" Tunjuk Helena. "Untuk itu saya benar-benar minta maaf nona, saya reflek dan tidak sadar semalam." Ungkap Jason dengan penuh penyesalan. 'Segitu takutnya ya kamu peluk aku, apa segitu cintanya kamu sama Marina? Padahal semalam... Semalam anak kamu nyaman banget karena kamu peluk.' gumam Helena dengan mata berkaca-kaca. Karena takut airmatanya semakin jatuh, Helena pun buru-buru beranjak meninggalkan Jason. "Ya!" Gumamnya sebelum pergi. Sedangkan Jason hanya bisa mengembuskan nafas beratnya, lalu kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. 'Semalam aku sudah kelewat batas dan tidak bisa mengontrol perasaanku.' gumam Jason dalam hati, namun ia benar-benar tidak menyesal sama sekali karena sudah memeluk Helena kemarin malam, bahkan sepanjang malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD