Sebuah Rahasia

1157 Words
Perhatian Helena membuat Jason sungguh terlena, kini ia berperang melawan dirinya sendiri. Jason harus sadar bahwa ini semua adalah salah. Ia tak boleh sampai terbawa perasaan terhadap segala bentuk perhatian Helena. Sekali lagi Jason harus sadar diri sebelum hatinya jatuh terlalu dalam. Lagipula selama ini ia sudah begitu profesional, tapi mengapa setelah kejadian satu malam itu perasaan Jason benar-benar sulit untuk ia kendalikan. "Nona! Saya akan pergi duluan ke rumah sakit." Pamit Jason. "Kita nggak pergi barengan?" Tanya Helena. "Ada Marina di rumah sakit sedang menunggui Jeremy nona, saya harus buru-buru kesana." Balas Jason membuat Helena mengepalkan kedua tangannya, kesal? Tentu saja. "Terserah!" "Maaf dan terimakasih karena sudah merawat saya nona." Ungkap Jason sebelum pergi meninggalkan Helena. Helena benar-benar sedang menahan lelehan airmatanya. Mengingat Jason dan Marina akan menikah sungguh membuat Helena rasanya ingin cepat-cepat pergi dari negara ini. Sebelum Jason masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja ia melihat kedatangan Robin, kakak kedua Helena. Jason tentu saja tidak mungkin langsung pergi begitu saja. "Ah kebetulan sekali ada Jason disini, aku mau buat perhitungan sama kamu." "Ada ap-" Buagh! "KAKAK!!!" Pekikan Helena langsung terdengar begitu keras ketika Robin tiba-tiba saja melayangkan bogeman mentah kearah muka Jason. Jason yang ahli bela diri bahkan tidak bisa berkutik karena saking terkejutnya. "Kak apaan sih kak? Kakak datang-datang kenapa malah pukul Jason?" Helena segera menghentikan sang kakak sebelum Robin membabi buta. Helena menarik lengan Robin dan membawanya jauh dari Jason. "Kamu yang apaan? Kenapa kamu nggak biarin aja kakak hajar pria kurang ajar itu ha? Hey Jason! Asal kamu tau ya! Seb-" "Kakak please!" Helena langsung membungkam mulut Robin dengan tangannya. "Aku mohon kak jangan, aku udah mau pergi ke Berlin, aku mau tinggal selamanya disana sama nenek." Deg Mendengar itu, Jason tentu saja sangat terkejut bukan main. Adiyaksa bilang jika Helena akan membangun bisnisnya sendiri disini, ia ingin mengembangkan karirnya sebagai seorang fashion designer seperti impiannya selama ini. Lantas kenapa sekarang Helena malah ingin pergi meninggalkan negara ini? Bahkan untuk selamanya. "Kamu bodoh Helen! Kamu benar-benar bodoh, harusnya kamu jujur, jangan jadi pecundang kayak gini!" Tegas Robin dengan penuh emosi. "Nona sebenarnya ada apa? Apa ada yang nona sembunyikan dari saya? Katakan nona!" Pinta Jason menginginkan penjelasan. Helena tak mungkin mengatakan kondisinya pada Jason yang sebentar lagi akan menikah. Helena ingin egois tapi ia benar-benar tidak bisa, apalagi mengingat Jason sama sekali tidak menyukainya. "Udah stop!!! Aku nggak nyembunyiin apapun ya Jas! Kamu juga nggak perlu sok tau. Kak Robin jangan lagi seenaknya pukul Jason. Masalah kami udah lama selesai dan kakak nggak perlu perpanjang lagi. Jason sama aku udah lupain semuanya dan kami baik-baik aja." Jelas Helena pada Robin. Jason kini mengerti kenapa Robin marah dan tiba-tiba memukulnya, ternyata Robin tahu tentang kejadian satu malam yang menimpa dirinya dan juga Helena. Kini Jason sadar jika Robin pantas marah karena Jason benar-benar adalah pria b******k. "Tuan Robin, saya memang b******k dan bersalah, saya pantas mendapatkan hukuman apapun karena sudah menodai nona. Saya sudah menuntut hukuman saya, tapi nona menyuruh saya untuk melupakan segalanya. Sekali lagi saya minta maaf atas semua kesalahan saya." Ungkap Jason dengan penuh penyesalan. "Bukan itu masalahnya bodoh! Ah sialan!" Umpat Robin dengan penuh kekesalan. "Terserah kamu aja Helen!" Tutur Robin pada akhirnya. Helena lantas segera membawa kakaknya pergi, Elia juga ikut pergi bersama Helena dan juga Robin. Sedangkan Jason masih berdiri menatap kepergian Helena. Masih bingung mencerna semua ini. Ia merasa Helena menyembunyikan sesuatu darinya tetapi apa? Karena bukan cuma Robin yang marah besar padanya, tapi juga Adam. Kedua tuan mudanya yang biasanya ramah dan bersahabat, kini tiba-tiba berubah. Adam dan Robin menatapnya dengan penuh amarah dan kebencian sehingga membuat Jason bertanya-tanya. Bukan cuma itu saja yang membuat Jason menjadi resah. Tapi kepergian Helena, Helena yang berencana menetap diluar negeri untuk selamanya adalah ketakutan terbesar bagi diri Jason. *** Setibanya di rumah sakit, Jason masuk duluan sedangkan Helena dan Elia ada di belakang, Robin tidak ikut karena baginya hal itu sudah tidak penting lagi. Ketika Jason masuk ke ruang rawat putranya, disana ia langsung disambut dengan heboh oleh Marina. "Ya ampun mas, mas kenapa bisa luka kayak gini? Siapa yang lakuin ini mas?" Tanya Marina dengan penuh kekhawatiran seraya menyentuh pipi Jason, disaat itu juga Helena datang bersama dengan Elia. Melihat Marina yang tengah menyentuh-nyentuh wajah Jason tentu saja membuat Helena terkejut bukan main, dadanya langsung terasa sesak dan penuh, sungguh pemandangan yang sangat menyiksa batinnya. "Cuma luka kecil Rin, tidak perlu khawatir." Jason mencoba melepaskan tangan Marina perlahan. "Ekhem!" Deheman Helena langsung menyadarkan Marina akan keberadaannya. "No-nona?" Marina tentu saja terkejut dengan kehadiran majikannya itu. "Nona kenapa kemari?" Tanyanya. "Aku mau jenguk Jery, emangnya kenapa?" Balas Helena. "Oh, iya nona, silahkan aja!" Ujar Marina mempersilahkan. Marina sebenarnya tak suka sama sekali dengan kehadiran Helena, karena dengan begitu, Marina dan Jason tidak bisa berduaan. Lagian untuk apa sih Helena datang menjenguk Jeremy? Padahal sebentar lagi kan Jeremy akan menjadi anak tiri Marina. "Kamu udah sarapan belum mas? Wajah kamu agak pucat, kamu nggak apa-apa kan mas?" Tanya Marina seraya menyentuh kening Jason. Jason sebenarnya risih sekali, tapi kenapa saat Helena menyentuhnya ia malah suka. "Mar!" Panggil Helena. "Iya nona?" "Kalau mau mesra-mesraan kalian berdua bisa keluar aja kan?" Mendengar itu, Marina tampak salah tingkah, sedangkan Jason sangat tidak suka mendengarnya. "Ma-maaf nona." Ungkap Marina tak enak hati. "Kita keluar aja yuk mas! Kita ke kantin, kamu pasti belum sarapan. Tadi aku bawain makanan buat kamu. Yuk!" Ajak Marina seraya merangkul lengan Jason. Ketika Marina merangkul lengannya, entah kenapa Jason merasa pusing dan mual secara tiba-tiba. Wajah pucat pasi Jason membuat Helena merasa semakin khawatir. Ia mengerti jika Jason sangat tidak nyaman dengan perilaku Marina, tapi mungkin itu cuma perasaannya saja. "Rin, kenapa kamu sangat bau?" Tanya Jason yang wajahnya sudah semerah tomat karena menahan mual. Semakin ia dekat dengan Marina, Jason merasa perutnya seperti dikocok-kocok. "A-apa? Ba-bau? Yang bener aja mas? Orang wangi gini kok!" Marina pun tampak terkejut dan segera mengendus-endus pakaiannya sendiri. Marina bahkan sudah memakai parfum mahal, lantas bagaimana mungkin Jason menganggapnya bau? "Hmh!" Jason pun segera membekap mulutnya, ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa mualnya dan segera berjalan cepat menuju toilet yang ada di dalam kamar rawat Jeremy. "Jason!" Seru Helena dengan penuh kekhawatiran. "Mas Jason! Mas Jason kenapa? Mas!" Sedangkan Marina sudah duluan menghampiri toilet dan mengetuk-ngetuk pintu toilet tersebut. Elia yang menyadari hal itu sepertinya harus melakukan sesuatu. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara nonanya dan juga Jason sang bodyguard. Jadi Elia harus segera bertindak. "Mbak Mar, tiba-tiba Nyonya telepon nyariin mbak Mar, lagian mbak kan udah disini dari tadi, nyonya pasti nyariin mbak, ayo aku antar pulang mbak!" Ajak Elia pada Marina yang kembali terkejut. "Ta-tapi El..." "Udah ayo... Emang mbak mau dipecat sama nyonya?" Elia pun segera menarik tangan Marina pergi, sedangkan Helena merasa sangat puas dengan kerja bagus Elia yang begitu sangat peka. Setelah kepergian Elia dan juga Marina, Helena kini berjalan cepat menuju toilet, mendengar suara muntahan Jason yang tampak menyiksa dengan penuh rasa cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD